Cerita di antara Dunia Fana

0
345

Aku lupa bagaimana rasanya mati, tapi seingatku rasanya sangat sakit, bahkan jika dapat aku lukiskan maka kanvas kuas dan catpun takan sanggup, jika dapat aku perlihatkan mungkin kedua matamu pun takkan sanggup melihat bagaimana rasanya ketika mati, semua terasa berat, seperti kulit badan di kupas dengan silet, ah rasa itu masih teramat  biasa, tapi jadi bingung bagaimana menyampaikan rasa sakit.

***

Wajah mama nampak memelas, rambutnya acak-acakan sepertinya dia belum menyisir sejak kemarin. Matanya masih sayu, bengkak dan memerah sepertinya kurang tidur, atau bahkan belum tidur. Badannya semakin lemah pagi itu tidak banyak percakapan di rumah.

“sabar ya mah, jangan bersedih” ujar Bagas memberikan segelas air minum kepada mama,  mama membalasnya dengan senyuman

Aku melihat mama yang sedang terduduk di bangku panjang dengan lemas, mama hanya di temani mas Bagas, kaka pertamaku. Mama sangat sedih dan hatinya pasti sedang terluka, andai waktu dapat diputar kembali tentu aku akan menuruti perintah mama, tidak pergi untuk bertemu sahabat lama yang kebetulan ada di jakarta, saat itu hujan turun cukup deras, dan jalanan juga terasa licin, awan hitam juga menghiasi langit sangat wajar sekali jika pandangan jarak jauh tidak bisa ku lakukan, karena penglihatanku terganggu dengan air hujan, tanpa helm di kepalaku dan tanpa berteduh.

Sore itu tiba-tiba semuanya terasa gelap, bahkan nyaris sekali tak ada cahaya yang menghampiri penglihatanku, semuanya sepi dan tak ada suara yang menghangatkan telingaku. Aku benar-benar sendiri, mungkin aku buta dan mungkin pula tuli. Aku takut sendirian, aku takut kegelapan dan aku tidak menyukai kesepian. Hidup tanpa seseorang di sampingku terasa hampa, apa lagi saat itu, rasanya aku semakin menggila, lebih baik aku mati saja.

***

Kesibukan selalu menghampiri rumah sakit Cahaya Hati, para dokter dan perawat mondar-mandir kesana ke mari memasuki setiap kamar pasien, para pengunjung dari loby utama semakin ramai dan silih berganti datang menjenguk para sanak saudaranya yang sedang di rumah sakit ini, semua nampak sesak, penuh, mungkin bisa membuat pusing kepala. Tapi tidak denganku, dengan kami yang masih menunggu takdir.

Dari arah utara, perempuan itu berjalan sangat lamban sekali, wajahnya menampakan kesedihan dan juga air mata, sepertinya dia sedang tidak ingin diganggu, dia tidak meilhatku walau sudah ku panggil dengan suara keras. Dia tidak mendengar apa memang pura-pura tidak dengar, gumamku dalam hati.

“, kok nangisih?” tanyaku sambil mengejar langkahnya, dia masih diam

“hei, kamu kenapa?” aku menyentuh pundaknya, menguatkan agar dia tidak menangis lagi, tapi justru tangisan itu semakin pecah di pundakku, ku ajak dia duduk di bangku, aku menenangkannya dan menghiburnya, melihat perempuan menangis bukanlah hal yang menyenangkan, justru perasaan bersalah juga rasa kashiahn yang serba salah. Aku bingung bagaimana menenangkan hati perempuan jika sedang menangis.

“hingga saat ini keluargaku belum menjengukku, aku masih sendiri di rumah sakit ini” jawabnya lirih, suaranya masih parau dia masih menangis.

“tenang saja, tapikan ada aku, yang selalu ada buat kamu” godaku

“bukan tentang kesepian, aku hanya ingin melihat keluargaku untuk terakhir kalinya”

“huss.. kamu ngomng apa sih? Kita pasti sembuh dan hidup sehat seperti mereka” jawabku mulai menenangkanya

Dia menggeleng, isak tangisnya semakin kencang. Perempuan ini kubiarkan lebih lama merebahkan kepalnya di pundakku. Orang-orang seperti kami, tidak banyak kesempatan untuk bisa hidup sehat seperti dulu. Hanya sebagian kecil orang yang koma bisa sehat lagi. Terlepas dari itu kami mempunyai perjanjian dengan malaikat pencabut nyawa.

Pada hakikatnya malaikat pencabut nyawa sudah datang kepada manusia saat manusia itu baru terlahir di muka bumi, mereka membuat perjanjian, setiap manusia lahir selalu membawa amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Perjanjian perjanjian dengan malaikat pencabut nyawa harus segera dilaksanakan ketika di dunia.

Malaikat pencabut nyawa datang biasanya 2-3 kali dalam hidup manusia, ketika lahir, dan ketika manusia koma, dan ketika manusia akan mati. Malaikat itu suduah pasti datang kepadaku di saat aku dilahiirkan di dunia, namun selama aku koma malaikat itu belum datang juga, ada dua kemungkinan, jika dia datang dan mengizinkanku untuk hidup kembali di dunia maka aku akan sembuh dan sehat kembali, lalu bisa mengerjakan segala kesibukan. Tapi dari pertemuan itu jika ternyata dia harus membawaku berarti aku benar-benar mati dan meninggalkan dunia ini.

Keberadaan malaikat maut hanya akan dipercayai bagi mereka yang koma atau bagi mereka yang akan meninggal, bagimana yang tidak pernah mengalami koma atau belum meninggal? mereka semua tidak akan percaya bahwa ada malaikat maut. Pun demikian jika manusia itu tersadar lagi dari komanya ia akan lupa bahwa pernah bertemu dengan malaikat maut, tapi yang ia ingat ia harus menepati janji, menepati amahan yang belum dikerjakan. Jika gagal maka malaikat maut akan marah dan menjemput manusia dengan kejam ketika ajal kematian datang.

Aku belum pernah bertemu dengan malaikat maut, selama ini aku hanya mendengar dari orang-orang yang koma, kami sering berkumpul dan mengobrol. Tentang kehidupan kami yang dahulu. Atau membicarakan tentang alam akhirat, gambaran tentangnya kadang membuat bulu kuduk merinding, karena manusia akan bertemu dengan dua tempat dan menetap di salah satunya. Biasanya tempat ini dikenal dengan nama surga dan neraka

“aku sudah bertemu dengan malaikat maut, 48 jam lagi dia akan datang menjemputku” ujar  pelan

Dug…

dadaku tiba tiba terasa nyeri, bahkan nafaspun rasanya aku semakin sesak. Kenapa perempuan malang ini akan pergi lebih cepat? Dia temanku di rumah sakit ini, dia lebih dulu menjadi penghuni di kamar melati 39, seorang pekerja keras di sebuah majalah di ibu kota, perutnya tertusuk pisau oleh salah satu perampok di rumahnya, harta bendanya di jarah dan dia nyaris diperkosa tapi pisau dari salah satu perampok itu sudah melayang terlebih dulu bersamaan dengan suara teriakanya yang kencang, lalu dia kehabisan darah dan tidak sadarkan diri.

Hingga detik ini kelurganya belum juga menjenguknya, padahal pihak rumah sakit dan teman-teman kerjanya sudah memberikan kabar miris tersebut kepada keluarganya yang berada di pulau sebrang, tapi ayahnya sedang ada di luar negri. Sepertinya  ingin sekali bertemu dengan kelurganya mungkin untuk mengucapkan terimakasih dan permintaan maaf yang teramat dalam. Keadaanya sangat terbalik denganku aku sangat beruntung, setiap hari teman, keluarga, tetangga silih berganti menjengukku. Kadang ayah, ibu, kakak sering bergantian untuk menemaniku di rumah sakit.

Dua hari yang lalu kami semua bersedih setelah kehilangan kakek Seno, orang yang selama ini merawatku, menjagaku dan mengajariku banyak hal, darinya aku mengenal malaikat maut itu, namun hingga kini aku masih penasaran bentuk rupa malaikat maut itu, karena ketikak kakek Seno dijemputnya aku tidak bisa mengantarnya karena ada seseorng yang ku tunggu di ruanganku. Kakek Seno juga tidak memberitahuku jadwal penjemputan malaikat mautnya, dan itu peristiwa yang sangat menyakitkan.

Kini, seseorang yang dekat denganku pula, mendekati hari akhirnya, maka sudah kuputuskan, untuk dua hari ini aku akan berada di sisihnya, takkan ku biarkan orang-orang yang kusayangiku pergi tanpa melihatku untuk yang terakhir kalinya. Ku peluk erat perempuan malang ini kini tubuhnya lemas, lemas sekali. Bibirnya terlihat pecah-pecah dan kering, bahkan berbicarapun dia sepertinya sudah tidak berdaya.

Ku gendong  dengan sekuat tenaga, aku membawanya masuk ke kamar kami, karena aku sekamar dengannya. Ku biarkan dia beristirahat di jasadnya. Dan tugaku hanya menjaganya. Terlihat jelas guratan kesedihan di wajahnya, dia benar-benar mengharapka keluarganya untuk datang, tapi sangat idsayangkan ruh-ruh yang berkelana seperti kami tidak bisa membantu banyak, selain berdoa dan saling menguatkan satu sama lain.

“cepet sadar ya Nak!” suara perempuan tua menyadarkanku, oh ternyata ibuku masih duduk termenung di depan jasadku, matanya masih sembab

“Mama aku kangen” gumamku lirih dalam hati, tak sengaja air matapun ikut menetes dengan sendirinya. Mama benar-benar mengasihiku, dia benar-benar merindukanku, dia selalu mendoakannku untuk cepat sadar dan pulih. Aku merasa semakin berdosa melakukan ini, namun bagai mana lagi, aku tak punya kuasa lebih selain pasrah.

Ternyata sudah sepuluh jam aku keluar dari jasadku, tentu itu membuatku semakin letih dan kekuatanku semakin berkurang. Bagi Ruh sepertikami yang keluar dari jasad di saat koma hanya mampu 10 jam saja, 14 jam lainya ruh harus berada di jasad manusia, jika ia ingin segera pulih dari sakitnya tentu harus mematuhi pearturan untuk tidak keluar dari jasad sesering mungkin, namun bagaimanapun, ruh-ruh seperti kami di saat koma tentu tidaklah betah tinggal di jasad.

Maka kami lebih sering berkelana, keluar dari jasad maka akan bertemu dengan Ruh manusia yang lainya, lalu berkenalan dan bertukar cerita itu hal yang sangat menyenangkan bahkan tidak tersa jika hal tersebut dijadikan hobi sering sekali lupa bahwa ada jasad yang ingin bersatu dengan ruhnya, seperti jasadku, aku sering keluar dari jasad sangat lama, dan benar-benar menghabiskan waktu 10 jam.

“Clara, aku hanya butuh 14 Jam untuk beristirahat, setelah itu aku akan segar kembali dan menemanimu bercerita” aku menatap wajahnya lekat-lekat, dia cantik tapi nampaknya dia perempuan yang sangat jutek. Masih tak ada jawaban darinya, mungkin dia benar-benar lelah dan sudah waktunya beristirahat sepertiku.

“sampai jumpa nanti” ucapku lagi, lalu memandangi wajah mama kemudia duduk di atas ranjang, menjulurkan kedua kaki, menarik nafas dalam-dalam, perlahan memjamkan mata dan menenggelamkan ruh kedalam jasad, agar lebih seimbang keberadaan keduanya. Kadang-kadang orang yang koma seperti kami hanya diberikan kemampuan mendengar, tapi tidak semuanya. Hanya beberapa, akupun kadang-kadang mendengar percakapan tanpa bisa membuka mata, dan mengajak mereka berbicara

***

Hari suduah gelap, lampu-lampu kota sudah dinaylakan dan memperindah ibu kota. Semua terasa lebih cantik di malam hari.

“kak Bagus, sudah belum ngisi energy?” tanya Afdhal, anak berusia 7 tahun. Temanku bermain disaat bosan. Aku melihatnya sedang bersedih

“kok kamu ke kamarku?” dia hanya menunduk dan diam

“ada apa? orang tuamu masih ada di kamarmu kan?” tanyaku lagi, dia masih diam. Bocah ingusan itu ternyata menangis, dia menatapku penuh dengan kesedihan, wajahnya yang polos itu benar-benar menampilkan kejujuran atas kesedihanya

Dia mengangkat jari telunjuknya, dan mengarahkan ke ranjang

Dug…

Dada ini semakin sakit, semua ini terasa semakin berat

“ kemana?” tanyaku panik

“sudah dijemput dengan malaikat maut” jawabnya parau.  Semua itu lagi-lagi mimpi buruk untukku, 15 jam yang lalu dia bilang dua hari lagi penjemputanya datang, kenapa penjemputannya hari ini? benarkah  berbohong pada ku? Untuk apa? tanpa ucapan selamat tinggal atau terimakasih, perempuan malang itu ternyata tidak hanya jutek tapi juga jahat, tega sekali dia.

“kata kak , dia harus berbohoong, karena 2 jam sebelum kakak istirahat penjemputanya datang, jadi dia tidak ingin membuat kaka menungguinya. Karena itu akan fatal terhadap jasad kakak”

Aku masih marah dengan keadaan, merasa bersalah. Apakah cita-cita terakhir  ingin bertemu dengan keluarganya terwujud? Malang sekali nasibmu

“Mas Bagus jangan bersedih, tadi kelurga kak  datang, dan belum terlambat itu yang membuat kak  bahagia di sisa hidupnya” Afdhal masih menagis, dia memegang tanganku kencang

“seberapa tahu kamu dunia orang koma yang ruhnya bisa berkeliaran dan dengan  hubungan malaikat maut” tanyaku pada bocah lugu itu

“hanya sedikit”

Kasih tahu semua yang kamu tahu”

Dia mengajaku melihat jenazah  di kamar mayat, tubuhnya sudah tidak segar lagi, hanya terlihat tubuh manusia yang tertutup kain putih, tidak hanya jenazahnya yang berada di sana, tapi banyak dan semua sudah tidak dapat kami ajak bicara lagi. Dan ini kunjunganku yang pertama ke kamar mayat, selama di rumah sakit ini aku dan para ruh yang lain hanya bermain dari kamar-kekamar, lalu di taman atau di temapt ramai pada umumnya manusia sukai, bukan di kamar mayat.

Afdahl memberitahuku tentang kehidupan ruh orang koma yang sangat dekat dengan kematian, tentunya dengan malaikat pencabut nyawa. Ruh hanya bertahan 10 jam di luar jasad, jika lebih dari itu maka akibatnya jasad manusia akan semakin rapuh, organ-porgan yang ada dalam tubuhnya perlahan semakin tidak berfungsi, bahkan jam kelana para ruh akan berkurang menjadi delapan jam, jika pelanggaran-pelanggaran itu semakin sering dilakukan maka semakin cepat malaikat penjemput nyawa datang sebelum waktu penjemputnya.

Karena demikian bagian dari undangan manusia yang benar-benar akan mati, tentu itu tidak menyalahi prosedur peraturan dari Tuhan, karena manusia sendiri yang melanggar. Jiak ruh itu melanggar dari ketentuan yang sudah berlaku, maka ketika dia sadar dari koma dan dinyatakan pulih dan sembuh maka beberapa sistem organnya akan terganggu. Dia tidak akan menjadi manusia yang benar-benar sehat sebagaimana sebelumnya.

Biasanya yang menjadi korban adalah alat-alat vital seperti ginjal, jantung, paru-paru, hati, bahkan juga bisa menyerang sistem saraf juga otak. Maka tidak banyak yang berani melanggar peraturan itu. sebagian dari pada ruh ruh itu mentaatinya karena mereka semua ingin sembuh dan hidup kembali berkumpul bersama para kerluarga.

“diantara kita berdua, siapa yang lebih dulu dijemput malaikat maut?” tanyaku tiba-tiba

“mas Bagus”

“Heh!” aku tersontak kaget, anak kecil ini benar-benar membuatku ketakutan

“aku sudah bertemu malaikat maut untuk yang kedua kalinya, dan ketentuannya aku akan sembuh dan pulih kembali” jawabnya datar tanpa senyuman

“syukurlah!” aku tersenyum kepadanya, mengusap rambutnya, lalu memeluknya

“mas Bagus seneng dengernya, nanti di dunia manusia, ayo kita saling bertemu dan tetep menjadi adik kakak” ujarku

“Siiip” aku mengancungkan jempol di hadapanya, dia masih terdiam lalu tersenyum

“oke” balesnya memelukku sangat erat

Seperti yang sudah ku katakan, di dunia manusia kami akan lupa perihal malaikat maut, lupa tentang dunia ruh orang koma, juga lupa bahwa kita mempunyai teman, kelurga di dunia orang koma, semua tentang ruh orang koma akan terlupakan setelah manusia tersadar dari komanya. Setelah itu jika ikatan sesama ruh sangat kuat, di dunia manusia mereka akan dapat bertemu tapi tidak saling mengenal, yang jelas akan ada ikatan seperti magnet, yang membuat para manusia yang sudah sadar itu untuk mengenal satu sama lain, dan perkenalan akan dimulai lagi dari awal.

“Mas bagus belum ketemu sama malaikat pencabut nyawa, entah nanti seperti apa, entah diberi izin perpanjangan waktu sepertimu atau memang sudah waktunya untuk bertemu Tuhan”

“Mas Bagus gak boleh sedih, aku doain semoga kita benar-benar bertemu di dunia manusia nanti” diwajahnya tergambar harapan yang tulus. Aku tersenyum lalu mengajaknya berjalan-jalan menelusuri rumah sakit ini karena esok dia akan sadar dari komanya, dan tentu dia tidak akan ingat padaku.

***

Hari ini ayah datang lagi, membawakan baju bersih dan makanan untuk ibu dan mas Bagas, ayah beserta rombongan kelurga besar dari Jawa datang dengan wajah tanpa ceria, semua hanya tersenyum dengan penuh kepura-puraan. Aku melihat nenek yang sudah tua, rambutnya sudah tidak ada lagi yang berwarna hitam, giginya sudah rata dengan gusi, tubuhnya semkain membungkuk itu hanya bisa berdiri jika berpegangan dengan tongkat, nenek duduk dengan anteng di atas kursi roda yang di dorong Om Harry, nenek juga bersedih.

Aku ingin sekali menemui malaikat pencabut nyawa, aku ingin tahu keputasan, aku sembuh atau mati, aku tidak ingin membuat orang-orang disekelilingku masih mencemaskanku.

“Cepet sembuh Den Bagus” ujar nenek lirih, tiba-tiba aku menangis, entah kenapa gerangan akhir-akhir ini aku cengeng sekali, sudah dua  hari ini aku rajn menangis, lihat mama menangis, sekarang lihat keluarga besar dari Jawa juga ikut menangis, padahal aku orang yang tegar. Kenapa secengeng ini?

Mata-mata lelah itu memandang tubuhku penuh kasihan, tubuh yang terbaring lemas di ranjang memang sangat tidak berdaya, kaki kiri itu sudah sangat tebal dengan perban, digantung tinggi. Batang leher yang dibantu dengan servical collar atau alat penyangga leher dan perban di kepala, nafas masih menggunakan selang. Tentu mana ada orang tua yang tega melihat anaknya sedang sekarat, sudah ada di ambang maut. Jika aku masih bisa di beri kesempatan untuk tetap segar dan bugar seperti sedia kala tentu aku kan memeluk mereka semua dengan penuh cinta.

“aku mimpi Bagus dijemput Bapak” ujar ayah pelan, mama menangis kencang, meronta dan memukul pundak ayah. nenek hanya mampu menyeka air matanya dengan ujung kerudungnya yang berwarna abu-abu yang sudah kusut, paman hanya menunduk lalu menyeka air matanya dengan tangan dan memandang langit-langit kamar.

“kalau kamu mau pergi nak, mama ikhlas, mama ridho” ucap mama sambil memeluk jasadku. Semua tenggelam dalam doa.

***

“Bagus Suyadi bin Muhyiddin lahir pada 11 januari 1990” tanya seseorang

“iya benar” jawabku tertegun, melihat penampilanya, mungkin ini sosok yang disebut malaikat pencabut nyama itu, kenapa tiba-tiba bulu romaku berdiri dan menegang

Dia bilang aku tak usah kaget melihatnya, walau semua orang yang melihat dan bertemu dengannya pasti melakukan hal yang sama. Benar, dia adalah sosok malaikat pencabut nyawa, yang sudah di utus Tuhan untuk mencabut nyawa manusia, semua penjabaran darinya membuatku semakin gemetaran, dan mungkin hal tersebut yang sudah dialami  dan mbah Seno.

Kabar yang dibawanya adalah kabar yang belum ingin aku dengar. Sosok besar dan tunggi itu ternyata menyeramkan, suaranya menggelegar, tapi wajahnya sama sekali aku tidak bisa melihatnya, wajah itu benar-benar memancarkan cahaya yang menyilaukan mata.

“sudah waktunya pulang ke pangkuan Tuhan” kata katanya sangat memebuat tubuh ini lemas tak berdaya, kesedihan ini spontan langsung muncul di dalam diriku, kekecewaan terhadp harapan yang kubuat ternyata benar-benar menyakitkan, keputusan tersebut tak bisa ditolak, karena itu ketentuan dari Tuhan. Aku masih ingin hidup dan menyelesaikan semua urusanku di dunia. Surga dan neraka kedua tempat itu belum pernah terlintas dalam mimpiku. Ciut diri ini mengingat neraka yang kata orang-orang tempat yang sangat mengerikan tempat untuk menghukum para pedebah di dunia.

“silahkan dipersiapkan tiket untuk ke akhirat, satu jam lagi kau akan meninggalkan dunia” ujarnya lagi, tiket itu adalah amal perbuatanku di dunia, semua harus di ingat baik-baik, baik itu perbuatan buruk ataupun perbuatan baik, tiket itu berupa nilai dari setiap jawaban-jawaban yang diberikanku saat memasuki gerbang akhirat. Semua terasa cepat, ternyata dunia yang selama ini aku banggakan adalah kefanaan yang hakiki. Aku menangis meratapi diri

Tangisan mama sangat mengaung keras di lubuk hatiku, doa dari ayah tiada henti-hentinya, mulut mulut kecil mereka selalu basah dengan doa, demi kesembuhanku. Nampaknya mama memang belum ikhlas melepasku. Tangan mama semakin erat memeluk jasadku, mas Bagas juga menangis, mencium tangnku lagi-dan lagi.

Seandainya aku tahu, saat  akan pergi ke akhirat, aku akan mengorbankan jasadku demi menemaninya. Andai malaikat ini datang lebih dulu dari . Ayah mentalkinkanku, membisikan Syahadat di telingaku, berkali-kali ayah lakukan itu. dan nampaknya jasadku sama sekali tidak bergerak. Bahkan monitor jantungku semakin melemah.

Suara mama semakin keras menyebut nama Tuhan, tidak terkecuali nenek menangis bahkan ingin berlari, tim dokter dan perawatnya datang lalu memeriksa tubuhku yang terkulai lemas. Di depan pintu sana ku lihat Mbak Iis tetangga kamar depan, ka Fahmi, Ical, dan beberapa orang lainya yang tak ku kenal berdiri tegagk sambil menangis melihatku, mereka melambaikan tanganya ke arahku, tangisan mereka semakin pecah.

“cepat atau lambat kami akan menyusulmu dek” ujar mbk Iis. Aku mengangguk dan tersenyum, ternyata begini rasanya ketika ruh seseorang dinyatakan memang harus lepas dari jasad, dan harus kembali ke pangkuan Tuhan, rasa itu sangat menyedihkan bagi orang-orang yang di tinggalkan, tapi seperti ada kebahagian karena sebentar lagi akan berjumpa dengan Tuhan.

“kenapa kalian tahu aku harus pulang ke akhirat sekarang?” tanyaku pada mereka

“tidak sengaja, Ical mendengar percakapanmu dengan malaikat maut, jadi kami putuskan untuk menemui mu, untuk mengucapkan selamat jalan” ujar ka Fahmi, tangisan mereka benar-benar Tulus.

Ku tatap lekat-lekat wajah mama, ayah, nenek, Om Harry dan mas Bagas, andai dapat memleuk mereka, maka akan ku peluk dengan erayt, begitu juga teman-teman seperjuanganku di dalam dunia koma, aku akan mengingat wajah-wajah ini, mungkin jika aku lolos seleksi di akhirat nanti aku bisa tinggal di surga dan berjumpa dengan mereka. Dan seketika monitor jantung semakin bergaris datar dan berbunyi.

Semua lenyap hanya ada cahaya, yang menuntun menuju jalan akhirat, semua benar-benar sepi, sendiri, tapi tidak gelap. Bahkan rasa itu tidak lagi muncul disini, sekarang aku menyadari ternyata masa aktifku di dunia sudah berakhir, kini aku sedang berjalan ke akhirat, dan tidak lama lagi akan bertemu Tuhan. Sudah ku sadari bahwa aku sudah mati.

Tinggalkan Komentar