Tips Menulis Flash Fiction

0
35

Pernah mendengar istilah flash fiction? Kalau belum, semoga tulisan ini menjadi jembatan pengetahuan baru. Bagi yang sudah tahu semoga menambah khazanah pengetahuan. Dilihat dari sisi bahasa, flash berarti kilat. Sedangkan fiction adalah fiksi atau cerita rekaan. Flash fiction bisa diartikan cerita rekaan yang singkat. Bisa juga disebut fiksi singkat.

Flash fiction sendiri telah lama dikenal dalam dunia jurnalistik. Setidaknya penulis novel terkemuka asal Amerika Ernest Hemingway (1899-1961) pernah menggebrak dunia lewat karya fiksinya yang hanya enam kata. Penulis yang mendapat anugerah nobel pada tahun 1954 tersebut menulis sebuah karya fiksi;

For sale, baby shoes, never worn.

Kenapa Flash Fiction? sebagai penulis yang lahir dari mading sekolah, saya sudah merasakan bagaimana susahnya menulis bagi pemula. Para pemula selalu disesaki banyak ide. Tapi ketika ide tersebut mulai ditulis, mereka mendapat jalan buntu. Maka tidak heran bila para penulis pemula memiliki banyak judul cerpen yang tidak selesai. Itu fakta yang juga terjadi pada saya.

Sedihnya, ketidak-mampuan menyelesaikan tulisan menjadi benalu yang mematikan. Banyak pelajar yang berhenti menulis gara-gara masalah idea blocked. Mereka frustasi. Menjadi ill feel. Kemudian menganggap diri tidak berbakat. Sehingga potensi yang baru saja tumbuh, menjadi mati sebelum berkembang.

Untuk menanggulangi masalah idea blocked tersebut, flash fiction hadir. Tanpa harus berlama-lama menulis. Tanpa harus memikirkan kompleksitas permasalahan. Tanpa harus memikirkan cara memulai dan juga mengakhiri sehingga menjadi sebuah karya tulis yang bernilai. Tanpa harus takut salah. Menulis dengan gaya flash bisa membuat penulis pemula tersenyum.

Terbukti! setelah saya menyampaikan materi, wajah para peserta workshop nampak berbinar. Mereka bisa menulis karya fiksi hanya dengan modal 100 kata. bahkan kalau perlu hanya dengan 20 kata mereka bisa berkarya. Sesi praktek menulis berjalan cepat. Tidak sampai setengah jam, para peserta sudah merampungkan satu karya.

Catatan. Perbedaan flash fiction dan cerpen atau novel bukan hanya di kuantitas kata. Flash fiction lebih simple. Seorang penulis falsh fiction hanya perlu 2K; konflik dan klimaks. Padahal dalam cerpen atau novel penulis harus mengikuti serangkaian tahapan. Diawali dengan perkenalan tokoh, konflik, klimaks, anti-klimaks dan penyelesaian. Apalagi kalau menulis novel gaya sinetron, klonfliknya enggak pernah selesai. He..

Satu lagi yang membuat nulis Flash Fiction menyenangkan adalah kecepatan waktu. Instans, sekarang nulis dan sekarang juga selesai. Ini coock banget buat orang yang gak suka ribet. Opening dan closing enggak perlu nunggu bulan purnama baru. Meski begitu kulaitas tetap harus diutamakan. Quality always nomero uno. Penulis flash fiction lewat kata yang terbatas harus menyentuh pembaca. Pesan yang ingin disampaikan langsung makjleb. Ada rumusannya buat bikin pembaca gemes. Mau tau? He..

Ini dia SPT. Apa itu?

Singkat

Padat

Twisted ending

Singkat pasti pada ngerti ya. Padat juga pasti tahu. Iya tahu. Coba apa bedanya tahu sayur yang warna kuning dan tahu sumedang yang suka dijual abang-abang di pinggir jalan waktu macet. Yes, tahu kuning itu padat. Jadi padat itu isinya penuh. Kayak pipi kamu yang tembem. He… bikin gemeskan.

Twisted ending?

Di lihat dari sudut bahasa twisted ending bisa diartikan akhir yang dipelintir atau bahasa lainnya akhir yang tak terduga. Ada banyak model twisted ending. Diantaranya:

  1. Open ending

Akhir cerita yang masih tanda tanya. Penulis membiarkan pembaca menerka sendiri. Dilepas sesuai dengan imaji pembaca.

  1. Misleading narrator

Narrator mengarahkan pembaca ke sebuah kesimpulan. Saat pembaca mulai percaya dengan arah tersebut, narrator dengan licin merubah arah. Sehingga pembaca merasa ditipu.

  1. Reserve the carachter’s rule

Merubah karakter dalam cerita. Seperti seorang penjahat yang tiba-tiba menajdi baik karena suatu peristiwa atau sebaliknya.

  1. Unexpected kill

Membunuh karakter yang disayang oleh pembaca. Seharusnya jagoan tetap berdiri tegak di akhir cerita, tapi karena sebuah hal dia harus mati. Biasanya bikin gemes pembaca dan agak sedikit sewot.

 

Dengan flash fiction menulis menjadi mudah.

Tidak percaya! silahkan dicoba.

Tinggalkan Komentar