Antara waktu aku dan anakku

0
102

 

Aku menatap lekat-lekat bayi 7 bulan yang ada di pangkuan ku, karena aku harus pergi melepaskan putra kesayangan ku dalam jumlah kurun waktu yang lama, 6-7 tahun ataupun bisa lebih, jarak waktu yang begitu panjang untuk 7 bulan yang baru kurasakan rasa bahagia serta suka duka menjadi seorang pahlawan bagi putraku, yang baru sebentar kurasakan menjadi seorang ibu. Kupandangi wajah putraku yang begitu lucu dan mungil. Lalu ciuman hangat ku mendarat lembut di kedua pipinya, air mata ini tidak ada henti-hentinya untuk terus menetes. Bagiku ini bukan tanda kesedihan untuk berpisah, tapi juga tanda bahwa aku sangat mencimtainya.

                Lagi-lagi kutatap bola mata si kecil, dengan terus berkaca-kaca, suara tangisan bayi ku yang menjerit adalah ungkapan perasaannya yang tidak ingin berpisah dengan ku. Karena aku harus pergi ke jepang, untuk mengadu nasib di negri orang, menjadi TKW, karena suamiku telah pergi meninggalkan kami pada saat usia kandungnku 4 bulan., ia mengindap penyakit kangker paru-paru dan tidak ada biaya untuk pengobatanya. Bukan menjadi suatu pilihan yang mudah untuk menjadi TKW, karena ayahku harus menjual satu hektar sawah untuk modal keberangkatanku.

                Aku peluk lebih erat lagi bayi yang ada di pangkuanku, dan begitupun dengan jarum jam yang terus-menerus bergerak mengejar waktu dan aku hanya punya waktu 45 menit untuk melepaskan kesedihanku. Saat itu pula isak tangisku pecah terbawa sendu, ku bisikan kepada pahlawan kecilku “farhan, nanti harus jadi anak yang solih dan pinter jangan bikin susah mbah, yang rajin yo le, jadi anak yang baik-baik” suara ku parau tangisan ku memang sudah tidak bisa ku bendung lagi, ku tatap wajah ayah dan ibuku, yang duduk di atas kursi jati yang sudah tua, begitu pula dengan mereka yang tidak dapat menahan air matanya.

”ndok, ini Al-quran, selalu di baca ya ndok, sempatkan dirimu untuk beribadah kepada Allah” pinta ibuku yang sudah kepala lima, dan meletakkanya di atas meja. Aku hanya bisa mengangguk bertanda iya, karna tidak ada suara lagi yang bisa aku ucapkan,

“Dian,cepat, lima belas menit lagi kita akan berangkat, ayo mbok!, pak duluan!”kata mbak Wiwit tetanggaku, yang sudah lam bekerja di jepang. Aku tahu apa yang di khawatirkan oleh ayah dan ibuku, mereka sangat takut dengan keselamatan ku di sana, mereka takut aku disiksa oleh majikanku, mereka takut aku di jual orang, dan bahkan mungkin mereka takut aku pulang ke Indonesia sudah berubah menjadi mayat, apalagi setelah mendengar berita bahwa TKW di Malaysia, yang dianiaya oleh majikannya. Akan tetapi tekad dan niatku sudah bulat.

                Semakin cepat jarum jam berputar, maka semakin cepat pula moment perpisahan ini, hati ku begitu sangat sakit dan pilu, jika memandang wajah puteraku, sedari tadi yang menangis dan meronta, memang badanya juga panas, dia demam. Sudah empat hari ini, suhu badanya tidak kunjung turun.

“nak, biar emak susah tidak apa-apa, yang penting kamu harus jadi anak yang pinter, sukses dunia dan akhirat, jangan pernah menyalahkan keadaan. Dan ingat lah, Allah itu maha adil” lagi-lagi kecupan hangat ku mendarat di atas jidatnya. Ku ayunkan tubuhnya sebentar di atas pangkuanku, dan lalu ku julurkan kearah ibuku. Dan kini si kecil farhan telah berpindah tempat, dipangkuan ibuku.

“mbok, aku titip Farhan ya!, tolong didik dia dengan baik, doakan aku ya mbok!” tepat pada saat itu tangisan dan jeritanya lebih keras bahkan meronta lebih hebat lagi, sepertinya dia paham, kemana arah omonganku dengan ibuku. Wanita mana yang tidak remuk hatinya jika melihat buah hatinya yang polos dan tidak berdosa itu menangis sedemikian keras?, sungguh menyayat hati.

“cup…cup..cup…, diam yo le!, doa kan saja emak mu. Jangan nangis terus” ibuku mencoba menenangkanya, tapi bagai mana beliau bisa menenangkanya jika ibu ku sendiri juga menangis.

“pak.. nyuwon pangestune pak!, doakan anakmu!”, pinta restu ku kepada ayahku, yang sudah rabun dan tidak bisa mendengar secara jelas lagi, ku tundukan tubuh ini di atas kakinya seraya bersimpuh sujud, dan memegang jari jemari tangannya, dengan basah jari-jarinya yang ku ciumi, tak membuatnya untuk menyekanya. Bagitu pula, air matanya mengalir deras, tanpa mau membendungnya, walau setahuku beliau adalah tipe orang yang kuat.

“ndok, jaga dirimu baik-baik!, jangan lupa shalat yo!” pesan ayahku, padaku. Lalu kumasukan al-quran kedalam tasku, dan tidak lupa ku masuki kamar ku serta mengmbil tiga lembar foto, foto pernikahanku beserta keluarga, foto anakku dan foto almarhum suamiku, tidak lupa untuk ku selipkan di dompetku, alasan ku membawanya agar dapat mengobati rasa rindu ku kepada mereka semua.

                Mengadah kearah langit, bukan jaminan air mata tidak keluar lagi, yang ini lain halnya, masih deras seperti semula, bahkan lebih lagi, lalu ku peluk ibuku beserta ankku yang ada di gendongannya, sungguh berat rasanya meninggalkan orang-orang yang kita cintai.

“udah ndok..udah!, saatnya berjuang” kata ibuku sambil menepuk bahuku, ku langkahkan kakiku keluar pintu rumah, ku pandangi rumah gubuk yang reot, yang selama ini setia melindungi keluargaku dari sengatan panasnya matahari atau basahnya air hujan, juga dinginnya angin malam. Ku pandangi seluruh halamn rumahku yang menyimpan berjuta-juta kenangan dan cinta disini, hingga kunjung mobil jemputanku datang dan membukakan pintu untukku, untuk melaju menuju PJTKI di Jakarta. Di dalam mobil ini suara tangiskupun pecah kembali, ternyata bukan hanya aku saja tapi semua yang ada di mobil inipun menangis.ku lambaikan tanganku untuk orang-orang yang ku tinggalkan, dan terus kupandangi mereka dari kejahuan hingga tidak Nampak lagi, ku genggam erat jari-jemari ini, danku katakana pada diri sendiri”aku adalah wanita yang hebat, tegar, dan sabar, aku pasti bisa” kukepal erat sambil kupejamkan mata dengan penuh keyakinan

“bismilahirrahmanirrahiem”

Tinggalkan Komentar