Liburan ke Singapura bersama Santri Nulis

0
216

 

Tanggal 25 November 2017 menjelang magrib, pesawat Air Asia yang kami tumpangi itu akhirnya mendarat di bandar udara internasional Changi Singapura. Pemandangannya terasa berbeda dari pemandangan di bandara nasional atau lokal di Indonesia. Di bandara ini, kita melihat beraneka ragam jenis manusia, mulai dari orang-orang berkulit putih dan bermata sipit dari etnis Cina sampai pada orang-orang berkulit hitam berperawakan besar dari etnis India. Penduduk Singapura ini memang beragam, terdiri dari etnis Cina, Melayu, India, berbagai keturunan Asia, dan Kaukasoid. Bahasa yang didengar di bandara ini tidak lagi bahasa Indonesia, tetapi bahasa Inggris. Gumamku, kita sudah resmi berada di luar negeri.

Setelah keluar dari bandara, bus mini melaju mengantarkan kami ke tempat penginapan. Ku pandangi jalan raya Singapura yang sangat bersih dan rapi. Rapi karena tidak banyak kendaraan yang lalu lalang. Sangat sulit sekali mendapati penduduk Singapura mengendarai motor, mereka lebih senang mengendarai mobil atau naik angkutan umum, seperti bus mini. Karena itu, meskipun Singapura termasuk salah satu negara yang paling padat di dunia, tetapi kita tidak akan menemukan kemacetan sebagaimana mudah ditemui di Jakarta.

Sesampainya di penginapan, kami memutuskan untuk melepas penat sebentar, lalu setelah melaksanakan sholat isya, kami menyantap makan malam di sebuah tempat makan di dekat hotel. Aku dan Sidiq memesan nasi goreng porsi medium, sedangkan kak Arwani, kak Sulis, kak Helda, dan kak Esa memesan porsi small. Ternyata, porsi medium itu hampir tiga kali lipat dari porsi yang kita makan di Indonesia. Kami berdua akhirnya menyerah tidak bisa menghabiskan nasi goreng itu.

Di hari kedua, kami terlambat menemui bus travel yang sudah menunggu kami di depan hotel. Karena sudah jengkel, si sopir melaju kencang meninggalkan kami. Ingat, orang-orang Singapura sangat menghargai ketepatan waktu, tidak ada toleransi bagi yang terlambat. Akhirnya kami menaiki grab mengejar travel tersebut. Setelah sekian lama mencari, kamipun berhasil menemui mereka di Marlion Park. Terlihat tatapan mereka yang sinis terhadap ulah kami. Satu lagi pelajaran yang bisa dipetik. Kalau kita bepergian ke suatu negara, usahakan tidak usah menaiki travel karena kita harus menyesuaikan diri dengan jadwal mereka sehingga kita tidak bisa puas menikmati liburan kita tersebut.

Di siang harinya, kami memutuskan tidak lagi mau naik travel. Kami lalu memesan grab menuju Mesjid Sultan. Di mesjid ini, aku menyempatkan untuk mendirikan sholat sunat. Persis di depan mesjid, terdapat sebuah pasar yang dikenal sebagai pasar Kampung Bugis. Konon, menurut pengakuan beberapa orang, berbelanja di tempat ini jauh lebih murah dari pada berbelanja di tempat lain di Singapura. Kesempatan ini aku gunakan untuk membeli oleh-oleh, seperti kaos, gantungan kunci, mug, dan lain-lain.

Dari Kampung Bugis, kami menuju Garden by the Bay, sebuah taman raksasa yang berada di tengah kota Singapura. Di dalamnya terdapat pohon-pohon raksasa dan berbagai jenis flora yang sangat indah. Dari brosur tertulis bahwa di dalamnya terdapat lebih dari 250 ribu tanaman langka dari berbagai penjuru dunia. Di dalamnya juga terdapat air terjun. Kami terus berjalan hingga tiba di titik tertinggi hutan itu yang dikenal dengan cloud forest, hutan berawan. Sebuah pertunjukan lampu (light performance) dari berbagai pohon raksasa yang diiringi lantunan musik nan syahdu menutup perjalanan kami di Garden by the Bay malam itu. Sungguh spektakuler.

Di hari terakhir, meskipun sedikit gerimis, tidak menghalangi kami untuk mengunjungi berbagai tempat wisata lainnya. Setelah berfoto manja di depan Marlion Park (di hari sebelumnya kami tidak puas berada di Marlion Park karena travel yang kami tumpangi mengharuskan segera pergi ke tempat lain), kami berjalan menuju Perpustakaan Nasional Singapura. Perpustakaan ini berada di sebuah gedung bertingkat yang sangat tinggi, entah berapa lantai. Di dalamnya terdapat berbagai macam hikayat, literatur, buku, artikel tentang kebudayaan Nusantara, meliputi cerita Pandawa, sejarah kerajaan Cirebon, Palembang, dan berbagai kesultanan di Indonesia.

Tempat wisata paling keren yang kami kunjungi selanjutnya adalah Madame Tussauds yang berisi patung lilin dari tokoh-tokoh terkenal dunia. Aku sangat senang karena bisa berfoto dengan patung lilin Ir. Soekarno, Mahatma Ghandi, Barrack Obama, dan tokoh-tokoh lain. Oh ya, selain patung Ir. Soekarno, di sini juga ada patung dari tokoh Indonesia lainnya, yaitu pak presiden Joko Widodo. Ah, ini kesempatan untuk merangkul pak Jokowi, meskipun hanya patungnya, karena tidak mungkin itu bisa dilakukan di Indonesia. Yang tak kalah bahagianya adalah aku bisa berfoto dengan artis Bollywood idolaku, Shahru Khan. Sebelumnya aku tidak pernah tahu kalau di Singapura terdapat wahana Madame Tussauds. Yang aku tahu hanya terdapat di Inggris, sehingga aku pernah bercita-cita ingin ke Inggris agar dapat berfoto dengan patung lilinnya Shahru Khan, tetapi Allah kemudian menjawab doa itu dengan memberikanku liburan gratis ke Singapura. Alhamdulillah, terima kasih Santri Nulis.

Tinggalkan Komentar