Cinta itu Duka (bag 18)

0
44

Ratusan orang berkerumun di hadapan sebuah panggung dari papan. Ornamen serba merah putih menutupi panggung. Di tengah backgroundnya nampak gambar seorang pejuang sedang memegang bambu runcing. Kepalanya diikat dengan bendera. Kaki kanan maju selangkah, mulut terbuka meneriakan satu kata. Di belakang pejuang, terlihat gambar anak-anak berseragam merah putih. Melangkah bersama sambil memandang ke angkasa. Sebuah ilustrasi yang menceritakan masa lalu dan masa depan. Perjuangan kemerdekaan dan upaya mengisinya. Siapapun pemilik ide gambar itu, tentu seorang patriot visioner. Tiga baris angka masing-masing dua digit terpampang di dua sayap panggung. Sayap kiri memuat angka 17-08-45. Sedangkan sayap kanan dihiasi angka 17-08-95. Sebuah papan besar menghubungkan dua sayap. Di tengah papan tertulis besar Indonesia Emas.

Ibu-ibu membawa anaknya serta. Sementara remaja bergerombol dengan kawan sepermainan. Adapun bapak-bapak menempatkan diri di pojok-pojok kerumunan. Seolah mereka menjadi pagar. Dulu di masa perjuangan, laki-laki maju ke depan. Menyandang senjata, menghadang penyerang. Sedangkan kaum hawa berada di garis belakang. Membawa kotak putih bertanda palang merah. Siaga mengurusi setiap prajurit yang terluka. Setelah merdeka, di malam parayaan laki-laki memberikan tempat terhormat kepada wanita. Tidak ada kursi yang dibariskan di depan panggung. Para penonton duduk lesehan. Mereka inisiatif membawa tikar plastik. Lengkap dengan rantang berisi panganan. Panggung gembira menjadi ajang rekreasi. Sedangkan para pejabat desa dan tamu undangan duduk bersila di beranda kantor desa. Posisinya tepat di samping kanan panggung.

Sementara itu dibalik panggung, beberapa panitia sibuk mengatur. Seorang pemuda hilir mudik ke atas panggung. Awal datang, dia bawa standing mic, diletakan di sisi kiri panggung. Mungkin ada intruksi dari atasannya, dia kembali lagi. Rangkaian besi yang bisa berdiri itu diangkat ke tengah panggung. Kabel mic ditarik. Ternyata kurang panjang. Si pemuda bergegas. Mencari kabel pengganti. Setelah dapat, mic dipasang. Suara pun menggema.

“Tes…tes…satu, dua, tiga, suara percobaan..”

Acara segera dimulai. Pak Lurah sudah siap dengan seragam berwarna putihnya. Topi kebesaran pun bertahta di atas kepala. Bu lurah anggun mempesona dengan kebaya berwarna merah marun. Bawahannya batik tulis bermotif burung garuda. Tangan kanannya menggengam dompet tipis dari bahan anyaman. Di pergelangan tangan kiri, sebuah gelang emas 10 gram melingkar. Menjadi pemuncak dua buah cincin yang menghiasi jari manis dan tengah. Istri pejabat di desa menjadi trend setter fashion. Ibu-ibu yang duduk menghadap ke panggung, sudah siap mewartakan penampilan bu Lurah di warung-warung sayur tempat mereka bergerombol mengumbar gosip.

Tinggalkan Komentar