COLOURFULL OF LOVES 15

0
255

 (-15-)

LAVENDER

x x x

Tap

Tap

Tap

Tap

Tap

Tap

Suara langkah cepat yang berasal dari sepasang kaki jenjang milik seorang gadis menggema di sepanjang jalan gang sepi nan gelap itu. Tangan kecilnya memegangi bahu kanan yang sedari tadi mengeluarkan cairan kental berbau anyir. Luka yang dideranya cukup parah, namun tak menyurutkan keinginannya untuk pergi menjauh dari sesuatu yang mengancam dirinya. Berlari sekuat tenaga yang tersisa, berharap ada seseorang yang akan menolongnya.

Keringat bercampur darah membasahi sebagian tubuh bagian atasnya. Ditambah rasa sakit yang mampu menghilangkan sebagian kesadarannya saat ini. Ia belum ingin mati. Tidak dalam kondisi tragis dan menakutkan seperti ini. Jika memang Tuhan telah menggoreskan takdir kematiannya sekarang, maka ia tak bisa mengelak ataupun melarikan diri lagi. Namun bolehkan ia berjuang untuk tetap bertahan hidup? Salahkah jika ia masih ingin menjalani kehidupannya di dunia ini?

Tidak. Ia tak akan menyerah begitu saja. Tak akan dengan mudah memberikan tubuhnya pada makhluk aneh yang tengah mengejarnya. Makhluk berbentuk seperti manusia namun menyerang dan memakan manusia. Dunia memang sudah gila. Kanibal berkeliaran dimana-mana. Dan sekarang salah satu dari mereka tengah memburunya.

‘Tuhan … Tolonglah aku!’ Berulang kali ia menjeritkan doa penuh harap dan putus asa pada Sang Pencipta. Berharap bantuan tak terduga akan segera diperolehnya. Berharap ia bisa keluar dari marabahaya yang menjeratnya.

BRUKK

“Ahhh …” Ia terjatuh. Meringis menahan nyeri di bahunya. Tubuhnya melemah. Pandangannya mengabur. Nafasnya terputus-putus. Lelah dan sakit berbaur menjadi satu. Darah mengalir tanpa bisa dihentikan. Luka yang ia dapat memang tak main-main. Sebagian daging dan kulit di bahunya menghilang. Makhluk terkutuk itulah yang melakukannya.

“Seperti inikah akhir hidupku?” Ia mendongakkan kepalanya keatas. Memandangi langit malam yang kelam tanpa bintang. Menyunggingkan senyum miris yang menyedihkan.

“TIDAK!” Suaranya meninggi. Air matanya mengalir membasahi wajahnya yang telah dipenuhi darah. “Aku tak mau mati dengan cara seperti ini.” Ia berusaha berdiri, susah payah karena kedua kakinya pun terluka. Tak terlihat baik karena ia sudah banyak kehilangan darah hingga membuatnya lemas dan tak bertenaga.

“Aku harus segera pergi sebelum—”

“Ternyata bau manis itu berasal darimu.” Seseorang memotong ucapannya. Sosok lelaki bersurai platina muncul dari kegelapan. Tersenyum sinis dengan tatapan menakutkan. Bagaikan seekor predator menemukan mangsanya.

“Si-siapa kau?” Ia melangkah mundur seiiring langkah lelaki itu yang kian mendekat. Sedikit menggelengkan kepalanya yang mulai terasa berat karena pandangannya yang kadang mengabur.

“Kau tak perlu tahu siapa aku.” Ujar Lelaki itu seraya mendorong tubuh gadis di hadapannya hingga terbentur dinding keras. Mencengkram erat leher Si Gadis, mengendus dalam-dalam aroma khas yang menguar dari tubuh gadis itu, “Karena kau akan menjadi santapanku.” Seringai kejam terukir di wajahnya.

“Ti-tidak.” Si Gadis membelalakan matanya terkejut bercampur takut saat melihat bola mata lelaki itu berubah merah disertai dua ekor besar panjang dan keras yang muncul di balik punggungnya.

Satu ekor bergerak menembus perut Si Gadis, membuatnya terbatuk darah. Tubuhnya mendadak kaku dan mati rasa. Nafasnya tercekat. Ia kesulitan mengambil nafas ataupun bergerak meski hanya sedikit saja.

Yang terakhir ia ingat sebelum kegelapan mengambil alih adalah ucapan lelaki itu.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

“Akhirnya aku menemukanmu, gadis lavender.”

xxx

“Arrghhh …” Gadis bersurai pendek itu berteriak keras. Keringat dingin mengalir dari dahi turun hingga ke lehernya. Sekelebat mimpi buruk dan menakutkan baru saja singgah dalam tidurnya. Ia terduduk diatas tempat tidur, menenggelamkan wajahnya yang pucat di balik kedua lutut. Nafasnya tak beraturan. Pikiran dan perasaannya seketika kacau karena mimpi tersebut.

“Mimpi itu benar-benar menakutkan dan terasa begitu nyata.” Ia bergumam tak yakin akan ucapannya sendiri. Berusaha menetralkan degup jantung dan deru nafasnya yang tak beraturan.

“Akhirnya kau sadar.” Terdengar suara yang sudah tak asing lagi memasuki telinganya.

Ia mengangkat wajahnya ragu dan takut ke asal suara. Di ambang pintu sana, terlihat seorang lelaki bersurai platina tengah berdiri sembari melipat kedua tangan di depan dada, mengembangkan senyum miring.

“Ka-kau…” Ia tak mampu mengeluarkan kata lebih dari itu. Tenggorokkannya seakan tercekik hingga kesulitan untuk berkata-kata.

“Apa yang kau rasakan sekarang, Angel?” Lelaki itu berjalan mendekat.

DEGG

‘Ia tahu namaku.’ Batin gadis bernama Angel terkejut untuk kedua kalinya.

“Wajahmu sangat pucat. Ini pasti karena kau kehilangan banyak darah.” Lelaki itu menyentuh wajah Angel, mengusapnya lembut. “Kau tak perlu khawatir. Mulai sekarang tak akan kubiarkan siapapun menyentuhmu selain aku.”

“A-aku sungguh tak mengerti dengan semua yang terjadi.” Ujar Angel pelan namun masih bisa terdengar oleh lelaki itu. Tatapan matanya kosong penuh kebingungan. Tubuhnya bergetar hebat karena ketakutan. “Ji-jika semalam bukanlah mimpi … Lantas mengapa aku masih hidup sampai saat ini? Sebenarnya apa yang telah terjadi disini?” Ia mulai histeris. Meremas erat surai indigonya. Menangis tersedu.

Dalam sekejap tubuh Angel berada dalam dekapan lelaki itu.

“Ssstttt! Tenanglah!” Ia mengusap lembut punggung mungil Angel. Berharap dengan tindakannya tersebut dapat membuat gadis itu sedikit tenang. “Akan kujelaskan semuanya, tapi dengan satu syarat.”

“Apa?”

“Jangan membenciku dan jangan takut padaku!”

“Aku…”

Angel terdiam. Sibuk bergelut dengan pikirannya sendiri. Satu sisi ia merasa takut pada jika mengingat kejadian semalam. Tapi di sisi lain entah mengapa ia merasakan sesuatu yang aneh saat berada dalam dekapannya. Semacam perasaan tak asing akan sentuhan dan aroma tubuh milik lelaki itu.

Aneh memang. Dan Angel bingung harus bersikap dan berkata apa sekarang. Diam adalah jawaban sementara.

“Jadi bagaimana?” Lelaki itu kembali bertanya. Menjauhkan dirinya agar bisa melihat wajah ayu Angel.

“Ba-baiklah.”

Sebuah keputusan telah ditetapkan. Sebuah senyum kelegaan pun tersungging di bibir lelaki itu.

“Bagus.” Ia mengangkat sebelah tangannya untuk mengusap kepala Angel. “Pertama-tama aku akan memberitahukan namaku dulu.”

Angel mengangguk pelan.

“Aku Kenias.” Ujarnya memperkenalkan diri. “Sebenarnya kita pernah saling bertemu sebelum ini. Akan kuingatkan jika kau melupakannya.” Ia menatap manik lavender Angel dalam dan tajam. Memulai untuk bercerita. Membuka kisah lama yang masih tersimpan apik di dalam memorinya.

.

.

.

.

.

.

.

.

Hening beberapa saat lamanya.

Angel termenung seakan tak percaya dengan semua hal yang diceritakan oleh Kenias.

Kenias adalah orang yang Angel tolong setahun lalu. Sejak saat itu, ia mencoba mencari keberadaan Angel dengan menggunakan satu petunjuk penting yang pada akhirnya mengantarkan ia pada gadis itu.

Lavender.

Aroma khas yang selalu diingat Kenias. Aroma yang sangat disukainya hingga melekat di hati serta pikirannya. Selama setahun belakangan, banyak hal yang terjadi dalam hidupnya. Bahkan perubahan sangat besar telah terjadi setelah kejadiaan naas itu. Ia bukan lagi manusia biasa seperti dulu.

Sekarang Kenias telah berubah menjadi seorang manusia setengah ghoul. Di dalam tubuhnya terdapat organ-organ milik seorang ghoul yang hampir memangsanya malam itu. Ia terselamatkan melalui transplantasi organ yang dilakukan pihak rumah sakit khusus untuk menangani kasus seperti itu.

Awalnya Kenias sangat menyesal dan berharap untuk mati daripada hidup sebagai ghoul. Makhluk ganas yang suka memakan daging manusia. Tapi pada akhirnya ia bisa menerima semua takdirnya. Terlebih ada hal yang menjadi alasan ia ingin tetap hidup meski tak akan lagi sama seperti kehidupannya yang dulu.

Ia ingin menemukan seorang gadis beraroma lavender yang telah menolongnya pertama kali.

Dan sekarang keinginannya telah tercapai. Gadis itu ada di hadapannya.

“Angel …” Suara Kenias membuyarkan lamunan panjang Angel.

“A-ah, maafkan aku!” Ujar Angel kikuk.

“Jadi, apakah sekarang kau telah mengingatnya?” Tanya Kenias menatap bola mata cantik milik Angel.

“I-iya. Sepertinya aku mulai ingat.” Jawab Angel sembari mengusap tengkuknya pelan. “Lalu mengapa kau mencariku sampai seperti itu? Dan kenapa kau ingin membunuhku semalam?” Tanyanya ragu tapi ingin tahu.

Kenias menghela nafas berat. Menarik tubuh Angel kembali ke dalam dekapannya yang erat, “Maafkan aku! Semalam aku kehilangan kendali atas tubuhku lagi. Tapi disaat aku hampir membunuhmu, aroma lavender yang begitu kental menguar dari tubuhmu. Dan akupun akhirnya tersadar kalau kaulah gadis yang kucari selama ini, Angel.”

“Aku sudah memaafkanmu.” Angel tersenyum tulus meskipun Kenias tak bisa melihatnya. “Ta-tapi bagaimana bisa aku selamat dengan luka parah yang kudapatkan semalam?” Tanyanya lagi, meluapkan rasa penasaran di dalam dirinya.

“Mengenai itu…” Kenias menghentikan ucapannya. Melepaskan dekapan sembari menatap wajah Angel agak ragu, “Kaupun mengalami hal yang sama denganku.” Imbuhnya.

“Ma-maksudmu?” Angel mengernyitkan dahinya tak mengerti.

“Kau bisa selamat karena transplantasi organ ghoul. Dengan kata lain sekarang kau adalah—”

“A-aku seorang manusia setengah ghoul?” Ujar Angel seolah melanjutkan ucapan yang hendak dilontarkan Kenias.

Kenias mengangguk sebagai jawaban. “Maafkan aku!”

Angel menggelengkan kepalanya. Setetes air mata jatuh membasahi wajahnya. “Kau tak perlu minta maaf, karena kau sama sekali tak bersalah. Justru aku bersyukur karena kaulah yang menemukanku. Jika yang menemukanku adalah ghoul yang lain, maka sudah dipastikan sekarang aku tak akan ada disini. Setidaknya aku masih hidup. Ternyata Tuhan telah mendengar doaku semalam. Aku menangis bukan karena sedih, tapi karena bahagia. Aku—”

Sapuan benda lembut nan basah membungkam bibir Angel. Gadis itu mengerjap pelan merasakan bibir Kenias mengecup bibirnya. Wajah Angel merona hebat. Jantungnya berdebar cepat. Tapi ia sama sekali tak bisa bereaksi. Hanya terdiam bagaikan sebuah patung. Terlalu terkejut menerima ciuman yang tiba-tiba dari Kenias.

“Sudah cukup! Jangan bicara lagi!” Ujar Kenias setelah melepas ciumannya. Menempelkan dahinya ke dahi Angel, “Sekarang biarkan aku yang bicara. Kau hanya perlu mendengarkan.”

Angel mengangguk pelan dan gugup. Nafasnya tak beraturan karena ciuman panjang yang telah menghabiskan pasokan oksigen di dalam paru-parunya.

“Tadi kau bertanya padaku, mengapa aku mencarimu sampai seperti itu? Akan kujawab.” Kenias sedikit mengambil nafas, memberi jarak antara wajah mereka. “Karena aku menginginkan eksistensimu di dalam kehidupanku. Aku ingin kau berada di sisiku. Aku ingin kau menjadi milikku. Jadi … Apakah kau mau menerimaku?” Ia menyentuh pipi kanan Angel, mengusapnya lembut.

“Aku mau.” Angel menjawab tanpa keraguan. Ia menggenggam tangan Kenias yang berada di pipinya. Tersenyum manis dan tulus.

“Terimakasih.” Kenias pun tersenyum. Tulus. Bukan seringai ataupun senyum sinis yang ia tunjukkan semalam. Membawa gadis yang sangat ia cintai itu ke dalam pelukkan hangat miliknya.

.

.

.

.

.

.

-FIN-

Notes:

Ghoul adalah salah satu makhluk mitologi dari Arab yang cukup di kenal karena sering digambarkan dalam film-film terutama pada anime. Ghoul sering di gambarkan sebagai makhluk raksasa yang gemar merusak makam dan memangsa mayat yang ada di dalamnya ( Ia juga gemar memangsa jasad yang masih baru di kuburkan) . Konon, Ia menghuni kuburan atau tempat yang tak terjamah oleh manusia. Banyak pula yang menyebutkan bahwa Ghoul bertempat tinggal di sebuah padang gurun yang tak berpenghuni untuk memangsa para pengelana yang menjelajah di tempat tersebut.

Menurut mitos masyarakat Arab kuno, Ghoul dapat mengubah wujudnya menjadi berbagai jenis binatang, terutama Hyena. (Mungkin karena Hyena merupakan karakter yang paling mirip dengan kepribadiannya).

Dalam Legenda Arab di sebutkan bahwa Ghoul adalah sosok jin yang dapat memikat mangsanya untuk datang ke tempat yang ia kuasai (terutama gurun pasir yang sepi). Ghoul memiliki kemampuan untuk memperdaya dengan cara mendatangi korbannya secara langsung karena ia juga mempunyai kemampuan untuk mengubah wujudnya sebagai orang yang pernah ia mangsa sebelumnya. Namun anehnya dia juga gemar mengumpulkan uang koin dari para korbannya (mungkin menurutnya koin” itu adalah benda yang berkilau baginya). Dalam perkembangan legendanya, ia merupakan salah satu makhluk mitologi yang paling ditakuti, khususnya bagi mereka yang menghuni kawasan Timur Tengah, Arab.

Namun saat ini, Ghoul sering di kategorikan sebagai zombie atau kanibal karena kegemarannya memangsa mayat. Selain menghuni area perkuburan atau tempat yang tak terjamah, Ghoul juga memangsa manusia yang sedang lengah atau bahkan anak-anak pada saat mereka dekat dengannya. Namun korban yang palinh sering adalah orang yang sedang tersesat dan secara tak sengaja masuk ke area kekuasaannya.

Sumber: http://xfilester.blogspot.com

 

 

 

 

Tinggalkan Komentar