Nalar Kritis untuk Tahun Politik 2019

0
298

Jakarta –

Suatu ketika, seorang teman Sokrates yang bernama Chairephon bertanya kepada Orakel di Delphi mengenai adakah orang yang memiliki kebijaksanaan melebihi Sokrates. Orakel menjawab, tidak ada orang melebihi kebijaksanaan Sokrates. Merasa dirinya tidak bijaksana, Sokrates lalu menguji pernyataan Orakel tersebut dengan cara menanyai orang-orang yang merasa terpelajar dan bijaksana.

Sokrates berpikir bahwa di mana pun berada, ia harus menguji dan membuktikan perkataan Orakel. Ia pun berbincang-bincang dengan orang yang dipandang bijaksana oleh banyak orang, dan bahkan orang itu sendiri mengaku bijaksana. Ternyata Sokrates tidak menemukan kebijaksanaan pada orang itu. Lalu ia datang lagi ke orang yang terkenal lebih bijaksana daripada dirinya. Tapi, lagi-lagi ia tidak menemukan kebijaksanaan itu. Bahkan tidak lebih bijaksana dari yang sebelumnya.

Begitulah Sokrates mengajarkan kita filsafat kritis. Ia begitu kritis atas klaim-klaim kebenaran. Bahkan meskipun kebenaran itu diklaim untuk dirinya sendiri. Sokrates tidak menelan begitu saja klaim-klaim kebenaran, bahkan yang sudah diakui oleh banyak orang sekalipun. Ia harus mengujinya terlebih dahulu di hadapan rasionalitas. Dengan begitu ia bisa benar-benar yakin atas suatu kebenaran. Bukan kebenaran yang masih bersifat asumsi, karena lahir dengan cara membebek.

Filsafat menuntut kita untuk mengerti, memahami, mengartikan, menilai, mengkritik data-data dan fakta yang dihasilkan baik oleh pengalaman maupun ilmu-ilmu. Filsafat sebagai ajang latihan untuk mengambil sikap, mengukur bobot dari segala pandangan yang disajikan di hadapan kita. Bersikap kritis dengan cara berfilsafat berarti kita tidak hanya membebek, mengikuti apa yang dianggap orang banyak sebagai kebenaran. Namun, kita harus mampu mengafirmasi secara merdeka apa yang kemudian menjadi keyakinan dan pilihan kita atas kebenaran tersebut.

Filsafat kritis bukanlah “ancila”, yaitu budak perempuan dari teologi, seperti yang terjadi di masa Abad Kegelapan Eropa. Filsafat kritis bukan pelayan nafsu politik yang hanya memikirkan egoisme sektoral demi sebuah kekuasaan. Filsafat kritis tidak melacurkan nalar yang hanya untuk meraup simpati dan dukungan publik. Filsafat kritis adalah filsafat yang memerdekakan manusia sebagai subjek yang berani berpikir sendiri secara mandiri. Filsafat kritis berarti menggunakan nalar secara kritis.

Absennya Nalar Kritis

Hakikat demokrasi adalah individualisme, yang berarti posisi setiap orang begitu kuat dan independen dalam partisipasi politik. Demokrasi lahir dari sebuah penghargaan atas kemerdekaan individu. Setiap orang dianggap mampu menentukan pilihan, tidak hanya politik, tapi bahkan banyak pilihan dalam kehidupan.

Sayangnya demokrasi yang dipertontonkan saat ini di Indonesia menjelang tahun politik 2019 nanti tidak menunjukkan hal itu. Yang terjadi justru pergeseran hakikat demokrasi yang signifikan ke arah penistaan terhadap kemerdekaan akal pikiran individu. Penggiringan opini publik terjadi dengan sangat sistematis dan masif, yang menyebabkan matinya nalar kritis publik. Hal ini semakin diperparah dengan politisasi segala hal demi menumbuhkan sentimen emosional. Sehingga akal yang dikaruniai untuk menalar kebenaran akhirnya benar-benar tidak dapat berfungsi lagi.

Harus jujur diakui, itulah potret demokrasi kita saat ini. Demokrasi hanya dipandang sebagai ajang pertarungan jumlah manusia. Yang mampu mengumpulkan manusia paling banyak, maka itulah yang dianggap sebuah kebenaran. Tanpa adanya perhatian atas kemerdekaan nalar dan pilihan dari setiap individu. Demokrasi saat ini menjadikan nalar individu yang sejatinya merdeka tersandera oleh emosi publik. Orang dipaksa untuk menentukan pilihan, bukan diberikan pilihan untuk memilih.

Saya sempat berpikir bahwa praktik demokrasi saat ini harus diimbangi dengan peningkatan literasi publik. Tapi, sekarang saya berpikir hal itu tidak cukup. Literasi yang tinggi belum tentu melahirkan nalar kritis. Informasi yang diterima secara linier dalam jumlah yang tinggi justru hanya akan melahirkan doktrinasi. Doktrinasi tentu akan mematikan nalar kritis.

Sekarang saya juga berpikir bahwa pers dalam bentuk media massa maupun media sosial tidak lagi cukup disebut sebagai pilar demokrasi. Sebab saat ini independensi mereka sungguh dipertanyakan secara serius. Yang tersisa hanyalah independensi semu. Akhirnya tidak ada lagi yang diharapkan dapat benar-benar independen selain akal sehat yang kita miliki.

Sebuah Kebutuhan

Maka menurut hemat saya, kebutuhan yang paling urgen bagi praktik demokrasi saat ini bukanlah peningkatan literasi publik atau media yang independen. Yang paling urgen adalah menghadirkan filsafat kritis yang akan memproduksi nalar kritis dalam berdemokrasi. Sekali lagi perlu ditekankan, demokrasi secara filosofis adalah soal kemerdekaan individu dan penghargaan atas kebebasan berpikir untuk menentukan pilihan.

Marilah kita lepaskan diri dari belenggu sentimen emosional yang hanya akan menimbulkan perpecahan dan konflik di masyarakat. Mari kita kedepankan akal sehat dan nalar kritis dalam berdemokrasi. Dengan tumbuhnya filsafat kritis, berarti juga menumbuhkan iklim kebebasan pendapat setiap individu, termasuk di dalamnya perbedaan pendapat dan pilihan politik. Perbedaan pendapat dan pilihan akan dilihat sebagai sebuah keniscayaan, oleh karenanya harus disikapi dengan kepala dingin dan toleransi.

Berfilsafat kritis dalam berdemokrasi berarti mempraktikkan demokrasi berdasarkan rasionalitas, bukan berlandaskan hawa nafsu. Demokrasi yang rasional akan melahirkan pemilih yang rasional. Sedangkan demokrasi yang berlandaskan hawa nafsu hanya akan melahirkan pemilih yang emosional.

Menggunakan nalar kritis dalam berdemokrasi berarti menguji secara independen terlebih dahulu segala informasi politis yang kita terima di hadapan rasionalitas, seperti yang telah dicontohkan Sokrates di atas. Ayo, jadilah pemilih yang memiliki nalar kritis!

Ahmad Sadzali dosen Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia

Summary
Nalar Kritis untuk Tahun Politik 2019
Article Name
Nalar Kritis untuk Tahun Politik 2019
Description
Filsafat menuntut kita untuk mengerti, memahami, mengartikan, menilai, mengkritik data-data dan fakta yang dihasilkan baik oleh pengalaman maupun ilmu-ilmu. Filsafat sebagai ajang latihan untuk mengambil sikap, mengukur bobot dari segala pandangan yang disajikan di hadapan kita. Bersikap kritis dengan cara berfilsafat berarti kita tidak hanya membebek, mengikuti apa yang dianggap orang banyak sebagai kebenaran. Namun, kita harus mampu mengafirmasi secara merdeka apa yang kemudian menjadi keyakinan dan pilihan kita atas kebenaran tersebut.
Author
Publisher Name
Santrinulis.com
Publisher Logo

Tinggalkan Komentar