Cinta itu Duka (bag 32)

0
159

Rukana, komandan Polisi Militer Bandung yang pernah belajar strategi perang dalam satuan tentara PETA bentukan Jepang berdiri.

Semua mata memandang penuh duga. Sebagian masih dalam posisi jaga-jaga. Rukana menatap Kolonel Nasution. Yang ditatap memberi tanda anggukan kepala. Rukana pun mulai bicara.

“Saya pernah belajar strategi Bumi Hangus dari tentara jepang.”

“Apa maksud saudara dengan Bumi Hangus?” Seorang utusan Barisan memotong.

“Harap dengarkan dulu penjelasan saudara Rukana. Jangan dipotong sampai selesai semua.”

“Saudara Rukana silahkan diteruskan!” Kolonel Nasution tegas mengendalikan rapat.

“Sebelum mundur, Bandung kita bakar. Semua gedung, rumah, fasilitas umum dibumi hanguskan. Sekutu dan Nica tidak dapat manfaat dari apa yang kita tinggalkan. Kita tidka mendapat keuntungan mereka pun sama. Kita mundur tanpa memberi makan kepada anjing lapar.”

Peserta rapat diam seribu Bahasa. Seolah ada burung terbang di atas kepala mereka.

“Usulan yang cermat. Saya setuju.” Konolel nasution memecah hening.

Perwakilan divisi Siliwangi mengamini. Barisan pun ikut serta. Semua sepakat, ini pilihan terbaik. Solusi yang memenangkan semua pihak. Baik militer pun sipil. Militer tidak mundur sebagai pecundang. Aksi pembakaran merupakan strategi perang. Bagian dari perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Sipil pun senang, tanpa perang terbuka rakyat terjamin keamanannya.

Kolonel A.H. Nasution mengintruksikan semua rakyat meninggalkan kota Bandung. Daerah pedalaman seperti Soreang, Dayeuh Kolot, Cicalengka dan Pangalengan menjadi tujuan. Harta dan benda tidka usah dibawa serta. Menyulitkan dan beresiko. Penduduk hanya boleh membawa barang seadanya. Pakaian untuk salin dan panganan di perjalanan. Sementara itu empat divisi di bawah komandonya diperintahkan berlatih untuk operasi bumi hangus. Tentara pejuang mulai beraksi. Pukul 21.00 dalam gelap malam, sekelompok pejuang mendatangi bangunan Indische Restaurant. Bangunan besar yang menjadi salah satu ikon di kota Bandung tersebut dalam sekejap mata memerah. Api berkobar di atap bangunan. Setelah itu, rumah-rumah penduduk menyala. Api beredar ke mana-mana. Bandung menjadi area merah. Dingin malam dikalahkan panasnya si jago merah. Kebakaran terjadi di mana-mana.

Dalam keadaan terror, dua orang anak muda punya ide gila. Mohammad Toha yang baru berumur 19 tahun dan temannya Mohammad Ramdan bergerak dalam gelap malam. Mereka sedang menyusun operasi senyap. Toha dan Ramdan mengenggam geranat dalam tangan. Dua anak muda itu menyusup ke gudang mesiu. Pasukan Sekutu yang berjaga di sekitar gudang tidka menyadari kehadiran dua penyusup. Mereka baru sadar saat Gudang yang berisi ribuan senjata dan bahan peledak itu mengeluarkan suara menggelegar.

“Bum…”

Detik itu juga, tubuh pasukan pengaman gudang terpelanting ke angkasa. Nyawa mereka melayang, dan jatuh berdegum menghantam lantai. Mereka tidka akan pernah lagi pulang ke kampung halaman di tanah Eropa. Hanya nama saja yang menyapa sanak saudara di sana. Pelayaran mereka sudah finish di tanah Jawa. Gedung porak poranda. Puluhan orang terbaring tanpa nyawa. Sebagian kehilangan anggota tubuhnya.

“Toha dan Ramdan di mana kek?” Surya penasaran.

“Mohammad Toha dan Ramdan gugur. Kedua anak muda itu syahid di medan juang. Jasadnya hancur. Tapi namanya tetap dikenang. Pahlawan pemberani yang rela mengorbankan nyawa demi mempertahankan kemerdekaan bangsa.”

“Peristiwa Bandung Lautan Api menjadi penyemangat divisi Siliwangi untuk terus melawan penjajah. Semenjak itu mereka menjadi hantu yang datang terus meneror pasukan sekutu dan belanda. Mereka tinggal di hutan. Datang ke kota di tengah malam. Menyerang markas-markas sekutu yang sedang lengah. Terkadang mereka beroperasi di siang hari. Memutus jalur logistik tentara musuh. Belanda dibuat takut. Ratusan serdadunya mati. Taktik perang ini yang disebut gerilya.”

Surya kecil mengangguk penuh takjim. Kepalanya terisi sebuah gambaran masa depan. Gambaran dirinya berbaju loreng. Berdiri di tengah medan perang dengan mengokang senjata. Dia berteriak lantang, “Serbu…” Ribuan orang yang berada di belakang segera lari ke depan. Suara senapan memuntahkan peluru berseliweran. Desingan itu terdengar jelas di kedua kuping anak yang belum masuk sekolah itu. Mulai detik itu, gambaran tentara di kepalanya terinstal. Tidak ada seorang pun yang bisa melepasnya.

Dia ingin menjadi tentara.

Tinggalkan Komentar