Cinta itu Duka (bag 39)

0
136

Jiwa Surya kembali ke ruang tamu Ibu Kepala Sekolah. Menemani raganya yang sejak tadi masih duduk sopan di hadapan tuan rumah. Dia penasaran menanti hal lain tentang Jenderal Soedirman yang tidka diketahui banyak orang. Apakah akan sama seperti rahasia yang dituturkan kakeknya.

“Jendral Soedriman memiliki jimat sakti.” Ibu kepala sekolah meneruskan.

“Berulangkali dikepung serdadu musuh, berulang kali juga lolos.”

“Mohon maaf, bu kepala sekolah. Apakah Jenderal Soedirman pernah berguru kepada orang sakti?”

“Tidak, beliau tidka pernah mencari ilmu kesaktian apalagi yang mengarah kepada kesyirikan. Mempercayai cincin, keris, kujang, sabuk, atau benda pusaka lain dimurka Allah. Sang Pencipta tidak ridha, hambanya menyembah kepada benda-benda yang pada hakikatnya tidak memberikan manfaat atau mudharat.”

“Jimat apa yang dimiliki Jendral Soedirman? Surya sudha tidka sabar menanti jawaban ibu kepala sekolah.

“Ada tiga jimat; Jendral Soedirman selalu berwudhu, beliau menjaga kesuciannya selama perjalanan gerilya. Suci raga berimbas kepada kesucian jiwa. Kedua, Jendral Soedirman selalu shalat tepat waktu. Meskipun berjalan masuk dan keluar hutan, saat waktu shalat tiba beliau langung menunaikannya. Sebagai seorang guru sekaligus tokoh agama di masyarakatnya, beliau melaksanakan ilmu yang dimiliki bahwa amalan yang paling disukai Allah dari hambanya adalah Shalat tepat waktu. Ketiga, mencintai rakyat dengan sepenuh hati. Perjalanan gerilya itu bukna perkara mudah. Penuh derita dan nestapa. Serba kekurangan dan penuh ancaman. Tapi dengan cinta yang dibawa, segala rintangan tidka berarti. Kecintaan kepada rakyat yang tulus, menghembuskan semangat berlapis dalam dada Jendral Soedirman. Beliau tidka terganggu dengan sakit tuberculosis yang diderita. Karena dalam jiwa dan rganya yang terbayang hanya rakyat. Indonesai harus tetap merdeka, agar rakyat hidup bahagia.”

Merah kedua mata Surya. Betapa hebat sosok pujaannya. Seorang anak bangsa yang terlahir untuk menjadi kesatria. Manusia unggulan yang menempatkan Tuhan sebagai tujuan dan kasih sayang sebagai sumber mata air kehidupan. Dia mengaliri jiwa orang disekitranya dengan pengabdian. Bahwa hidup bukan sekedar mengikuti kemauan pribadi. Hidup adalah penyerahan jiwa dan raga untuk kebaikan sesama. Mengabdi sepenuh hati sampai tarikan napas penghabisan.

Bulat tekat Surya, mengabdi kepada pertiwi sebagai guru di Sekolah Dasar Negri Gunung Mas. Bu Neneng amat bahagia. Mata batinnya melihat sebuah sinar terang di wajah anak muda tersebut. Entah apa yang akan terjadi di masa depan. Tapi sepenuhnya dia yakin, anak muda di hadapannya akan membawa banyak kebaikan. Sebuah firasat yang terbukti betul. Pak Surya menumpahkan semua energy pengabdiannya. Sekolah di kaki gunung pangrango itu pun mulai manapaki kegemilangan. Sering menang dalam lomba-lomba tingkat kecamatan. Antusiasme masyarakat untuk memasukan anaknya ke sekolah pun bertambah.

Pak Surya guru muda yang berbadan tegap, berwajah tampan, dengan kulit putih menawan, menjadi idola. Ditambah lagi dengan kemampuannya dalam berbagai bidang; kesenian, keterampilan, olahraga, membuatnya cepat mendapat kepercayaan masyarakat. Meski bukan pribumi Bogor, Pak Surya sering dilibatkan dalam acara desa. Pak Rt, Rw, sampai lurah menaruh hormat kepada anak muda dari ciamis tersebut. Momen besar seperti peringatan kemerdekaan RI, menjadi ajang aktualisasi semangat pengabdian Pak Surya. Meski tidka ada honor, Pak Surya mengemban amanah menajdi ketua panitia dengan penuh dedikasi. Konsep acara, konsep panggung dan segala macam persiapan dibuat sangat serius. Hasilnya, acara peringatan kemerdekaan yang bertajuk Indonesia Emas di desa Tugu Selatan sukses besar.

Nama Pak Surya, yang di sekolah dipanggil Pak Beri oleh murid-muridnya tambah harum.

Tinggalkan Komentar