Alegoris Kehidupan

0
74

BAB 1 – Aku dibalik Jendela

 

Langit telah lama berhenti menangis meninggalkan sejuta rindu yang ditemani udara dingin menusuk kulit berhasil membuat ku ingin menangis lagi. Di rumahku sudah sepi, ayah dan ketiga adikku telah tertidur pulas sebelum tengah malam. Tadi sempat ayah ke kamar ku memberiku semangat dan pelukkan hangat pengantar lelap tetapi otak ku masih bekerja memikirkan banyak hal seperti biasa. Jam dinding di kamar tidurku menunjukan pukul 01.00 dini hari dan aku masih saja terjaga bukan tanpa alasan, tetapi aku masih belajar untuk presentasi tugas akhir ku esok hari masih banyak materi yang harus ku pelajari.

Namaku Aya Azzara Rumaisa, aku lahir di Jakarta tanggal  24 Oktober 1995 dan umur ku tahun ini 23 tahun. Aku mahasiswa tingkat akhir di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta dan besok adalah sidang skripsi ku. Aku lahir di ibukota Jakarta, lahir dari seorang ibu yang bernama Marzia bekerja sebagai ibu rumah tangga dan seorang ayah yang bernama Muhammad Azha bekerja sebagai PNS di kantor DKI Jakarta. Aku anak keempat dari enam bersaudara dan semua saudara ku adalah perempuan. Nama kakak pertama ku adalah Siti Afifah, kakak kedua ku adalah Nur Rahma dan kakak ketiga ku adalah Mafaza Anatsia sedangkan nama kedua adikku adalah Nusaybah laila dan Azura Alia. Ketiga kakak ku sudah lama menikah dan nama ketiga kakak ipar itu adalh Kak Adit, Kak Firman dan Kak Kristian. Walau umur ku masih tergolong muda tetapi aku sudah menjadi tante dengan empat keponakan yaitu Ahmad Dila, Nyla Putri, Kira Putri dan Ahmad Alif.

Hobby ku adalah membaca buku dan menonton anime, makan dan tidur juga kesukaan ku mungkin karena itu tubuhku cukup berisi jika dibandingkan dengan artis-artis di serial drama korea. Kata teman-teman aku adalah gadis yang memiliki hati yang sangat sensitif mungkin karena itu aku sering mudah sekali menangis. Aku sangat menyukai karya sastra,  puisi adalah karya sastra yang paling ku sukai dengan segala keindahan pada setiap bait membuatku acap kali jatuh cinta. Bagiku puisi akan mengobati hati para penulis dan pembacanya sehingga dulu dan mungkin hingga kini aku masih bercita-cita menjadi seorang penulis.

Aku memiliki orang tua dengan penuh kasih sayang dan penuh perhatian, masih segar di ingatanku ketika aku masih taman kanak-kanak semua teman-teman ku sering kali iri dengan segalanya tentangku. Mungkin karena ayah sering membelikan mainan baru disetiap bulannya, entah itu barbie, boneka, rumah-rumahan bahkan pernah ayah memberiku mesin cuci elektrik untuk membantu ku mencuci semua baju boneka dan koleksi baju barbie ku.

Dan ibu? Jangan tanya ia selalu memasak semua makanan kesukaan ku. Ayam goreng adalah kesukaan ku, soto betawi juga  makanan favorite ku, sebatang coklat, roti dengan selai strawberry dan susu adalah snacks untukku kala siang menyengat tubuh. Aku juga sering diajak ke taman rekreasi pada hari minggu atau dikala aku ingin liburan. Ayah juga sering mengajak ku dan seluruh keluarga ku keluar kota hanya sekedar melepas lelah dan penat di kota Jakarta yang penuh sesak.

Di setiap ulang tahun ku ibu tidak pernah absen untuk mengadakan acara ulang tahun dan tiup lilin. Entah di sekolah atapun di rumah ibu selalu membuat mewah dan penuh dengan keajaiban, tepuk tangan yang meriah, baju bak putri dengan mahkota, tumpukkan kado, balon warna-warni terpajang disudut ruang, tulisan “happy birthday” juga menjadi pemanis di acaraku dengan badut yang tidak lucu mencairkan suasana kala itu serta suara riuh teman-teman sering kali membuat ku penat dan senang. Seorang guru yang lelah menyuruh kami untuk tenang mungkin kehabisan kata hingga ikut bersuka ria tak peduli rambut yang mulai beruban terlihat di sela-sela tudung rambut.

♥♥♥

  

Pukul 01.00 dini hari, aku dibalik jendela lagi hari ini dan akan ku ceritakan kisahku kepadamu. Aku di lahirkan dengan fisik yang utuh tanpa kekurangan, memiliki kedua mata, telinga, tangan juga kaki dan satu bibir tentunya. Tetapi sejak aku dilahirkan aku memiliki penyakit bawaan lahir yang kata orang cukup mengkhawatirkan, mungkin itu sebabnya dari dulu hingga hari ini aku mendapatkan perhatian lebih dari orang tua ku. Kata ayah, dulu waktu masih dalam kandungan ibuku sakit-sakitan. Ibu yang tidak kuat merasakan sakit nekat meminum berbagai macam obat agar dapat menyembuhkan dirinya, oleh karena itu aku memiliki kelainan jantung bawaan lahir. Mungkin kala itu ibu lupa bahwa aku masih berada dikandungan hingga ia abai akan akibat yang  ditanggung ketika ku lahir nanti.

Karena penyakitku itu, aku sejak kecil selalu sakit-sakitan, rumah sakit adalah rumah kedua bagiku. Kata ayah, penyakit ku diketahui oleh dokter ketika aku baru saja dilahirkan dengan sekujur tubuh membiru berhasil buat panik orang tua ku dan setelah itu banyak waktu yang aku habiskan di rumah sakit hanya untuk melakukan medical check up oleh salah satu professor di rumah sakit ternama. Ayah pernah bercerita padaku, dulu diusia ku yang pertama aku masih belum bisa berjalan dan berbicara dengan baik mungkin karena penyakitku itu, entahlah. Sempat ayah berfikir kalau aku terlahir cacat jika dibandingkan antara aku dengan balita seusiaku yang mungkin sudah dapat berbicara dan dapat berjalan dengan normal. Kondisi ku itu cukup mengkhawatirkan orang tua serta seluruh anggota keluarga. Tubuh ku yang kurus dan tidak berambut  membuat mereka penuh dengan cemas dan kekhawatiran tiada henti, kemungkinan terburuk  jikalau takdir membanting tubuh mereka sekali lagi.

Melakukan ikhtiar dengan berobat ke dokter serta pengobatan tradisional pun telah orang tua ku lakukan tetapi tidak membuahkan hasil yang signifikan. Ayah yang sempat putus asa membawaku dan seluruh keluargaku pergi ke Tanah Suci untuk meminta langsung pada Sang Pemilik agar membuat ku bisa berjalan dan berbicara layaknya balita seusia ku. Dan keajaiban pun datang tepat ketika kaki ku menginjakkan kaki di Tanah Suci, dengan terbata-bata aku mulai memanggil sebuah nama yang dirindu untuk terpanggil.

“Ibu.”

Satu kata yang ku ucapkan pertama kali dengan susah payah.

“Ibu.”

Satu kata yang ingin di dengar oleh wanita yang kulitnya mulai menua.

Mungkin kala itu ibu menangis mendengar suara ku yang mulai berbicara. Kekhawatiran itu seketika runtuh terbayar oleh aku yang dapat  berbicara dan berjalan karena Tuhan telah menunjukkan kuasaNya pada kedua orang tua ku yang hampir berputus asa. Ayah pernah mengatakan padaku bahwa sesungguhnya bagi mereka aku yang dilahirkan lemah ini adalah cara Tuhan mencintai diriku dan dirinya, sebab ia percaya jika Tuhan mencintai seorang hamba maka Dia inginkan hambanya berserah diri hanya padaNya.

Pagi berganti malam, musim panas berganti musim penghujan, detik berganti menit, bulan berganti tahun aku terus tumbuh dengan penuh kasih sayang. Ibu merawatku dengan kehangatan dan penuh kekhawatiran, khawatir jika aku tertidur untuk tidak bangun lagi. Ayah juga mendidik ku dengan kelembutan dan kecemasan, cemas jikalau ia akan melukaiku dan membuatku menangis

. Aku masih ingat di usiaku yang keempat dokter merujukku agar untuk melakukan bedah jantung atau dalam bahasa medisnya adalah Cardiothoracic. Suatu proses pembedahan dimana otot jantung akan diperkuat dengan melakukan pembungkusan otot jantung dengan jaringan otot bagian tubuh lainnya guna untuk membantu mengatur detak jantung ku.

Kala itu bau rumah sakit yang menemaniku hingga berminggu-minggu membuatku takut, aku takut jika aku tidak bisa melihat orang tua ku lagi, aku takut melihat ibuku menangis  karena ku lagi. Sehingga yang selalu ku tampakkan adalah senyum lebar yang terlukis di wajah tak peduli jarum suntik menusuk telinga ku, selang himpus  melilit telapak tangan ku pun tabung oksigen yang setia menemani setiap malam aku selalu terlihat ceria dihadapan mereka sengaja membuat gurauan agar mereka tersenyum dan yakin bahwa aku akan baik-baik saja. Aku masih ingat sebelum aku masuk ke ruang operasi aku meminta izin untuk melakukan salat terlebih dahulu dan aku melihat ibu menangis dipojok ruang. Kala itu aku hanya ingin menitipkan orang tua ku kepadaNya, meminta kepadaNya untuk Dia menjaga mereka agar tidak lagi menangisi ku apapun yang akan terjadi nanti.

Koridor rumah sakit terasa sunyi, entah kemana orang-orang yang dirawat atau para suster pun dokter tidak tampak batang hidungnya. Kala itu hanya lengang, terasa menyesakkan ketika kasur ku melewati jalan sempit dengan pintu berbaris rapi yang diberi kaca ukuran persegi dan nomor kamar di setiap dinding. Ketiga kakak ku dan orang tua ku ikut menemani ku, memberikan sedikit gurauan dikala kekhawatiran, kala nyawa tengah dipertaruhkan.

Kakak Tia sempat bergurau padaku seraya memasuki ruang operasi “Kamu nanti pura-pura tidur saja, bayangin kamu lagi diajak doraemon pergi ke masa depan.” Katanya kala itu yang melihatku sulit untuk tidur padahal suster telah membius tubuh ku tetapi entahlah mata ku enggan untuk menutup dan aku hanya menganggukan kepala, mengiyakan. Di dalam ruang operasi yang serba putih  hanya ibu yang menemaniku katanya, ayah menunggu diluar untuk mengurus beberapa hal prihal operasi, jelas ibu ketika aku mencari ayah disudut ruang. Lampu memancarkan cahaya yang menyilaukan seakan mencekik ku agar segera tertidur, jarum suntik menggigit lengan yang tak berotot dan aku pun setengah tertidur di atas kasur yang dingin membekukan tubuh. Tetapi aku masih dapat mendengar suara dokter yang menyuruh para suster ini dan itu, masih dapat melihat pisau yang akan mengiris kulit tubuh ku, masih bisa merasakan genggaman tangan ibu yang hangat menyentuh sanubari ku.

 ♥♥♥

 

Di hari minggu yang cerah aku sengaja bangun pagi-pagi hanya untuk menonton kartun favorite ku yang akan segera dimulai lima belas menit lagi. Pukul 07.15 pagi hari, ibu dan ayah masih terlelap dikamar juga ketiga kakak ku yang masih tertidur dan saling menumpuk satu sama lain. Aku yang lapar bergegas untuk memasak chiken wings olahan yang selalu tersedia di kulkas hanya untukku.

“Aya kamu ngapain?” tanya ibu yang terbangun karena melihatku tidak ada disampingnya berhasil mengagetkan ku yang ingin memasukkan potongan ayam di atas minyak panas.

“Aduh. Ibu ih mengagetkan saja! Aya jadi kena minyak panas kan.” Jawabku yang kesakitan karena terkena percikan minyak panas.

“Ya Tuhan, coba ibu liat mana yang sakit. Ini ya?” Tanya ibu yang panik sambil mengoleskan pasta gigi ke lengan ku yang terkena minyak yang dibalas oleh tangisan ku karena kaget dan kesakitan.

“Kamu mau masak apa sih? Kenapa nggak bangunin ibu saja? Atau panggil Teh Wati? Sekarang masih sakit nggak tangannya?” Tanya ibu yang penuh dengan sejuta pertanyaan sambil memasakan potongan ayam yang tadi aku siapkan.

“Sudah enggak ibu. Tadi ibu tidurnya pules banget jadi nggak Aya bangunin dan Teh Wati sudah ke pasar daritadi, lagi pula Aya sudah besar ibu sudah umur sepuluh tahun ibu sudah kelas 5 SD sudah waktunya Aya belajar melakukan segalanya sendiri ibu.” Jawabku yang terus meniup tangan yang terkena percikan minyak.

“Tetap saja! Kalau kamu ingin melakukan sesuatu bilang ke ibu, paham?” tegas ibu sambil memberikan piring yang penuh dengan potongan ayam.

“Iya ibu.” Jawabku dan langsung pergi ke ruang keluarga untuk menonton kartun favorite ku.

“Kak geser ih Aya juga ingin nonton.” Kataku pada kak Tia yang entah sejak kapan sudah bangun untuk menonton.

Dia adalah kakak ku yang setia menemaniku menonton kartun juga bermain game aku sangat jarang bertengkar dengannya dia sosok kakak yang penyayang juga tegas. Seperti dua minggu yang lalu, dia sempat mengomeliku, memang salahku yang tanpa pikir panjang melempar piring yang penuh dengan lauk pauk tepat didepan wajah asisten rumah tangga yang baru, Teh Iis. Dia adalah adik teh Wati yang sengaja ayah panggil untuk membantu pekerjaan rumah tangga agar lebih cepat diselesaikan karena Teh Wati yang selalu mengantarku sekolah dan mengurus semua keperluan ku.Waktu itu aku kesal, aku meminta untuk mengambilkan makan siang ku dengan aluk sepotong ayam goreng dengan sayur sup tanpa wortel tetapi yang dibawakan sayur sup dengan penuh wortel. Aku yang kesal melempar  piring berisi lauk pauk hingga pecah berhasil membuat berantakan seisi ruang. Dan kala itu kak Tia yang melihatku melempar dan memaki Teh Iis balik memarahiku dan menyuruhku  merapihkan semua yang aku kacaukan hingga akhirnya dia mengundurkan diri untuk berhenti bekerja kepada orang tua.

“Tadi dibawah ada ribut apa? Kenapa ibu panggil-panggil Teh Wati?” tanya kak Tia kepadaku.

“Aya tadi masak chiken wings sendiri terus minyaknya kena tangan dan yaudah ibu panik seperti biasa.” Jawabku sambil memakan sarapanku.

“Lagi nggak biasa masak kenapa masak sendiri sih? Untung nggak kenapa-kenapa.” Katanya dengan sediki khawatir seperti biasa.

“Aya mau belajar masak kakak, teman-teman Aya sudah pada bisa masak Aya juga mau belajar. Ibu kenapa sih kak selalu saja khawatir, khawatir berlebihan membuat Aya sulit untuk bergerak. Nggak boleh ini nggak boleh itu, kemarin Aya mau menyeberang sendiri saja nggak boleh padahal kan sekolah deket masih saja harus dianterin kan malu, Aya udah besar kak!” seruku dengan wajah masam.

“Hahaha badan kamu yang besar.” Gurau kak Tia mencupiti pipiku dan aku mengadu.

“Bukan hanya itu kak, bahkan Aya tidak diperbolehkan main sepeda padahal teman-teman Aya diperbolehkan main sepeda.”

“Ibu hanya khawatir kamu kenapa-kenapa memang akan terkesan kamu sulit bergerak tetapi cukup kamu pahami bahwa itu semua ibu lakukan demi kebaikan kamu dan tak lepas dari itu ibu sangat menyayangi kamu.”

“Tapi kak Aya kan juga mau seperti teman-teman Aya di sekolah, pulang pergi sekolah sendiri, belajar masak, main sepeda dan melakukan hal yang lainnya seorang diri.”

“Iya paham tapi kamu harus percaya bahwa suatu saat nanti kamu juga akan diberi kepercayaan untuk melakukan segalanya seorang diri. ”

 

   ♥♥♥


Tinggalkan Komentar