Dia adalah… Kamu (Bab 2 – 1)

0
70

BAB 2

 

 

Nindi sudah menyelesaikan jadwal rutinnya untuk belajar pada malam hari seusai sholat Isya. Setelah membenahi semua buku yang ada di meja belajar, lalu Nindi menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Ia menatap ke atas rak buku. Ada sebuah vas bunga dengan bunga mawar di dalamnya. Tiba-tiba sebuah nama menyelinap masuk ke dalam pikirannya. Irgi. Ia tak habis pikir kenapa lelaki itu bisa mengatakan bahwa ia menyukainya padahal bertemu dengannya pun baru sekali yaitu saat Irgi meminta tanda tangannya. Nindi mencari sebuah alasan mengapa Irgi bisa berkata begitu dan kemudian sebuah alasan terbesit di pikirannya.

Cinta pada pandangan pertama, kah? pikir Nindi. Nindi kemudian menggelengkan kepalanya dengan kuat untuk mengenyahkan pikiran itu. Mana mungkin Irgi jatuh cinta padanya saat pandangan pertama, lagian tidak ada sesuatu pada dirinya yang menjadikan alasan Irgi untuk menyukainya pada pandangan pertama. Nindi memikirkan berbagai kemungkinan yang menjadi alasan orang-orang untuk mencintai seseorang pada pandangan pertama dan ia menemukan satu alasan yang masuk akal yaitu dengan melihat seseorang dari parasnya. Kemudian Nindi berdiri dan berjalan menuju lemari baju yang di pintunya terdapat cermin panjang. Nindi mematutkan dirinya di depan cermin. Ia menjajal berbagai pose, menilik wajahnya dengan seksama, dan membenahi rambut panjangnya.

“Ah, mustahil,” gumam Nindi pasrah. Ia kini berjalan gontai menuju tempat tidurnya, duduk di tepi tempat tidur, dan menghempaskan badannya dengan posisi menyamping. Pikirannya kini berhasil terganggu oleh lelaki selain Dika. Selama ini, seorang lelaki yang selalu  menguasai otaknya hanya Dika, Dika, dan Dika. Tapi kali ini, Irgi berhasil membuatnya penasaran. Irgi membuat hati Nindi berdesir saat ia mengingat kembali kalimat yang diucapkan Irgi saat ia memberi bunga kepadanya. Untuk mengalihkan pikirannya, lantas Nindi dengan sengaja memutar ulang memori ketika ia diantar pulang oleh Dika sore itu. Nindi tersenyum malu. Wajahnya terasa memanas, dan dadanya berdesir hangat. Nindi memegang dadanya, merasakan detak jantung yang memburu dan ia pun tersenyum. Ia bersyukur rupanya tetap Dika yang menguasai hatinya.

Saat sedang asyik dengan perasaannya, tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu kamar Nindi yang kemudian ia buka. Itu Mamanya. Nindi berbalik dan kembali duduk di tepi tempat tidur diikuti Mamanya. Mamanya duduk di samping Nindi. Suasana jadi kurang mengenakan karena sikap serius Mama Nindi sangat kentara. Nindi kembali menghempaskan badannya dengan posisi menyamping dan Mama Nindi memperhatikannya.

“Papa udah bilang ke Mama,” kata Mama Nindi menggantungkan ucapannya. Tangannya menyentuh paha Nindi dengan lembut. Mendengar itu, Nindi langsung bangkit dan memposisikan dirinya untuk duduk menyilang di atas kasur dengan punggung bersandar pada kepala tempat tidur dan sebuah bantal berada di pangkuannya. Ia sudah tahu akan dibawa kemana arah pembicaraannya. Pikirannya seketika menjadi runyam. Pembahasan yang akan Mama Nindi bicarakan terlalu berat untuk saat ini. Nindi hanya menunduk memainkan jemarinya di atas bantal. Mama Nindi mendekat.

Sebelum memulai pembicaraannya kembali, Mama Nindi menghela napas berat. Terlihat sekali bahwa beliau sulit untuk memulainya. “Kamu bingung kenapa, Dek?” ucap Mama Nindi dengan lembut sambil menyentuh tangan Nindi.

Nindi tetap menunduk. “Nindi bingung dengan 2 pilihan yang ada, Ma.”

“Kamu udah mempertimbangkan baik dan buruknya dari kedua pilihan itu?”

Nindi menjawabnya dengan menganggukkan kepala. Mama Nindi pun melanjutkan bertanya. “Kalau begitu, mestinya kamu udah bisa ambil kesimpulan, kan?”

“Belum, Ma…” jawab Nindi lirih.

Lagi-lagi Mama Nindi menghela napas. Beliau terdiam sesaat. Memperhatikan putri bungsunya dan lalu mencoba menghiburnya. “Kamu itu anaknya rapi dan penuh perhitungan. Mama yakin kamu bisa ambil keputusan yang terbaik. Untuk selebihnya kita serahkan sama Allah.” Nindi mengangkat pandangannya dan menatap wajah Mamanya yang teduh. Nindi tersenyum seraya berkata, “Terima kasih, Ma.” dan Mamanya menjawab dengan anggukan dan senyuman yang menenangkan.

“Kalau misalnya kamu memilih keputusan untuk kuliah di luar negeri, kamu mau kuliah di mana?” Mamanya melanjutkan bertanya.

“Nindi mau kuliah di Swiss, Ma.” jawabnya. Mendengar jawaban dari Nindi, Mama Nindi mengangguk dan kemudian berkata, “Apapun yang kamu pilih, Mama pasti dukung kamu karena Mama percaya kamu pasti bisa mengambil keputusan yang terbaik apapun itu alasannya.” sambil tersenyum lembut dan mengusap puncak kepala Nindi. Nindi pun tersenyum haru. Setelah itu, Mama Nindi berjalan keluar kamar meninggalkan Nindi yang masih berkutat dengan pikirannya. Nindi menatap lurus pada mading kecil yang di tengahnya tertempel tulisan yang ukurannya lebih besar dari ukuran note di sekelilingnya. SWISS.

***

Nindi berulang kali menatap jam yang melilit di pergelangan tangannya. Wajahnya gelisah dan kakinya tidak bisa diam. Nindi terus mengeluarkan decakan dan desahan kesal berharap supir angkot tersebut menyadari kegelisahan Nindi. Ini hari senin dan gerbang di tutup lebih awal. Gerbang ditutup pukul 06.50 sedangkan saat ini jam tangan Nindi menunjukkan pukul 06.45. Angkot kedua yang Nindi tumpangi ini masih dengan santainya mengetem di pinggir jalan. Kenek masih saja berteriak memanggil penumpang padahal saat itu angkot bisa dibilang hampir penuh, hanya kurang 2 orang untuk bisa dibilang penuh. Tak hanya Nindi, beberapa siswa lain pun berdecak kesal. Sadar akan sindiran para penumpangnya, akhirnya sang supir memanggil kenek dan memberi selembar uang lima ribu rupiah. Ketika angkot akan mulai berjalan, seseorang memukul-mukul angkot di belakang dan angkot pun berhenti. Seorang siswa lelaki masuk dan duduk tepat di hadapan Nindi. Dia tahu lelaki itu, Irgi.

Ini pertama kalinya Nindi melihat Irgi lagi setelah 9 hari yang lalu ketika lelaki itu memberi bunga pada Nindi. Ia memperhatikan Irgi yang belum menyadari bahwa yang duduk di hadapannya kini adalah Nindi. Nindi melihat nametag yang tersemat di seragam baru Irgi dan kemudian membacanya dalam hati. Irgiana Fabian. Nama yang bagus, batin Nindi. Ketika Nindi sedang membaca nametag milik Irgi, Irgi sadar akan hal itu dan ia pun baru menyadari bahwa seseorang yang duduk di hadapannya kini merupakan seorang Nindi. Irgi terus menatap Nindi hingga Nindi pun mendapati dirinya tertangkap basah oleh sang pemilik nama. Dengan gelagapan, Nindi langsung mengalihkan pandangan ke segala arah kecuali ke hadapannya. Irgi yang melihat hal tersebut hanya tersenyum geli. Kini Nindi berpura-pura melihat jam tangannya. Niat awalnya hanya untuk berpura-pura melihat jam, tetapi saat ia benar-benar melihat jarum jam, bola matanya membesar. Sudah pukul 06.52!

Mati gue, kesiangan! Mana hari senin pula! rutuk Nindi dalam hati.

Setelah kepanikan melandanya, akhirnya kini Nindi sudah turun dari angkot dengan diikuti oleh Irgi di belakangnya dan kemudian berlari sekencang yang ia bisa karena jarak dari jalan raya menuju sekolah Nindi lumayan jauh. Sambil berlari, Nindi sesekali melihat jam tangannya. Sudah pukul 06.58.

“Aduuuh… pasti gerbang udah di tutup!” gumam Nindi panik. Nindi terus berlari dengan siswa-siswa yang juga terlambat sehingga ia pun tak mempedulikan Irgi yang tadi ada di belakangnya. Ia hanya fokus berlari dan akhirnya ia sudah mendekati gerbang.

“Ayo ayo lari cepat!!!” Suara bariton Pak Haryo menggelegar meneriaki siswa-siswa yang terlambat. Mendengar teriakan tersebut, Nindi mempercepat larinya dan memasuki gerbang sekolah yang masih terbuka.

***

Upacara kenaikan bendera merah putih dan beberapa agenda lainnya sudah dilaksanakan dan yang tersisa hanya pengumuman. Sebelum pemberi pengumuman menaiki mimbar, barisan siswa mulai sedikit berisik. Mungkin itu untuk melepas kejenuhan mereka setelah 1 jam kurang dilarang untuk bersuara dan bergerak yang berlebihan. Nindi kini berdiri di barisan paling belakang hingga memungkinkan untuk melihat ke barisan kelas 12 IPA 1. Nindi mencari-cari sosok Dika dan di sanalah ia berdiri. Dika berdiri di barisan kedua dari belakang. Ia sedang menjahili temannya yang berdiri tepat di depannya. Dengan gelagat seperti maling, Dika memasukkan bungkus permen ke dalam kerah baju temannya. Temannya itu merasakannya dan membalikkan tubuhnya. Tapi sayang, bungkus permen itu sudah masuk ke dalam baju orang tersebut. Dika dan teman yang bersekongkolan dengannya pun merasa puas dengan dan mereka hanya cekikikan saat melihat reaksi temannya itu. Untuk membalas perbuatan Dika, temannya memukul dengan keras bagian depan topi sekolah Dika hingga menutupi matanya. Saat matanya tertutup, guru BK menghampirinya dan berdiri di belakang Dika. Murid lain yang mengetahui hal tersebut dengan sigap kembali ke posisi semula dan berpura-pura mendengarkan pengumuman yang kini disampaikan Pak Haryo akan tetapi hanya Dika yang tidak mengetahui keberadaan guru BK tersebut. Ketika Dika akan bersekongkol kembali dengan temannya yang berdiri di belakang, yang ia lihat bukan temannya melainkan guru BK, Bu Anis, yang bisa dibilang lebih dingin daripada Pak Haryo yang menakutkan. Dika terkejut saat melihat Bu Anis.

“Bu…” sapa Dika mengangguk pelan sambil tersenyum kikuk kemudian ia memutarkan badannya kembali secara perlahan. Bu Anis hanya berdecak sambil menggelengkan kepalanya.

Melihat kejadian itu, Nindi hanya tersenyum geli. Betapa konyolnya tingkah Dika hingga mampu menggelitik hatinya saat itu. Kemudian secara tiba-tiba sesuatu terlintas di kepalanya. Jaketnya Dika! Setelah teringat ia belum mengembalikan jaket milik Dika, Nindi memutuskan untuk mengembalikan padanya esok hari. Nindi kembali memusatkan perhatiannya pada Pak Haryo yang sedang menyebutkan nama-nama siswa.

“Eh Lit, itu lagi pengumuman apa sih?” tanya Nindi pada Lita yang berdiri di depannya.

“Ini lagi ngumumin murid baru yang lolos masuk kelas aksel─kelas akselerasi, masa sekolah ditempuh dalam jangka waktu 2 tahun─” jawab Lita sekenanya. Nindi hanya ber’oh’ria saat mendengar jawaban dari Lita hingga tiba saatnya ketika ia mendengar nama seseorang disebutkan di pengeras suara.

“Irgiana Fabian dari 10 – 5.”

Hebat! Seorang Nindia Anindita yang kuper ini disukai oleh seorang brondong jenius! Sekarang kehidupan si itik buruk rupa ini akan berubah 180 derajat dari 2 tahun sebelumnya, gumam Nindi dalam hati. Bukannya Nindi membenci perubahan, ia hanya kurang nyaman dengan sebuah perubahan. Itu karena Nindi telalu menutup diri dengan sekitar. Nindi tidak suka dengan sesuatu yang mengundang perhatian untuk dirinya. Ia hanya ingin damai dan baginya kesendirian merupakan kedamaian baginya.

***

“Nin, kita jalan yuk!”

Tyas dan Fitri sudah berada di kelas Nindi sejak beberapa menit bel tanda pulang sekolah berbunyi dan kini mereka berdua sedang duduk menghadap Nindi yang tengah membereskan barang-barangnya.

“Ayolah Nindi, kita jalan yuk, please!” rajuk Tyas.

Nindi yang selesai mengemas semua barangnya sejenak memperhatikan kedua sahabatnya yang sedang merajuk kemudian ia menghela napas dan berkata, “Sorry banget, bukannya gue gak mau jalan sama kalian berdua tapi jadwal les gue udah keluar dan sekarang gue harus les.”

“Kita udah 2 minggu masuk sekolah, lho, dan kita belum jalan bareng sama sekali.” ujar Tyas dengan ekspresi sedih.

“Iya, refresh dululah Nin otak lo, jangan belajar terus. Kita kasihan sama lo. Lo juga manusia yang butuh istirahat.” kemudian Fitri menambahkan sambil mengelus bahu kanan Nindi.

“Justru udah 2 minggu kita masuk sekolah dan gue belum les. Kita udah kelas 12, gue juga udah harus fokus sama UN dan apply beasiswa ke luar negeri. So, tolong ngertiin gue ya? Kalian kan tau gue udah ngincer beasiswa dari kelas 10.” terang Nindi dengan wajah dan nada menyesal. Lalu ia berdiri dan kedua sahabatnya pun ikut berdiri.

“Lo jadi ambil beasiswa ke luar negeri? Terus impian lo gimana?” tanya Tyas, wajahnya terkejut mendengar keputusan Nindi. Fitri pun begitu. Memang mereka berdua tahu bagaimana giatnya Nindi untuk belajar, bagaimana ia begitu menginginkan kedua orangtuanya bahagia, dan mereka pun tahu bagaimana jatuh bangunnya usaha Nindi untuk mimpinya sebagai penulis. Inilah salah satu alasan mereka tidak mau pergi dari sisi Nindi. Karena ia terlalu keras pada diri sendiri, juga pada hatinya. Ia hanya mempedulikan lingkungan sekitarnya tapi tidak dengan dirinya.

Melihat reaksi kedua sahabatnya, Nindi menepuk bahu kedua sahabatnya dengan senyum menenangkan terlukis di bibirnya seraya berkata, “Kalian tenang aja.” kemudian Fitri memeluk Nindi dan Tyas pun mengikuti. Setelah beberapa detik, Nindi melerai pelukannya dan mengajak para sahabatnya untuk berjalan menuju gerbang sekolah bersama-sama.

***

Dalam ruangan yang berisikan 10 murid dan seorang pengajar, Nindi duduk tepat di depan whiteboard. Ia menyilangkan kedua kakinya di bawah meja, buku catatan terbuka lebar di mejanya, dan tangan kanannya memain-mainkan pulpen berwarna. Pandangannya fokus memperhatikan pengajar yang sedang menerangkan sebuah materi pelajaran Kimia mengenai reaksi redoks dan elektrokimia. Sambil memperhatikan, sesekali Nindi mencatat sesuatu yang menurutnya penting dan ia pun sesekali mengganti-ganti warna pulpen yang ada di tangannya untuk menandakan catatannya.

“…jadi harga potensial yang di dapat dari reaksi redoks Cu2+ + Zn → Zn2+ + Cu yaitu +1,01 volt. Karena potensial sel reaksi tersebut bertanda positif, maka reaksi dapat berlangsung.” pengajar tersebut menghentikan penjelasannya mengenai contoh soal yang ia tulis di whiteboard. Kemudian ia memperhatikan setiap anak didiknya dan bertanya, “Apakah ada pertanyaan?”

Semua murid serentak menjawab “Tidak, Miss,” dan pengajar pun melanjutkan, “Baiklah, jika kalian sudah memahami semuanya, saya akan memberikan soal latihan untuk kalian dan coba kalian kerjakan soal tersebut.” kemudian pengajar itu beralih kembali menghadap whiteboard, menghapus tulisan yang ada dan menulis soal-soal mengenai elektrokimia. Melihat soal-soal yang ditulis sang pengajar, beberapa murid sedikit meringis karena soal yang kini sedang ditulis terlihat lebih sulit dari contoh soal yang diterangkan oleh pengajar. Sementara pengajar itu menulis soal, Nindi melamunkan sesuatu. Kini ia bertopang dagu dengan wajah menatap buku catatan tapi pikirannya terus memutarkan semua perkataan Mama dan Papanya. Nindi menyadari betapa besarnya harapan kedua orangtuanya terhadap Nindi. Ia tak mungkin mengecewakan mereka. Dengan kondisi kedua orangtua yang mulai menua dan keadaan ekonomi yang hanya cukup untuk memenuhi kehidupan sehari-hari, Nindi terus mempertimbangkan. Ia tak mungkin mementingkan egonya dan akhirnya Nindi sudah memutuskan.

“Nin, lo gak mau makan?” Salah satu murid yang sekelas dengan Nindi membuyarkan lamunannya. Nindi pun sedikit terhentak ketika ditarik paksa dari dalam lamunannya. Ketika ia sudah kembali ke kenyataan, Nindi menyadari kelasnya sudah hampir kosong dan pengajar sudah tidak ada.

“Hah? Eh iya, duluan aja nanti gue turun ke bawah,” jawab Nindi tergagap karena belum sepenuhnya tersadar dari lamunannya.

“Okay, gue duluan ya.”

“Mmm.”

Kemudian orang itu pun pergi. Saat Nindi menyadarkan diri sepenuhnya, Nindi meregangkan badannya sesaat dan memulai untuk menulis soal latihan. Nindi menatap whiteboard yang ada di hadapannya dan saat itu juga matanya terbelalak lebar. Tubuh yang tadinya sudah mulai relaks kini kembali menegang.

“Soal macam apa ini?”

***

Sebuah mangkuk kosong tersimpan di hadapan Nindi, dengan sumpit dan sendok menyilang di dalamnya, dengan sobekan tisu menumpuk di atas. Nindi menyingkirkan  mangkuk tersebut sedikit menepi dan mulai menikmati es kelapa mudanya. Orang yang di hadapannya pun begitu. Sambil menyeruput es kelapa, mereka sedikit berbincang mengenai soal latihan elektrokimia yang diberikan Ms. Reni─nama pengajar pelajaran kimia yang barusan─yang terkenal tak kenal ampun terhadap semua anak didiknya. Di balik sikapnya yang keras, ternyata Ms. Reni salah satu pengajar termuda di tempat les ini dengan umur berkisar 23 tahun. Walaupun terbilang masih muda, tetap saja sikapnya tersebut membuat anak didiknya sedikit jengkel kepadanya, seperti saat ini Nindi dan salah satu teman sekelasnya.

“Gila ya Ms. Reni, kalau ngasih soal latihan tuh gak pernah tanggung-tanggung,” gerutu Lisa sambil mengaduk-aduk es kelapanya dengan sebal. “Emangnya otak kita tuh sama kaya otak dia yang encer apa.” lanjutnya dengan sedikit dengusan. Nindi terkekeh melihat tampang masam Lisa. “Kalau lo sih gue tau, sesulit apapun soalnya, lo pasti bisa memecahkan soal itu,” ujar Lisa sambil menatap teman yang duduk di hadapannya dan melanjutkan, “secara, kan, dari kelas 10 dunia lo cuma seputar buku dan buku.”

“Gue juga manusia kali, ada saatnya gue gak bisa ngerjain soal kok, terutama dari Ms. Reni,” jawab Nindi sambil terkekeh dan Lisa pun begitu. Hingga saatnya Nindi melihat jam tangannya dan matanya melebar. “Eh udah lewat 30 menit nih, ayo masuk nanti kita kena marah kalau telat.”

“Eh… seriusan?”

“Mmm,” jawab Nindi sambil mengangguk membenarkan.

“Yaudah yuk!”

Mereka pun berdiri dan membayar semangkuk mie ayam dan segelas es kelapa muda lalu bergegas memasuki gedung kemudian berbelok di samping meja resepsionis dan menaiki tangga menuju kelas mereka yang berada di lantai 2. Ketika sedang berjalan dan sudah berada di depan pintu, langkah Nindi tertahan oleh kakinya sendiri yang menginjak tali sepatunya yang lepas.

“Lo duluan masuk aja.”

“Yaudah, cepet ya itu gurunya udah ada di dalem.”

Nindi pun menjawabnya dengan mengangguk pelan dan Lisa membuka pintu untuk masuk. Benar saja, pengajar selanjutnya sudah berada di mejanya dan ketika Lisa membuka pintu, pengajar tersebut melihat ke arah pintu dan pintu tersebut tetap terbuka ketika Lisa memasuki kelas.

“Kamu kenapa tidak masuk?” tanya pengajar tersebut kepada Nindi.

“Tali sepatu saya lepas, Pak, saya izin sebentar untuk mengikatnya kembali.”

“Ya sudah.” Pengajar tersebut mengizinkan dan memulai kelas.

Setelah mendapatkan persetujuan, Nindi berlutut untuk mengikat tali sepatunya yang terlepas. Saat ia sedang berlutut, Nindi mendengar langkah kaki yang berjalan mendekat ke arahnya tetapi Nindi tak menghiraukan itu hingga saat orang tersebut menjatuhkan sebuah sapu tangan di samping Nindi dan Nindi melihat sapu tangan tersebut. Sapu tangan itu sangat familiar di mata Nindi. Itu sapu tangannya! Sapu tangan berwarna dusty pink dengan inisial NA terbordir di salah satu sudutnya. Sapu tangan tersebut segera diambil oleh orang yang menjatuhkannya. Nindi kemudian mendongak dan segera berdiri tetapi tak sempat untuk melihat orang tersebut karena kejadiannya begitu cepat. Nindi hanya dapat melihat punggungnya. Punggung seorang lelaki memakai jeans dan kemeja dengan tas gendong tersampir di bahu kirinya.

“Eh, tung─” Kalimat Nindi terpotong.

“Nindi kalau kamu sudah selesai, cepat masuk!” Ketika Nindi akan memanggil orang itu, tiba-tiba pengajar memanggilnya dengan suara tegas dan Nindi mengalihkan pandangannya pada pengajar tersebut yang juga sedang memperhatikan Nindi dengan tampang yang sedikit kesal.

“Maaf,” ujar Nindi dengan nada menyesal. Sesaat ia menatap lorong yang sudah kosong, lelaki tersebut sudah menghilang. Dalam kepalanya ia masih bertanya-tanya, apakah ia kenal dengan lelaki yang telah ia tolong saat di halte? Lalu ia mengenyahkan pikirannya, bergegas memasuki kelas dan menutup pintu kelas.

***

Tinggalkan Komentar