Guru Multitalenta

0
30

“A teacher who is attempting to teach without inspiring the pupil with a desire to learn is hammering on cold iron” (Horace man)

Bisa kita bayangkan, bahwa melunakan besi yang dingin adalah suatu hal yang sangat mustahil, begitu pula perumpamaan ini menggambarkan bahwa seorang guru yang berusaha mengajar seseorang tanpa menginspirasi dengan keinginan dan kemauan untuk belajar adalah suatu hal yang tidak masuk akal. Bicara tentang profesi mengajar yang di sandang oleh guru adalah bicara tentang ilmu. Guru adalah sosok yang mulia yang dapat mentransfer ilmu pengetahuan kepada orang lain, berdasarkan UUD no 14 tahun 2005, secara tegas dinyaakan bahwa guru adalah tenaga professional yang berkewajiban untuk senantiasa menjunjung tinggi kode etik guru, agar kehormatan dan martabat guru dalam pelaksanaan tugas keprofesionalannya dapat di pelihara. Guru menempati posisi yang sangat terhormat di mata masyarakat, karena guru adalah suatu profesi yang di anggap mulia, yang mampu mengajarkan seseorang untuk memberantas kebodohan.

Guru juga sebagai seorang yang membimbing, baik itu dalam pelajaran formal maupun non formal, berdasarkan pengetahuan yang didapat oleh guru, dan berwawasan maka kewajiban untuk membimbing setiap anak didiknya adalah suatu tugas yang harus di laksanakannya, bertanggung jawab di setiap kelancaran pelajaran. Dalam memberikan tugas, sang guru tidak hanya menugaskan suatu materi, melainkan dengan memberi bimbingan atau kiat-kiat yang harus di lakukan anak didik, membimbing bukanlah suatu hal yang mudah melainkan, harus mempersiapakan diri terlebih dahulu untuk membimbing dirinya sendiri, tanpa terkecuali dan urusan pribadi maupun kepentingan bersama.

Mendengar kata membimbing yang tergambar dalam benak kita adalah menuntun, menuntun dalam hal apapun, dalam melakukan aktifitas sehari-hari, tentu seorang anak melihat orang-orang terdekatnya, dan salah satunya kepada gurunya, maka dari itu guru harus membimbingnya ke jalan yang benar tidak memberikan contoh yang jelek, bertingkah laku yang sopan dan santun, mulai dari perkataan, juga perbuata, maka dengan sedemikian rupa, sosok guru harus mampu memerankan berbagai peran dalam kehidupan sehari-hari, kapan bersikap menjadi orang tua, sahabat, atau kakak. Yang dapat membimbing kearah yang lurus.

Mengajar, adalah tugas semua orang, mengajar dalam artian luas memberikan ilmu kepada seseorang yang belum mengetahuinya, dan dalam arti sempit, menyampaikan sesuatu yang ia ketahui. Seperti hadis rasulullah “sampaikan lah walau satu ayat” maka dari itu setiap orang wajib mengajarkan atau menyampaikan apa yang ia ketahuai kepada orang lain. Mengajar tidak harus formal, akan tetapi dalam waktu apa pun bisa mengajar.

Kata mengajar sering di identikan dengan pekerjaan guru. Memang pada dasarnya, mengajar adalah pekerjaan yang formal bagi profesi guru, yang hampir sebagian waktu di habiskan di sekolah. Yang berinteraksi langsung dengan peserta didik. Dan dapat mengetahui kemampuan dan prestasi anak didik selama mengikuti pembelajaran.

Guru juga harus serba bisa, selain untuk menajar juga harus mampu member pelatihan kepada peserta didik, baik kemampuan/skill, bakat, juga keterampilan fisik dan intelektual. Karena di masa ini seseorang akan terkalahkan jika hanya menguasai satu kemampuan, melainkan harus berbagai kemampuan, apa lagi jika tidak bias sama sekali dalam melakukan banyak hal. Maka itu semua akan merugikan masa depannya.

Guru juga sebagai seorang pendidik. Pendidikan memang tidak pernah terlepas  dari kancah dunia, karena dengan pendidikan maka akan terbangun karakter bangsa yang budiman, maka dari itu guru pun di tuntut menjadi pribadi yang mampu mendidik, bukan hanya tugas dan tanggung jawab melainkan adalah sesuatu yang urgen yang harus dilaksanakan.

Mendidik adalah memberi jalan kepada seseorang menuju sikap yang dewasa, dengan menanamkan norma-norma agama, ajaran dan kaidah islam yang benar, juga prilaku dengan kode etik yang baik. Dengan mengarahkan anak didik, dari yang tidak di ketahui sampai mengerti, dan paham tentang segala sesuatu dalam kehidupan. Lembaga pendidikan memang lading yang tepat untuk pembentukan karakter anak bangsa, maka guru-guru yang professional perlu di tingkatkan kualitasnya.

Memberikan pelatihan yang baik-dan benar pada aspek kehidupan juga salah satu tugas seorang guru, karena dengan banyak berlatih akan terbentuk pribadi yang unggul, dapat di ibaratakan dengan belajar naik sepeda, untuk bias mengendarai sepeda tidak ada sekolah atau kursusnya, melainkan dengan latihan, dengan cara terus menerus. Maka akan terbiasa dan mampu dengan sendirinya. Nah begitu juga dengan sang guru yang harus memberikan pelatihan kepada anak didik, tidak perlu secara intens melainkan secara kontinyu, baik pelajaran formal, atau untuk mengasah intelektualnya.

Guru sebagai seorang pelatih yang baik karena dengan keberadaan guru, guru mampu menerapkan nilai-nilai pendidikan yang baik, guru adalah seseorang yang serba bias dan multi talenta. Jadi kepribadian seorang guru harus mulia yang tidak di ragukan lagi kamampuanya. Melatih adalah cara yang sangat mudah untuk mengetahui kemampuan siswa dalam menjangkau pelajaran., berkreatifitas, atau mengembangkan diri lainya.

Dewasa ini, Indonesia mengalami masa yang suram di lembaga pendidikan. Banyak sekali peluang untuk belajar yang di salah gunakan. Jika kita melihat kebelakang, banyak peristiwa buruk terjadi, mulai dari tawuran antar pelajar, narkoba, seks bebas, atau perampokan yang dilakukan siswa. Tentu ini adalah PR besar untuk semua masyarakat Indonesia untuk mewujudkan system pendidikan yang lebih baik lagi, agar tidak terjadi lagi masa suram untuk Indonesia, mencetak generasi muda penerus bangsa maka di butuhkan guru-guru yang luarbiasa yang mampu menyeret arus pendidikan di indonesi berjalan dengan lurus dan siap menggandeng prestasi yang kemilau di kancah nasional dan internasional.

Guru, di gugu lan di tiru, di dengarkan perkataan atau nasihatnya, di tiru perbuatan baiknya, maka dari itu, sosok guru harus Nampak mnejadi seseorang yang sempurna, melainkan menjaga perkataan, perbuatan dan tingkah lakunya. Agar anak didik lebih mudah mengikuti jejak sang guru yang baik dan benar, bukan sebaliknya, “guru kencing berdiri dan murid kencing berlari” maka dari itu, menjaga exsistensi pribadi guru di masyarakat adalah suatu hal yang sangat penting untuk dilakukan dan di terapkan.

Tinggalkan Komentar