Cinta itu Duka (bag 13)

0
51

Aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi

Sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada

Hutanmu adalah misteri segala

Cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta

 

Gunung Pangrango masih berselimut. Halimun tipis menutupi sekujur tubuhnya. Gunung yang menjadi maskot kabupaten bogor itu nampak nyenyak. Riuh suara burung di dahan-dahan pohon cemara tidak sanggup mengganggu. Teriakan kawanan monyet yang saling kejar dari dahan ke dahan tidak juga membuatnya terjaga. Deru angin pun bagai kipas penambah lelap. Pagi itu seolah pangrango sudah memutuskan untuk bertahan di pembaringan.

Sementara di bawah kakinya beberapa kelompok manusia berjalan beriringan. Kelompok yang bercampur baik dari segi usia, gender pun profesi. Di satu kelompok nampak ibu-ibu yang menutup kepala dengan caping lebar diiringi anak -anak berseragam marah putih, di belakang mereka bapak-bapak bersepatu bot mengawasi. Di kelompok lain nampak laki-laki berseragam biru, kemeja biru lengan panjang berpadu dengan celana setelan. Berbeda dengan bapak-bapak bersepatu bot yang memegang parang, kelompok lelaki berseragam lenggang kangkung. Tidak ada perkakas tempur yang disandang. Mereka berjalan santai sambil menghisap rokok filter. Sesekali wajahnya menengadah ke atas, melepas asap yang memenuhi mulut. Diiringan lain ibu-ibu muda berlipstik tebal menuntun anak-anak kecil. Induk yang belum sampai sepuluh tahun melepas masa gadis masih belum kuasa meninggalkan keindahan di masa muda. Meski menenteng anak, perhatiannya seringkali bertumpu pada rombongan seragam biru. Sesekali mereka saling pandang, melempar senyum kepada rekannya di samping. Bisik-bisik sesama mamah muda pun menjalar. Beberapa menunduk malu, tapi ada juga yang berani terang-terangan menunjuk ke arah lelaki berseragam. Yang ditunjuk tersenyum renyah, seorang pemuda tinggi semampai. Kulitnya sawo matang, hidung mancung ditopang tulang pipi yang mencuat ke permukaan. Sementara biangnya asik dengan pandangan terlarang, anak-anak yang baru mulai sekolah berjalan pasrah. Kepalanya menunduk, kakinya menendang tanah.

Kelompok lain dihuni anak-anak yang beranjak remaja. Seragam mereka masih merah putih, tapi tinggi rata-rata kelompok ini sudah hampir setara mamah muda berlipstik tebal. Mereka berlari, memacu langkah sambil saling senggol. Ketika satu orang tersungkur, mencium tanah merah, tawa pun pecah. Anak yang barusan jatuh, langsung bangkit mengejar kawan yang menjatuhkannya. Kejar-kejaran berlangsung ramai dengan iringan tepuk dan teriak anggota kelompok. Si pengejar berlari kencang, tidak tahan ingin segera menimpakan dendam. Anak yang dikejar tidak mau jadi bulan-bulanan, dia berlari lebih kencang lagi. Saat tangan si pengejar hampir sampai di bahu, anak yang dikejar dengan gesit berbelok. Tangan yang hendak mencengkeram itu menabrak angin. Kejar-kejaran seperti ini biasanya berakhir dengan tawa, karena yang dikejar dan yang mengejar sama-sama paham, permainan apapun bentuknya adalah hiburan. Meski sakit terjembab ke tanah, sebagai bagian dari hiburan tidak usah ditangisi. Lebih sedap ditertawakan.

Tinggalkan Komentar