Assalamualaikum Bujang

0
36

Mengagumi dari jauh itu menyenangkan, ini seni dalam bercinta, walau orang sering menyebutnya dengan cinta bertepuk sebelah tangan. Akhirnya aku bisa menikmati Cinta ini pada seseorang yang begitu luar biasa, memiliki pendamping hidup yang populer dan kaya adalah cita-cita mulia. Aku mencintai seorang penulis handal Tanah air, penulis Muda yang kaya  raya, Robi Armada, penulis Best Seller dari Novel “Ku Jual Cinta untuk Negara”.

Setelah sekian lama aku ingin bertemu, pada akhirnya Tuhan kali ini memihak pada ku, Robi mengadakan kelas menulis untuk pemula yang sedang ingin belajar menjadi penulis, atau yang bercita-cita menjadi penulis. Dan aku bukan dari keduanya. Aku mengikuti kelas menulisnya sudah tentu karena alasan ingin bertemu dengan sang pangeran, jika aku berlaku kejam mungkin bisa ku pelet dia hari ini. Tapi tidak, karena aku orang baik.

“Assalamualaikum bujang?”

Hahaha

Gelak tawa para peserta pecah, ruangan sesak dengan suara busuk itu. ah ini sialan. Kenapa Bujang? Seharusnya aku tadi mengatakan Assalamualaikum semuanya. Mungkin ini karma, karma selalu mencemooh Fatihah, perempuan yang ku anggap ndeso se ndeso-ndesonya dan gagap, ah benar-benar sial. Mau ditaruh di mana muka ku?

“Lala kebelet nikah ya? Belum nemu Jodoh?” celetuk Rangga membuyarkan lamunanku. Tapi tidak menyadarkan ku untuk kembali hadir kedunia nyata, aku masih terkurung dalam dunia orang malu, tabir ini terlalu tebal,  aku tidak bisa menjebolnya. Aku butuh penolong.

“Lala, mukamu merah sekali seperti kepiting rebus, eh salah seperti warna bajumu. Ngejreng!”

Suara tawa lagi memenuhi ruangan, aku bukan tipe orang yang mudah malu, bahkan aku termasuk orang yang selalu memainkan peran dalam menguasai keadaan yang memalukan. TapI kali ini memang sepertinya aku sedang tenggelam dalam kemalu… oh tidak aku sedang tenggelam dalam dunia sial.

Aku sadar wajahku memerah karena terasa panas yang  sangat jelas ku rasakan,  bahkan getar di kakiku sangat luar biasa kurasa. Ada apa dengan ku ini?

“Lala?”

Panggil Robi, pelan. Namun kali ini benar benar membantuku, ia mampu menyelamatkanku dari dunia ke-sialan ini ke dunia nyata. Terimakasih kasih, kalau bukan karenamu matilah aku.

“ehehe, maaf. Nervous” elakku cepat mencoba mengendalikan diri

“Assalamualaikum semuanya?”

Salamku hangat, tapi suaraku masih terasa sedikit mencekik.

“Kenalkan, aku Lala, nama panjang Lala Cantika. Dan aku cantik seperti namaku”

Huhuhu

Teriakan  para peserta kelas menulis semakin pecah.

Diantara peserta yang hadir hanya dua orang temanku, Rangga, dan Rizki. Selebihnya aku tak mengenal mereka, mungkin peserta kali lebih didominasi oleh lelaki, dan mindset ku langsumg menyebut bujang, ah tidak. Tidak itu terlalu sialan. Aku ingat biang masalah dari peristiwa memalukan ini.

Buku itu. buku Assalamualaikum Beijing, yang tergeletak lemah tak berdaya di hadapan lelaki yang sedang menunduk, ah sepertinya dingin sekali lelaki itu. iya benar gara-gara mataku tertuju ke arah novel itu aku jadi salah sebut. Ini aib yang harus ditutupi.

Robi mempersilahkan ku duduk, dan kini bergilir Rangga memperkenalkan dirinya.

Untuk detik ini aku sangat mengharapkan dunia segera menenggelamkan ku hidup-hidup, aku rela, bahakna aku berharap gempa besar terjadi, lalu gedung ini rubuh, luluh lantak seketika dan kami akan tertimbun bersama-sama, huh sepertinya liar sekali pikiranku.

Kelas menuslis yang diadakan oleh  Soleh Publishing dan foundernya adalah Robi Armada sendiri. Ini yang membuatku melangkahkan kaki kesini. Nama Robi seperti magnet, semua media sosial sudah aku ikuti hanya untuk satu tujuan, mendekatinya lalu menjadi istrinya. Oh mimpi sialan.

Aku sama sekali tidak memiliki kemampuan menulis yang baik, tapi aku mampu menulis status di media sosial, dengan baik, bahkan tidak sedikit yang selalu mereplay statusku dengan memberkan pujian yang menyenangkan. hanya itu,  Tapi aku benci menulis novel yang panjang dan karya ilmiah, aku tidak pernah berhasil menyelesaikan missiku. Dan itu sudah ku kubur jauh-jauh sejak 7 tahun yang lalu sejak kelas 2 SMA.

Dan hari ini dengan tegas aku memutuskan bahwa Aku ingin menulis buku seperti Robi, dia tampan dan memikat hati siapapun yang meilihatnya. Maka ini adalah tujuan yang mulia, menjadi penulis hebat lalu membuat para lelaki mengantri ingin melamarku, ah senangnya cita cita itu.

Semua peserta sudah memperkenalkan diri masing-masing, semua seberjalan dengan lancar, kecuali psikologisku yang hari ini terganggu. Semua menuliskan kata dalam kertas yang di bagikan. Dan aku sama sekali tidak berhasil menorehkan kalimat sempurna, hanya dua, tiga kata lalu gagal. Selalu seperti itu hingga aku menghabiskan 7 lembar kertas. Ah ini gila.

Aku berjanji tidak akan mengikuti kelas ini lagi apa bila bertemu dengan wajah-wajah ini, sekalipun aku sangat menyukai Robi. Ah ini benar-benar membuatku stress. Tuhan tolong aku!.

Dua jam berlalu, materi tentang menulis sudah disampaiakan secara tuntas, masih ada waktu dua jam. Tapi keadaan  ini  membuat jarum jam berjalan sangat lambat, dan membosankan seketika bukan seketika tapi sejak tadi.  hari ini ku kira menyenangkan, ternyata membuatku seperti sedang disiksa di neraka, kenapa kau jahat Tuhan?

“Lala, kamu belum menulis sama sekali?” tanya Robi heran, tapi seyuman manisnya membuat mataku tak sanggup sedetikpun untuk mengalihkannya dari hadapanku, ini pemandanganya yang luar biasa, pemandangan yang hanya aku saksikan di media sosial. Dan kini sedang tersenyum di depan wajahku, jarak kami mungkin hanya 1 meter tapi aku merasakan kehangatnnya. Ini gila

“Eh iya ka, aku ngeblank nih” jawabku malu

“Wah, kamu hebat ya, ada banyak ide di kepalamu” ujarnya sembari mengangkat jari telunjuknya dan di arahkan ke kepalanya

“dan disini belum sempat kamu keluarkan semua, kamu pasti bisa”

Dia berlalu dan menepuk pundakku

Oke, aku menemukan semangatku lagi.

materi dari Robi siap aku terapkan, dan objek dari ideku, adalah Prabu. Lelaki yang memalukanku di depan umum, gara-gara dia membawa novel dan diletakkan di atas meja, akan ku semai dendam ini, entah sampai kapan. Isi di kepalaku memutar hebat dalam hitungan detik aku ingin menghabisi Prabu di dalam tulisanku, akan ku permalukan dia sebagai mana dia mempermalukanku, baik aku sudah siap untuk bertempur.

Tulisanku akan ku beri judul Assalamualaikum Bujang, terimakasih sudah menginspirasiku, Prabu!  Mari kita saling sapa dalam tulisanku.

Tinggalkan Komentar