Cinta itu Duka (bag 22)

0
24

Di belakang panggung, seorang anak laki-laki sedang mengulang puisi. Sebentar lagi dia mentas. Membawakan karya pujangga 45 yang berjudul Diponegoro. Anak itu menghela nafas panjang. Ini momen besar, tampil di hadapan banyak orang. Dia tidak mau mengecewakan orang yang disayang. Di depan panggung ada ibunya yang dari sore sudah sibuk memilih baju terbaik untuk menghadiri panggung gembira. Ada ayahnya yang berdiri di barisan paling belakang. Neneknya pun tidak ketinggalan, ingin menyaksikan penampilan cucu tersayang.

Kehadirannya di acara malam perayaan kemerdekaan merupakan buah dari prestasinya di lomba tingkat sekolah. Anak itu aku sendiri, Halim. Teringat saat pak Beri menunjukku manjadi perwakilan kelas. Aku berlatih keras mendeklamasikan puisi. Seperti pak Beri katakan, puisi adalah perlambang perlawanan. Chairil Anwar tidka angkat senjata, tapi puisinya mengobarkan semangat mengangkat senjata.

Kata adalah mantra.

Hari itu, tepat seminggu lalu Aku berhasil menjadi juara. Anak kelas 5 berhasil mengalahkan beberapa peserta dari kelas 4 dan 6. Kata beberapa orang teman, penampilanku mengguncang panggung. Tim juri dibuat tercengang. Aku seolah Chairil Anwar yang meradang menerjang, membawa luka, pedih dan perih. Tidak peduli pada sedu dan sedan. Karena dia sudah berikrar, ingin hidup seribu tahun lagi. Merinding orang yang mendengar kalimat pamungkas puisi aku, Hidup seribu tahun lagi tentu tidka mungkin. Usia manusia dibatasi kerapuhan raga. Nabi Nuh saja hanya sanggup hidup sampai usia 950 tahun. Nabi Muhammad sebagai penutup para Rasul hidup 63 tahun. Tapi bagi seorang penyintas, bertahan hidup bukan sekedar kenampakan raga. Keabadian adalah kebermaknaan karya yang dia cipta. Semakin bermakna karyanya bagi umat manusia, semakin kekal keberadaan jiwanya di dunia. Mungkin nyawa sudah meninggalkan raga. Jasad biologis pun terkubur, berkalang tanah dan habis diurai cacing. Namun pesan yang terkandung dalam karya terus mengaliri denyut nadi kehidupan. Dia abadi dalam kenangan. Hidup ribuan tahun setelah kematian.

***

Di hari itu, 10 Agustus 1995 seorang anak bangsa sedang mengukir sejarah. Seperti Chairil yang hidup terus lewat kata, dia ingin menghidupkan asa bangsa melalui karya dirgantara. Profesor Habibie nampak tegang. Sosok yang dipercaya menjadi menteri riset dan teknologi tersebut menjadi magnet utama di lapangan terbang husen sastranegara Bandung. Masyarakat awam, aparatur pemerintahan sipil dan militer, kepolisian, sebagian menteri kabinet berkumpul di lapangan terbang milik Angkatan Udara tersebut. Priseden Soeharto dan ibu negara pun ikut dalam kerumunan masa.

Pesawat N250 karya anak bangsa siap diterbangkan. Pesawat komersil yang sanggup membawa 50 orang penumpang akan diuji coba. Rakitan para ilmuan dirgantara Indonesia yang dikepalai Prof Habibie tersebut menjadi kado istimewa ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia ke 50. Keberhasilan merakit sudah merupakan prestasi fenomenal. Tapi belum afdhol bila tidak diterbangkan. Maka uji terbang menjadi keharusan. Keberhasilan atau kegagalan diuji di sini.

Tinggalkan Komentar