Cinta itu Duka (bag 5)

0
37

Seminggu setelah itu, ibu panik. Aku tidak mau menyusu. Sudah dipaksa pun belum juga mau. Bahkan apa yang ada di dalam perutku terlontar keluar. Badanku panas. Mukaku pias.

“Harus dibawa ke bidan.” ayah berseru.

“Jangan dibawa ke bidan dulu.” Seseorang dari balik pintu menginterpensi. Ayah dan ibu mengenal suara itu. Mereka pun keluar kamar. Ibu lebih dahulu menghampiri wanita pemilik suara lantang tersebut.

“Akbar badannya panas umi, tidak mau nyusu.”

Perempuan yang dipanggil umi itu segera meraih badanku. Digendong aku, dipegang kening dan pipiku. Dicium juga mulutku.

“Paling masuk angin. Dipijit saja sama Mak Iyah.”

Ayah tidak dapat bersuara. Ibu pun mengangguk lesu. Aku dibawa paksa ke rumah dukun anak Mak Iyah.

Rumah Mak Iyah dipenuhi ibu-ibu. Semuanya menggendong anak, dari mulai bayi seperti aku sampai anak kelas 1 Sekolah Dasar. Semunya digendong. Termasuk anak yang baru sekolah. Ada tangis dari dalam bilik. Mak Iyah sedang bekerja. Lolongan yang memekakkan telinga itu disambut gelisah oleh anak-anak yang berada dalam gendongan.

“Mamah pulang, pulang mah” Jerit seorang anak perempuan berbaju merah.

“Enggak mau, enggakkk” Anak lain sudah tidak bisa dibujuk lagi.

“hu…hu…” sementara yang belum bisa bicara, menangis.

Ibu-ibu tidak mau kalah dengan gertakan anaknya. Ada yang mengimingi mainan, boneka buat anak perempuan, mobil-mobilan buat anak laki-laki. Ada yang membeli chiki, coklat, sukro atau permen karet. Saat bujukan tidak mempan, ibu-ibu mulai melakukan penyerangan. Seorang ibu gendut membuka kedua mata seolah mau keluar. Diarahkan kedua bola mata yang hampir copot itu ke mata anaknya. Si anak merinding. Tambah kencang tangisnya. Dua kali takut dia. Takut dipijit Mak Iyah dan takut dipelototin ibunya.

Suasana semakin lama semakin mencekam. Seperti antri di depan pintu neraka saja.

Satu ibu keluar dari biliki, satu ibu masuk berikut gendongannya. Anak yang masih kecil meraung. Ibunya tidak tahan untuk tidak mencubit. Akhirnya si anak pun kena cubit dan tetap dipijat.

Meski penuh horror, klinik pijat Mak Iyah tidak pernah sepi. Setiap hari puluhan ibu menggendong bayi. Mereka rela antri sambil belajar sabar menangani pemberontakan anak. Karena ibu-ibu sudah tahu persis kehebatan Mak Iyah. Bayi sakit apapun bisa sembuh hanya dengan dipijat. Sakit panas, batuk pilek, keseleo, masuk angin, radang tenggorokan, gondokan, mata belekan, tidak bisa tidur karena diganggu jin, nangis kejer tanpa air mata, semuanya bisa disembuhkan. Ada satu pantangan Mak Iyah. Dukun anak itu tidak mau terima pasien penyakit kulit.

Aku pun dibawa masuk ke bilik Mak Iyah. Sederet doa dirapalkan dukun anak kawakan itu. Minyak kelapa dibalur ke bagian tubuh yang mau dipijat. Dimulai dari kaki, punggung, badan, tangan dan terakhir kepala. Seperti disulap. Sim Salabim, diusap Mak Iyah penyakit langsung minggat.

Pulang dari rumah dukun anak, aku langsung nangis. Ibu kasih susu. Tenang.

Ibu senang. Ayah senang. Nenek lebih senang lagi. Pilihannya pijit ke Mak Iyah berbuah sukses.

Dua hari kemudian aku kembali tidak mau nyusu lagi. Gempar lah seisi rumah. Opsi Mak Iyah muncul lagi. Aku pun dibawa ke dukun anak untuk kedua kalinya. Setelah dipijit sembuh, hari berikutnya kambuh. Terus begitu sampai lima kali bolak balik sekujur badanku dipijit. Ibu sudah tidak bisa lagi ikut kata nenek. Aku dibawa ke bidan diam-diam.

Analisa bidan, aku masuk angin. Tepat seperti prediksi Mak Iyah. Bidan memberi obat yang harus diminum ibu. Aku masih bayi tidak mungkin dikasih zat kimia. Dari air susu, ibu mentrasfer obat kepadaku. Masalahnya aku tidak mau nyusu.

Bidan pun gagal.