Cinta itu Duka (bag 6)

0
73

12 hari sudah berlalu. Aku terbujur kaku. Semua orang mulai datang menjenguk. Bayi yang belum lama hidup itu sudah mendapat cobaan berat. Suatu pagi di hari ke13, Kiyai Somad datang. Tokoh karismatik itu mendengar kabar dari jama’ah pengajian. Ahmad Akbar jatuh sakit. Dengan penuh sopan ayah yang sudah tidak kerja satu minggu mempersilahkan Kiyai Somad masuk kamar. Doa terucap dari lisan laki-laki penuh ilmu. Setelah itu lama beliau diam.

“Ganti saja namanya.” Keheningan pun pecah.

Menurut Kiyai Somad aku keberatan nama. Ahmad Akbar itu nama yang bagus, tapi tidak cocok bagiku. Sakitku bukan semata karena medis. Faktor yang dominan adalah nama. Dibawa berobat kemana saja, akan sulit sembuh. Kalau ayah dan ibu mau aku cepat sembuh, pilihannya hanya satu, ganti nama. Ayah hanya mengangguk, setiap ucapan kiyai diamini.

Satu kali lagi kenduri terjadi di rumah. Untuk merubah nama harus ada selamatan. Manusia makhluk lemah, hanya Allah yang Kuasa lagi Perkasa. Manusia harus berserah. Menyerahkan putusan terbaik kepada Allah. Manusia pun harus berusaha. Karena Allah tidak akan merubah nasib tanpa ada usaha manusia. Tapi usahanya tidak boleh membawa dia menjauh dari Allah. Usaha dan pasrah manusia harus saling berkaitan. Bergandeng tangan seperti dua orang mempelai. Perpaduan usaha dan pasrah Itu tercermin dalam doa. Selamatan adalah bentuk komunal doa. Jika satu orang berdoa itu baik, maka lebih baik lagi kalau banyak orang berdoa. Gotongroyong doa menurut Kiyai Abdul Somad telah turun temurun dilaksanakan para ulama.

Aku pun berganti nama.

Halim.

 

Tinggalkan Komentar