COLOURFULL OF LOVE 6

0
62

(-6-)

STEALER

xxx

“Ini masih salah. Kerjakan ulang!” Tegas seorang pria bersurai topaz. Melempar kertas jawaban milik Rena tepat ke wajah cantiknya tanpa perasaan. Tak sedikitpun menghargai usaha yang telah ia lakukan untuk mengerjakan soal-soal super sulit yang diberikannya.

‘Arghh … Menyebalkan sekali kau, guru killer.’ Inner Rena berteriak frustasi. Meluapkan kekesalan yang telah membuncah tanpa tindakan nyata. Hanya meluapkannya melalui imajinasi belaka.

Untuk yang kesekian kali, Rena mencoba mengendalikan diri agar tak mencekik leher pria muda yang tengah terduduk santai diatas kursinya sembari meneguk segelas teh manis hangat penuh kenikmatan.

Rena menahan emosi dengan cara mengepalkan kedua tangan erat hingga buku jari-jarinya memutih. Berusaha memasang senyuman manis meski dirasa gagal seraya berkata, “Tak bisakah mister memberikan soal yang cocok untuk anak SMA kelas satu sepertiku? Bahkan mahasiswa atau mahasiswi pun belum tentu bi—”

“Kau saja yang terlalu bodoh.” Ucapan Aslan membuat perempatan kekesalan tercetak jelas di dahi Rena. Dengan seenak jidatnya, pria itu menyela ucapan Rena dan mengatainya bodoh. Ringan dan datar tanpa dosa. “Kemana otakmu yang katanya pintar itu?” Ujarnya lagi bernada ironi. Menyilangkan kedua tangan di depan dada—angkuh dan meremehkan.

‘Dasar guru pengganti menyebalkan! Aku benar-benar membencinya.’ Geram Rena dalam hati.

Kini Rena sudah tak bisa menahan diri lagi. Kesabarannya seakan terkikis habis menghadapi sikap menyebalkan dan ucapan tajam yang selalu terlontar dari bibir Aslan.

Entah apa masalahnya. Aslan selalu saja mempersulit segala hal yang berkaitan dengan Rena. Sekalipun ia tak pernah meluluskan Rena dalam mata pelajarannya. Padahal Rena merasa yakin dan percaya diri akan mendapatkan nilai cukup baik dengan jawaban yang telah diberikan ketika ulangan ataupun ujian.

Namun nyatanya? Lagi-lagi hasil yang didapatkan adalah sama.

RENA TAK LULUS.

Seorang Rena yang selalu menempati posisi nomor dua setelah Bram di sekolahnya tak lulus mata pelajaran bahasa inggris? Sangat menggemparkan dan tak masuk di akal. Karena ia selalu mendapatkan nilai hampir sempurna dalam setiap mata pelajaran yang ada, termasuk bahasa inggris—sebelum gurunya yang dulu digantikan oleh pria angkuh itu.

Pada akhirnya Rena berada disini. Terjebak  bersama guru menyebalkan namun tampan yang telah berhasil membuat hari-harinya bagaikan di neraka. Berdua saja. Di dalam kelas yang sepi karena semua orang telah kembali ke rumah mereka masing-masing beberapa jam lalu.

“Aslan Redwart…” Ujar Rena penuh penekanan tanpa embel-embel mister yang biasa menyertainya. Tak adalagi sopan santun. Rena memanggil nama pria itu layaknya teman sebaya. Menyingkirkan sikap dan bahasa formal yang biasa dilakukan.

Dahi Aslan mengernyit merasa tak suka, “Panggil aku dengan benar! Kau—”

BRAKK

Ucapan Aslan terhenti oleh tindakan berani yang Rena lakukan selanjutnya. Gebrakan meja yang sangat keras membuat suasana diantara mereka menjadi lebih tegang.

Rena memandang sengit kearah Aslan. Berdiri dari tempat duduknya seraya menunjuk-nunjuk wajah pria itu penuh amarah dengan tingkat kekesalan yang memuncak, “Kau tak pantas kupanggil Mister. Kau benar-benar menyebalkan. Aku sudah tak tahan denganmu. Aku sudah tak peduli lagi dengan semuanya. Jika kau tak ingin meluluskanku, maka lakukan saja. Aku tak peduli. HUH!”

Setelah mengeluarkan semua unek-uneknya, Rena berniat pergi meninggalkan ruangan. Namun langkah kakinya seketika terhenti ketika mendengar ucapan yang dilontarkan Aslan kemudian.

“Baik jika itu yang kau inginkan.” Nada suara Aslan terdengar lebih tegas. “Aku tak akan meluluskanmu dan kedua orangtuamu…”

Tap

Tap

Tap

Aslan melangkah mendekat. Seringai tipis menghiasi wajahnya. Berbisik pelan tepat di sisi telinga kanan Rena dengan suara serak nan menggoda yang mampu menghantarkan sengatan aneh di tubuhnya, “Akan menerima surat peringatan dari sekolah mengenai kelakukan puteri mereka yang sangat kurang ajar dan tak beretika terhadap gurunya.”

Mengumpat kesal karena merasa kalah telak, Rena membalikkan tubuhnya agar berhadapan dengan Aslan. Bersiap untuk melancarkan aksi debat yang biasa dilakukan jika dalam keadaan terjepit seperti saat ini.

“Kau—”

DEGH

Jantung Rena hampir saja berhenti berdetak karena menyadari jarak antara wajahnya dengan Aslan sangatlah dekat. Hingga dua insan itu bisa saling merasakan hembusan nafas mereka di wajah masing-masing.

Wajah Rena merona. Dada serta perutnya mendadak tak nyaman seakan ada sesuatu yang bergerilya liar di dalam sana. Kedua tangannya menutupi mulut seakan memproteksi diri.

‘Hampir saja ciuman pertamamu terenggut. Arghh … Tidak … Apa yang baru saja aku pikirkan?’ Pekik Rena tanpa suara. Hanya berteriak histeris penuh keterkejutan dalam benaknya saja.

Jauh berbeda dengan Rena. Aslan terlihat santai dan datar. Seakan hal yang baru saja terjadi adalah sesuatu hal yang biasa. Ia sama sekali tak terpengaruh. Namun jika kita meniliknya lebih teliti lagi, maka kita bisa menemukan semburat merah tipis di kedua pipinya. Sangat tipis. Hingga memerlukan ketelitian dan jarak yang dekat untuk mengetahui hal tersebut.

“Ekhmm …” Aslan berdehem cukup keras demi melenyapkan suasana canggung tak mengenakkan yang menyelimuti mereka. Menutupi wajahnya menggunakan sebelah tangan sekaligus menyembunyikan semburat merah yang akan sangat memalukan jika sampai diketahui oleh Rena.

“TE-TERSERAH APA KATAMU. A-AKU TAK PEDULI LAGI.” Nada suara Rena meninggi. Bukan bermaksud untuk membentak atau memarahi Aslan, namun lebih untuk meluapkan perasaan tak nyaman yang menyerang hatinya.

Kian menyiksa. Karena setiap kali Rena memandang wajah atau manik ocean blue  milik Aslan, maka kinerja beberapa anggota tubuhnya menjadi tak terkendali.

Seperti saat ini. Debaran jantung Rena sama sekali tak bisa diajak kompromi. Berdebar keras dan cepat hingga ia sendiri merasa takut jika Aslan akan mendengarnya.

‘Tck, sial. Ada apa denganku?’ Rena membatin kalut. Terlalu sibuk bergelut dengan pemikirannya sendiri, tak menyadari bahwa Aslan telah melakukan pergerakkan berarti. Mengikis jarak diantara mereka hingga hembusan nafas hangat menyapu kepala Rena disusul aroma khas berbau mint memasuki hidungnya.

Tanpa sadar kepala Rena mendongak keatas. Mendapati sebuah pemandangan indah yang begitu memanjakan mata. Dimana sepasang manik ocean blue tajam tengah memandangnya intens, hidung mancung, bibir tipis nan menggoda, rahang tegas, serta kulit yang tampak berkilat diterpa senja di sore hari ini.

Kini satu kata yang ada di dalam benak Rena.

Menakjubkan. Tampan. Seksi. Menggoda. Hot. Dan…..

Ah, tunggu dulu! Sudah berapa kata yang Rena pikirkan? Hey! Itu bahkan lebih dari satu kata. Ia sepertinya sudah gila karena Aslan. Pikiran polosnya mendadak dipenuhi berbagai macam hal tak pantas ketika dihadapkan dengan pria itu.

Usia Aslan 22 tahun. Ia masih berstatus sebagai mahasiswa di salah satu universitas terkemuka. Kini ia tengah menyusun skripsi sekaligus menjadi tenaga pengajar sementara di SMA untuk menggantikan kealpaan salah satu guru disana.

Tubuh tingginya terbentuk oleh otot-otot yang sempurna. Punggungnya tegap dan lebar, bahunya kokoh, kedua kaki jenjangnya kekar. Oh, damn it. He is so sexy. Dan Rena baru saja menyadari hal tersebut.

“Sudah puas meneliti wajahku?” Suara bariton Aslan membawa Rena kembali ke alam nyata.

Tersentak mendengar ucapannya, Rena mencoba mundur beberapa langkah untuk menjauh.

“Percaya diri sekali kau! Aku tak sedang meneliti wajahmu. Dasar pria angkuh menyebalkan!” Ia berujar. Berbanding terbalik dengan apa yang berada di dalam pikirannya. Menjulurkan lidah guna meledek. Bersiap kabur darisana. Namun lagi-lagi niatnya harus terhenti karena alasan yang berbeda dari sebelumnya.

Aslan memegangi lengan Rena. Mencengkramnya erat ketika dirasa gadis itu berusaha melarikan diri.

“Le-lepaskan aku!” Gusar Rena. Tak berani memandang wajah Aslan. Meringis sakit karena cengkraman tangan Aslan tak main-main. Mampu meremukkan lengan kecilnya yang rapuh.

Decakan kesal meluncur dari mulut Aslan, “Tck. Mana mungkin aku melepaskanmu begitu saja.” Tubuhnya kian merapat. Sedangkan Rena merasakan sebuah firasat buruk yang tak mengenakkan hati.

“Kau terlalu dekat.” Cicit Rena gelisah juga tak nyaman dengan posisi mereka saat ini. Tubuh tinggi menjulang milik Aslan seakan menutupi tubuh mungil Rena. Bahkan entah sejak kapan, sebelah tangan pria itu telah melingkar manis di pinggang ramping Rena. Menariknya agar lebih merapat lagi.

“Dasar pencuri!” Bisik Aslan namun terdengar jelas di telinga Rena.

Tak terima dikatai seperti itu, Rena mengangkat wajahnya untuk memandang Aslan. Seketika manik berbeda warna itu saling bersinggungan. Mereka saling menyelami keindahan yang tersaji nyata dalam beberapa saat. Melupakan posisi mereka sejenak. Tak peduli bahwa jika ada orang yang melihat mereka akan salah paham.

Jari telunjuk Aslan menyentuh bibir Rena yang baru saja akan terbuka mengeluarkan suara untuk melancarkan protes, “Kau telah mencuri sesuatu dariku.” Ia mengusap bibir peach gadis itu perlahan.

Tangan Aslan berpindah menuju ke belakang leher Rena. Menundukkan sedikit wajahnya agar setara dengan wajah Rena yang telah memerah sejak tadi kemudian kembali berkata dengan nada suara berbeda: “Kau telah mencuri hatiku sejak awal. Berikan hatimu sebagai pengganti, maka semuanya selesai.”

Wajah Rena merona penuh hingga ke telinga. Ucapan Aslan terlalu mengejutkan namun menimbulkan gelenyar menyenangkan di dalam dadanya. Ia bahkan tak mampu mengeluarkan suaranya meski satu kata. Tubuhnya mendadak kaku tak bisa digerakkan. Seakan lupa untuk berkedip atau bernafas.

“Diam berarti jawabannya iya.” Ujar Aslan seenaknya mengambil keputusan. Sedikit menarik sudut bibirnya sebagai luapan perasaan hangat yang memenuhi dadanya, “Mulai sekarang dan selamanya kau adalah milikku.”

Dan sebuah ultimatum sepihak yang dilontarkan Aslan pun telah terdengar.

‘Oh Tuhan … Katakan jika semua yang terjadi ini hanyalah mimpi.’ Inner Rena berteriak histeris. Lagi dan lagi. Menepis keras kenyataan yang terjadi. Tak mampu menolak. Bergerak pun tak mampu. Hanya berdiri kaku, mematung bagaikan sebuah robot.

Aslan mengatakan bahwa Rena adalah seorang pencuri yang telah mencuri hatinya. Tanpa menyadari bahwa ia sendiri pun merupakan seorang pencuri yang telah mencuri kebebasan gadis itu—kebebasan untuk bernafas menghirup oksigen di sekitarnya. Karena sikap dan pernyataan yang dilontarkan Aslan tersebut, Rena sejenak melupakan cara untuk mengambil nafasnya.

.

.

.

.

.

.

-FIN-

 

Tinggalkan Komentar