Cinta itu Duka (bag 16)

0
48

Menjelang pagi puncak gunung mulai nampak. Sebentar lagi rombongan sampai di ujung kerucut gunung tertinggi kedua di tatar Pasundan. Melihat tujuan sudah sedekapan, pemuda ibukota tambah semangat mendaki. Mereka sampai di puncak, melihat kawah gunung gede di seberang. Sebuah cerukan besar pertanda gunung itu pernah memuntahkan lahar. Gunung Gede memang terbilang tipe A, gunung barapi aktif. Pemandangan kawah ratu menjadi hadiah tambahan bagi para pendaki. Hadiah terbesar menanti di bawah.

Segera mereka menuruni lereng. Lembah indah tersuguh lebih lima puluh ribu meter persegi. Di tepian lembah berjajar pohon menjulang. Seolah pagar alam yang menandakan kawasan terlindungi. Ribuan edelwis menyembul dari permukaan tanah. Bunga lambang keabadian cinta itu mendapatkan tempat yang nyaman untuk berkembang. Sementara di ujung timur, semburat warna jingga terpancar. Pekat malam tersingkap perlahan. Matahari tidak pernah ingkar janji. Hari itu, kelompok anak muda ibukota mendapatkan pagi yang dinanti.

Sun rise on the mountain view.

Sejengkal saja jarak dengan keindahan dan harapan. Pagi adalah awal hari, saat para pemimpi bangkit dari kubangan khayal. Menyingkap selimut ketakutan, melepas bantal ketenangan, meninggalkan kasur kenyamanan. Bangkit.  Pagi membuka pintu baru bagi para pemberani yang ingin merubah diri. Sinar matahari perlambang keberanian menembus kegelapan takut. Langit jingga pertanda masa depan cerah segera tiba. Kelompok anak muda itu betul-betul menikmati suguhan alam. Segala penat ditinggal jauh di pinggir pantai Ancol. Segala lelah yang menemani di sepanjang perjalanan, melebur sudah. Tiada yang dirasa, selain keindahan. Harmoni pagi di lembah Mandalawangi.

Anak muda yang menjadi komando itu dipanggil Gie. Dia aktifis mahasiswa sebuah perguruan tinggi ternama di negri ini. Hatinya lembut, mudah tersentuh penderitaan orang lain. Dia menangis melihat penarik becak melawan senja hanya untuk sekilo beras. Dia terluka menyaksikan bocah kecil yang seharusnya mendengar ceramah guru di kelas, malah gentayangan di trotoar jalan. Dia teriris mendapatkan realita seorang pemuda gantung diri karena tidak mampu membiayai pernikahan dengan kekasih idaman. Semangatnya singa muda. Dia tidak peduli harus bertarung dengan gajah dan gerombolan srigala di tengah pergumulan ibukota. Karena nurani tidak bisa dibungkam. Dia bergejolak, meneriakan keadilan. Kerakusan yang menyengsarakan harus dilawan. Jiwanya petualang. Dia suka tantangan, siap menderita demi sebuah impian. Indonesia Berjaya, Indonesia Sejahtera, Indonesia Milik Semua.

Lain waktu anak muda itu datang kembali. Seolah lembah Mandalawangi bersemayam dalam sanubari. Jiwanya sudah terpaut dengan Pangrango. Dia mendaki di pagi hari. Mencari malam di dalam gelap hutan dan rimbun pepohonan. Saat berlabuh di Mandalawangi, layar surya sudah tertutup penuh. Hamparan bintang menjadi ganti. Di tengah sepi, anak muda itu menatap langit yang bertabur rasi. Kobaran api unggun menjadi titik terang di lembah hampa suara. Tiada yang menyekat dirinya dan pangrango. Langit pun menjadi saksi keintiman mereka berdua.

Tinggalkan Komentar