Cinta itu Duka (bag 35)

0
118

Gagal menjadi tentara, Surya memilih hijrah. Dia pamit kepada orang tua mengembara ke Ibukota. Sempat terlunta-lunta di jalanan ibukota, surya bertahan hidup dengan menjual suara. Sebuah pertemuan dengan seorang preman merubah nasibnya. Surya yang sejak kecil sudah dilatih pencak silat membuat preman pasar tersungkur. Padahal dia menjadi penguasa berkat keahilaannya menghantam lawan. Di hadapan Surya, jagoan preman itu tidak berdaya. Kebaikan hati surya menghentikan pertempuran saat musuh terkapar, membuat si musuh luluh. Preman pasar menyerahkan tampuk kepemimpinan kepada anak muda asal Ciamis. Surya pun menjadi penguasa pasar Poncol di Jakarta Pusat.

Seorang anak guru madrasah, kakeknya mantan pejuang kemerdekaan, memiliki cita-cita menjadi tentara, bermetamorposis menjadi kepala preman. Perawakannya yang tinggi tegap, otot menyembul di semua bagian tubuh, rambut panjang sebahu, membawa aroma terror. Surya duduk tegap di singgasana dunia preman ibukota. Setiap hari dia hanya berpatroli. Menjaga keamanan pasar dari para pengacau. Bagai Singa jantan yang memamerkan surai, gigi taring dan auman, untuk menjaga wilayah sekaligus kawanan dari penyusup asing. Kawasannya harus tertib. Pedagang merasa aman. Pelanggan medapatkan kenyamanan. Oleh karena itu, mereka wajib membayar uang keamanan.

Surya tidak perlu memerah keringat mengumpulkan ribu demi ribu dari setiap lapak pedagang. Sudah ada anak buahnya yang bertugas. Sebagai raja, anak muda perkasa itu hanya menunggu setoran. Uang keamanan tidak dikuasai sendiri. Jiwa pramukanya masih bersemayam. Dia berbagi dengan anak buahnya. Si mantan penguasa pun dapat bagian. Dia ciptakan suasana yang kondusif. Sehingga benih pemberontakan bisa diminimalisir. Tidak lupa, Surya menyisihkan jatah untuk abdi negara. Bapak-bapak penjaga keamanan yang berseragam resmi. Sinergi antara kemananan sipil dan militer terjalin harmonis. Mereka pun mengakui wilayah kekuasaan raja preman baru. Saling respek terjalin. Simbiosis mutualis pun berlangsung.

Hingga suatu hari terjadi keributan. Seorang pedagang terkapar dengan darah bercucuran dari mulutnya yang hancur. Sebagai penguasa wilayah, Surya langsung meluncur ke tkp. Banyak orang berkerumun. Sementara bapak-bapak memandang penuh iba, Ibu-Ibu terdengar menjerit ketakutan. Surya menerobos kerumunan, langsung berhadapan dengan korban.

β€œSiap yang melakukan ini?”

Amarah bercampur iba bersemayam dalam dada kepala preman. Dia bisa menduga. Si korban dihantam benda tumpul tepat di bagian muka. Kondisi bibir sudha tidka karuan. Giginya bertebaran. Hidung patah. Darah merah melumuri seluruh wajah. Tanah tempat dia terkapar pun terimbas.

β€œIni ulah siapa?” Gema suara menggetarkan semua kerumunan. Amarah raja singa sudha memuncak di ubun-ubun.

Tinggalkan Komentar