Cinta itu Duka (bag 9)

0
297

“Bapak Presiden sudah punya rencana hebat. Tepat tanggal 17 Agustus pesawat terbang buatan Indonesia akan diterbangkan. Ini sejarah besar. Indonesia membuka mata dunia. Negara kita sudah setara dengan negara Amerika dan Eropa. Kita sudah bisa buat pesawat sendiri. Lebih hebat dari Jepang yang membuat mobil dan motor.”

Sorot mata Pak Beri penuh gelora. Seolah beliau yang akan menjadi pilot pesawat. Terbang dilangit nusantara. Menjadi kebanggaan bangsa. Aku ikut terpesona. Indonesia luar biasa. Tanah airku tercinta.

“Semua warga harus ikut merayakan Indonesia emas. Termasuk sekolah kita.”

“Sekolah kita ikut ke Jakarta, pak? Lihat pesawat buatan Indonesia terbang?”

Aku tidak sabar ingin menjadi bagian dari sejarah. Menatap langit dengan penuh bangga. Indonesia sudah setara Amerika dan Eropa. Akan kuceritakan kisah ini kelak kepada anak keturunanku. Bahwa bapaknya menjadi saksi mata peristiwa bersejarah. Indonesia emas.

“Tidak. Kita adakan perayaan Indonesai Emas di sekolah.”

Anganku yang sempat terbang langsung terhempas ke tanah.

Pak Beri memberitahuku sekolah mengadakan lomba deklamasi puisi perjuangan. Setiap kelas harus mengirim minimal satu orang peserta. Lomba ini menjadi napak tilas perjuangan pahlawan bangsa. Sebelum merdeka para pejuang melakukan perlawanan keras terhadap penjajah. Semua orang Indonesia mengambil peran. Jenderal Soedirman bersama pasukannya melakukan perang gerilya. Mereka masuk keluar hutan untuk melancarkan serangan siluman. Mereka hanya menyerang saat musuh lengah. Setelah berhasil menikam, mereka kembali masuk ke hutan. Musuh dibuat sengsara. Seolah mereka berperang dengan makhluk gaib. Ada serangan, jatuh korban dan seketika penyerang sudah tidak nampak oleh mata. Gadis-gadis berlomba masuk palang merah. Mereka yang merawat prajurit sakit. Memberi semangat untuk terus berjuang. Ibu-ibu tidak mau kalah. Mereka yang menyiapkan bekal bagi para pejuang.

Bung Karno tidak pernah angkat senjata, beliau berjuang di atas podium dan dibalik meja. Perjuangan tidak mesti lewat senjata. Melalui diplomasi yang dilakukan Bung Karno dan kawan-kawannya penjajah tidak berani semena-mena terhadap bangsa Indonesia. Satu lagi, Charil Anwar. Dia tidak ikut perang dengan pasukan Jenderal Soedirman. Dia tidak masuk kelompok Bung Karno yang berjuang lewat meja diplomasi. Dia berjuang lewat kata. Perjuangan yang ditulis indah dalam rima sajak menyentuh. Chairil berjuang dalam puisi.

Lewat puisi, Chairil mengabadikan perjuangan Pangeran Diponegoro. Dia pun melukisan ketabahan rakyat Indonesia yang rela meregang nyawa demi merdeka. Mereka mati di sepanjang Karawang dan Bekasi. Chairil merekam semangat pantang menyerah para pejuang dalam puisi Maju. Chairil juga menulis perjanjianya dengan Bung Karno. Puisi-puisi Charil Anwar bagai suara genderang yang terus menyemangati pejuang mempertahankan kemerdekaan.

Sekolah ingin semua siswa merenungi arti merdeka. Meresapi besarnya pengorbanan para pahlawan. Meneladani tingginya semangat berjuang. Meyakini betapa kemerdekaan ini mahal harganya. Betapa merdeka itu sangat berharga. Jutaan orang terkubur demi merdeka. Sangat tidak sopan apabila kemerdekaan ini disia-sia. Generasi muda harus berjuang. Semangat melawan kebodohan. Berjuang menghantam kemalasan.

“Kamu harus ikut lomba puisi. Ini bukan tentang menang atau kalah. Ini bagian dari perjuangan anak muda.”

Tinggalkan Komentar