Dia adalah… Kamu (Bab 1 – 1)

0
498

BAB 1

 

“Hah? Lo gagal lagi?!”

Itulah kalimat yang selalu di lontarkan oleh sahabat-sahabat Nindi ketika mereka tahu tulisannya lagi-lagi ditolak oleh majalah. Tak ada satu pun tulisannya yang diterima oleh penerbit majalah, mungkin belum. Ya, menjadi penulis novel merupakan cita-cita Nindi. Ia selalu merasa iri hati ketika ia membaca novel yang ditulis oleh seorang remaja yang masih berumur 17 tahun, bahkan di bawah 17 tahun pun ada. Apalagi jika novel tersebut diangkat menjadi sebuah cerita dalam film layar lebar, sungguh itu yang Nindi impikan. Itu pula yang memacu Nindi untuk terus belajar menulis sebuah novel dan ia mengawalinya dengan mencoba menulis sebuah cerpen. Nindi berpikir yang berumur dibawah 17 tahun pun mampu membuat novel yang berkualitas, masa ia yang berumur 17 tahun tak mampu melakukannya. Ia yakin, ia pun pasti bisa melakukannya asalkan ia terus menekuninya. Ya, walaupun masih seorang pemula, Nindi yakin suatu hari nanti novelnya akan terpampang di salah satu rak toko buku yang besar.

Ketika sahabat-sahabatnya menyerang Nindi dengan kalimat tersebut, ia hanya bisa menghela napas menatap mereka dengan wajah memelas dan disaat itu mereka tiba-tiba memeluknya. Nindi hanya memiliki dua orang sahabat yang setia menemaninya sejak kelas 1 SMA hingga saat ini mereka hampir menginjak kelas 3 SMA. Ia merasa beruntung telah memiliki mereka berdua.

“Lo tuh memang selalu gagal ya Nin, bukan cuma kali ini aja, lo juga gagal ngejar Dika dari kelas 1 SMA dan sampai sekarang pun lo gagal move on dari dia.” Ketika Nindi mendengarnya, ia langsung melerai pelukan kedua sahabatnya itu. Nindi sadar Tyas tak sampai hati mengucapkan kalimat itu tapi ketika ia mendengar nama ‘Dika’, rasanya Nindi ingin menangis, menangis dan berteriak sekuat mungkin tapi tangis ini hanya ia yang tahu dan ia takkan membiarkan para sahabat manisnya itu melihat airmatanya. Tak akan. Hingga sampai detik ini pun mereka tak pernah melihat Nindi menangis, setidaknya itu dapat mengurangi beban masalah yang mereka miliki. Nindi menatap mereka berdua bergantian, memperhatikan setiap raut wajah yang mereka buat. Fitri menatap Nindi cemas karena ia memang sangat perasa, dan Tyas menatapnya seperti orang yang merasa bersalah atau mungkin ia memang merasa bersalah dengan kata-kata yang diucapkannya tadi. Untuk sesaat Nindi tersenyum kepada mereka dan di detik berikutnya giliran Nindi yang memeluk kedua sahabatnya dalam satu pelukan.

“Lo kenapa Nin?” tanya Fitri heran dan Nindi hanya menggeleng.

“Lo gak marah?” kini giliran Tyas yang bertanya. Kembali Nindi menggelengkan kepalanya.

“Gue gak punya alasan untuk marah sama sahabat-sahabat gue ini. Walaupun selama ini gue selalu gagal, tapi gue punya sepasang sayap pelindung yang selalu ngedukung gue, ngehibur gue disaat gue lagi jatuh, ngedorong gue supaya gue gak nyerah sama apa yang gue mulai dan gue yakini. Kalian selalu dengerin keluhan gue. Mungkin sedikit lebay, tapi memang ini kenyataannya. Gue seneng punya sayap pelindung kaya kalian. Tanpa sayap pelindung gue, gue gak akan bisa bangkit dan terbang sampai sekarang ini.” Tak sadar, Nindi meneteskan airmatanya. Suara gemericik air hujan yang jatuh menimpa rumput dan tanah menambah suasana menjadi lebih melankolis.

“Uuuuuh Nindiaaaa.” Sahut mereka bersamaan. Mereka mengeratkan pelukan mereka sampai-sampai napas Nindi terasa sedikit sesak. Ia tersenyum lalu menghapus airmatanya sebelum ia melerai pelukan kedua sahabatnya itu.

“Eh ngomong-ngomong sayap pelindung, itukan judul lagunya The Overtunes.” Celetuk Tyas. Seperti inilah Tyas, ia selalu mencairkan suasana.

“Itukan cuma perumpamaan, Tyaaaaaas.” Tukas Nindi sambil melempar bungkusan snack yang ada di sampingnya kearah Tyas.

“Masa cuma The Overtunes aja sih yang boleh pake kalimat itu.” tambahnya. Lalu Fitri dan Tyas saling bertukar pandang dengan senyuman licik tersungging di wajah mereka. Pandangan mereka menyiratkan kejahilan. Jika sudah begini Nindi tahu apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.

“Mulai deh mulai.” Ucap Nindi cemas. Fitri dan Tyas menghitung bergantian sampai hitungan ketiga sebagai aba-aba dan tiba-tiba mereka berdiri lalu menyeret Nindi dari gazebo halaman belakang rumah Tyas dan mendorongnya ke dalam derasnya rintikan hujan sampai-sampai ia hampir tergelincir. Dalam rintikan hujan, Nindi menangis. Bukan karena ia kesal atau marah, tapi ia bahagia melihat sahabat-sahabatnya tertawa lepas. Nindi bahagia memiliki mereka. Hujan selalu menolongnya, kali ini Nindi dapat meneteskan airmata  dihadapan sahabatnya tanpa harus mereka ketahui. Nindi menatap mereka. Terdiam dalam suara rintikan hujan. Ia menangis sambil tersenyum. Dan tak lama kemudian, Fitri dan Tyas bergabung kedalam nyanyian rintik hujan dan lagi-lagi mereka memeluknya.

“Kita tau dari dulu lo suka banget sama hujan dan untuk sekarang, cuma ini yang bisa kita lakuin supaya lo gak berlarut-larut dalam kesedihan dan kekecewaan lo.” Ujar Fitri.

“Iya, Nin. Kita gak mau liat salah satu dari kita ada yang sedih apalagi kecewa hanya karena seorang cowok. Kita tau lo sayang banget sama Dika tapi rasa sayang lo malah jadi pedang buat diri lo sendiri. Coba deh lupain Dika, kita yakin kok lo pasti bisa mendapatkan orang yang tulus setia mencintai lo. So, lo jangan sedih hanya karena Dika ya, Nin.” Tyas menambahkan dengan panjang lebar. Nindi mengangguk, “Thanks ya, kalian memang sayap pelindung gue.” Dan mereka secara bersamaan mengangguk. Nindi mencoba memahami perkataan Tyas. Menyimpannya lekat-lekat didalam memori otaknya bahwa ia takkan lagi kecewa hanya karena seorang lelaki.

“Suatu hari nanti gue pasti akan menemukan seseorang yang selalu ada di setiap derap langkah gue. Gue bisa pastikan dia adalah seseorang yang mampu mengiringi setiap detik gue dengan tulus cinta yang ia miliki. Gue yakin dia adalah seseorang yang mampu memberi warna dalam hidup gue. Entah siapa dia dan darimana dia berasal, dia adalah yang terbaik untuk gue kelak.” Ucap Nindi dalam hati.

****

Beginilah suasana pagi hari di tahun ajaran baru. Tak ada yang jauh berbeda dari hari-hari sebelumnya, hanya saja kini ada murid yang masih mengenakan seragam biru putih berlalu lalang disekitar sekolah. Selain itu, semuanya masih sama seperti semula. Riuhnya suasana kantin karena obrolan pagi sekumpulan murid-murid, tak hanya dikantin, para murid pun berkumpul di tempat parkir motor dan di bawah pohon rindang sambil menunggu pengumuman pembagian kelas. Dan ketika bel berbunyi, guru piket dengan siap berdiri disamping gerbang meneriaki murid-murid yang datang terlambat. Suasana semakin riuh ketika semua murid bergegas ke tempat yang telah di tentukan. Para murid baru berkumpul di lapangan basket untuk apel pembukaan MOS dan murid-murid kelas 2 dan 3 berkumpul di lapangan rumput untuk mendengarkan pengumuman pembagian kelas. Semua mengatur barisan. Nindi dan kedua sahabatnya berdiri tepat di perbatasan barisan lelaki dengan barisan perempuan. Suasana yang tadinya sangat riuh tiba-tiba hening ketika suara pak Haryo menggelegar keluar dari pengeras suara. Pak Haryo merupakan guru olahraga sekaligus bagian kesiswaan. Beliau terlebih dahulu mengumumkan nama-nama murid yang masuk kelas 11 IPA dan IPS hingga tiba saatnya pengumuman untuk kelas 12.

“Sssst dengerin, dengerin..” kata seorang siswi yang ada di samping Nindi. Semua mencoba mendengarkan dengan khusyuk walaupun kelas 11 sudah terlanjur riuh oleh sorak kegembiraan karena dapat sekelas dengan temannya dan ada pula keluhan kekecewaan karena tidak sekelas dengan teman dekat mereka. Nindi dan kedua sahabatnya berada dalam satu barisan dan saling berpegangan tangan berharap mereka berada dalam satu kelas. Diam-diam Nindi menunggu nama Dika disebutkan di pengeras suara dan ternyata ia masuk kelas 12 IPA 1. Ia menundukan kepala sambil medengarkan secara seksama menunggu giliran namanya yang disebut dan berharap ia dapat sekelas dengan Dika hingga akhirnya Nindi mendengar nama Fitri diucapkan lewat pengeras suara. Seketika ia dan Tyas menatap Fitri.

“Lo masuk 12 IPA 1, Fit” kata Nindi dan Tyas secara bersamaan. Fitri mengangguk.

“Sekelas sama Dika pula!” tambah Tyas hingga mampu membuat Nindi tersedak oleh nafasnya sendiri. Mereka berdua memperhatikan Nindi dengan raut wajah menyelidiki.

“Nin? Kenapa lo?” tanya Tyas dengan nada meledek sambil menyenggol Nindi. Dengan bodohnya ia menampakkan wajah tegangnya. Nindi menggelengkan kepalanya, “ah gak kenapa-napa, memangnya gue kenapa?” tukasnya. Tyas dan Fitri saling menatap. Tyas mengangkat sebelah alisnya dan Fitri mengedikkan bahunya. Nindi mengalihkan pandangannya mencari-cari sosok Dika di antara barisan lelaki hingga akhirnya Nindi melihatnya sedang berbuat jahil kepada teman yang baris tepat berada di depannya. Ia sedang membuka retsleting tas temannya dan memasukan dedaunan kering bersama teman-temannya yang lain. Nindi tersenyum melihat tingkahnya. Alangkah senangnya jika Nindi berada dalam satu kelas dengannya, melihat seperti apa tingkahnya saat di kelas, bagaimana ekspresi wajahnya saat ia sedang konsentrasi memperhatikan guru yang sedang menerangkan. Tapi itu semua tak mungkin karena pengumuman untuk kelas 12 IPA 1 sudah berakhir. Kedua sahabat Nindi berada dalam satu kelas dengan Dika sedangkan dia, hingga pengumuman kelas 12 IPA 3 pun nama Nindia Anindita belum di sebutkan melalui pengeras suara. Ia melihat kedua sahabatnya berpelukkan dengan kegembiraan terlukis diwajah mereka. Nindi menatap Dika sedang bersendagurau dengan teman-temannya, mungkin teman sekelasnya.

“Seneng banget mereka semua bisa satu kelas sama temen-temen deket mereka, sedangkan gue…” Nindi memandang kesekeliling dan pandangannya berhenti pada kedua sahabatnya, “gue pisah dari sahabat gue, sahabat-sahabat gue satu kelas, tapi gue sendiri beda kelas sama mereka.” Tiba-tiba ia mendengar namanya diumumkan melalui pengeras suara. Nindi memfokuskan diri agar ia tidak salah dengar.

“Nin, lo kelas 12 IPA 5.” Kata Fitri sambil menyentuh pundak Nindi dan ia mengangguk. Tyas meraih tangan Nindi dan tangan Fitri lalu mereka saling bergenggaman tangan, “Kita beda kelas bukan berarti kita gak akan ketemu, kan? Toh cuma pas jam pelajaran aja kan kita pisah?” ucap Tyas sambil tersenyum. Memang hanya pada jam pelajaran saja mereka tidak berkumpul tapi Nindi merasa ringkuh jika harus kembali beradaptasi dengan teman-teman kelasnya yang baru. Ia sedikit kurang nyaman dalam membiasakan diri dengan orang-orang yang belum dia kenal dan belum tentu mereka pun bisa memahami dirinya yang bisa dikatakan sedikit tertutup kepada orang baru. Tapi ia berharap tak seburuk bayangannya itu, semoga.

****

Ini ketiga harinya MOS telah berlangsung tetapi belum ada mata pelajaran yang berjalan secara efektif bagi kelas 11 dan 12. Mungkin seperti tahun-tahun sebelumnya, selama 1 minggu seluruh murid masih beradaptasi dengan suasana kelas baru. Seperti yang dikatakan sebelumnya, Nindi sedikit tertutup dengan orang-orang baru. Selama 2 hari ini ia hanya duduk di kursinya yang berada tepat di samping jendela. Ia memperhatikan teman-temannya dengan mudahnya mereka beradaptasi. Mereka tertawa lepas, berlari mengejar satu sama lain karena sebuah permainan, dan adapun yang berkumpul entah sedang membicarakan apa. Nindi hanya bisa menunggu bel istirahat berbunyi agar dapat seperti mereka. Ya kadang ada teman yang sudah ia kenal mengajaknya sekedar untuk berbincang atau ikut memainkan sebuah permainan. Tapi hanya sebatas itu saja. Nindi hanya bisa tertawa lepas saat bersama orang yang dirasanya ia nyaman berada di dekatnya. Kini ia membaringkan kepalanya diatas meja dengan kedua tangannya yang terlipat sebagai tumpuan. Dia bosan. Kembali Nindi mengangkat kepalanya dan menatap keluar jendela, memperhatikan kursi yang ada di bawah pohon. Kursi itu kosong. Muncullah keinginannya hanya untuk sekedar menghirup udara bebas diluar sana. Nindi meraih tas yang ada di sampingnya lalu merogoh tas tersebut. Kini ponsel dan earphone telah berada di tangannya. Lalu ia berdiri dan berjalan menuju kursi itu. Dugaannya benar, tempat itu terasa nyaman. Walaupun banyak yang berjalan kesana-kemari tetapi dengan sepasang earphone terpasang ditelinganya dan sebuah lagu mengalun dengan merdu, cukup membuatnya merasa beruntung karena ia dapat merasakan kehidupan disekolah. Tak sadar bibirnya sedikit menyunggingkan senyuman karena mengingat semua yang telah dilaluinya selama ini bersama teman-temannya terutama dengan kedua sahabatnya, Fitri dan Tyas. Hembusan angin terasa begitu nyaman dibawah pohon ini. Belum lagi cuaca yang sangat bersahabat membantu Nindi untuk menikmati hari ini. Ia mencoba mengirim pesan di grup WhatsApp dan tak lama kemudian Tyas yang membalas pesan tersebut.

Tyas: Nin, lo tunggu di tempat biasa aja ya, bentar lagi juga ini kelar kok. Oh ya, Fitri gak punya kuota jadi gue yang bales deh hehe 😀

Nindi menghela nafas saat membaca pesan tersebut, “Gini nih kalau beda kelas, buat ketemuan aja susah banget.” Gerutunya. Tanpa babibu, dengan lincah jari Nindi menyentuh layar ponselnya untuk membalas pesan dari Tyas.

‘Yaaah yaudah deh gue duluan, awas lho jangan lama-lama nanti gue ngambek -____-‘

Terkirim.

****

Keadaan di ruang kelas 12 IPA 1 memang sedikit riuh karena saat ini sedang berlangsung pemilihan dewan harian. Sebenarnya bukan sedikit riuh, lebih tepatnya sangat gaduh. Sorakan beberapa kubu menjagokan calonnya masing-masing agar terpilih menjadi ketua kelas. Ada pula yang sedang asyik merumpi entah apa yang mereka perbincangkan di barisan bangku yang paling belakang. Fitri dan Tyas tak memperhatikan jalannya pemilihan dewan harian tersebut, hanya asal mengangkat tangan saat voting berlangsung agar tidak di anggap golput. Yang mereka perhatikan hanya satu objek, tentu saja Dika. Mereka memperhatikan gerak-gerik lelaki itu, apa yang ia lakukan, kepada siapa ia mendekatkan diri, dan berbagai hal lainnya yang bisa mereka laporkan kepada sahabat mereka, Nindi.

“Tuh tuh liat tuh, gilaaa dari tadi dia ngedeketin cewek terus!” Seru Tyas jengkel. Fitri pun menatap Dika seolah Dika adalah cowok yang pantas untuk diremas-remas seperti selembar kertas yang sudah tak terpakai lagi. Fitri tak habis fikir, mengapa bisa sahabatnya jatuh cinta bahkan memuja cowok macam ini. Yang kerjaannya tebar pesona sana-sini. Tyas dan Fitri terus memperhatikan Dika hingga ketika Dika merogoh saku celananya dan ia mengeluarkan ponselnya. Sejenak Dika menatap ponselnya, mungkin dia menerima sebuah SMS dan kemudian ia berjalan ke depan kelas, berbicara dengan pemandu acara yang merupakan salah satu siswa dari kelas itu juga dan kemudian Dika berjalan keluar kelas dengan terburu-buru.

“Eh itu Dika mau kemana tuh?” tanya Fitri sambil mengernyitkan alisnya.

“Ya mana gue tau, memangnya gue otaknya yang selalu tau pikiran dia.” Tyas menimpali.

“Mungkin dia lelah hahaha” lanjut Tyas. Fitri mendesis pertanda ia kesal dengan jawaban Tyas. Tyas lalu merangkul Fitri dan mengacak-acak rambutnya sambil tertawa. “Tyaaas rambut gue jadi berantakaaaan!”

****

Nindi kembali mengangkat wajah untuk mengalihkan pandangannya dari layar ponsel dan mengamati sekelilingnya hingga pandangannya terkunci pada satu titik. Sepersekian detik raga Nindi kaku seketika. Darahnya berdesir sangat cepat. Di detik berikutnya ia menyadarkan dirinya sendiri lalu pandangannya mengikuti arah kemana Dika berjalan dan ia berhenti di bawah pohon palem tepi lapangan volly .

Deg!

Dadanya terasa sesak seolah ada sebongkah batu besar berhasil menghantam tepat di jantungnya. “Cewek itu? DIKA MENGHAMPIRI CEWEK ITU! BERMESRA-MESRAAN PULA! Eh tunggu… tapi bukannya kelas Fitri dan Tyas yang artinya kelas Dika juga, lagi ada kegiatan? Ada hubungan apa mereka sampe-sampe Dika rela keluar kelas demi ketemu cewek itu?” Ucapnya dalam hati.

Pemandangan tersebut begitu menohok hati Nindi hingga ke relung hati yang paling dalam. Benar-benar pemandangan yang membuat hati Nindi mencelos. Saking penasarannya, Nindi tetap saja memperhatikan mereka walaupun itu membuat hatinya remuk redam. Mereka tertawa bersama dan Dika mengusap puncak kepala perempuan itu. Nindi melihat perempuan itu memberikan sebuah kotak kecil biru tua kepada Dika lalu di adegan berikutnya cukup menguras hati Nindi. Dika mengecup lembut kening perempuan itu! Nindi segera beranjak dari tempatnya menuju sebuah tempat yang menjadi tempat persembunyian untuk Nindi dan kedua sahabatnya. Nindi sengaja mempercepat langkahnya agar ia segera menjauh dari jarak pandang tempat dimana Dika dan perempuan itu berdiri. Saat Nindi melewati mereka berdua tiba-tiba airmatanya menetes satu persatu. Setelah dirasa berjalan cukup jauh, Nindi memperlambat langkahnya sambil mengatur nafas yang terpacu oleh emosinya dan menyeka airmata dari mata dan pipinya. Ia menghentikan langkahnya berusaha menciptakan air muka yang senormal mungkin agar ia tak terlihat sedang bersedih. Nindi kembali mengambil langkah seperti tidak terjadi apa-apa, tersenyum kepada murid baru yang menyapanya. Nindi melintasi lapangan basket, banyak sekali murid berseragam putih biru yang sedang berbicara dengan murid berseragam putih abu secara 4 mata. Raut wajah yang mereka buat saat berbicara pun berbeda-beda. Ada yang berbinar sambil menyerahkan buku tulis dan sebuah pulpen dan ada pula wajah kecewa sambil berlalu tanpa menyerahkan buku tulis.

“Pasti lagi dikerjain anak OSIS” pikir Nindi. Kemudian ia menaiki anak tangga menuju lantai tiga. Di lantai tiga ini hanya ada sebuah perpustakaan dan sebuah balkon yang lumayan luas dengan ukuran sekitar 3×4 meter dengan menghadap ke parkiran motor dan lapangan rumput. Di samping perpustakaan tersebut terdapat sedikit jarak antara dinding ruang perpustakaan dengan pagar. Disinilah tempat persembunyian Nindi, Fitri, dan Tyas selama 2 tahun ini. Dari tempat ini, Nindi dan sahabat-sahabatnya dapat melihat pemandangan gunung yang menjulang indah. Dan dari tempat ini pula Nindi biasa memperhatikan Dika saat sepulang sekolah.

Nindi melepas flatshoesnya lalu duduk di pelataran antara dinding perpustakaan dan pagar dengan posisi kedua kakinya terayun kebawah dan bagian depan badannya bersandar pada pagar. Sejenak Nindi kembali teringat akan kejadian yang baru saja ia lihat. Dadanya terasa sesak, bibirnya menyunggingkan senyum kecut, airmatanya merembas melintasi pipinya.

“Sorry?” Tiba-tiba terdengar suara seseorang yang membuat Nindi refleks menghapus airmatanya. Ia mendongak ke arah sumber suara sambil berkata, “ya?”. Ternyata itu seorang lelaki yang sepertinya anak baru yang sedang melaksanakan MOS. Lelaki itu menghampiri Nindi lalu bertanya kepadanya, “punya waktu sebentar gak, kak?” Nindi hanya mengangguk dan tanpa di suruh, lelaki tersebut duduk bersila disamping Nindi yang membuat Nindi menjadi kikuk. Kemudian lelaki itu menyodorkan sebuah buku tulis yang terbuka dihalaman kosong bersama pulpennya.

“Boleh minta tanda tangannya gak kak? Sorry banget nih lagi di kerjain sama kakak OSIS hehe” dengan cengengesan lelaki itu meminta tanda tangan Nindi. Agar lelaki ini segera pergi dari hadapannya, tanpa babibu Nindi langsung mengambil buku dan pulpen tersebut lalu menggoreskan sebuah tanda tangan di halaman yang terbuka. “Nih!” Nindi mengembalikan buku dan pulpen tersebut yang dengan sigap di ambil oleh sang pemilik. Lelaki itu melihat halaman buku yang kini telah dibubuhi oleh tanda tangan Nindi dan kemudian ia menyodorkannya lagi buku itu pada Nindi.

“Sorry, kak. Boleh gue sekalian minta nama lengkap sama kelasnya? Soalnya perintah dari kakak OSISnya begitu.”

“Boleh” jawab Nindi singkat sambil mengambil bukunya kembali dan menuliskan nama lengkap dan kelasnya. Setelah itu disodorkannya buku itu kepada sang pemilik. Saat memberikan buku itu kembali, Nindi baru memperhatikan lelaki itu. Badannya tegak, rambutnya hitam lurus sedikit berantakan, wajahnya mungkin tidak setampan para artis di TV tapi entah mengapa Nindi merasa lelaki itu terlihat ketampanannya begitu pas apa adanya, dan ada sedikit aksen eropa di wajahnya. Tapi ada satu hal yang aneh dari penampilan lelaki ini, “Lho, kenapa gak pake seragam SMP?” tanya Nindi heran.

“Karena alasan khusus, kak” jawabnya enteng sambil menutup bukunya dan menggulungnya hingga dapat di genggam oleh satu tangannya. Nindi hanya ber’oh’ ria menjawab lelaki itu walaupun ia masih penasaran akan alasannya. Kemudian lelaki itu berdiri dan mengucapkan terima kasih lalu pergi. Tak lama kemudian datang Fitri dan Tyas sambil membawa minuman dingin di dalam kantung plastik.

“Eh tadi gue sama Fitri ketemu cowok di tangga, itu siapa? Perasaan perpustakaan lagi tutup deh terus ngapain tuh orang kesini?” tanya Tyas sambil duduk di sebelah kiri Nindi dan memposisikan dirinya sama seperti posisi Nindi. Ia membagikan minuman yang dibawanya kepada Nindi dan Fitri yang sudah duduk di sebelah kanan Nindi dengan posisi yang sama.

“Cuma anak baru yang lagi dikerjain anak OSIS tuh, di suruh minta tanda tangan senior. Gak tau kenapa tuh anak bisa nyasar sampe sini.” Tyas dan Fitri hanya ber’oh’ ria mendengar jawaban dari Nindi.

****

Di ujung anak tangga di lantai dua, lelaki itu membuka buku tulisnya pada halaman yang di batasi oleh pulpen dan membacanya pelan, “Nindia Anindita. 12 IPA 5”.

****

Sisa hari itu Nindi menjalaninya dengan hati yang tak bergairah. Bagaimana tidak, tadi pagi ia melihat Dika bermesraan dengan pacarnya─mungkin─yang membuat mood Nindi turun drastis. Pada saat jam istirahat kedua pukul 12.15, setelah menyelesaikan sholat dzuhur, Nindia, Tyas, dan Fitri berencana untuk makan siang di kantin. Memang saat di kantin, Dika hanya nongkrong bersama temannya di meja makan paling ujung yang jaraknya sekitar 4 meja dari meja makan Nindi, Tyas, dan Fitri. Tapi saat selesai makan dan akan menuju balkon lantai 3, Nindi lagi-lagi melihat Dika bersama pacarnya di tepian lapangan basket sedang mengobrol sambil sesekali mendribel bola basket sambil tertawa. Melihat pemandangan tersebut, alhasil Nindi mengubah tujuannya semula akan ke balkon lantai 3 kini jadi ke kelasnya, “Eh gue gak ikut ke atas ya, ngantuk gue pengen tiduran di kelas aja.” Mendengar Nindi bicara seperti itu, kedua sahabatnya langsung menghentikan langkah dan memandang Nindi secara bersamaan.

“Ada apa, Nin?” tanya Fitri khawatir. Kedua sahabatnya sudah sangat hafal dengan semua tingkah laku dan gerak-gerik Nindi. Fitri sudah bersahabat dengan Nindi selama 2 tahun dan Tyas selama 1 tahun.

“Kayaknya gue tau kenapa” terka Tyas. Nindi hanya diam saja sambil menunduk dan Fitri memandang Tyas dengan wajah penasaran. “Tuh!” sambung Tyas sambil menunjuk ke arah lapangan basket dengan dagunya.

“Ya ampun Nindiiii, dia lagi dia lagi. Memang gak ada cowok lain apa yang lu suka. Dia tuh gak pantes buat lo, Nin.”

“Haha lagian gue kali yang gak pantes buat dia, Fit. Gue terlalu introvert, cupu, dan gak ada satu pun kelebihan di diri gue” Nindi bicara dengan tawa yang hambar. Tyas kemudian memegang tangan Nindi saat melihat tawanya itu.

“Nindi, dengerin gue. Lo tuh cantik. Lo cuma kurang ter─” perkataan Fitri terpotong karena ada yang menepuk bahunya dari belakang dan secara refleks ia menengok ke belakang. Melihat Fitri mengengok ke belakang, otomatis Nindi dan Tyas pun ikut menengok ke belakang.

“Oy, ngehalangin jalan aja nih kalian. Minggir-minggir pangeran dan ajudan mau lewat.” Seru Usep sambil cengengesan bersama Dani. Usep dan Dani ini dua sejoli yang membuat kelas 11 IPA 4 dulu─kelas Nindi, Fitri, dan Tyas─ menjadi kelas yang dijuluki sebagai pembuat onar dengan kelas lain. Bagaimana tidak, pernah saat semua pohon─pohon jambu air, jambu bol, rambutan dan mangga─di sekolah berbuah, Usep dan Dani melempar jambu air yang sudah jatuh ke tanah kepada sekumpulan temannya dari kelas lain yang sedang nongkrong di bawah pohon rindang sambil bermain gitar saat istirahat kedua. Alhasil main lempar-lemparan buah berubah menjadi tawuran antar kelas yang di persenjatai dengan buah-buahan dan alat kebersihan sebagai tameng. Sampai-sampai guru yang sedang bertugas piket hari itu harus menghentikan mereka dan memberi cubitan maut kepada para tersangka yang tertangkap. Tragedi ini bukan hanya sekali dua kali saja, tetapi terjadi beberapa kali dalam setahun.

Selain itu, mereka pun merupakan pelopor kegiatan ‘panjat lebih tinggi lebih asik’. Pada saat di kelas 10, kelas untuk lelaki dan perempuan dibuat terpisah dengan komposisi kelas ganjil untuk lelaki dan kelas genap untuk perempuan. Suatu saat kelas 10–2 selesai mengikuti pelajaran olah raga dan semuanya berganti pakaian di kelas. Saat itu tak pernah sedikit pun terbesit di pikiran anak-anak perempuan bahwa akan ada anak lelaki yang mengintip mereka karena jendela yang ada di kelas 10 bisa dikatakan berada di posisi yang cukup tinggi. Tetapi memang dasar otak mesum, Usep dan Dani di ikuti kawanannya memanjat pohon jambu air yang ada di depan koridor kelas 10–2 dan berusaha mengintip. Beruntungnya saat mereka tertangkap basah oleh guru piket─yang bertugas untuk mengecek absensi setiap kelas─, belum ada murid perempuan yang menanggalkan seragam olahraganya.

Kembali ke masa kini. Melihat ekspresi di wajah Nindi, Usep langsung menyernyitkan dahinya. “Si Nindi kenapa tuh mukanya asem banget?” mendengar perkataan Usep, Nindi langsung mengerjapkan kedua matanya.

“Ih kepo banget sih lo!” jawab Tyas dengan suara sinis. Dani yang saat kelas 10 nya sekelas dengan Dika melihat Dika sedang bersama pacarnya di lapangan basket dan langsung menimpali, “Biasalah, bro. Efek racun pangeran 10–3, tuh di lapangan basket”. Usep langsung melihat ke lapangan basket dan kemudian kembali melihat ke arah Nindi, “Ah si eta wae ti baheula teh. Mending sama akang Usep aja atuh Nin, sudah 100% terbukti single dan setia” Dani langsung tertawa lantang mendengar perkataan Usep dan kemudian mereka berdua saling ber’tos’ria. Nindi dan Tyas tak bisa menyembunyikan senyumnya di balik muka cemberut yang di buat-buat.

“Ih najis lo. Ya iyalah lo masih single, orang satu sekolahan ini aja gak akan ada yang mau sama cowok macem lo.” Sembur Fitri dengan ekspresi jijik yang dibuat-buat. Selang beberapa detik setelah semburan Fitri, terdengar dering bel tanda istirahat telah berakhir.

“Tuh udah masuk. Yuk ah masuk kelas, gara-gara mereka nih waktu istirahat kita ke buang percuma.” Kemudian Tyas berjalan sambil menggamit tangan Nindi, Fitri pun mengikuti.

“Nindi jangan sediiih, ada akang Usep di sini!” Usep berteriak sambil cekikikan hingga murid-murid yang mendengar menengok ke arah sumber suara. Nindi, Fitri, dan Tyas yang sadar itu sangat memalukan langsung mempercepat langkah mereka dan berpisah di lapangan volly untuk menuju kelas masing-masing.

****

Bersambung…

Tinggalkan Komentar