COLOURFULL OF LOVES 2

0
154

 (-2-)

STUPID

xxx

Morning, babe.” Sapa Ben begitu semangat. Menyunggingkan senyum lima jari secerah mentari yang membuat siapapun akan terbawa aura cerianya. Kecuali Ann—orang yang baru saja disapanya.

Ann terlalu malas—ah bukan, lebih tepatnya marah karena kejadian semalam. Dimana pria itu membiarkannya menunggu selama berjam-jam di tempat mereka janjian untuk bertemu. Namun dengan seenak jidatnya pria itu tak datang tanpa penjelasan apapun. Dan kini pria itu bersikap seolah tak terjadi apa-apa.

Sungguh menyebalkan dan wajib diberi pelajaran!

Ann memutar bola mata malas. Sama sekali tak mempedulikannya. Menganggap sosok Ben tak ada, meski begitu nyata kini berada dekat dengannya. Tepat di hadapannya. Ia hanya berkutat dengan buku pelajaran yang ada di tangannya seolah sibuk membaca, padahal pikiran serta perasaannya kacau sekali.

Ben memajukan wajahnya hingga jarak diantara mereka tinggal beberapa senti lagi, membuat kinerja jantung Ann bertambah disertai perubahan warna wajahnya. “Kenapa tak membalas sapaan dari kekasihmu yang tampan ini?”

Ann memukul kepala Ben kesal.

“Sakit! Kenapa kau memukulku?” Ujar Ben sembari mengusap kepala bekas jitakan yang diberikan orang terkasihnya.

“Bersyukurlah karena aku tak memukul wajahmu itu, stupid.” Ketus Ann seraya beranjak dari kursi hendak pergi keluar kelas. Namun Ben dengan cepat mencekal pergelangan tangan si gadis agar tak pergi meninggalkannya.

“Kau marah padaku?” Tanya Ben dengan ekspresi polos yang kian membuat Ann ingin memukul wajahnya itu.

“Lepaskan!” Sentak Ann kasar menghempaskan tangannya. “Kau memang tak pernah menyadari apa kesalahanmu.” Kedua tangannya terkepal erat. Menundukkan kepala dalam seraya kembali berkata dengan suara bergetar karena menahan tangis, “Lebih baik kita break untuk sementara waktu. Kita perlu waktu untuk saling mengintropeksi diri masing-masing.”

Break? Sebenarnya apa yang sedang kau katakan? Aku tak mengerti. Sungguh!” Ben memegang kedua bahu Ann, mengangkat dagu mungilnya agar mata mereka saling bertemu.

Sebuah senyum miris tersungging di bibir Ann disertai lolosnya air mata yang sedari tadi berusaha ia tahan, membuat Ben membelalakan mata karena terkejut melihat gadisnya menangis.

“He-hey! Ke-kenapa kau menangis? Maaf, aku—”

“Akan kuperjelas ucapanku jika kau tak mengerti.” Ann segera memotong ucapan Ben. Melepas tangan pria itu di bahunya, menatap dingin masih dengan air mata yang meleleh. “Lebih baik kita pu—”

Morning Ben, Ann …” Kini ucapan Ann yang terpotong oleh kedatangan seorang gadis berambut cokelat keemasan dengan senyum cerianya.

Morning too, Liz …” Ben membalas sapaan gadis itu tak kalah cerianya.

“Ada apa ini? Sepertinya kalian sedang membicarakan sesuatu yang serius? Apa kedatanganku mengganggu?” Ujar Liz merasa tak enak hati setelah melihat lebih jelas keadaan Ann yang jauh dari kata baik dengan wajah yang basah oleh air mata serta aura tak menyenangkan yang menguar dari tubuhnya.

“Tidak kok, Liz. Sepertinya Ann sedang tidak enak badan, jadi sikapnya agak aneh hari ini.” Jelas Ben ringan tak mempedulikan mood Ann yang bertambah buruk karenanya.

“Oh iya, apa kau sudah menonton film yang kupinjamkan semalam? Bagaimana? Seru kan? Lain kali kita nonton film bersama lagi ya. Tapi nanti kita nonton di rumahmu.” Celotehnya riang. Benar-benar melupakan atensi Ann disana.

Jantung Ann terasa diremas begitu kuat. Air mata kian mengalir tanpa bisa dihentikan lagi. Wajahnya memerah menahan emosi yang akan membludak.

Tangan Ann terkepal sangat kuat hingga jari-jarinya memutih. Jadi jelaslah sudah mengapa Ben tak datang semalam. Pria itu lebih memilih menonton bersama dengan Liz dibandingkan menepati janji untuk bertemu dengannya.

“Ann …” Liz menatap Ann bingung dan khawatir. Begitupun dengan Ben.

“Kau kenapa?” Tanya Ben hendak meraih tangan gadisnya, namun  Ann segera menepisnya dengan kasar.

“Jangan menyentuhku!” Teriak Ann penuh amarah. Nafasnya tak beraturan. Berusaha mengendalikan kecamuk perasaan yang sangat menyakitkan hingga dadanya terasa sesak.

“Jadi itu alasanmu tak datang menemuiku semalam. Seharusnya kau beritahu aku, bukannya membiarkanku menunggu selama berjam-jam tanpa kabar apapun. Sebenarnya kau menganggapku apa selama ini hah?” Amarahnya semakin meledak-ledak, berteriak di depan wajah Ben. Matanya berkilat tajam dipenuhi kesedihan dan kekecewaan.

Ben tercengang. Mulutnya terbungkam. Sulit mengeluarkan kata. Ia tak pernah melihat Ann semarah itu sebelumnya. “A-aku … Ann, Maafkan aku. Aku benar-benar lupa akan janji kita. Aku—”

“Tck.” Ann berdecak sembari tersenyum sinis di tengah tangisannya.

“Lupa? Bagus sekali. Memang sejak awal seharusnya kita tak pernah menjalin hubungan bodoh ini. Mulai sekarang kita putus, Ben. Aku sudah tak tahan lagi denganmu.” Ujarnya tegas. Berjalan pergi meninggalkan mereka berdua. Tak peduli teriakkan Ben yang memanggil-manggil namanya namun tak berusaha untuk mengejarnya. Hanya membiarkan gadis itu pergi begitu saja.

Really stupid!” Ujar Liz seraya memberikan pukulan cukup keras di kepala pirang milik Ben. “Kenapa kau harus melakukan semua itu? Kau adalah pria terbodoh yang pernah kukenal. Memang tak ada jalan lain selain membuat gadis itu terluka? Pasti ada ja—”

“Tidak ada.” Ben menyela ucapan Liz. Pipinya telah basah karena air mata yang tanpa sadar menetes.

“Biarlah ia terluka di awal. Aku tak ingin ia terluka lebih banyak jika tetap bersama denganku. Hidupnya masih panjang, sedangkan aku…” Ia menghembuskan nafas beratnya, berjalan menuju jendela. Melemparkan pandangannya ke luar. Memandangi langit biru yang cerah, sangat berkebalikan dengan suasana hatinya.

“Hidupku tak lama lagi. Kau tahu itu, Liz. Seharusnya sejak awal aku tak memaksakan diri untuk masuk ke dalam hidupnya. Ini semua memang salahku.”

Stupid!” Liz memandangi sahabatnya sendu. “Kemana Ben yang kukenal? Ia yang selalu semangat dan tak pernah putus asa.”

“Aku takut, Liz.” Tangisan Ben kian memilukan. “Aku merasa waktuku sudah tak banyak lagi. Aku tak pernah setakut ini sebelumnya.” Tubuhnya bergetar karena tangis.

Selama ini ia tak pernah menangis atau takut dalam menghadapi kondisi apapun.

Semua berubah ketika Ann masuk ke dalam kehidupannya. Kini ia merasa takut jika penyakit yang dideritanya sejak lama akan merenggut nyawanya. Ia tak ingin meninggalkan Ann. Ia sangat mencintai gadis itu.

Namun ia lebih takut lagi melihat gadisnya terpuruk dalam kesedihan serta penderitaan setelah kepergiannya nanti. Untuk itulah ia melakukan semua sandiwara dan drama ini. Membuat Ann salah paham, berpikir bahwa dirinya hanyalah pria brengsek yang tak pantas bersanding dengan gadis itu.

Stupid!” Setetes air mata pun jatuh membasahi wajah Liz. Ia berjalan mendekati Ben, memeluknya erat dari belakang. Memberikan ketenangan dan dukungan lewat tindakannya tersebut.

.

.

.

.

.

.

.

.

-FIN-

 

 

 

Tinggalkan Komentar