Bunga

0
227

Tidak ada hari yang paling menyenangkan ketika belajar di kelas kecuali hari Rabu dan Jumat. Karena dihari itu aku akan bertemu dengan pujaan hati, mungkin sebagian orang jika tahu hubungan ini akan bilang tidak wajar. Kisah cinta yang tidak pernah aku rencanakan sebelumnya, bahkan sebagai organisatoris aku masih belum bisa mengorganisasi masalah hati, masalah terbesar anak manusia. Dalam hidup ini, selalu butuh energy untuk melakukan banyak hal, dan itu aku menemukan semangtku setelah aku terjatuh dalam kegilaan.

***

Ini adalah hari Spesial untuk Boby, sahabatku sejak akau mahasiswa Baru di Kampus ini. Hari ulang Tahunnya, dia lebih muda setahun dari ku, tapi kami saling menghormati dan menyayangi, bagiku banyak teman memang menyenangkan, tapi untuk boby dia lebih dari sekedar teman, dia adalah keluarga, dia adiku yang selalu ada di saat aku membutuhkan bantuan. Dia datang bukan karena diundang dalam hidupku. Kami bertemu dalam satu kesempatan dan menjadikan kami erat seperti sepasang sepatu.

Aku tidak pernah membatasi diri untuk berteman dengan orang lain, bahkan antar lawan jenis tapi setahun terakhir aku tidak memiliki perasaan untuk mencari pacar mahasiswi setelah empat kali di tolak, aku sangat tampan  mungkin hanya sedang sial. Bahkan aku heran, banyak perempuan menyukaiku, dan anehnya ketika aku menyatakan cinta pada salah satu di antaranya tidak pernah berhasil diterima, mungkin sudah takdir.

Kulihat dari sebrang jalan, Boby melambaikan tangan, lalu berlari kecil ke arahku. Dia telat 20 menit dari jadwal pertemuan yang sudah kami sepakati, dia bukan tipe lelaki yang mudah minta maaf, dia orang yang tidak mau mengakui bahwa dirinya salah sekalipun dia sadar bahwa dia salah, lelaki seperti ini memang sangat menjamur di tengah tengah megahnya kampus ibu kota.

“waw, keren kau bro pakek kemeja ini” komentarnya setelah berjabat tangan denganku, padahal ini adalah alasan klasik yang sering digunakannya untuk mencairkan suasana

“dan tas kau jauh lebih keren dari biasanya Bob”

“hehe ini pemberian dari Ayah dan Ibu Rud, kalau kau suka nanti aku belikan Tas yang sama’’

“buktikan saja, utang yang kemarin juga belum dibayar” serangku, Boby anak orang kaya, ayahnya seorang pejabat ibu kota, ibunya seorang peneliti dan guru besar di salah satu kampus di ibu kota, Boby anak semata wayang, walau demikian ia selalu menunjukan kesederhanaanya, dan pastinya dia bukan anak yang sombong, itu yang membuatnya banyak teman.

“Ayah mengundangmu makan malam di rumah, dan kau harus datang, ini Ayah langsung yang mengundangmu” godanya padaku, jari lentiknya mencubit daguku kecil dengan manja

“aduh ay, aku belum siap bertemu dengan keluarga besarmu, tetapi aku tetap mencintaimu” balasku tak kalah menggodanya meletakkan dua tangan di bahunya, mesra.

“Jijik Bro” katanya sembari menepuk bahuku dengan keras, mungkin hal yang sama kurasakan, jijik, tapi tenang saja jangan beranggapan berlebihan, kami lelaki normal, memiliki perempuan incaran, kecuali aku, sudah menemukan pujaan hati, dalam urusan asmara kali ini aku jauh lebih beruntung darinya.

***

Mata hazel itu berbinar, bibir merahnya yang menggoda menampilkan senyum hangat di pagi ini, aku menikmati setiap detik untuk memandangnya. Tenang saja aku gila hanya pada hari tertentu, untuk Rabu dan Jumat, selebihnya aku kembali normal, belajar di kelas bersama teman, ikut dikusi, mengerjakan tugas, presentasi, dan seperti lelaki normal lainya, menggoda gadis-gadis cantik dan yang aduhai itu yang aku suka, wajar.

“aku sudah menghitung jumlah bunga yang kamu kirim, ada 39 tangkai bunga mawar merah dan putih”   ujarnya lembut, jari jemarinya yang lentik masih memainkan kelopak bunga, dia cantik sekali, aku suka memandangnya tanpa banyak bicara

“kamu kenapa? Ngeliatin aku terus”

“kamu cantik, aku suka”

“Gombalan kamu udah numpuk nih di hatiku, basi” ujarnya sombong, senyum dari bibirnya mengembang aku suka pemandangan ini

“lelaki yang baik itu, lelaki yang menikahi perempuan bukan Cuma berani macarin”

“iya, sabar, aku sedang berusaha berjuang untuk menghalalkanmu”

Dia mengetuk keningku, tidak sakit. Tapi lembut, ah tangan itu benar-benar menghipnotisku. Tidak akan pernah aku lepaskan, perempuan ini dikirim Tuhan kepadaku satu tahun lalu.

Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika aku tidak bertemu dengannya, hidup sebatang kara, mengadu nasib menjadi clening servis untuk hidup, dan biyaya kuliah. Lalu masuk ke jurang hitam tanpa sepengetahuan orang lain, Bobypun sama sekali tidak tahu, yang ia tahu aku hanya sibuk bekerja, lalu absen di kampus selama satu bulan dengan alasan pulang ke kampung halaman, merawat ayah yang sedang sakit keras. Tapi semua itu hanya dusta, aku tidak ingin Boby kecewa

***

Malam setelah aku pulang kerja, kulihat pak Yanto dan Bodyguardnya menungu kehadiranku di Gang, bukan tanpa alasan, mereka menagih hutang. Hutang yang pernah aku lakukan, meminjanm uang darinya untuk membayar sewa kos, laptop, dan biaya makan. Dulu kata-katanya manis, bahkan aku sudah menganggapnya seperti ayah, dia hangat. tapi itu tipu muslihatnya, dia adalah rentenir biadab, dan aku terjerat di dalmanya.

Peringatan keras selalu diberikan padaku, entah bagaimana aku haru segera melunasi hutangku, semakin hari semakin menumpuk, kiriman dari kampung tidak menentu, kerja paruh waktu tidak menolongku. Bisnis hitam datang menghampiriku, teman kerjaku mengajakku untuk mencari penghasilan tambahan, dengan cepat uang akan menjadi banyak.

3 butir narkoba, diberikan kepadaku dengan Cuma-cuma. Aku memanggilnya dengan sebutan mas Selamet, dia seorang bandar narkoba 4x keluar masuk penjara dengan kasus yang sama. 3 butir narkoba ini modal awalku, untuk mencari korban lalu menjualnya.

“cobain aja Rud, pasti kamu ketagihan” hasutnya menyakinkan

“tidak mas, tidak punya uang untuk membeli barang haram ini” jawabku ragu

Saat ini aku hanya berharap Tuhan menjaga diriku dari dunia gelap, setidaknya jangan sampai aku memasukan barang haram itu ke tubuh ku

“yo wes, kamu jual dulu ini, nanti hasilnya bagi dua, wes to percaya sama aku!”

Bingkisan pelastik hitam dari tanganya berbindah ke tasku, sebenarnya ini adalah jalan yang tidak pernah aku pikirkan, aku takut memulainya, tapi aku sudah tidak ada cara lain. Aku berjanji setelah urusanku selesai dengan pak Yanto aku akan mengakhiri permainan hitam ini, Tuhan tolong jaga aku hingga semuanya terkendali.

***

Tiga bulan bukan waktu yang sebentar, aku mengedarkannya bukan di tempatku belajar, sama sekali aku tidak pernah membawa barang busuk ini masuk ke lembaga pendidikan yang banyak di junjung orang. Kampus pembaharu yang banyak berterbangan harapan dari semua orang. Selama tiga bulan aku berkelana, dari satu pasar ke pasar, dari pintu ke pintu, tapi bukan maksud yang sebenernya.

Mas Selamet mengajariku cara bagai mana kiat bertransaksi dengan bagus dan aman. Selama tiga bulan aku baik-baik saja, semua berjalan lancar, aman terkendali. Tapi kali ini, Tuhan sudah menegurku.

Malam sepi, transaksi berjalan lancar, di WC umum belakang pasar. Di sini sepi, di pasar ramai para penjual sayur menjajakan dagangnya, semua berkumpul di tempat ini, tertutama para manusia iblis seperti ku. Malam ini adalah akhir dari semuanya. Sejumlah uang puluhan juta sudah duduk nyaman di tasku. Gerak gerik orang mencurigakan memperhatikan kami. Dan ternyata, kami tergepung.

“Aku tak ingin mati ibu, ayah. aku ingin kau melihatku sukses, dan kau ingin membahagiakan mu” gumamku lirih

“dooor….” Suara senampan itu membangunkan kota ini, dan pasar tetap ramai seakan sudah biasa dengan keadaan seperti ini

“tiarap, semuanya!” suara lantang dari polisi membuatku semkain berani, aku sudah menjadi orang jahat, jadi kuputuskan untuk melarikan diri.

Kami bertiga pembeli dan penjual berhasil melarikan diri, delapan orang polisi tidak dapat menankap kami. Lariku begitu kencang, suara tembakan kembali terdengar, bukan sekali, dua kali, tapi lebih. Dan pada akhirnya. Lariku semakin rapuh, tidak berdaya, dan tidak sempurna. Darah di kakiku seperti terkuras.

Badanku sempoyongan, aku putuskan untuk berlari pelan, mengendap hingga berada di keramain. Tapi aku bukan orang yang kebal. Genggaman tanganku terkepal hebat, aku harus kuat, aku tidak ingin mati konyol. Aku harus bersembunyi. Kali ini aku berjanji jika aku lolos  aku tidak akan  mendiami dunia hitam ini lagi.

Perempuan, berparas cantik. Ah mungkin dia seorang pelacur yang sedang mangkal di pasar, dia menariku kencang lalu memaksaku tidur dipangkuannya. Dia melepaskan blezer hitamnya, lalu menutupi kakiku, dia tahu apa yang terjadi padaku, perempuan cantik ini berambut pendek, hidung mancung, dan bibir yang belah, sexy. Di bangku panjang di sudut pasar, kami seakan akan bermesaraan, bukan ini tengah malam mungkin siapapun mengira bahwa dia adalah perempuan sewaan untuk pria.

***

2 jam berlalu, aku masih hidup dan masih menahan sakit, perempuan itu memanggil taxi dan mengajaku untuk pergi ke klinik, aku menurut. Kali ini tanpa komentar, masih menahan sakit. Dan masih menggenggam tanganya erat, erat sekali. Dia membiarkan pundaknya menajdi tempat berlabuh kepalau, harum parumnya masih terasa, enak dan damai. Aku terlelap walau beberapa menit.

“tidak usah berbicara sekatapun, biar aku yang urus” katanya mengancam

Di klinik itu hanya ada uda orang, satu resepsionis dan dokter muda, cantik, sepertinya dua permpuan ini saling mengenal

“aneh, kakinya tidak berdarah” ujar dokter kepada perempuan ini

Akupun heran, tadi rasanya darah keluar, tapi entahlah celanakupun bersih tidak ada noda darah sedikitpun. Hanya kaki kananku yang bolong. Dokter muda itu mengobatiku, mengeluarkan peluru yang masih bersembunyi di dalam kakiku, semua ku serahkan kepada perempuan ini, tak sedikitpun aku berfikir jika permpuan ini adal polisi, ah. Ini pikiran yang terlalu jauh

***

Waktu mulai subuh, azan saling bersahutan, kami tiba di hotel, kali in kami hanya ingin melepas lelah, dan beristirahat

“terima kasih sudah membantuku, aku Rudi” ujarku sembari menyodorkan tangan kanan, ingin bersalaman, dia menyambut hangat

“aku Bunga, senang bertemu” dia merapikan posisinya, lalu terbaring dan memejamkan mata

“kita lanjutkan setelah kita terbangun, kita hanya perlu enrgy”

“ok” dan aku membiarkan diriku terlelap, hanya ada dua kemungkinan, permpuan ini, maksudku Bunga benar-benar tulus menolongku atau menjebakku, terserah itu urusan nanti.

Sebelum jam sepuluh dia sudah terbangun, dia menyedukan kopi hangat lalu kami bertukar cerita, tenggelam dalam perkenalan yang masih hangat.

Sesekali Bunga menyeka rambutnya dengan jari telunjutknya yang lentik, itu seakan akan menyihirku, kali ini aku jatuh cinta, dan benar-benar cinta. Siapapun Bunga aku akan mencintainya, jika dia bukan perempuan yang sewajarnya maka kami akan bersama –sama keluar dari dunia hitam. Jika dia perempan baik-baik maka aku siap untuk dibimbingnya. Aku terhanyut dalam mimpi nyata.

***

“ingat ya, kamu lebih muda dariku, jadi jangan songong dan macam-macam” ancamnya

“iya, terimakasih. “

“untuk apa, ?”

“mengizinkanku mencintaimu” dia tersenyum, ku harap diapun tulus

“aku juga gak tau kenapa harus nolong kamu, itu semua terjadi alamiah, seperti ada yang nggerakin, mungkin Tuhan sedang baik denganmu”

“iya, mungkin ini cara Tuhan untuk merubahku, melalui kamu, dan aku mensyukurinya”

Kami memutuskan untuk pacaran, ini pacar pertamaku saat tinggal di ibu kota, masa lalu sudah kuhapus semua, aku hanya fokus kepada Bunga, perempuan yang menolong nyawaku. Untuk Bungaku yang tak pernah layu, ku harap hanya maut yang memisahkan kita.

Aku mengatur strategi persembunyian ini, tidak ada satu orangpun yang tahu masalahku, entah Boby atau kelurgaku. Aku hanya butuh waktu satu bulan untuk proses penyembuhan secara total, Bunga mengantarku untuk datang ke kelinik itu, dan pertemuan kami semakin sering, aku pindah rumah kos, bukan karena alasan, hanya ingin semakin dekat dengan kantor Bunga. Permpuan dewasa yang membuatku bahagia.

Mas Selamet menjengkku, dan dia menerima keputusanku, bahkan jika suatu saat nanti polisi berhasil menangkapku, aku pasrah. Tapi aku berjanji akan menjadi lebih baik, aku taubat dan tidak akan melakukan lagi, mas Selamet membirkanku semangat. Dia tidak akan membocorkan rahasia ini kepada siapapun, dan diapun berhenti untuk menjadi bandar sebelum ketahuan.

Berbicara mengenai mas Selamet, profesi sebabagai cleaning service adalah kedoknya, maka dia putusan untuk berhenti dan mengganti prosefesi menajdi tukang bakso, dan ini murni ditempuh dengan jalan halal, aku senang, dengan ceritaku bisa mebuat kami berdua hijrah. Padahal pengalaman pahitnya, dengan 4 x keluar masuk penjara tidak membuatnya kapok.

***

“kau tak pernah ikut makan malam bersama keluargaku, ayo lah kali ini di hari ulang tahunku” Boby merengek, seperti anak kecil saja dia. Kalau bukan rasa sayangku akupun tak mau.

Aku tak pernah suka acara makan malam kelurga besar, ritual orang kaya yang tidak cocok dengan ku, lagi pula aku tidak menyukai berkunjung kerumah orang, kecuali di rumah Boby tak ada orang, ah licik sekali aku.

“ok, kali ini, karena Ayahmu yang minta” jawabku memuaskanya. Aku pernah bertemu dengan ayahnya, di kampus, dia orang yang baik dan  ramah, tapi tetap saja aku masih merasa sungkan untuk main kerumah temanku, yang ada orang tuanya, jahat bukan?

“Ayah, Ibu  aku pulang”

“yah, ada Rudy nih” kami di sambut Om Anton, ayah Boby yang hangat.

“sudah lama kita tidak bertemu, sehat?”

“iya Om sehat” dan aku masih malu

Begtitu kami datang, kami langsung menuju ruang makan, tanpa bosa basi dan ternyata kehadiran kami sudah ditunggu-tunggu Om Anton.

“tadaaaa Gurame Bakar Saus Madu ala ibu cantik” suara perempuan muncul dari dapur, ah tangan ini kelu, seperti tidak bisa meneruskan untuk menciduk secentong nasi putih. Aku masih terdiam tanpa ekspresi

“Rud, kamu kaget ya?  ini Ibu”

“Rud, biasa aja, jangan bengong gitu”

“kamu bukan hanya satu-satunya teman Boby yang heran tak percaya melihat Ibunya Boby, semua teman-temanya yang pernah ke rumah tidak percaya bahwa dia Ibunya Boby” jelas Om Anton dengan Bangga

“Halo Bung, eh maksudku Tante” kenapa dunia tiba-tiba berhenti? Jadi perempuan ini ibu dari sahabatku? Kemana saja aku? Aku tidak tahu itu

“hai”, sapanya datar dan hanya itu, sepertinya dia pun merasakan hal yang sama, ia memalingkan wajah dan pergi ke dapur

“Ibu, mau ngapain lagi? Ayo kita mulai makan malamnay” Ujar Boby

Pernikahan Orang tua Boby adalah buah perjodohan, usia mereka terbilang berjarak sangat jauh, 19 tahun. Lalu bagaimana bisa permpuan ini menghianati suami dan anaknya. Keluarga ini terlihat begitu harmonis.

Dia datang dengan membawa sosis bakar, padahal makanann di meja makan sudah penuh. Entah bagaimana kacaunya hatiku, yang jelas aku ingin menangis dan menyalahkan diriku sendiri.

“kamu nginep kan Rud” tanya om Anton

“oh, maaf Om lain kali, masih ada urusan” jawabku gugup, Bunga tak sedikitpun menatapku, dia hanya mengaduk nasi di piringnya, dan tak banyak biscara.

“gak usah bengong Rud, aku gak minta kado dari kamu” aku tersenyum Boby, jika kamu tahu, kado ulang tahun dariku, mungkin kamu akan membenciku dan membenci ibu mu.

Aku gugup, pura pura melihat Hp dan pamit segera pulang, karena ada urusan yang sedikitpun tidak boleh telat.

“Ayah dan Ibu tau gak, Rudy temanku yang paling baik, aku menganggapnya sebagi kakak, dia mandiri dan hebat, dia kerja paruh waktu, dan membiyai hidupnya sendiri aku bangga padanya” Boby bercerita dengan bahagia. Dia tidak tahu kalau aku membenci diri sendir, dan hati menangis.

Aku pamit pulang, berjalan keluar rumah dengan terburu-buru.  Ingin sergera sampaui di kosan lalu melupakan semuanya

***

“kenapa kamu gak bilang kalau kamu sudah punya anak dan suami?” Tanyaku parau

“karena kamu gak pernah nanya”

“hallo Bunga? Kamu bukan perempuan berwajah tua, kamu terlihat masih gadis, ya mana tahu kalu kamu sudah berkeluarga, bahkan anakmu saja seusiaku, setahun lebih muda. Ini gila” aku marah pada keadaan

“maafkan aku, karena aku mencintaimu sejak awal”

“kenapa malam itu kamu ada di lokasi kejadian?

“waktu itu aku sedang penelitian” jawabnya menangis, dan matanya sibuk menerawang kenangan satu tahun lalu

Dia seorang peneliti, sedang melakukan penelitian di malam itu, meneliti tentang perempuan nakal, jadi ia harus masuk kesana, dan memperhatikan setiap pergerakan dunia pelacur. Tapi di hari ia ingin menyelesaikan misisinya, dia jatuh cinta kepadaku, untuk pertama kalinya, Tuhan menolongku. missi penelitian itu pada akhirnya gagal dan tak pernah terwujud. Prestasinya semakin menurun padahal ia seornag peneliti kota ternama.

“tapi aku mau nikah sama kamu, dan kamu janji mau nikahin aku, aku masih menunggu kamu sampai kamu selesai kuliah, setelaih itu aku akan menyelesaikan masalah ini dengan keluargaku”

“Kamu gila ya? Mana mungkin aku menikah dengan, dengan ibu sahabtku?”

“mari putuskan yang terbaik” ujarnya

aku memeluknya erat, batin kami masih perang dengan kenyataan, kami hanya butuh ketenang, dan obat semua ini dalah cinta kami, ingin marah padanya aku tak mampu, dan lebih kejamnya lagi aku tidak ingin melepaskannya.

Malam ini kami menginap di hotel yang pernah kami datangi untuk pertama kalinya, di malam ini kami melupakan semua masalah, keputusan besok pagi. Kami sama sama mencintai tapi tak ingin melukai lebih dalam. Karena cinta dan kasih untuk orang lain perlu dipikirkan.

Hanya da dua pilihan, melanjutkan cinta biadab ini, atau mengakhiri ? dan kami memutuskan untuk melanjutkanya.

Tinggalkan Komentar