Cinta itu Duka (bag 8)

0
189

Begitulah kisah pertama aku berkenalan dengan puisi. Waktu itu aku masih duduk di kelas 5 SD. Menyambut hari kemerdekaan Republik Indonesia, sekolah mengadakan lomba-lomba. Berbeda dari tahun sebelumnya, kali ini ada lomba deklamasi puisi. Aku ditunjuk oleh bapak wali kelas menjadi perwakilan. Entah alasan apa yang melandasi penunjukan itu. Mungkin karena nilai matematikaku paling tinggi di kelas. Tapi apa kaitannya nilai matematika dengan puisi? Hanya pak wali kelas yang tahu.

Saat lonceng akhir berbunyi, bapak wali kelas memanggilku ke kantor. Teman-teman berhamburan, seperti laron setelah hujan. Pulang sekolah menjadi tradisi yang paling indah untuk dilewati. Teriakan horee menjalar ke setiap ruang. Wajah murung yang lama terkurung dalam ruang kelas hilang tanpa bekas. Semua bergembira. Pulang ke rumah, main bersama. Aku tertinggal.

Aku ketuk pintu ruang guru sambil menguluk salam.

“Masuk, Lim.”

Terdengar suara pak wali kelas dari dalam ruang. Suara yang khas, tinggi tapi tetap sopan. Guruku yang satu ini kelahiran Subang, kuliah di Bandung dan mengajar di Bogor. Posturnya tinggi, kalau beliau berdiri di bawah kusen pintu, kepalanya hanya berjarak lima jari dari puncak kusen. Hobinya silat, sudah punya sabuk hitam. Semua murid segan kepada beliau. Mereka memanggilnya Pak Beri.

Saat aku masuk pak Beri sedang berdiri menghadap jendela. Punggungnya yang lurus dibalut kemeja biru nampak kontras dengan kusen jendela yang sudah rapuh dimakan rayap. Aku tatap apa yang beliau lihat, batang singkong mulai tumbuhkan tunas. Terik siang terserap hijau daun. Kibasan angin menyapu cahaya.

Pak Beri membalik badan. Matanya menatapku. Rasa takut merayapi hatiku. Aku hitung segala kelakuan yang aku perbuat satu hari ini. Tadi pagi aku masuk kelas tepat waktu. Bahkan aku datang nomor lima setelah rombongan anak perempuan yang rumahnya di belakang sekolah. Di kelas aku tidak tidur. Saat Pak Beri menulis rangkuman pelajaran di papan tulis, aku menyalinnya ke buku. Tiada kesalahan untuk hari ini. Sejenak aku tenang.

“Kamu tahu kenapa bapak panggil?”

Lamunanku buyar.

“Tidak pak.”

“Sebentar lagi perayaan tujuhbelasan. Tahun ini istimewa. Negara kita sudah merdeka 50 tahun. Coba kamu hitung dari 45 sampai 95. Pas limapuluh kan?”

Aku menggangguk.

“Limapuluh angka istimewa. Orang bilang angka emas. Hari jadi yang kelimapuluh berarti hari jadi emas. Indonesia emas, tinggal landas. Semua warga negara harus merayakan dengan cara yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.”

“Lomba balap karung dan makan kerupuk dihapus pak?”

“hus, kamu ini. Tetap ada. Lomba-lomba yang jadi ciri khas tujuhbelasan tetap ada. Panjat pinang juga harus ada. Itu namanya melestarikan budaya. Kebiasaan yang baik tidak usah diganggu.”

Dahiku reflek menggerut. Belum bisa mengangkap kaitan antara tujuhbelasan, Indonesia emas, cara berbeda, melesatrikan budaya dan pemanggilanku ke kantor.

Tinggalkan Komentar