Cinta itu Duka (bag 27)

0
27

Anak-anak perempuan siswa taman kanak-kanak dan kelas 1 Sekolah Dasar membuat kelompok tari. Lagu pop barat mengiringi lenggak lenggok anak-anak yang belum lama di sapih ibu tersebut. Kadang gerak satu anak dan lainnya tidak seiring. Saat itu terjadi yang sibuk seorang wanita di belakang panggung. Pelatih tari musiman yang hanya bekerja menjelang agustusan. Selepas itu dia kembali menjadi ibu rumah tangga. Sibuk mengurusi dapur, sumur dan kasur. Tidak lupa ikut gabung di genk ibu-ibu warung sayur. Intruksi ibu pelatih menambah bingung anak-anak. Gerak dan musik pun seperti air dan minyak. Tapi semua penonton menikmati pertunjukan. Mereka sepenuhnya menghargai upaya si pelatih. Terlebih keberanian anak-anak kecil tampil di hadapan banyak orang. Tepuk tangan kompak diberikan penonton saat music selesai dan para penari meninggalkan panggung.

Cerita panggung gembira Indonesia emas menjadi topik utama di semua tempat. Ibu-ibu melupakan ghosip tetangganya yang jadi istri muda. Di warung sayur mereka berbincang seru seputar pertunjukan drama di akhir pentas. Drama yang menggambarkan perjuangan seorang panglima yang memimpin pasukan dalam keadaan sakit parah. Adegan saat panglima batuk darah tapi tetap berkeras mengiringi pasukan, membuat ibu-ibu rumah tangga itu tersentuh hatinya. Jarang-jarang mereka tersentuh dengan hal semacam itu. Mereka biasa tersentuh dengan lakon drama Misteri Nini Pelet di radio. Pertarungan antara seorang nenek jahat dengan sepasang anak muda memperebutkan kitab sakti berisi ilmu pelet. Panggung gembira meniupkan hawa positif. Ibu-ibu berharap anaknya bisa menjadi tentara. Mengabdi kepada nusa bangsa. Menang dalam perang menjadi pujaan atau gugur menjadi pahlawan.

Aktor utama dibalik kesuksesan pentas Indonesia Emas adalah guru muda Surya. Nama lengkapnya Muhammad Surya Kencana. Tiga tahun sudah menjadi guru di SDN Gunung Mas. Meski bukan pegawai negri, tapi memiliki dedikasi tinggi. Guru yang selalu tampil di depan dalam segala acara ektrakulikuler di sekolah. Menjadi Pembina pramuka, pelatih tim sepak bola, pelatih rebana, pelatih pencak silat dan juga pelatih paduan suara. Seorang anak muda multi talenta. Kadang ada orang yang berkemampuan tapi kurang berkemauan. Sehingga nilai dirinya kurang bisa dimanfaatkan oleh orang lain. Ada juga yang berkemauan meskipun tidak berkemampuan. Jenis ini bisa menolong tapi dengan keterbatasan tentunya. Guru Surya perpaduan antara kemampuan dan kemauan.

Di sekolah kehadiran guru Surya sangat membantu ibu kepala. Kegiatan ekstrakulikuler yang sempat mati suri bangkit kembali. Anak-anak pun bersemangat mengikuti eskul. Siang hari yang biasanya sepi, menjadi ramai. Sekolah menjadi lebih bergairah. Kegairahan yang merambat pada peningkatan prestasi. Sekolah Negri di pojok perkebunan teh itu pun berulang kali menjuarai lomba antar sekolah.

Penampilan fisik guru Surya menunjang untuk menjadi idola. Tinggi 173 cm, berat badan 65 kg, sangat ideal bagi seorang pemuda yang baru menginjak usia dua puluh dua. Kulitnya putih bersih. Rambutnya hitam lurus, dipangkas habis di kedua sisi. Bagian tengahnya dibiarkan tumbuh dua senti. Kedua rahang pipinya sedikit menonjol. Menjadi pertanda seorang yang berani maju ke depan. Suka tantangan dan tidak mudah menyerah dengan keadaan. Dahinya lebar, tipikal orang cerdas. Dadanya bidang, dengan perut rata. Hasil olahraga yang teratur. Siapapun yang bertemu dengan Pak Surya di jalan tidak akan menyangka lelaki muda itu seorang guru honorer. Penampilannya tidak kalah dengan cover majalah remaja. Bahkan kalau dibandingkan Pak Surya lebih unggul. Potongan rambut yang mirip tentara mengesankan kejantanan. Cover majalah remaja lebih banyak menampilkan anak muda gondrong, badan kerempeng. Hanya paras muka yang membedakan si coverboy dengan pengamen jalanan.

Tinggalkan Komentar