Cinta itu Duka (bag 28)

0
103

Kegantengan Pak Surya tidak kalah popular dengan kehebatannya melatih pramuka. Banyak ibu-ibu muda menyekolahkan anaknya ke SDN Gunung Mas karena faktor guru ganteng. Mereka sangat antusias mengantar anak-anak ke sekolah. Sambil menyelam minum susu. Ngantar anak sambal berharap bisa lihat guru Surya. Apalagi mendapat kesempatan berpapasan. Bertegur sapa dan saling melempar senyum.

“Damang ibu?” dua kata ini yang sering keluar dari lisan pak surya. Setiap kali bertemu dengan wali murid. Disusul senyuman ikhlas yang merekah tanpa rem. Barisan gigi putih menyembul, seperti bintang iklan pasta gigi.

Ibu wali murid yang disapa pun tersipu. Seolah dapat durian runtuh. Disapa artis ibu kota. Selepas itu dia langsung mencari jendela. Berkaca untuk memastikan penampilannya tidak buat kecewa. Esok hari dia datang lagi dengan penampilan yang sedikit berbeda. Bibirnya lebih merah, wajahnya lebih putih, bajunya lebih meriah. Senyum pun lebih merekah. Hasil latihan berpuluh kali di depan kaca. Menyaksikan istrinya berlatih senyum, bapak wali murid di rumah hanya bisa geleng kepala. Wanita memang kalau sudah ada maunya seperti kucing mau beranak. Tidak ada yang bisa menolak.

Muhammad Surya Kencana tidak pernah bercita-cita menjadi guru. Sejak kecil sudah terobsesi baju loreng. Kisah heroik tentang pasukan siliwangi yang gagah berani melawan Belanda terpatri di kepala Surya kecil. Saat itu usianya baru 6 tahun, belum juga masuk sekolah. Kakeknya menuturkan kisah Bandung Lautan Api. Upaya mempertahankan kemerdekaan yang diproklamirkan Bung Karno di Jakarta.

“Kemerdekaan Indonesia tidak diakui. Belanda datang kembali untuk menjajah Indonesia. Kakek ikut berjuang masuk ke hutan”

Demikian kakek memulai ceritanya. Dia yang saat itu masih muda menjadi bagian masyarakat biasa yang nekat masuk tentara. Meski tidak memiliki keahlian memegang senapan, kakek tetap mendaftar saat dibuka rekrutmen tentara keamanan rakyat, TKR. Panggilan hati membela ibu pertiwi tidak bisa dibendung lagi.

“kalaupun tidak ada pendaftaran masuk tentara, kakek buat tentara sendiri…” Kakek mengakhiri kalimatnya dengan seringai lucu.

Tinggalkan Komentar