Cinta itu Duka (bag 7)

0
112

Andai matahari berhati

Mungkin dia sudah mati

Bagaimana tidak

Baru saja dia melirik bulan

Angin menutupnya dengan awan

 

Pagi yang sama datang setiap awal hari. Rutinitas pun terjadi. Matahari seolah terbangun setelah ayam berkokok. Wajah pucatnya menakuti awan hitam malam. Langit pun perlahan membuka selimut kabut. Bergerombol burung meninggalkan dahan-dahan tempatnya bermalam, terbang ke pematang sawah. Hewan ternak seolah kompak berteriak. Kambing mengembek, sapi dan kerbau melenguh, meminta jatah sarapan. Pak tani tergopoh memotong mimpi. Menjejalkan setumpuk jerami ke muka mulut-mulut yang sudah tidak sabar memamah.

Sementara itu seorang anak Sekolah Dasar sedang menimba air. Satu bak ukuran 2 kali 1 meter dalamnya 60 centi harus terisi. Tangannya yang belum juga ditumbuhi bulu berjibaku dengan tali karet berwarna hitam. Timba itu telah melumuri jarinya dengan warna kelam. Tapi hatinya tetap riang. Ember demi ember dia timba. Tidak terasa sudah lebih dua puluh kali dia menarik tali. Penuh sudah bak mandi.

“Ibu, bak mandi sudah penuh” anak itu melapor pada ibunya.

Ibu segera membawa dua orang anak kecil ke sumur. Rituan mandi pagi berlangsung khidmat. Anak itu menunggu giliran. Sambil menanti, dia rogoh saku celana. Selembar kertas berlabuh di tangannya.

Aku

Kalau sampai waktuku

Ku mau tak seorang kan merayu

Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang

Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku

Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari

Berlari

Hingga hilang pedih perih

Anak laki-laki itu awalnya hanya membaca dalam hati. Setiap kata dia resapi. Nafasnya mulai mengiringi rima puisi. Tangannya tidak terasa bergerak sendiri. Dari duduk lantas dia berdiri. Pecah sunyi. Lantang dia berteriak.

Dan aku akan lebih tidak peduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

Angin berhenti berhembus, burung pipit ternganga kicaunya terhenti di tengah, dahan-dahan pohon merundukkan rantingnya, lemas tak berdaya daun-daun terkulai, ayam jantan yang sedang mengejar betina mendadak diam dalam posisi satu kaki terangkat, ayam betina yang dikejar mengapung sepuluh senti dari tanah kedua sayapnya terbentang. Pause.

“Halim, cepat mandi. Jangan teriak-teriak kayak tukang obat di pasar saja.”

Ibu sudah sudah selesai mandi.

Tinggalkan Komentar