COLOURFULL OF LOVES 1

0
444

(-1-)

UMBRELLA

x x x

Hujan turun sangat deras disertai gemuruh angin dan petir yang menyambar seakan membelah langit malam. Di sebuah minimarket pinggir kota Tokyo adalah awal kisah dari dua insan manusia berbeda karakter serta kebangsaan, yaitu Yuuta Hajime dan Jane Williams.

Kulit dingin nan pucat mereka saling bersentuhan secara tak sengaja ketika akan mengambil sebuah benda yang sama. Pandangan mereka saling bersirobok. Onyx dan shappire. Perbedaan kontras antara gelap dan terang.

Untuk sesaat saja tak ada kata dan pergerakkan berarti dari mereka. Tanpa sadar saling mengagumi keindahan bola mata masing-masing. Hingga sebuah suara memecah keheningan yang tercipta, “Apakah kalian jadi mengambil payung itu? Jika tidak, maka aku yang akan mengambilnya.”

Terkejut. Canggung. Dua hal tersebut terjadi secara bersamaan. Mereka seakan ditarik kembali ke alam nyata dan terbangun dari alam khayal yang sempat menguasai. Jane mengumbar senyum kikuk seraya berkata: “A-ah tidak. Aku tidak jadi mengambilnya.” Terpaksa mengalah dan menerima kenyataan bahwa ia harus menghabiskan waktunya untuk berteduh disana hingga hujan mereda. Menarik diri dari suasana aneh itu tanpa menoleh ke belakang. Berjalan pergi menuju konter roti dan memesan segelas cappuccino panas.

“Terimakasih.” Jane tersenyum menerima pesanannya. Mengambil tempat duduk pada kursi yang sengaja disediakan untuk para konsumen jika ingin menikmati makanan atau minuman disana. Menghadap kaca hingga pemandangan luar bisa terlihat dengan jelas.

Kursi di samping Jane bergeser membuat atensi gadis itu teralihkan. Menatap sosok lelaki berambut gelap yang ditemuinya tadi tengah meminum sekotak jus jeruk dengan santai seakan tak mempedulikan keberadaannya disana.

Sedikit terkejut dan berdebar. Kini Jane merasa tak nyaman. Hanya memegangi roti di tangannya sembari menundukkan kepala dalam-dalam.

“Kau tak memakan roti itu?” Sebuah suara bariton menyapa indera pendengaran Jane.

“A-ano …” Jane gugup dan bingung untuk memberikan jawaban. Menggigit bibir bawahnya sendiri, menolehkan kepalanya secara perlahan pada sosok lelaki di sampingnya. “Apakah kau mau?” Spontan. Ia mengatakan hal itu secara tanpa pikir panjang. Hanya meluapkan apa yang terbersit di dalam kepalanya saat ini melalui sebuah kalimat.

Kepala bersurai blue dark itu menoleh, mendapati sepasang bola mata shappire milik seorang gadis manis tengah menatapnya malu-malu dan ragu. Tingkah dan gestur tubuhnya sangat menggemaskan. Sebuah senyum pun terukir di bibir Yuuta. Sangat tipis, hingga tak akan ada yang menyadari hal tersebut. Termasuk Jane.

“Aku hanya bertanya, bukan berarti aku mau rotimu.” Ujar Yuuta menopang wajah tampannya dengan sebelah tangan. Masih sibuk menyedot sekotak jus jeruk miliknya. Memfokuskan pandangan hanya pada Jane. Karena pemandangan di depannya kini lebih menarik daripada air hujan di luar sana.

“Ah, maaf.” Jane segera memutuskan kontak mata diantara mereka. Kembali melemparkan pandangannya keluar kaca, dimana air hujan masih turun membasahi bumi dengan begitu derasnya.

Dengusan kecil meluncur dari mulut Yuuta, “Kau gadis aneh.” Komentarnya ringan tanpa sungkan ataupun ragu. Bola mata onyxnya tetap tertuju pada gadis bersurai blonde yang telah mengalihkan pandangan padanya. Lagi.

“A-apa?” Jane tak terima. Tentu saja. Siapa yang mau dikatai gadis aneh oleh lelaki yang baru saja ditemuinya beberapa saat lalu? Hey! Bahkan mereka tak saling mengenal. Tak seharusnya lelaki itu berkata sembarangan. Sungguh tak sopan!

“Aku bilang kau gadis aneh.” Dengan senang hati Yuuta mengulangi ucapannya tadi. Menyadari raut keberatan pada wajah Jane, iapun kembali berkata: “Kau tahu kenapa?”

“Aku tak mau tahu.” Ujar Jane cepat. Memasukkan rotinya ke dalam tas serta mengambil gelas plastik berisi minuman miliknya yang agak mendingin seraya berdiri dari tempat duduknya. “Kau tak seharusnya berkata seperti itu pada orang yang belum kau kenal. Itu tidak sopan tahu.” Berjalan pergi meninggalkan Yuuta yang tengah menarik sudut bibirnya lebih lebar.

“Benar-benar gadis aneh…” Yuuta sedikit menggelengkan kepala melihat sikap Jane yang berubah-ubah. Sengaja menghentikan ucapannya karena ingin menghabiskan minuman terakhirnya kemudian melempar sampah ke tempat yang tersedia. “Tapi menarik.” Imbuhnya lagi.

Tangan kanan Yuuta segera menyambar payung biru donker yang tadi dibelinya. Melangkah pasti menuju keluar, menghampiri Jane yang masih belum beranjak pergi darisana. Hanya menghela nafas berulang kali sembari memandangi langit hitam yang terus mengeluarkan tetesan air dalam jumlah banyak, meski tak sederas tadi.

“Hey!” Yuuta berseru pelan dan datar. Berdiri di samping Jane tanpa dosa setelah mengatainya beberapa menit lalu. Pandangan matanya lurus ke depan, membuka payungnya kemudian kembali berkata: “Mau bareng?” Secara langsung dan tanpa basa-basi ia mengajak gadis itu untuk satu payung dengannya. Tipikal orang yang tak sabaran dan tak suka bertele-tele.

‘Ternyata meskipun ia menyebalkan dan tak sopan, masih ada sisi baik dalam dirinya.’ Pikir Jane.

Ia merasa ragu untuk menerima tawarannya. Malu juga. Namun tak ada pilihan lain. Jika ia menunggu hingga hujan reda, maka hari akan semakin larut dan kemungkinan ia akan ketinggalan kereta terakhir. Lagipula jarak antara minimarket menuju stasiun masihlah jauh. Jika ia memaksakan pergi menembus hujan, maka sudah dipastikan besoknya demam dan flu akan menyerang.

“Ya sudah kalau tak mau.” Suara Yuuta membuyarkan lamunan Jane. Membawanya ke alam nyata dan menyadarkannya bahwa sejak tadi ia hanya terdiam tanpa memberikan respon pada lelaki itu.

Langkah Yuuta terhenti ketika mendengar suara Jane yang nampak sedikit panik dan gugup, “Aku mau. Aku ikut denganmu.” Panik karena hampir ditinggal olehnya.

“Hn. Ayo!”

“Iya.

Udara kian dingin menembus tulang. Keheningan diantara mereka kian mencekam. Berjalan bersama di bawah naungan payung, menghindari air hujan yang senantiasa turun tanpa henti. Canggung dan perasaan tak nyaman menyelimuti hati Jane, namun tidak dengan Yuuta. Ia nampak tenang dan biasa saja. Tak memiliki niat untuk membuka obrolan apapun.

Stasiun kereta telah berada di depan mata. Sebuah helaan nafas berat mengalun begitu saja dari mulut Jane. Meneguk minuman yang sejak tadi dibawanya guna membasahi tenggorokkan yang kesat. Tersenyum senang seperti seorang bocah yang telah menemukan mainan kesayangan miliknya.

‘Akhirnya sampai juga.’ Batin Jane lega.

“Kita sampai.” Yuuta yang pertama kali memecah keheningan. Menutup payung, melipatnya, kemudian memasukkannya ke dalam tas plastik yang menjadi wadah payung tersebut.

“Terimakasih banyak.” Jane membungkukkan setengah tubuhnya sopan.

“Tak masalah.” Tanggap Yuuta tak acuh. Mengedikkan bahunya seraya menyerahkan payung pada Jane. “Ambil ini dan segeralah pulang!” Memasukkan kedua tangannya yang mulai membeku ke dalam saku celana. Membalik tubuhnya bersiap pergi.

“Tunggu dulu!” Seru Jane menghentikan niat Yuuta. “Kenapa kau tak naik kereta ini?” Bingung dan ingin tahu. Jadi pertanyaan itulah yang keluar dari mulutnya.

“Aku baru ingat. Ada urusan yang harus kuselesaikan dulu sebelum pulang.” Ujar Yuuta tanpa membalik tubuhnya. Tersenyum tipis entah untuk alasan apa.

“Oh begitu.” Ujar Jane pelan namun masih tertangkap oleh indera pendengaran Yuuta. “Sekali lagi terimakasih. Dan maaf jika ucapan dan sikapku tadi membuatmu tersinggung.”

“Hn. Aku juga salah.” Ujar Yuuta menanggapi singkat. Kini ia berbalik saling berhadapan dengan Jane. Mengukir senyum tipis yang kian menambah pesonanya. “Tapi aku mengatakan kau gadis aneh tidak tanpa alasan.”

Dahi Jane mengernyit, “Jadi apa alasannya?”

Tangan besar Yuuta mengacak surai blonde Jane sedikit kasar, “Akan kuberitahu saat kita bertemu lagi. Nah, keretanya sudah datang. Segera naik dan berhati-hatilah, Jane!”

Berkedip berulang kali. Jane merasa aneh dengan lelaki ini. Sikap dan ucapannya terlalu membingungkan. Melangkah memasuki kereta ketika pintunya terbuka. Tak menyadari hal ganjil yang baru saja terjadi. Memandangi sosok Yuuta yang masih setia berdiri di tempatnya.

“Kalau boleh tahu, siapa namamu?” Tanya Jane agak keras agar Yuuta bisa mendengarnya.

“Yuuta Hajime.”

Dan kereta pun mulai bergerak maju, membuat sosok Yuuta kian jauh dari pandangan mata Jane. Shappire kehilangan onyx. Menghela nafas berat entah untuk ke berapa kalinya, mengambil tempat duduk yang dekat dengan pintu kereta. Ia menggumamkan sebuah nama sembari mengingat momen singkatnya bersama dengan orang yang berada dalam pikirannya kini.

“Justru ialah yang aneh, bukan aku.” Ujar Jane pelan. Memandangi payung biru donker di tangannya penuh arti. Mengembangkan senyum manis di wajahnya. Namun sedetik kemudian senyumannya lenyap begitu saja. “Tu-tunggu dulu! Darimana ia tahu namaku? Padahal aku belum memberitahunya kan. Dan lagi … Kenapa aku merasa pernah melihatnya? Dimana ya?”

Telat. Ia terlalu lama menyadari hal ganjil yang terjadi. Sebuah kenyataan yang menjadi tanda tanya besar baginya.

-FIN-

.

.

.

.

.

.

~ Epilogue ~

Lelaki berambut blue dark itu tak henti-hentinya mengumbar senyuman langka di wajahnya. Berjalan santai menuju sebuah mobil jaguar hitam yang terparkir tak jauh darinya kemudian masuk ke dalam.

“Apa semuanya berjalan lancar, Yuuta?” Tanya seorang lelaki bersurai caramel yang tengah duduk di kursi kemudi.

“Langkah awal lancar. Sesuai rencanamu, Niel.” Jawab Yuuta santai.

“Syukurlah. Gadis tak peka dan polos sepertinya memang harus didekati dengan menggunakan cara yang tak biasa. Karena cara biasa tidaklah mempan. Bahkan ia tak menyadari eksistensimu di dekatnya selama ini karena terlalu menutup dirinya dari lingkungan sekitar. Bukan begitu?” Niel mulai menyalakan mesin mobil.

“Ya, kau benar.” Tanggap Yuuta singkat.

“Lalu setelah ini, apa yang akan kau lakukan?” Tanya Niel lagi.

Mobil yang mereka tumpangi melesat pergi meninggalkan tempat itu.

“Tentu saja menyapanya di sekolah. Besok.” Yuuta menyeringai lebar. Menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi, “Aku akan membuatnya menyadari eksistensiku kemudian menjadikannya milikku.” Memejamkan kedua matanya. Merasa sangat tak sabar ingin segera pagi datang menjelang. Ia yakin dan percaya diri bahwa mulai besok kehidupannya akan mengalami perubahan berarti. Begitupun hubungannya dengan gadis yang menjadi incarannya selama ini.

-0-0-0-

Tinggalkan Komentar