Derbent, Warisan Sejarah Dunia di Rusia

0
33

Berkunjung ke Republik Dagestan kurang afdol jika tidak menengok ke arah selatan. Tepatnya kota Derbent di pesisir laut Kaspia. Sebuah kota tua yang berdiri ribuan tahun lalu. Kota pesisir laut yang telah mengalami berbagai masa. Kota indah nan bersejarah ini hanya berjarak 126 km dari Mahachkhala, ibukota Dagestan.

Jum’at pagi rombongan kami dijemput ustadz Ibrahim, direktur Nusantara Center di Humanitarian Pedagogical College mahachkhala. Dua mobil siap mengantar rombongan yang terdiri dari 2 orang akademisi, 2 orang wartawan dan 1 orang desainer. Kami ingin memotret Dagestan dari sudut pandang pendidikan, budaya dan agama. Tentunya ketiga hal tersebut tersimpan dalam lembaran-lembaran tebal sejarah. Dan berkunjung ke Derbent menjadi satu misi yang harus dilalui.

Mobil melaju sedang mengikuti jalur pegunungan. Sepanjang perjalanan mata kami disuguhi pemandangan indah tipikal Kaukakus. Di beberapa titik nampak gerombolan sapi sedang lahap melalap rumput. Di titik lain hamparan kebun anggur mengundang liur. Setelah hampir setengah jam perjalanan, mobil masuk pintu gerbang kota. Terbuat dari bata lama yang dicat warna jingga. Seolah kami masuk ke masa silam. Masa saat kerajaan sasanid, leluhur orang persia berkuasa. Beberapa saat kemudian, mobil belok kiri, masuk jalan kecil. Berhenti di depan gerbang pekuburan tua. Seorang pria tua berbicara bahasa rusia. Entah aoa yang dia katakan dengan pemandu kami. “Mari kita boleh masuk dengan mobil.” Sebuah kabar gembira. Di tengah rintik hujan dan hembusan angin, jalan kaki bukan pilihan yang menyenangkan. Mobil melaju perlahan ke dalam komplek pekuburan. Di sebuah sudut agak luas. Seperti lahan parkir yang sudah disiapkan. Mobil berhenti.

Gerimis masih setiap mengguyur tanah. Kami beranjak dari mobil lengkap dengan winter cloth dan tentunya payung. Ustad Ibrahim membimbing kami masuk ke sebuah komplek kecil kuburan. komplek yang dicat warna putih dipadu hijau itu menjadi tempat istirahat terakhir 40 orang sahabat nabi. Mereka adalah pasukan yang dikirim khalifah umar bin khatab untuk menyebarkan islam ke wilayah kaukasus, sekitar tahun 643 masehi. Orang dagestan menyebutnya komplek pemakaman Kyrhlyar.

Saat kami tiba, ada rombongan ibu-ibu yang sedang berdoa di dalam komplek tersebut. Selepas mereka, giliran kami menghadiahi fatihah kepada para syuhada. ust ibrahim memimpin doa. Baru selesai kami berdoa, seorang ayah beserta dua orang putri masuk. Anak bungsunya sangat lucu. Sekitar usia dua tahun. semuda itu sudah diajak berziarah oleh ayahnya.

Selepas berziarah ke makam sahabat nabi, kami bergerak ke benteng tua. Mobil mencari jalan menanjak ke lereng bukit. Berhenti di depan sebuah tembok raksasa. Kami memasuki kawasan Naryn Kala. Benteng bersejarah yang didirikan penguasa persia dinasti sasanid abad ke 6 sebelum masehi. Benteng yang tinggi menjulang tersebut dibangun untuk mempertahankan kota dari serbuan musuh dari utara. Seorang wanita asli derbent menjadi guide kami menyusuri setiap sisi benteng. Masuk ke dalam benteng, sudah nampak air mengalir. Di masa lalu pasokan air bagi warga dijaga ketat oleh prajurit. “air sangat fital bagi manusia. Kelangsungan hidup masyarakat tergantung air. Siapa yang menguasai air akan dituruti dan diikuti. Oleh karena itu harus dijaga dari orang jahat. jangan sampai ada yang meracuni air.” demikian penjelasan ibu guide. Kami melangkah ke hamam, pemandian khusus bagi keluarga raja. Menurut ibu guide, hamam bukan hanya tempat membersihkan diri, terkadang juga tempat diplomasi. Raja bisa menjamu tamu dan berdiskusi di komplek hamam.

Kami naik terus ke atas bukit. Mata disuguhi pemandangan indah. Dari Naryn Kala siapa saja bisa melihat deburan ombak di laut kaspia. Benteng kota terbentang bagai pagar, turun mengular sampai ke tepi pantai. Di tengah bentang kota, masyarakat hidup aman dan damai. Di kedua sisi benteng, pekuburan bertebaran. Menjadi tempat peristirahatan terakhir warga derbent. Sebuah konsep kehidupan yang harmonis. Hidup di dalam lindungan benteng kota. Dan meninggal dunia, di kubur di luar benteng. Setidaknya yang hidup masih dikelilingi arwah keluarganya yang sudah wafat.

Menuruni benteng perut kami sudah berbunyi. Siang perlahan beranjak sore, mobil bergerak mencari restoran. Sangat mudah mendapat makanan di derbent. Selera orang indonesia bisa berdamai dengan makanan asli pe duduk pesisir laut kaspia. Terlebih di sini semuanya di jamin halal. Penduduk Dagestan 95% muslim.

Perut kenyang, petualangan dilanjutkan. Kali ini kami menuju sebuah masjid tua. Masjid Jum’a yang dicatat oleh UNESCO sebagai bagian dari world heritage. Masjid yang pintu gerbangnya seperti sebuah benteng ini dapat menampung ribuan jamaah. Sesuai dengan namanya, masjid ini didirikan untuk memfasilitasi warga melaksanakan sholat jum’at.

Kami pun mengambil kesempatan baik ini. Sholat di dalam masjid. Saat kening menyentuh tempat sujud, kami mengucap “Maha Suci Allah Tuhan yang Maha Tinggi dan Segala puji bagiNya.”

Mahachkhala, 2 nov 2019

Tinggalkan Komentar