Menjaga diri dan keluarga dari api neraka

0
292

 

“Ketahuilah, bahwasanya kehidupan dunia hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanaman-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan akhirat (nanti) ada adzab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu”.(Al-Hadid: 20),

                Menjadikan akhirat sebagai kampung tujuan utama adalah hal yang sangat di perlukan, bahkan wajib di tanamkan pada jiwa setiap insan agar lebih giat lagi dalam beribadah dan berlomba-lomba dalam kebaikan. Sehingga harus hati-hati agar tidak terperosok jatuh kejurang kerugian akan waktu yang sia-sia, tidak banyak bersendau gurau atau duduk-duduk santai dan melakukan suatu aktifitas yang tidak bermanfaat.Tidak meletakkan dunia dan gemerlapannya di lubuk hatinya, namun hanya berada di genggaman tangannya saja, sebagai batu loncatan untuk mencapai nikmat Jannah yang langgeng.

                Ibnu Katsir berkata (dengan ringkas): “Allah Subhannahu wa Ta’ala membuat permisalan dunia sebagai keindahan yang fana dan nikmat yang akan sirna. Yaitu seperti tanaman yang tersiram hujan setelah kemarau panjang, sehingga tumbuhlah tanaman-tanaman yang menakjubkan para petani, seperti ketakjuban orang kafir terhadap dunia, namun tidak lama kemudian tanaman-tanaman tersebut menguning, dan akhirnya kering dan hancur”. Permisalan ini Allah gambarkan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini akan hancur tanpa ada yang tersisa, karena segala sesuatu tidak ada yang kekal dan abadi, begitu pula dengan kehidupan yang ada di dunia, cepat atau lambat akan segera di gantikan dengan kehidupan di akhirat, maka dari itu perlu persiapan diri untuk menghadapinya, jangan sampai tanggung jawab kita terhadap diri sendiri juga keluarga terlalaikan. Allah pun memperingatkan tentangnya dan menganjurkan untuk berbuat baik. Di akhirat, hanya ada dua pilihan: tempat yang penuh dengan adzab pedih juga kejam dan hunian yang sarat ampunan dan keridhaan Allah bagi hamba-Nya.

 pentingnya pendidikan anak yang termasuk salah satu unsur keluarga, agar dia selamat dunia dan akhirat. Anak bagi orang tua merupakan buah perkawinan yang menyenangkan. Dibalik itu, anak adalah amanat dari Allah yang dibebankan atas orang tua. Tidak boleh disia-siakan dan di sepelekan. Pelaksana amanah harus menjaga dengan baik kondisi titipan agar tidak rusak. Sebab orang tua kelak akan ditanya tentang tanggung jawabnya.
Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِه

. “Setiap kalian adalah pemimpin, dan akan ditanya tentang tanggungjawabnya””.(Hadits shahih, Riwayat Ahmad, Al-Bukhari, Muslim, dan At-Tirmidzi, dari Ibnu Umar)Jadi sudah semestinya jika orang tua bertanggung jawab dengan anaknya, begitu pula sebaliknya anak harus bertanggung jawab terhadap orang tuanya. Maka semua pihak harus mengimbangkan antara hak dan kewajiban agar tidak menimbulkan simpang siur antara satu sama lain. Anak terlahir dalam keadaan fitrah, namun jika dia terlahir dalam keadaan tidak muslim orang tuanyalah yang salah, maka berhuntunglah kita semua yang terlahir dalam keadaan muslim, maka hal tersebut perlu di sukuri, yang kadang kalanya kita lupa akan hal itu. Kewajiban orang tua merawatnya agar tidak menyimpang dari jalan yang lurus tidak salah dalam beribadah, terhindar dari kesesatan, dan selamat dari api neraka. Selain itu, anak yang shalih akan menjadi modal investasi bagi kedua orang tuanya, karena berdasarkan hadis rasul,       “apa bila meninggal salah satu dari anak adam, maka terputuslah amal ibadahnya, kecuali tiga perkara, yaitu sodakoh jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak soleh yang mendoakannya”.

 Jadi setiap orang tua wajib mendidiknya dengan benar, terutama dalam hal agama, karena jika orangtua meninggal maka tidak segan-segan lagi sang anak akan terus mendoakanya tanpa disuruh ataupun paksaan, namun jika salah arah maka sang anak akan salah jalan. Menjaga diri dan keluarga dari api neraka adalah hal yang sangat penting.Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman yang artinya“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka, yang bahan bakarnya dari manusia dan batu, penjaganya malaikat yang kasar, keras, lagi tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”.(At-Tahrim: 6).

Ada beberapa cara untuk menghindarkan diri dan keluarga dari api neraka, yaitu di antaranya

  1. Memberikan bekal agama yang cukup

Memberikan bekal ilmu agama yang cukup dapat dilakukan melalui pendidikan baik berupa pendidikan formal. Tentunya dalam pemberian ilmu umum sebagai bekal kehidupan di dunia dalam bersaing dengan dunia luar, mengarungi kehidupan saat sudah menginjak dewasa dan menjadi jati diri sendiri,dan kemudian ilmu agama sebagai kehidupan di akhirat yang harus di persiapkan sejak dini. Karena seorang anak apa bila mempunyai bekal agama yang cukup, di ibaratkan oleh Allah seperti pohon yang besar yang akan kuat apa bila di terjang angin badai yang besar, yaitu ketika mereka mengalami permasalahan hidup mampu mencari solusi dan menyingkapi dengan baik. Karena telah kita ketahui bersama bahwa perkembangan jaman semakin pesat. Tanpa ilmu agama yang kuat maka tidak ada jaminan mereka akan terjerumus dalam kesesatan.

2. memberikan tauladan yang baik dalam beribadah.

Keteladan ataupun contoh adalah faktor utama yang sangat berpengaruh besar, karena baik buruknya akhlak tidak lain ialah dari kedua orang tuanya, dalam pepatah dikatakan bahwa “ buah yang jatuh tidak akan jauh dari pohonnya” ya, begitu pula kelakuan atau tingkah laku seorang anak tidak akan jauh berbada dari orangtuanya, maka sudah semestinya untuk orangtua agar mencontohkan suatu kebaikan kepada seorang anak apa lagi anak kecil karena mereka mudah untuk memahaminya dan juga pandai dalam meniru. Dan semua itu tergantung terhadap pemberian didikan terhadap buah hati dari orang tua, karena orang tua adalah pendidik terbaik untuk anak dan berpengaruh sangat besar.

3. meningkatkan ketaqwaan

                Bertaqwa kepada Allah merupakan awal dari segalanya, dalam semua hal yang berkaitan erat dengan Allah, karena semakin tebal dan kuat ketaqwaan seseorang maka ia akan semakin tinggi untuk merasakan kehadiran Allah dan dekatnya Allah dalam sanubari dalam kehidupan. Sehingga segala sesuatu ataupun aktifitas tindak-tunduk tidak akan pernah terlepas dari apa-apa yang telah Allah gariskan, dan pada hakikatnya taqwa ialah melaksanakan atau mengerjakan segala sesuatu yang di perintah oleh Allah dan juga meninggalkan yang di larang oleh-Nya.

Dan juga hadis nabi yang di riwayatkan kepada Ali Radhiallaahu anhu berkata dalam menafsiri ayat ini: “Didik dan ajarilah mereka”. Adh-Dhahak dan Muqatil berujar: “Wajib atas seorang Muslim untuk mendidik keluarganya seperti kerabat, budak perempuan dan budak laki-lakinya tentang perintah dan larangan Allah”.

Untuk menegaskan tentang kedahsyatan siksa neraka,saya kutip firman Allah Subhana waTa’ala
“Setiap kulit mereka hangus, kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain supaya mereka merasakanadzab”.(An-Nisaa’:5)

Sesungguhnya neraka itu terlalu dalam dasarnya untuk diukur, tiada daya dan upaya bagi mereka untuk meloloskan diri dari siksanya. Kehinaan dan kerendahanlah yang selalu menghiasi roman muka mereka. Keadaan seperti ini tak akan kunjung putus, jika tidak ada sedikitpun iman dalam dada. Alangkah besarnya kerugian mereka. Begitu banyak penderitaan yang harus mereka pikul. Inilah kerugian nyata dan hakiki, ketika orang tercampakkan ke dalam lubang neraka

Jilatan api neraka tidak dapat digambarkan kepedihanya, sangat dahsyat dan panas yang tidak akan pernah ada tandingannya di dunia ini jadi sudah semestinya agar kita berhati-hati, dan mempersiapkan diri sebelum terjerumus kedalamnya.

“Penduduk neraka yang paling ringan adzabnya adalah Abu Thalib. Dia memakai 2 terompah dari api neraka (yang berakibat) otaknya mendidih karenanya”. (HR. Muttafaqun ‘Alaih). Cerminan Abu Thalib ini jika kita bayangkan alangkah sungguh dahsyatnya api neraka, nabi mengatakan bahwa Abu Thaliblah yang siksaanya paling ringan, lalu bagai mana dengan nasib kita? Yang setiap hari selalu melakukan banyak dosa dan khilaf. Tapi semoga saja kita tidak masuk kedalamnya.

 Sangat banyak hal yang dapat dilakukan untuk menghindarinya berdasarkan hadis nabi, yaitu:
“Setiap kalian Allah memperingatkan tentangnya dan menganjurkan untuk berbuat baik. Di akhirat, hanya ada dua pilihan: tempat yang penuh dengan adzab pedih dan hunian yang sarat ampunan dan keridhaan Allah bagi hamba-Nyan adalah pemimpin, dan akan ditanya tentang tanggungjawabnya”.(Hadits shahih, Riwayat Ahmad, Al-Bukhari, Muslim, dan At-Tirmidzi, dari Ibnu Umar).

Saya tidak akan pernah bosan untuk mengingatkan kembali, marilah kita mulai dengan memberikan perhatian yang besar terhadap Tarbiyatul Aulad, yaitu proses pendidikan anak kita.
Al-Qur’an telah mengulas tentang sejarah seorang ayah yang mendidik anaknya untuk mengenal kebaikan. Itulah Luqman, yang dimuliakan Allah Subhannahu wa Ta’ala dengan pencantuman perkataannya ketika mendidik keturunannya dalam Al-Qur’an. Secara luas itu termaktub dalam surat (QS. Luqman 12-19).

Dalam surat tersebut, Luqman memulai mengajari anaknya dengan penanaman kalimat tauhid yang hakikatnya memurnikan ibadah hanya untuk Allah saja, dilanjutkan dengan kewajiban berbakti dan taat kepada orang tua selama tidak menyalahi syari`at.

Wasiat berikutnya adalah berkaitan dengan penyemaian keyakinan tentang hari pembalasan, penjelasan kewajiban mendirikan shalat.Setelah itu amar ma’ruf dan nahi mungkar yang berperan sebagai faktor penting untuk memperbaiki umat, tak lupa beliau singgung, beserta sikap sabar dalam pelaksanaannya.

Berikutnya beliau mengalihkan perhatiannya menuju adab-adab keseharian yang tinggi. Di antaranya larangan memalingkan wajah ketika berkomunikasi dengan orang lain, sebab ini berindikasi jelek, yaitu cerminan sikap takabur.

Beliau juga melarang anaknya berjalan dengan congkak dan sewenang-wenang di muka bumi sebab Allah Ta’ala tidak menyukai orang-orang yang sombong.

Beliau juga mengarahkan anaknya untuk berjalan dengan sedang tidak terlalu lambat ataupun terlalu cepat. Sedang nasehat yang terakhir berkaitan erat dengan perintah untuk merendahkan suara, tidak berlebih-lebihan dalam berbicara.

Demikianlah wasiat Luqman terhadap anaknya, yang sarat dengan mutiara yang sangat agung dan berfaedah bagi buah hatinya untuk meniti jalan kehidupan yang dipenuhi duri, agar bisa sampai ke akhirat dengan selamat.

Cukuplah kiranya kisah tadi sebagai suri tauladan bagi kita, bagi para pemimpin keluarga. Memenuhi kebutuhan sandang dan pangan yang memang penting. Namun ingat, kebutuhan seorang anak terhadap ilmu dan pengetahuan lebih urgen (mendesak). Jadi perlu di utamakan karena Allah akan menjamin harta untuk seseorang yang sedang menuntut ilmu, namun jika kenyataan saat ini banyak anak yang putus sekolah dengan alasan ekonomi, itu merupakan ujian untuknya, karena semakin banyak ujian ataupun cobaan maka semakin tinggi pula derajat seseorang yang akan di angkat oleh Allah SWT

Orang tua wajib memenuhi kebutuhan ruhani sang anak, jangan sampai gersang dari pancaran ilmu dien atau agama. Perkara ini jauh lebih penting dari sekedar pemenuhan kebutuhan jasmani karena berhubungan erat dengan keselamatannya di dunia dan akhirat. Hal itu dapat terealisir dengan pendidikan yang berkesinambungan di dalam maupun di luar rumah. Masalahnya, model pendidikan yang ada saat ini hanya menelorkan generasi-generasi yang materialistis, gila dunia. Karena itu kita harus menengok dan menggali metode-metode pendidikan yang dipakai Salafus Shalih yang ternyata telah terbukti dengan membuahkan insan-insan yang cemerlang bagi umat ini.!

Maka sudah semestinya seluruh umat islam bangkit dari keterpurukan akan pemahaman ilmu agama. Agar islam semakin jaya.amiiinnnnnn!!!!

Tinggalkan Komentar