Kitab Suci itu Fiksi (?); Ruang Diskusi di tengah Permainan Politisi

0
497

Jagad media informasi belakangan terakhir ini ramai memperbincangkan kata fiksi, berawal dari ramalan salah satu tokoh politik Nasional yang memprediksikan Negara Indonesia akan bubar pada tahun 2030. Pro dan kontra tidak terelakkan, antara pendukung dan penentangnya. Tetapi karena ramalan itu didasarkan pada sebuah karya fiksi, maka di sinilah masalahnya. Apakah ramalan itu akan benar-benar terjadi? Atau apakah baiknya diabaikan saja tanpa perlu antisipasi? Sebagian pihak mencoba menghubung-hubungkan realitas hari ini dengan berbagai kondisi yang memungkinkan ramalan itu terjadi. Pihak yang lainnya melihat ramalan itu tidak lebih dari bayangan kosong, karena didasarkan pada fiksi.

Dalam tayangan di salah satu stasiun televisi swasta nasional, Rocky Gerung mencoba menyampaikan komentarnya terkait makna kata fiksi yang sering dikaburkan dengan kata fiktif. Pengamat politik dari Universitas Indonesia itu mengatakan bahwa fiksi berbeda dengan fiktif. Jika yang pertama berkonotasi positif, yang kedua memiliki konotasi negatif. Kesimpulannya, kurang lebih, fiksi tidak selalu fiktif. Dari sini ia dengan yakin mengatakan bahwa Kitab Suci adalah fiksi: suatu komentar yang sangat sensitif karena menyangkut keimanan.

Dalam literature keislaman, sikap Gerung membawa ingatan kita pada apa yang terjadi terhadap Tāhā Hussein (w. 1973) beberapa dekade yang lalu. Menganggap kisah Nabi Ismāʻīl dalam Alqur’an sebagai fiksi, dirinya terseret dalam tuduhan telah menistakan agama. Kalimat Hussein, “Disebutkannya kisah (qiṣṣah) Nabi Ibrāhīm dan Ismāʻīl dalam kitab Taurāt dan Alqur’an tidak cukup utk membuktikan faktualitas kisah itu secara historis” (Fī al-Adab al-Jāhilī, 1926: 26) dipahami secara beragam. Bagi penentangnya, kalimat itu dianggap sebagai petunjuk kuat bahwa Hussein mengingkari keberadaan kedua Nabi itu sekaligus kisah mereka dalam Alqur’an. Hussein pun diadili. Beberapa media bahkan membuat berita dengan headline dengan nada sangat pejoratif, di antaranya: “Tāhā Hessein Menyiapkan Pulpen Merah untuk Mengoreksi Alqur’an”. Pandangan Hussein gagal dipahami oleh penentangnya.

Alqur’an –dengan narasinya tentang hal-hal gaib, tentang peristiwa sejarah, berita (naba’) kejadian yang akan datang, gambaran surga dan neraka– kerap menggunakan aneka gaya bahasa utk membangkitkan semangat orang agar tetap berada pada petunjuk agama yang -saya juga yakini- benar. Dalam penggunaan gaya bahasa itu, majāz (metafora) di antaranya, beberapa kosa-kata tidak dimaknai secara literal. Kalimat “Langit turun di tanah kami yang kering” tentu tidak faktual bahwa langit benar-benar telah rubuh. Yang faktual adalah turunnya hujan. Penggunaan kata “langit” utk makna hujan adalah untuk menambah kuat rasa bahasanya. Ini termasuk penggunaan sekian banyak gaya bahasa yang kita kenal dalam ilmu Balagah.

Demikian juga dengan narasi kejadian masa lalu. Alih-alih menyebutkan detil peristiwa sejarah (teringat dengan Muḥammad Khalafullāh Aḥmad dlm bukunya Al-Fann al-Qaṣaṣī fī al-Qur’ān al-Karīm), Alqur’an lebih menekankan pada iʻtibār (pesan/pelajaran) yang bisa diambil dari peristiwa-peristiwa itu. Lalu apakah peristiwa masa lalu itu faktual? Tentu saja, sejauh yang bisa dibuktikan secara empirik. Anda pun melihat, betapa banyak ayat-Nya yang telah terbukti.

Sementara untuk hal-hal yang akan datang, termasuk gambaran surga dan neraka, meskipun belum bisa dibuktikan (karena memang belum terjadi), yang terpenting bagi seorang Muslim adalah meyakininya. Dan untuk menanamkan keyakinan, Alqur’an tidak luput juga menggunakan narasi yang dapat dengan mudah ditangkap akal manusia, terutama konteks masyarakat padang pasir yang kering dan panas di mana Alqur’an turun. Kita akan menemukan ayat-ayat eskatologis yang kaya dengan penggunaan metafora, metonimi, personifikasi, dan sejumlah gaya bahasa (uslūb) lainnya.

Karenanya dari sisi uslūb ini, Alqur’an dapat disebut sebagai fiksi. Lebih tepatnya, mengandung unsur fiksi. Di dalam ilmu sastra, uslūb inilah yang berperan membangkitkan sekaligus menentukan kuat atau lemahnya imajinasi (khayāl) dan perasaan (ʻāthifah) terhadap ide/gagasan (fikroh) yg ada dalam karya sastra. Sementara gagasan itu sendiri bisa saja berdasarkan fakta, bisa juga tidak.

Di sinilah kesalahan orang-orang yang menuduh Hussein: mereka tidak membedakan fiksi dengan fiktif. Dengan sifat Alqur’an yang fiksional, Hessein dianggap telah menodai agama karena -dalam pendangan mereka- ia telah mengingkari faktualitas narasi Alqur’an. Dengan mengaitkan kitab suci dengan fiksi, Hussein dituduh telah menyuarakan bahwa Alqur’an itu -meski pada bagian tertentu- fiktif: tidak sesuai dengan kenyataan. Padahal tidak demikian. Maksud kata-kata Hussein di muka adalah bahwa faktualitas kisah di dalam Alqur’an, jika memang ini yang dicari, harus didasarkan pada pembuktian empirik secara historis. Artinya Kitab Suci jangan dijadikan sebagai alat bukti, kendatipun sebagai seorang beriman semua yang ada di dalamnya harus diyakini sepenuhnya.

Respons yang datang dari kalimat Hussein yang provokatif terus berdatangan, sesuai dengan bidang kajian masing-masing. Buku Hussein , “Fī al-Adab al-Jāhilī”, yang sebenarnya ditujukan untuk membahas historisitas puisi Jahiliyah itu ditanggapi dari berbagai perspektif. Saya, dalam tesis magister yang saya tulis, termasuk yang tidak setuju dengan simpulan Hussein tentang fabrikasi syi’ir Jahily secara masif. Banyak juga penulis yang meneliti historisitas kisah-kisah dalam Alqur’an, tidak kurang dari penelitian tentang aspek estetis di dalamnya. Kajian-kajian inilah -dalam sudut pandang Hussein- yang sebenarnya secara keilmuan membuat isyarat-isyarat dalam Alqur’an dianggap memadai sebagai fakta sejarah, bukan isyarat-isyarat dari ayat Alqur’an itu. Sayang, Hussein tidak memberikan cukup penjelasan tentang maksudnya menyitir kedua kisah Nabi di atas sehingga menyulut reaksi yang sangat keras. Sungguh pun demikian, ia telah berhasil dengan provokasinya dalam menghidupkan kembali kajian ilmiah di negerinya, Mesir.

Menengok jauh ke belakang, sekitar dua belas abad yang lalu perdebatan ini begitu mengemuka. Ibnu Qutaibah (w. 276 H) turut andil dalam diskusi hangat ini, yang darinya lahir pula sejumlah gagasan yang meramaikan kajian bahasa dan sastra pada fase embrionalnya itu sebagai pijakan untuk perkembangan berikutnya. Dalam pandangan Ibnu Qutaibah, naẓm Alqur’an (dikenal dengan teori konstruksi), yang di dalamnya kental dengan unsur fiksi, justru menjadi salah satu aspek kemukjizatan kitab suci itu yang kemudian dikembangkan lebih luas oleh ʻAbdul Qāhir al-Jurjānī.

Bila ditelisik, unsur fiksi dalam Alqur’an banyak ditemukan pada ayat-ayat yang oleh para ulama dikategorikan sebagai ayat mutasyābihāt, yang Ibnu Qutaibah sebut dengan istilah musykil (problematis). Disebut problematis karena di satu sisi, ayat-ayat mutasyābihāt sering dijadikan oleh orang yang tidak beriman sebagai argumen kerancuan bahasa Alqur’an dibandingkan dengan yang lazim dikenal dalam bahasa Arab. Sementara itu sebagian ulama memilih untuk bungkam menyerahkan maknanya hanya diketahui oleh Allah; ulama lain dari kelompok Mu’tazilah menawarkan ta’wīl yang belum jelas pula perangkat dan mekanismenya. Karenanya dalam bukunya “Ta’wīl Musykil al-Qur’ān”, Ibnu Qutaibah menyadari betapa peliknya menyoal ayat-ayat ini.

Sungguh pun demikian, Ibnu Qutaibah meyakinkan bahwa ayat-ayat yang problematis itu dapat dipahami dengan perangkat ilmu sastra. Ia pun menyodorkan konsep majāz yang sebelumnya diperkenalkan Abū ʻUbaidah. Menurutnya, majāz merupakan “cara dan pilihan cara” yang pas dalam mengatakan sesuatu (tarīqat l-qaul wa ma’ākhiẑuhū), yang pada masanya masih mencakup berbagai macam uslūb dan belum terpisah satu sama lain seperti saat ini. Dengan perangkat majāz, ia pun dapat mengungkap naẓm Alqur’an secara global sebagai rahasia mukjizat bahasa Alqur’an yang sulit, dan tidak akan pernah bisa, ditemukan dalam perkataan manusia.

Diterima atau tidak, diskursus tentang fiksi sebagai salah satu unsur yang melekat pada kitab suci telah mewarnai dan memperkaya literatur keislaman dan kajian sastra bahasa. Karenanya diskursus ini betapapun sensitifnya, baiknya tidak buru-buru diseret ke ranah hukum: sikap yang juga saya tunjukkan terkait dugaan penodaan terhadap Surat Al-Maidah beberapa waktu lalu. Sebab lapor-melapor hanya akan membungkam diskusi di tengah permainan politisi. Cukuplah Tāhā Hussein yang menjadi korban atas keberaniannya menyampaikan buah pikirannya. Wallahu a’lam.

Cairo, 15 April 2018

Lalu Turjiman Ahmad

(Cand. Doktor di Institute of Arab Research and Studies, ALECSO, Mesir)

Tinggalkan Komentar