Daun Yang Gugur

0
49

Politik itu licik, kejam dan angkuh, ia hanya mengenal kawan dan lawan, mengenal kalah dan menenag. Jika Orientasi kesejahteraan diukur dengan materi, kecantikan diukur dengan materi, kehebatan diukur dengan materi, dan jabatan diukur dengan materi semua serba materi, mampus kau dibudak dunia.

“besok mama keluar kota, kamu di rumah jangan macem-macem ya, mama tugas sebentar Cuma dua hari” mama membuka percakapn pagi ini, dia masih sibuk membuka kulkas, menuangkan jus dalam gelas lalu meminumnya dengan berdiri, jus jambu itu seketika lenyap dari gelas, dan itu kebiasaan mama setiap pagi.

Tas mama terlihat lebih elegan pagi ini, tapi sepertinya tumpukan berkas di atas meja kerjanya belum menadarat di tasnya, dan mungkin tidak akan dimasukan kedalam tas sialan itu, tas mahal yang mama beli entah uang dari mana, yang digapainya setelah pertengkaran dengan istri konglomerat, padahal itu hanya tas yang tidak aku sukai, memalukan.

“iya ma” jawabku dengan nada malas

“belajar yang benar, biar nanti jadi politisi kayak mama, kan enak duitnya banyak” kata mama sambil membawa piring berisikan gorengan telur, lalu menuju meja makan, mama duduk di depanku lalu menatapku penuh  makna

“jadi politisi ya nak” aku menggeleng,

“jadi!”

“gak mau, kok mama maksa sih?” aku tinggalkan meja makan, pergi ke kamar dan meraih tas, setiap hari mama membujuk ku jadi seoroang politisi, ah, profesi setan itu tak pernah ku sukai, tapi mama memang potlitisi handal perempuan tangguh yang mampu menghidupi anak gadisnya dari jalan politik, ya mama semoga saja tidak pernah melenceng dari jalur politik.

sebagian orang menjadikan poliik sebagai kendaraan untuk mencapai kesuksesan, mengumpulkan pundi uang, lalu membangun istana kehormatan. Politik memang menggiurkan, semua yang berkancah dalam politik namanya akan diukir dalam sejarah, entah itu sejarah yang baik ataupun sejarah yang buruk.

Kuliah di jurusan  ilmu politi bukanlah lahir dari kemauanku, tapi karena bujukan mama yang menjijikan, jika tidak menuruti kemauanya maka uang kuliah harusku cari sendiri, ancaman mama ini memang memuakan, tapi menjadi seorang politisi tentu bukan cita-citaku, dan ujung dari perjalannaku biar ku tentukan sendiri, mungkin lebih tepatnya aku ingin menajdi seorang pengamat poitik.

***

“ciye, anak calon Bupati, Wah hebat kamu Feb” Dito menghampiriku, menepuk pundakku dan nyaris aku menjrit kaget, lelaki ini memang sangat sering jail, bukan hanya aku korbannya tapi hampir semua mahasiswa di kampus ini pernah merasakan ke jalinan, tapi lelaki ini lelaki yang paling setia mendengarkan clotehanku, dia adalah teman yang sangat peka terhadap permasalah dan isu sosial .

“oh, kenapa gak kamu aja yang jadi anak mamaku?” tanyaku

“dih, marah” dia tertawa lagi

“tapi aku gak pernah perduli” jawabku sewot

“eh jangan begitu, kita siap bentuk tim-ses mamamu, kan lumayan buat latihan berkancah di dunia politik”

“dan aku tak pernah peduli”

“Feb, kan seharusnya kamu bangga jadi anak seorang Bupati” Dito memandangiku menganggakat kepalan tangan kanannaya

“kita harus berjuang bersama” ah lucu sekali lelaki ini, menjadi anak seorang bupati  bukanlah suatu kebahagiaan apalagi keinginan, tak pernah ingin. Biar saja mamaku berkarir sesuka hatinya, tapi tetap saja sedikitpun aku tak ingin mengikuti jalannya

”Feb, kalau mau jadi tim sesnya caranya gimana ya?”

“entah Dit, aku tak tahu masalah itu” aku tinggalkan Dito sendiri, aku melaju ke kelas, membaca buku yang belum aku selesaikan, semua orang nampak antusia kuliah di jurusan Ilmu Politik, sepertinya kecuali aku, tak pernah menunjukan sedikit rasa bangga menjadi mahasiswa jurusn Ilmu Politik, jujur aku benci semua tentang politik.

***

Aku tidak pernah menanyakan kapan mama pulang kerumah, atau sedang apa dia, dan semua tentangnya, begitu nampak tak peduli dengan mama tapi memang aku tidak peduli

“kamu pasti dukung mamakan?” tanyanya,

“hm.. iya” aku mengganguk pelan

“ini baru anak kebanggaan mama oh iya kalau ada temanmu yang ingin jadi timses bilang ke mama ya, lumayan fee nya bisa dipakai beli HP baru, dan cukuplah buat jajan” mama tersenyum, licik.

“ma, kalau mama jadi Bupati, apa yang bakal mama lakuin”?”

“mama akan menjadikan kabupaten ini lebih maju”

“dalam sektor apa?”

“sumber daya manusia dan sumber daya alam tentunya, menjadi kabupaten yang bisa meraih berbagai penghargaan“ jawab mama bangga dengan penuh keyakinann

“kalau seandainya mama kalah dalam pemilu?”

“Febri!” mama membentakku, seketika wajah mama memerah, mata mama melotot, bahkan rambutnya terlihat lebih mengembang, mama sedang marah, aku tahu itu

“kamu kenapa sih gak pernah suka liat mama bahagia, omongamu itu bisa jadi doa, jangan jadi anak durhaka kamu!”

prankkkkkk!

Sendok ku lempar di lantai, jika melempar piring atau gelas kasian mbak Lili harus membersihkanya apa lagi jika terkena pecahanya, jadi kuputuskan melempar sendok di lantai, ini lebih ayik

“aku benci mama” aku benci sifat mama yang penuh dengan ambisi

***

Televisi di ruang keluarga menyala sejak tadi tapi tidak ada yang menonton, mungkin mbak Lili lupa mematikanya, setelah seharian mengerjakan tuga kuliah rasanya pundakku semakin lelah dan energi di tubuhku sudah saatnya harus diisi. Teringat jus mangga yang dibuat mbak Lili tadi rasanya aku ingin meminumnya, panas di tenggorokanku mungkin akan terasa lebih segar dibandingkan susasan hati yang semakin panas melihat berita politik yang semakin kacau. Kulihat mama sedang sibuk memainkan Hpnya setelah keluar dari kamarnya. Mama sangat serius tanpa sadar kakinya tersandung kursi ruang tamu.

“berapa  uangan yang mama keluarkan untuk modal awal?” tanyaku membuyarkan lamunannya

“tidak banyak, hanya sedikit dari tabungan, di tambah uang dari sokongan”

“setahuku mama tidak punya banyak tabungan”

“tahu apa kamu, setiap hari mama banting tulang untuk mencari uang menghidupimu, setidaknya kamu harus bisa menunjukan sedikit rasa bangga dan dukunganmu untuk mama”

“tapi aku tidak suka mama jadi Bupati”

“terserah kamu, kalau masih mau diagnggap anak sama mama, kamu harus menunjukan rasa hormat, dan dukungan di depan orang banyak”

Wajah mama semakin seram, tangannya semakin cepat mengetik di layar ponselnya, dia duduk di kursi ruang kelurga dan televisi masih menyala dengan suara lantang, sangat berisik dan mengganggu ketenang rumah. Akhir akhir ini rumah bukan menjadi tempat yang nyaman untuk melepas lelah, tapi justru hawa panas politik di negri ini juga merambat ke rumahku, entah harus dipadamkan dengan apa agar rumah ini kembali nyaman dan damai.

Aku masih melihat mama yang sedang serius dengan ponsel pintarnya, tiba tiba aku teringat tentang koran yang tadi pagi tak sengaja ku baca, dalam surat kabar itu menjelaskan setidaknya ada empat daerah yang menghabiskan dana sekitar 60-70 milyar lebih dana yang digunakan untuk menjadi Bupati, penjelasan dari Menteri Dalam Negri memang hal itu sangat tidak wajar, jika hal tersebut dipertahankan maka akan membuat iklim pemerintahan dan perpolitikan yang tidak sehat. Dan hal tersebut yang sedang kupikirkan, lagi-lagi tentang mama.

***

Mama menghabiskan banyak dana di ajang pesta demokrasi kali ini, aku memang tidak tahu banyak tentang urusan mama tapi setelah kuselidiki mama hampir menghabiskan hampir 20 milyar, lebih sedikit dibandingkan empat daerah yang ada di koran yang sudah kubaca kemarin lusa. Aku sangat yakin sokongan dana dari para penyokong juga meminta imbalan jika memang mama terpilih menjadi bupati, entah kenapa semua terlihat begitu ambisius dalam mengejar materi.

“zaman sekarang untuk sosialisasi calon ke padada masyarakat itu modalnya besar, kalau Cuma modal 10 milayar aja ya kurang” bantah mama setelah kutanya berkali kali tentang dana yang besar itu.

Mama memang terlihat lelah, wajahnya saja sudah tidak segar lagi, dia terlihat begitu kelelahan setelah pulang dari kampanye, aku memang tidak seharusnya melakukan ini padanya tapi mau bagaimana lagi aku benar-benar tidak ingin menjadi anak seorang Bupati, terlebih lagi orang-orang di belakang mama adalah binatang yang mengejar dunia, mereka semua bekerja sama untuk menjadapkan materi dunia, dan mama hanya pemeran di depan layar dan bisa saja nanti menjadi korban, dan aku sangat tidak menyukai hal itu.

“Kalau mama mau berbagi urusan rahasia mama, mungkin aku akan benar-benar membantu mama”

“urusan apa yang ingin kamu ketahui?, kamu baru mahasiswa kemarin sore yang kuliah di Ilmu Politik, tau apa masalah politik?” tanya mama semakin gusar, akhir-akhir ini pertikaian aku dan mama memang sering terjadi.

“mama dijanjikan apa saja oleh para penyokong itu?, dan mereka minta imbalan apa saja setelah mama menjadi Bupati nanti? Aku Cuma gak ingin mama tersandung korupsi” aku masih melemparinya dengan pertanyaan-pertanyaan yang menakutkan baginya. Mama menatapku sangat tajam, perempuan ini memang tidak akan pernah kalah dalam berdebat, terlebih lagi dengan urusan ambisinya.

Aku tahu, modal menjadi Bupati, Gubernur apa lagi Presiden tidak lah sedikit, dana itu paling besar digunakan pada sosialisasi dan logistik. Sekalipun dana itu didapat dari gotong royong, pendukung, sumbangan, dan dana pribadi. Sekali lagi aku hanya kawatir dengan keadaan mama, aku hanya memimpikan kehidupan yang sedarhana dan normal sebagaimana orang lain tanpa pusing-pusing dijerat dengan tuntutan dalam memperkaya diri dengan materi.

***

“kamu aneh Feb, sebagi mahasiswa yang baik kuliah di jurusan Ilmu Politik, tapi tidak pernah sekalaipun kamu datang ke TPS untuk mencoblos, kalau semua warga negara kayak kamu, hancurlah negri ini” pagi ini mama berkomentar lagi, aku memang tidak pernah datang ke Tempat Pemungutan Suara setelah aku mengerti sedikit tentang politik kotor di negri ini

“aku tidak datang ke TPS karena tidak ada calon yang layak ku pilih ma”

“tapi mamakan sudah pasti layak kamu pilih, juga kamu harus menyuruh teman-temanmu atau siapapun untuk mencoblos mama, nomor urut satu pasangan Adel-Joni, awas kalau kamu khianat dan mengecewakan mama” ancam mama sambil bertolak pinggang.

“ah terserah mama lagian masa kampanye juga sudah selesai jadi kenapa harus berkampanye lagi” balasku tanpa melihat mama

Masa tenang pra pilkada ini ternyata tidak setenang yang diharapkan, kampanye terselubung, dan kampanye hitam masih bergentayangan, baik dari tim mama dan juga pasangan calon lain, permainan licik kedua calon sangat jelas terlihat, bahkan hingga hari H pencoblosan politik uang meraja lela. Aku ingin menghindari situasi seperti ini, tapi nyatanya mama sudah terjerumus dan aku juga sudah terjebak didalamnya, hanya bisa diam dan berpura-pura tidak tahu.

***

jujur untuk detik penghitungan jumlah suara adalah hal yang sangat menakutkan, aku takut sesuatu terjadi, ku pandnagi mama, wajahnya terlihat nampak tenang dan sumringah, tapi aku tahu geliat mama menjukan dia sedang khawartir.

“aku sayang mama” ku peluk mama dengan berlinangan air mata, mama tersenyum padaku dan membalas ciumanku.

“mama tahu kamu sayang mama, tapi mungkin caramu mengungkapkanya tidak mama sukai” ujarnya tersenyum, aku membalas senyumannya, kami kembali ke rumah untuk beberapa saat, mama hanya perlu beristirahat sejenak, dan nanti sore mama harus pergi lagi tentu dalam urusan ambisinya. Aku hanya bisa berdoa, semoga Tuhan memberikan yang terbaik untuk mama, jika memang aku ditakdirkan menjadi anak seorang Bupati, semoga mama menjadi bupati yang amanah dan bertanggung jawab terhadap rakyatnya.

Aku tau penyakit para manusia busuk yang duduk di kursi pemerintahan, mereka dengan mudah mengumbar janji manis kepada rakyat, setelah mereka jadi apa yang diinginkan mereka seakan akan lupa, bungkam, dan tuli, malah mereka sibuk memberkaya diri dan memulai bisnis baru, dan menutupi utang kemenanngan tak heran para petinggi itu tersandung kasus korupsi, itu hal yang sangat menakutkan dan tak ingin terjadi pada mamaku.

Pukul 15:00 WIB hasil Quickcount dari berbagai lembaga survey sudah keluar, ada rasa takut saat mengetahui hasilnya.ini memang bukan hasil resmi dari keputusan Komisi Pemilihan Umum tapi hati kecilku mengamini hasil dari perhitungan cepat beberapa lembaga survey yang menyatakan bahwa pasangan Adel-Joni kalah 21% suara dibandingkan dengan pasangan lain.

Pada akhirnya mama kalah dalam pemilu, semua kecewa termasuk aku, tapi biarlah mungkin ini jawaban dari sikapku yang tidak ingin menajdi anak seorang Bupati. Aku ingin terlahir dari orang tua yang sederhana tanpa menjadi orang penting atau orang yang terhormat, menggunkan segala cara untuk mengangkat derajatnya padahal semua itu adalah kebusukan belaka. kulihat mama sangat sibuk menerima telpon dari beberapa orang, aku menjadi semakin khawatir, aku harap mama menjadi lebih kuat. Karena dia memang wanita yang kuat.

***

Surat keputusan dari KPU memang sudah keluar. Mama semakin menyendiri, tidak ingin bertemu dengan siapapun, makanpun juga tak mau, kalau begini urusan semakin repot. Semalam suhu tubuh mama semakin panas, dan badannya mengigil kencang, aku tahu mama sedang sangat tidak stabil.

“uang…uangku” mama hanya bicara tentang uang dan uang

“nang ning nang ning nung… hai hai aku bupatimu hahaha”  mama semakin  bertingkah aneh, dia tidak menggunkana baju yang sopan, aku berusaha memakaikanya baju, terlihat ia sadang stress, kerugian hampir milyaran telah kandas dari tangan mama, dan para penyokong itu kini sibuk menghubungi mama minta uangnya dikembalikan, terlebihlagi para parpol yang menjerumuskan mama disituasi kali ini malah pergi dan tidak mau tahu soal mama.

Aku memang tidak menginginkan mama menjadi bupati, rasanya aku sangat jahat, tapi aku juga tidak ingin orang orang memanggil mamaku sebagai caleg -calon gila. Mama masih sehat seperti sedia kala tapi mungkin jiwanya masih sedikit terganggu. Tiba tiba aku teringat pada pilihan legislatif tahun 2009 setidaknya ada 7000 lebih caleg yang mengalami gangguan jiwa setelah kalah dalam pemilihan umum. Aku semakin sedih melihat kondisi mama yang sedang memburuk, atau mama menjadi salah satu diantara mereka di tahun ini?

Mama obsesimu membutakan matamu, kau daunku, yang selalu memberikakanku kekuatan tapi kini kau gugur.

Tinggalkan Komentar