Cinta itu Duka (bag 3)

0
157

Ayah begong.

“Kain dan gunting buat apa, ma?”

Ditanya mantunya, ema hanya geleng kepala. Ketegangan nampak di air muka perempuan yang sudah banyak menyaksikan pergantian malam dan siang. Meski ema sudah belasan kali melahirkan, masih saja menyimpan kekhawatiran. Malahirkan itu misteri yang sulit ditebak. Proses perjuangan antara hidup dan mati. Banyak cerita tentang kematian ibu waktu melahirkan. Banyak juga bayi yang mati bahkan sebelum dilahirkan. Bahkan ada ibu dan bayi yang mati bersamaan. Semuanya tidak bisa diduga. Bayi yang lahir hidup pun belum tentu sempurna raganya. Hanya Allah yang tahu. Dia yang telah menulis ketentuan setiap anak manusia. Manusia hanya bisa pasrah. Menyerahkan sepenuh nasib kepada Yang Maha Kuasa.

Ayah segera beranjak. Dicarinya kamar mandi. Sholat adalah pelarian yang paling tepat dalam kondisi bingung sangat.

“oa…oa…oa…”

Sebelum tuntas robbana atina fi ad-dunya hasanah wa fil akhira hasanah.., samar terdengar suara tangis bayi. Ayah yang sedang munajat di mushola belakang rumah bu bidan, segera menyempurnakan doa, waqina adzabanar walhamdulillahi rabbil al-amien. Pria tinggi kurus itu mencium kabar gembira.

Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar

Lailahaillallahu Allahu Akbar

Allahu Akbar Walillahilhamdu

Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar

Lailahaillallahu Allahu Akbar

Allahu Akbar Walillahilhamdu

“Selamat pak, putranya lahir normal.” Bu bidan mengulurkan tangan.

Ada titik air bening di ujung mata ayah.

“Lahir pas malam takbir, cocok dikasih nama Akbar.” Bu bidan tanpa diminta, memberi saran nama.

Ayah hanya tersenyum. Belum sempat pria kurus tinggi itu mengingat nama buat anaknya. Dia masih sibuk mengatur hati. Mendamaikan dada yang masih gemuruh. Haru biru tersapu angin mengantar ombak melepas buih. Saat buih itu pecah, dia langsung teringat samudera yang melahirkannya.

Segera ayah menghampiri ibu di ruang persalinan.

Aku terbujur sebagai sosok bayi merah. Tepat di samping ibu. Belum mampu membuka mata. Hanya bibir yang bergerak perlahan menandakan di dalam diri ada kehidupan. Gunting pemotong tali pusarku masih tergeletak di dalam baskom stenlis. Kain batik warna coklat menutupi bagian bawah tubuh ibu.

Ayah mengecupku perlahan. Ada aroma bahagia dalam sentuhannya, meski canggung masih mendominasi.

“Anak kita lahir di malam takbir. Kita namai dia Akbar”

Ibu mengangguk dalam senyuman.

Tinggalkan Komentar