Cinta itu Duka (bag 12)

0
122

Mataku bergeser, dari ujung kertas ke ujung meja. Dua bola mata tajam bertemu dengan bola mataku. Aku tertunduk.

“Sudah dibaca semua, lim?”

“Belum, pak. Tinggal satu lagi.”

“Baca semua sampai tuntas”

“Baik pak”

Sehelai kertas terakhir aku buka.

 

DIPONEGORO

Di masa pembangunan ini

Tuan hidup kembali

Dan bara kagum menjadi api

Di depan sekali tuan menanti

Tak gentar, lawan banyaknya seratus kali

Pedang di kanan, keris di kiri

Berselempang semangat yang tak bisa mati

Maju

Ini barisan tak bergenderang berpalu

Keprcayaan tanda menyerbu

Sekali berarti

Sudah itu mati

Maju

Bagimu negri

Menyediakan api

Punah di atas menghamba

Binasa di atas ditinta

Sungguhpun dalam ajal baru tercapai

Jika hidup harus merasai

Maju

Serbu

Serang

Terjang

Sosok pria berjubah duduk di atas punggung kuda. Tangan kiri menggengam tali kekang, tangan kanan mengacungkan keris. Angin mengibarkan bagian bawah jubah. Kepalanya ditutup sorban. Wajahnya tenang, tatapannya menikam. Kuda meringkik, sepasang kaki depan terangkat ke udara. Dadanya berdegup, mengikuti pekikan takbir dari mulutnya.

Aku mengenal dia. Ksatria dari kraton mataram. Darah biru mengalir di sekujur tubuhnya. Kemewahan istana mengililingi hidupnya. Apa yang didamba kebanyakan orang sudha dimilikinya. Tapi dia merasa tidak nyaman. Kasur empuk, air hangat, hidangan lezat tidak membuatnya terlenan. Dia terluka oleh kenyataan. Rakyat jelata sengsara. Mereka dipaksa kerja tanpa iba. Mereka menanam padi, tapi tidak boleh memanen. Mereka diperbudak bangsa asing. Panggilan jiwa memaksanya minggat dari istana. Dia kobarkan semangat jihad. Perang melawan kebatilan.

Diponegoro, sebuah nama legenda. Pejuang tanah jawa yang membuat sengsara Belanda. Rakyat yang tertindas dibuatnya berdaya. Bergerak merebut senjata. Berperang demi kehormatan bangsa. Diponegoro maju langsung ke tengah pertempuran. Komando pasukan, kibarkan bendera perjuangan. Musuh berkali lipat tidak jadi halangan. Meski hanya sehelai nyawa di badan, tak gentar menerjang. Perjuangan menuntut pengorbanan.

Begitu yang aku tahu dari guru sejarah. Pangeran Diponegoro, putra sulung Sultan Hamengkubuana III, raja ketiga kesultanan Yogyakarta. Dia terlahir sebagai Raden Mas Ontowiryo, November 1785. Sejak kecil sudah senang belajar agama. Lebih senang tinggal di Tegalrejo bersama eyang putrinya. Ontowiryo kecil merasa nyaman bergaul dengan rakyat kecil. Baginya kehidupan sesungguhnya ada di antara anak-anak petani, profesi paling banyak digeluti masyarakat Jawa.

Saat Belanda menguasai Jogja. Berlaku semenan-mena terhadap rakyat jelata, Diponogoro mengangkat senjata. Dia kobarkan perang sabil. Ajaran Islam yang mengaliri deras tubuhnya menjadi pemicu semangat. Hidup mulia, atau mati syahid. Selama 5 tahun diponogoro melawan penjajah, 15.000 tentara belanda tewas. Bangsa asing tersebut merugi 20 juta gulden. Kalap dengan kekalahan yang diderita, Belanda membuat sayembara. Hadiah 50.000 gulden disiapkan bagi siapa saja yang bisa menangkap Diponegoro.

“Sudah tentukan pilihan, lim” suara pak beri memutus khayalku.

“iiiya, pak”

“Bagus. Kamu harus latihan serius. Ingat tulang belulang yang berbaris antara Karawang-Bekasi. Mereka meregang nyawa bukan percuma. Kemerdekaan ini harus diisi dengan keseriusan. Anak muda pantang sia-siakan peluang. Kamu harus tampil memukau. Hadirkan Chairil di atas panggung”

“Iiiya, pak” Kembali aku tergugup.

“Kamu boleh kembali ke kelas sekarang!”

Tidak menunggu lama, aku ulurkan tangn mengambil tangan kekar guru gagah itu. Ku cium tanganya seolah seorang prajurit yang hendak meminta restu pergi berjuang. Aku akan berjuang, meski baru sekedar membacakan puisi perjuangan.

Kakiku mantap meninggalkan kantor guru. Tiba-tiba sekelebat wajah menerpa pandang. Gadis berkepang dua masuk ke ruang guru di saat kakiku melangkah ke luar. Ada desir aneh di balik seragam sekolahku. Desiran yang aku belum paham, apa namanya. Seketika aku balik badan. Si kepang dua pun menolehkan kepala. Dua bola mata, bulat seperti pingpong mengadu dengan mataku. Lentik bulu matanya menambah indah bola pingpong. Ada senyum kecil terselip di bibir. Aku terkesima. Seperti sedang berada di tempat lain. Tapi entah di mana. Yang pasti desiran di balik seragam sekolah bertambah kuat.

“Halim, cepat kembali ke kelas!”

Suara itu mencabut kakiku yang barusan terbang. Kembali memijak tanah. Dan berlalu pergi. Tapi bola mata itu, senyum itu, tidak mungkin pergi.

Tinggalkan Komentar