Cinta itu Duka (bag 2)

0
249

“Astagfirullahal adzim, Allau Akbar, Allahu lailahailla huwa alhayyulqoyyum..”

Sepontan ayah merapalkan ayat pengusir roh jahat. Tangannya sudah pasang jurus pelontar musuh. Makhluk apapun akan dihadapi. Jin ifrit, sundal bolong, kalong wewe, gunderewo sekalipun siap dilawan. Membela diri dan keluarga hukumnya wajib. Kiyai Abdul Somad bahkan menyatakan di kitab tertulis, mati mempertahankan harga diri dan keluarga dihitung syahid. Sudah bulat tekad ayah.

“Eh… tenang-tenang ieu abdi mang Jajang.[1]

“Astagfirullahal adzim mang Jajang, bikin kaget saja.”

“Mang Jajang lagi ngapain di sini?”

“Kan amang tinggal dekat sini, tuh rumah amang di belakang kandang” Pria dusun itu menunjuk ke arah utara.

Ayah sampai lupa barusan melewati rumah mang Jajang. Satu-satunya rumah sebelum belokan ke lima arah ke jalan raya.

“Tadi pertanyaan saya belum dijawab.”

“Oh, hampir lupa saya. Ini mau antar istri ke rumah bu bidan.” Ibu yang dari tadi sudah lemas, hanya bisa mengangguk.

Mang Jajang melempar pandang ke perut ibu.

“Mau melahirkan? Cuma berdua saja?”

“Sama ema, Itu..”

Belum selesai ayah menjawab pertanyaan, ema sudah ada di depan.

“Cepetan atuh, ema mah buru-buru ini malah santai. Pake ngobrol segala.”

“Mau ke bu bidan, ma? Biar saya antar pakai dokar.”

Memecah kekikukan, mang Jajang menawarkan jasa. Semua orang tahu profesi pria yang sudah lama ditinggal mati istri ini. Dari muda dia sudah dekat dengan kuda. Jajang dan kuda bagai dua sejoli yang tidak bisa dipisahkan. Apalagi istrinya meninggal tanpa meninggalkan keturunan. Jadilah kuda penawar kesepian mang Jajang. Rumahnya saja ada di belakang kandang kuda. Orang kampung dibuat bingung, kenapa rumah kuda lebih utama. Kalau mau nganjang ke mang Jajang, harus nyapa kuda dulu.

Mang Jajang segera mengeluarkan kuda dari kandang. Sekejap saja, kereta kuda sudah terpasang. Dokar pun siap berangkat. Ayah naik duluan. Dari atas dokar, dipegang tangan istrinya. Emak mengawasi di bawah. Orang hamil harus diperlakukan special.

Kurang setengah jam, dokar sudah tiba di pekarangan rumah bu bidan. Segera ayah menggandeng istrinya. Kebetulan di rumah bu bidan tidak ada pasien lain.

“Aduh, sudah pembukaan tujuh.”

“Irma, cepet bawain kain sama gunting” tegas bu bidan memanggil sekaligus memberi perintah kepada asistennya.

[1] Tenang, ini saya mang Jajang

Tinggalkan Komentar