Cinta itu Duka (bag 4)

0
38

Mulai hari itu namaku Akbar, lengkapnya Ahmad Akbar. Dua nama sepasang kekasih yang dipadukan. Ahmad adalah nama Rasulullah dan Akbar salah satu asma Allah yang mulia.

Tujuh hari setelah kelahiran, Nenek mengundang banyak tetangga datang ke rumah. Pak Kiyai Abdul Somad turut hadir membawa beberapa orang santri. Beliau yang didaulat sebagai pemimpin ritual asrakalan.

Di kampung kami sudah menjadi tradisi turun-temurun setiap keluarga yang mendapat bayi mengadakan kenduri. Waktunya tepat di hari ketujuh setelah bayi lahir. Di pagi hari sohibul hajat memotong kambing. Bagi anak laki-laki dua ekor, sedangkan anak perempuan cukup satu. Daging kambing dimasak manis. Biasanya disemur. Bagian ini menjadi hal yang sangat sakral. Orang tua menjadi polisi sekaligus hakim. Tidak boleh ada rasa pedas. Cabai dari mulai yang hijau, merah sampai rawit haram hukumnya. JIka sekali-kali ada yang melanggar, orang-orang tua di kampung langsung bertindak tegas. Lebih tegas dari polisi lalu lintas. Menjelang malam setelah sholat magrib masyarakat sekitar kumpul di rumah sohibul hajat.

Acara dimulai dengan membaca al-fatihah kepada kanjeng Rasul, para sahabat, pengikut beliau dan ulama penyebar agama islam. Al-fatihah juga dikirim untuk arwah keluarga, sesepuh masyarakat setempat dan semua muslimin yang lebih dulu meninggalkan dunia fana. Selanjutnya pembacaan Barjanzi, kitab yang berisi riwayat hidup Nabi Muhammad. Kiyai membaca barjanzi dengan nada tertentu. Konon lagam lagunya tidak boleh sembarang dirubah. Pamali kata orang tua. Lagam lagu itu diijazahkan dari pengarang ke muridnya, dari muridnya ke pengikut muridnya, terus demikian sampai ke pak kiyai. Ini yang oleh sesepuh kampung disebut sanad. Urutan pemberi ijazah pertama sampai penerima terakhir.

Puncak acara asrakalan ditandai dengan mahalul qiyam, saat semua hadirin peserta riungan berdiri di tempat. Kiyai membaca shalawat asraqal, diikuti oleh hadirin. Ayah menggendongku dengan gendongan kain berwarna merah, di belakangnya paman membawa nampan berisi mangkuk yang sudah dilengkapi air mawar, kembang tujuh rupa dan gunting kecil. Aku dibawa mengelilingi hadirin. Titik awal ada di hadapan kiyai Abdul Somad. Kiyai karismatik itu mengelus kepalaku, mengambil gunting dan memotong bebeberapa helai rambut. Berikutnya pun demikian, setiap kali ayah berhenti di hadapan hadirin, beberapa helai rambutku terpotong. Tidak semua peserta riungan berhak memotong rambutku. Hanya orang tua dan beberapa santri senior yang berhak memotong rambut. Peserta lain hanya mengusap kepalaku sambil membaca shalawat.

Di malam itu namaku diproklamirkan. Ahmad Akbar, sebuah nama yang terinspirasi dari kalimah thoyyibah Lailahailallah Muhammadurasulallah. Ahmad merujuk kepada nama Nabi SAW penyeru risalah langit yang membawa manusia dari kegelapan kufur menuju benderang iman. Dengan menyandang nama Ahmad, ayah berharap aku menjadi penyeru kebaikan. Akbar salah satu asmaul husna, yang artinya Maha Besar. Harapan ayah aku dapat menjadi hamba yang senantiasa mengagungkan Tuhannya. Selain itu nama Akbar identik dengan malam kelahiranku. Harapan itu pun diamini oleh seluruh hadirin. Resmilah aku sebagai anak manusia yang sudah bisa dipanggil nama. Akbar

Acara ditutup dengan doa dan pembagian besek.