Cinta itu Duka (bag 30)

0
151

Kemenangan semakin membuat sekutu dan Belanda buas. Bandung selatan pun dibanjiri bom dan rentetan tembakan. Daerah cicadas menjadi salah satu yang disasar. Peristiwa itu terjadi di tanggal 21 Desember 1945. Pasukan TKR yang saat itu sudah berubah nama menjadi TRI, Tentara Republik Indonesia terus melakukan perlawanan. Dalam keadaan nelangsa pun perjuangan terus terjaga. Mereka tidka sudi mengalah tanpa harus bercucuran darah. Selama awal tahun 1946, TRI divisi III Siliwangi dibawah komando colonel A.H. Nasution bertahan dalam tekanan. Bandung Selatan terus dipertahankan. Meski anggota pasukan terus berjatuhan.

Menyadari Pasukan Siliwangi terdesak, MacDonald membuat ultimatum kedua. 23 maret 1946, Tentara Republik Indonesia divisi Siliwangi dipaksa mundur dari dalam kota sejauh 11 km. Batas waktu yang diberi hanya 24 jam. Ultimatum dalam keadaan gawat itu memecah bangsa Indonesia. Sipil dan militer berbeda pendapat. Bandung sebagai ibukota Jawa barat bagian yang teramat penting bagi Indonesia yang baru saja merdeka. Setelah ibukota Jakarta dikuasai sekutu, pemerintahan dipindahkan ke Jogjakarta. Surabaya pun dikepung tentara Inggris dan Belanda. Terlepasnya Bandung dari TRI berarti berkurangnya kekuatan pribumi. Dampak psikologis tentu menghujam pasukan di daerah lain. TRI melemah, sedangkan pasukan sekutu tambah percaya diri. Kemenangan di Jawa Barat akan dibawa merambat ke bagian tengah dan timur pulau jawa. Maka bandung harus dipertahankan sampai tetes darah penghabisan. Ini kebijakan yang dikeluarkan oleh panglima Tertinggi TRI Jenderal Soedirman. Sementara perwakilan pemerintah Syarifuddin Prawiranegara, menteri dalam negri menganjurkan divisi Siliwangi mundur. Pertimbangan keselamatan jiwa rakyat Bandung menjadi prioritas menteri.

“Pasukan Siliwangi pilih mana kek?” Surya tidak sabaran menunggu kelanjutan cerita.

Kakek memandang cucu laki-lakinya yang sangat antusias. Dia bangga, anak sekecil itu sudah memiliki ketertarikan kepada sejarah.

“Sabar cu, ini singkong rebusnya dimakan. Kakek mau buat kopi dulu.” Surya memandang punggung kakeknya yang perlahan menjauh. Di atas bale bambu depan rumah kakek sudha tersedia sepiring singkong rebus. Sebelum mulai bercerita Kakek menyempatkan diri menghidangkan makanan kesukaan cucunya. Tangan kecil surya meraih sepotong singkong. Sambil menunggu, surya menikmati roti sumbu.

“Nah, ini kopi sudah siap. Kakek teruskan ceritanya.”

“Iya kek, langsung diteruskan”

“Tadi sampai mana ceritanya?”

“Mundur atau Bertahan!” Surya mengingatkan kakeknya.

Tinggalkan Komentar