Dia adalah… Kamu

0
515

PROLOG

Jika ada satu hari yang membuat dadanya terhimpit hingga sesak, inilah harinya. Awalnya semua berjalan seperti hari-hari sebelumnya. Setiap pagi hari, dimana ayam jantan mulai membangunkan alam, Nindi dengan perlahan membuka mata dari tidur lelapnya. Membiasakan matanya dengan cahaya remang yang ada di kamar sederhananya yang berukuran kurang lebih 3×4 meter. Nindi mengerjap-ngerjapkan matanya lalu meraba-raba bawah bantalnya untuk mencari handphone yang sudah ditaruhnya tadi malam. Ketika melihat layar handphone tersebut, mata Nindi sedikit menyipit agar tidak terlalu banyak cahaya yang masuk kedalam matanya. Di layar handphonenya tertera hari, tanggal, dan waktu. Hari minggu, pukul 04.23 pagi hari, seminggu sebelum tahun ajaran baru dimulai. Suasana di rumah sederhananya pagi itu seperti biasa, semua sudah mulai beraktifitas. Suara ketel yang menandakan bahwa air yang di rebusnya sudah matang, suara tv di ruang keluarga yang menyiarkan sebuah berita pagi, suara guyuran air di kamar mandi yang menandakan bahwa kamar mandi tersebut sedang di pakai, dan juga sahutan ayam jantan khas pagi hari yang terus berkokok. Nindi meregangkan badannya yang masih berbaring kemudian mengambil posisi menyandarkan punggungnya di bantal yang sudah di atur dengan posisi berdiri di kepala tempat tidur. Nindi menatap lurus ke arah mading kecil yang dibuatnya dari bahan styrofoam yang di kelilingi oleh lampu hias LED berwarna warm white. Di tengah mading tersebut terdapat tulisan ‘SWISS’ dengan ukuran lebih besar dari note-note kecil yang ada di sekelilingnya. Ketika pikiran Nindi entah kemana, tiba-tiba ada suara ketukan di pintu kamar Nindi.

“Nindi bangun, ayo sholat subuh dulu udah siang nih.” itu suara Mama Nindi. Seperti biasa, Mama Nindi tak pernah absen membangunkan Nindi tepat pada pukul 04.30. Nindi yang sedang melamun sedikit tersentak dan menjawab, “Iya, Ma. Ini Nindi udah bangun kok.”

“Awas jangan tidur lagi, sholat subuh dulu.”

“Iya.”

Kemudian setelah itu terdengar suara langkah kaki yang menjauh. Nindi langsung menyibakkan selimutnya dan berdiri lalu menyalakan lampu kamarnya dan mematikan lampu hias LED yang selalu menemani malam hari ketika ia tidur. Untuk merapikan rambut panjangnya yang berantakan, Nindi mencari-cari ikat rambut diantara tumpukan kertas yang berserakan di atas meja belajar.

“Ketemu.” kemudian Nindi mengikatnya dan membuka pintu kamarnya untuk bergegas ke kamar mandi. Semerbak aroma roti bakar memenuhi rongga hidungnya ketika pintu kamarnya terbuka. Ya, seperti biasa, setiap pagi Mama Nindi selalu membuat roti tawar yang di bakar di atas teplon yang sudah dilumuri oleh mentega. Beliau selalu membuat roti bakar sebelum akhirnya memasak santapan pagi yang biasanya dihidangkan antara pukul setengah 7 sampai pukul setengah 8 pagi. Papa Nindi sudah berada di ruang keluarga sedang menatap layar TV yang menyiarkan berita sambil menyeruput kopi paginya. Ketika sadar Nindi sudah keluar kamar, Papa Nindi menengok ke arah Nindi dan berkata, “Kamu udah bangun, Nin. Sholat dulu sana.” dan lalu Nindi menjawab “Iya” sambil berjalan menuju kamar mandi yang sudah kosong.

***

Rutinitas pagi yang biasa Nindi lakukan sudah terlaksana. Sholat subuh, mandi, dan membereskan kamar sudah ia selesaikan. Kini Nindi sedang duduk di ruang keluarga bersama Papanya sambil menyantap roti bakar.

“Pa…”

“Hmm…?”

“A Arkha kemana, Pa?” tanya Nindi kepada Papanya karena sedari tadi Nindi tidak melihat kakak laki-lakinya itu. Yang ditanya sedang fokus dengan korannya. Setelah Nindi melakukan rutinitasnya tadi, layar TV sudah tak menjadi fokus perhatian Papanya karena acara berita pagi itu sudah selesai, dan kini Papa Nindi sedang membaca koran yang kemarin belum sempat beliau baca.

“Pa…” karena tak ditanggapi, Nindi kemudian memanggilnya lagi.

“Hmm…” lagi-lagi sahutannya seperti itu. Begitulah Papa Nindi jika sedang memfokuskan perhatiannya terhadap sesuatu hal.

“A Arkha kemana? Perasaan daritadi Nindi gak liat a Arkha deh.”

“Dia udah berangkat daritadi ke Sempur” Papa Nindi menjawab sekenanya. Nindi yang sudah memuaskan rasa penasarannya hanya ber’oh’ ria kemudian melanjutkan menyantap roti bakarnya yang sudah mulai dingin. Setelah itu, Nindi dan Papanya sibuk dengan kegiatannya masing-masing sambil menikmati suasana keluarga pagi hari walaupun Nindi hanya ditemani oleh Papanya.

Bicara tentang keluarga, Nindi merupakan anak bungsu dari 4 bersaudara di dalam keluarganya. Ia dilahirkan 17 tahun lalu pada tanggal 15 Februari 1996 di kota hujan ini, Kota Bogor, yang kemudian ia diberi nama dengan nama lengkap Nindia Anindita. Ia memiliki 3 orang kakak yang terdiri dari 2 orang kakak perempuan dan seorang kakak laki-laki. Kini yang menetap di rumahnya hanya kedua orang tuanya dan kakak laki-lakinya. Kedua kakak perempuannya tinggal bersama keluarga kecilnya. Kakak laki-laki Nindi bernama Muhammad Arkhana Syahputra. Umurnya hanya terpaut 3 tahun dengan Nindi. Bagi Nindi, Arkha hanya seorang kakak biasa yang sedikit cuek kepada adiknya, seorang kakak yang asik di ajak untuk bertengkar. Tak jarang mereka bertengkar hanya karena hal-hal sepele seperti memperebutkan menu makanan, memakai sepeda Nindi yang tak meminta izin kepadanya, memperebutkan pemakaian kamar mandi, bahkan saling mengejek hingga hal-hal sepele lainnya. Arkha berkuliah di salah satu universitas swasta di Jakarta dan tak mengambil kos di sana yang artian ia setiap hari pulang pergi Jakarta-Bogor. Papa Nindi hanya seorang pensiunan yang kini berprofesi sebagai ojek online dan Mama Nindi merupakan gambaran seorang ibu rumah tangga multitasking yang sangat luar biasa.

Mama Nindi yang masih berkutat dengan pekerjaannya di dapur tiba-tiba berseru memanggil Nindi dan kemudian dijawab oleh Nindi dengan pertanyaan yang singkat, “Kenapa, Ma?” jawab Nindi sambil memindahkan saluran TV dengan remote yang ada ditangannya.

“Kamu mau Mama buatin susu gak?”

“Iyaaa. Oh iya Ma, tolong buatin 2 yaaa susunya. Satu lagi di masukin ke botol minum aja.” pinta Nindi dengan suara yang nyaring. Yang dimintai tolong tak menyahut sama sekali. Mungkin beliau sudah mendengarnya… atau tidak. Entahlah. Mendengar permintaan Nindi itu, kini Papanya menutup koran yang beliau baca kemudian berkata, “Kamu ya bukannya bikin sendiri malah minta tolong bikinin ke Mama, gak sopan tau. Udah dewasa juga ya” dan yang di tegur hanya cengengesan. Tak lama kemudian, Papa Nindi mengingat sesuatu.

“Nin, kamu gak main sepeda ke Sempur?”

“Mau kok, Pa. Tadi minta bikinin susu ke Mama buat dibawa ke Sempur”

“Terus mau ke Sempur jam berapa? Udah siang juga.”

Dengan refleks, Nindi langsung melihat ke arah jam dinding yang menggantung di atas TV. Di sana bertengger jam dinding antik yang memiliki bandul kecil di bawahnya dan berbentuk, entahlah itu berbentuk oval sedikit memanjang. Pada jam tersebut, jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah 6 lewat 12 menit.

“Oh udah jam segini, kirain masih gelap.” kemudian Nindi berdiri berbarengan dengan Mama Nindi yang muncul dari arah dapur membawa segelas susu putih di tangan kanannya dan di tangannya yang lain sedang menggenggam sebuah botol. Melihat beliau, Nindi langsung berlari kecil menghampiri Mamanya dan membuka pintu kamar tidurnya.

“Nih susunya Mama simpen di meja belajar” sambil menaruh keduanya di meja belajar samping laptop yang tengah terbuka.

“Makasih Ma.”

“Hmm…” lalu Mama Nindi kembali menuju pekerjaannya didapur dan Nindi langsung menutup pintu untuk bersiap-siap pergi bersepeda.

***

Dengan kecepatan yang konstan, Nindi mengayuh sepedanya melalui perumahan sepi yang berada di dekat lapangan Sempur. Kini Nindi sudah mengayuh sepedanya sejauh ¾ perjalanan menuju lapangan Sempur. Nindi terus mengayuh sepedanya melewati rumah-rumah besar yang sepi, sesekali berhenti di bawah pohon rindang yang menjulang untuk sekedar meneguk air mineral yang ia beli di pinggir jalan raya. Udara pagi itu begitu menyejukkan. Angin menerpa wajahnya dan bermain-main dengan anak rambut yang tak terikat. Dengan ditemani lagu yang terus berputar di telinganya, Nindi mengayuh sepedanya sesuai dengan irama melodi yang ia nikmati.

Sepi.

Sendiri.

Itulah yang Nindi sukai. Kesunyian yang mendamaikan hati. Tak terasa kini Nindi sudah berada di portal keluar perumahan tersebut. Pejalan kaki dan pedagang kaki lima menyambutnya ketika Nindi mengayuh sepedanya keluar dari perumahan dan suasananya pun berubah 180 derajat. Suasana damai yang dirasakan Nindi berubah menjadi hingar bingar yang menyenangkan. Bagaimana tidak, lihatlah semua ekspresi wajah para pengunjung itu. Baik anak-anak, remaja, dewasa, ataupun lanjut usia, menampilkan senyum kebahagiaan. Tawa sekelompok orang dan bising perbincangan yang bersatu padu di taman ini. Beginilah suasana pada minggu pagi di sekitar lapangan Sempur. Taman Kencana di dominasi oleh pemuda-pemudi dan keluarga yang sedang lari pagi, alih-alih berolahraga, sebagian besar dari mereka pergi ke tempat ini hanya untuk sekedar mencari penghiburan semata setelah 5-6 hari menjalani hari-hari yang penat. Mereka terlihat bahagia. Nindi terus mengayuh sepedanya menuruni jalanan yang dipadati pejalan kaki lalu berbelok menuju lapangan Sempur. Di lapangan Sempur tak kalah ramainya dengan Taman Kencana hanya saja di sini memang di dominasi oleh orang-orang yang ingin berlari mengelilingi lapangan. Tak sedikit orang-orang yang memakai sepeda seperti Nindi. Nindi berkeliling mencari tempat untuk sekedar mengistirahatkan diri tetapi tak ada tempat yang dirasa pas untuknya. Kemudian ia mengayuh sepedanya menjauh dari keramaian lapangan Sempur dengan memasuki perumahan sekitar Sempur. Nindi sudah sangat hafal dengan daerah ini. Ia membawa sepedanya ke sebuah minimarket yang terletak tak jauh dari lapangan Sempur. Dengan cekatan, Nindi memarkirkan sepedanya dan memasuki mini market tersebut.

Beberapa saat kemudian, sebungkus stick keju sudah berada di tangannya. Sekeluarnya dari minimarket, Nindi berjalan menuju sepedanya dan mengambil sebotol susu yang tadi pagi dibuatkan oleh Mamanya kemudian ia memilih untuk duduk di kursi dan meja yang sudah di sediakan oleh pihak minimarket. Ia tak sendirian, di kursi lain pun ada seorang lelaki sedang menikmati sebotol minuman isotonik sambil memainkan handphone yang ada di genggamannya. Mereka saling terdiam seakan tak menyadari kehadiran satu sama lain. Hingga di menit berikutnya mereka bertemu pandang. Lelaki itu melihat ke arah Nindi ketika sedang meneguk minumannya dan alhasil ia tersedak. Minumannya sedikit tumpah dan membasahi daerah leher lelaki tersebut. Nindi yang merasa kasihan menawarkan sapu tangan yang selalu ia bawa dan kemudian diterima oleh lelaki itu.

“Thanks” katanya singkat sambil tersenyum kikuk. Nindi hanya menjawabnya dengan anggukan kecil. Sambil membersihkan lehernya, lelaki itu dan Nindi saling membisu. Setelah beberapa menit berlalu tanpa kata, akhirnya lelaki itu selesai dan mengembalikan sapu tangannya kepada Nindi.

“Sorry ya sapu tangannya jadi kotor.” kata lelaki itu dengan nada menyesal.

“Iya gak apa-apa kok.” Nindi membalasnya sambil mengambil sapu tangan tersebut dan tersenyum. Lelaki itu memperhatikan Nindi dengan seksama. Nindi yang sadar di perhatikan seperti itu merasa salah tingkah dan tak tahu harus bagaimana.

“Saya boleh tau gak kamu tinggal dimana?” lelaki itu tiba-tiba menanyakan tempat tinggal Nindi.

“Eh?” Sontak Nindi langsung waspada saat mendengar pertanyaan itu. Sadar akan keterkejutan Nindi, lelaki itu langsung meluruskan kesalahpahaman tersebut.

“Ah, sorry. Saya gak bermaksud apa-apa, tapi kayanya kita pernah ketemu.”

“Kayanya enggak deh”

“Tapi kok saya gak asing ya sama muka kamu,” Lelaki itu tetap dengan pendapatnya sambil mengingat-ingat dan kemudian wajahnya tiba-tiba cerah. “Oh iya, saya inget! Kamu…” belum sempat menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba lelaki itu menerima sebuah telepon. Lalu ia mengangkat panggilan tersebut. Nindi memperhatikan lelaki itu yang kini menjauh. Menilik ekspresinya. Panik. Setelah menutup panggilannya, lelaki itu langsung berjalan menuju motornya dengan tergesa-gesa, menstarter motor, memakai helm, dan pergi begitu saja. Nindi melongo melihat kepergian lelaki yang telah membuatnya penasaran dengan perkataan lelaki itu sebelumnya.

“Hah? Apa maksudnya sih?”

***

Tak ada satu hal pun yang terasa istimewa di hari minggu itu. Mungkin ada satu hal, yaitu kabar yang mengecewakan. Tepat pada minggu siang, Nindi mendapat sebuah email dari salah satu majalah remaja yang mengabarkan bahwa tulisan Nindi tidak dapat di terbitkan di majalah tersebut. Rasanya begitu sesak. Nyaris membuatnya menangis. Tak ada hal yang lebih mengecewakan lagi hari itu dibanding kabar tersebut. Nindi hanya duduk terpaku di samping tempat tidur dengan handphone yang masih tergenggam dengan lemas di tangan kanannya.

“Gagal lagi.” gumamnya lirih. Tak lama kemudian, handphone yang dipegang oleh Nindi bergetar pertanda ada pesan masuk. Ia membuka pesan tersebut. Pesan grup. Di sana tertera nama sang pengirim pesan, Tyas. Rupanya pesan tersebut berisi undangan untuk temu kangen di rumah Tyas menjelang libur panjang sekolah akan segera berakhir. Ternyata libur panjang tak terasa akan segera berakhir secepat ini. Dan dengan begitu masa SMA pun akan segera berakhir dalam jangka waktu kurang dari 1 tahun dimulai dari sekarang. Tak banyak prestasi yang Nindi ukir di masa SMAnya, tak banyak kenangan indah yang tertulis selain kenangan bersama sahabat-sahabatnya. Yang ada hanya kenangan yang tak begitu menyenangkan yang berkaitan dengan hatinya. Begitu pun dengan prestasinya. Bahkan selama 2 tahun masa SMAnya, Nindi belum pernah berhasil menembuskan ceritanya ke majalah manapun. Itu yang sangat Nindi sesalkan. Jika dalam hal akademik, bisa dibilang Nindi lumayan baik. Ia selalu memasuki peringkat 5 besar. Walaupun sebenarnya Nindi sanggup untuk memasuki 3 besar, ia hanya tak ingin menjadi pusat perhatian orang-orang apalagi orang yang mendekatinya hanya karena alasan akademis.

Menanggapi undangan dari Tyas, akhirnya Nindi memutuskan untuk pergi sekitar pukul 3 sore hari. Tersisa waktu 2 jam untuk persiapan. Tak banyak yang Nindi lakukan untuk persiapan ke rumah Tyas. Sholat dzuhur sudah, mandi pun sudah, dan kini Nindi hanya duduk di teras rumah dengan ditemani sebuah novel di tangannya dan segelas sirup dingin tersimpan di atas meja. Langit tidak begitu cerah. Sedikit awan hitam menggantung sambil berjalan perlahan terbawa semilir angin siang itu. Sesekali sinar matahari dengan malu-malu menampakkan dirinya. Walau sedikit awan hitam menghiasi langit siang itu, tapi tak ada tanda-tanda bahwa hujan lebat akan segera turun. Di tengah-tengah kegiatan membacanya, Nindi mendengar suara pintu pagar sedang dibuka. Kemudian ia menghentikan aktifitasnya dan melihat ke arah sumber suara untuk memastikan siapa yang datang. Arkha. Setelah menutup pintu pagar, Arkha berjalan menuju pintu rumah dan berhenti di teras rumah hanya untuk sekedar menjahili adik bungsunya yang kembali berkutat dengan novel yang ada di tangannya. Tanpa babibu, Arkha langsung mengambil gelas yang di atas meja dan menengguk habis isinya hanya dalam beberapa kali tegukkan. Kemudian Arkha mendesah lega yang dibuat-buat sambil melirik ke arah Nindi menunggu tanggapan darinya. Melihat kelakuan kakaknya itu, Nindi menjadi geram.

“Iiiiiiiihh… a Arkhaaaaaa!!!” sembur Nindi. Nindi langsung melempar novelnya pada target yang bernamakan Arkha. Dan dengan sigap, Arkha menghindari lemparan itu dengan mudah dengan tawa meledek. Ketika Arkha melihat Nindi akan melancarkan serangan yang kedua, Arkha dengan cekatan melempar handuk kecil yang tersampir di lehernya ke arah Nindi sehingga kepalanya tertutup oleh handuk tersebut dan kemudian segera berlari ke dalam rumah untuk menghindari amukkan Nindi.

“Iiiiih, a Arkha rese banget sih lo!” teriak Nindi sambil menyingkirkan handuk dari kepalanya.

“Nindi apa-apaan sih kamu teriak-teriak gitu, kaya anak kecil.” terdengar omelan Mama Nindi dari dalam rumah. Nindi yang mendengar omelan tersebut langsung menggerutu pelan sambil mengambil buku novelnya yang tadi ia lempar lalu masuk ke dalam rumah dan menutup pintu.

***

Sore itu rintikan hujan mulai membasahi kota Bogor. Intensitas hujan saat itu bisa terbilang rendah hingga matahari pun masih bisa menampakkan sinarnya (istilah orang sunda biasa disebut hujan Poyan). Walaupun hujan saat itu terbilang rendah, tapi masih bisa membuat sekujur tubuh menjadi basah kuyup jika kita nekat menerjangnya. Nindi yang saat itu berada di halte merasa bersyukur telah membawa payung karena sebelum ia berangkat, ia sudah melihat sedikit awan hitam. Prinsip Nindi yang selalu ‘sedia payung sebelum hujan’ memang selalu membantu. Nindi selalu mempersiapkan segala sesuatunya untuk menghadapi jika kemungkinan yang terburuknya terjadi.

10 menit terlewati semenjak ia turun dari angkot pertama yang ia naiki. Angkot berikutnya yang ia tunggu tak kunjung datang. Angkot yang saat ini sedang ditunggu Nindi bisa terbilang jarang. Jumlahnya dibatasi karena akan digantikan oleh bus kota. Di halte itu Nindi hanya duduk sendiri. Sambil menunggu, Nindi mengambil handphonenya dari dalam tas selempang yang ada di pangkuannya lalu memasangkan earphone ke telinganya dan kemudian sebuah lagu mengalun lembut di telinganya. Meskipun lalu lalang kendaraan menghiasi pandangannya, tapi Nindi menikmati suasana sore itu disamping ia telah mendapatkan berita mengecewakan karena ia menyukai hujan. Ketika sedang asyik menunggu angkot sambil menikmati lagu, tiba-tiba seorang lelaki berlari dan berhenti di halte tersebut. Ia memakai jaket abu dengan hoodie menutup kepalanya dan sebuah tas gendong tersampir di bahu kirinya. Wajahnya tak terlihat karena hoodie yang ia pakai menutupi pandangan Nindi yang ada di belakang lelaki itu. Jaketnya terlihat basah. Napasnya sedikit memburu sesaat dan di menit berikutnya napasnya kembali normal. Nindi hanya sedikit memperhatikan tingkah pendatang baru itu. Okay… bukan sedikit memperhatikan, tetapi benar-benar memperhatikan. Lelaki itu kini berdiri di tepian halte sambil menepuk-nepuk jaketnya yang basah tanpa menyingkirkan hoodie yang menutupi kepalanya. Lelaki itu melihat ke bawah dan Nindi pun mengikuti arah pandangannya. Tali sepatu ketsnya lepas. Dengan gerakan pasrah, lelaki itu berlutut untuk mengikat simpul tali sepatunya. Dan saat lelaki itu sedang mengikat tali sepatunya, tiba-tiba…

“Woy, kalau nyetir yang bener dong!” Lelaki itu merutuk pengemudi mobil yang tidak tahu diri. Badan lelaki itu dipenuhi oleh cipratan air kotor. Nindi yang melihat kejadian itu refleks mengambil sapu tangan yang ada di dalam tasnya dan berdiri menghampiri lelaki itu.

“Sorry” kata Nindi sambil mengulurkan sapu tangannya. Ini kedua kalinya dalam sehari ia memberikan sapu tangan ke lelaki yang tak dikenalnya.

Kemudian lelaki itu menengok ke arah perempuan yang ada di sampingnya yang sedang mengulurkan sebuah sapu tangan. Lelaki itu untuk beberapa saat hanya menatap Nindi. Nindi sedari tadi tak berani menatap lelaki itu karena merasa bersalah karena sedari tadi sudah memperhatikannya secara diam-diam. Lelaki itu kemudian menyadarkan dirinya dan mengambil sapu tangan yang diulurkan oleh Nindi.

“Ah, oh thanks ya” setelah mengambil sapu tangan, lelaki itu kemudian membersihkan badannya sambil sesekali melihat wajah Nindi. Nindi yang saat itu sedang menghadap ke jalan raya, tiba-tiba menjulurkan tangannya untuk menghentikan angkot. Setelah angkot itu berhenti dihadapannya, Nindi langsung menaiki angkot itu sambil mengucapkan, “gue duluan ya” tanpa berani melihat wajah lelaki itu.

“Eh tunggu,” Lelaki itu hanya mampu mengatakan setengah kalimatnya ketika angkot itu sudah pergi menjauh, “…sapu tangan lo”.

 

 

Bersambung…

Tinggalkan Komentar