Sebelum Keberangkatan Dari UQI ke Al-Azhar

0
846

(Oleh: Hudaili Abdul Hamid, Mahasiswa Universitas al-Azhar, Kairo, Mesir)

Al-Azhar. Sebuah nama yang tidak asing lagi di telinga kita. Pusat pendidikan keislaman yang sangat terkenal, berpusat di Kairo, Mesir. Setiap orang yang lahir di lingkungan pendidikan keislaman, khususnya pesantren, akan mempunyai mimpi dan cita-cita agar suatu saat nanti dapat melanjutkan pendidikan tinggi di pusat pendidikan keislaman tersebut.

Sebut saja Huda, ia mengenal al-Azhar sejak masih belajar di Pesantren Modern Ummul Quro Al-Islami, Bogor, Jawa Barat. Perkenalan dia pertama kali melalui majalah al-Azhar al-Syarif, yang ditemukan di atas meja tamu di rumah pamannya, saat berlibur ke rumah pamannya di bekasi, karena kekurangan biaya untuk pulang ke kampungnya yang jauh. Majalah tersebut menggunakan bahasa arab formal, yang dikenal dengan al-fushah. Artikel-artikel yang dimuat berisi tentang pemikiran keislaman yang up to date, dan beberapa artikel lainya tentang hukum islam, sastra dan tafsir.

A. Chanfi Ahmed (2001) dalam Islamic Mission in Subsaharan Africa : The Prespective of Some Ulama Associated with The Al-Azhar University (1960-1970) menyatakan, majalah al-Azhar merupakan salah satu upaya proliferasi pandangan keislaman ala ulama al-Azhar ke berbagai penjuru dunia, baik umat islam yang merupakan kalangan mayoritas maupun kalangan minoritas. Majalah ini sangat efektif untuk menyebarkan ajaran islam dan bahasa arab, dan yang terpenting adalah paham yang diajarkan oleh al-Azhar. Sebat itu, tidak sedikit mereka yang tertarik untuk melanjutkan studi ke Universitas al-Azhar setelah membaca majalah al-Azhar al-Syarief.

Bagi seorang yang baru belajar bahasa arab, tentu majalah tersebut menjadi sesuatu yang sangat luar biasa. Sebab dalam usia masih muda, Huda sudah diperkenalkan pada sebuah majalah bahasa arab dengan bobot keilmuan yang sangat tinggi dan kualitas bahasa yang tinggi pula. Huda langsung membaca majalah tersebut dengan seksama.

Kesan pertamanya, bahwa pusat keilmuan yang menerbitkan majalah tersebut merupakan sebuah lembaga keagamaan yang mempunyai reputasi internasional. Betapa tidak, tulisan-tulisan yang dimuat di dalamnya sangat berbobot, indah dan memotret perkembangan umat islam dari berbagai penjuru dunia. Salah satu rubrik yang sangat diminati oleh Huda adalah rubrik Khutbah Jum’at, karena biasanya rubrik tersebut dapat dijadikan referensi dan bahan untuk muhadharah. Yaitu, praktik pidato dan ceramah berbahasa arab yang setidaknya satu kali dalam seminggu. Jika materi khutbah atau pidato bahasa Indonesia biasanya bisa diambil dari buku-buku khutbah yang dijual di toko buku pesantren,maka materi pidato bahasa arab hanya bisa didapatkan dari majalah-majalah yang berbahasa arab, salah satunya dari majalah al-Azhar al-Syarief atau naskah-naskah khutbah yang berbahasa arab yang dikarang oleh K.H.Helmy Abdul Mubin, Lc. Pimpinan Pesantren Ummul Quro Al-Islami.

Bagi seorang santri pemula, cara terbaik dan termudah untuk mendapatkan materi pidato, yaitu dengan cara menghafal naskah pidato yang sudah tersedia dalam majalah-majalah yang berbahasa arab, diantaranya majalah al-Azhar al-Syarief yang terbit setiap bulan di Mesir. Saat itu, Huda merasa sangat bangga karena seolah-olah menjadi mahasiswa al-Azhar, yang sedang berpidato layaknya Shalahuddin al-Ayyubi. Seorang panglima perang yang mampu membakar heroisme balatentaranya.

Sejak itulah muncul keinginan kuat dari diri Huda untuk melanjutkan studi ke salah satu universitas ternama di dunia itu. Al-Azhar adalah pelabuhan intelektual yang tepat untuk mengembangkan minatku terhadap studi keislaman (islamic studies). Apalagi saat itu, di jagat studi keislaman di Tanah Air sedang booming karya Prof. Dr. M. Quraish Shihab, MA. yang burjudul Tafsir Al-Misbah. Seorang pakar studi Al-Qur’an yang tidak lain adalah lulusan Universitas al-Azhar. Kekagumanku kepada al-Azhar semakin besar, karena mampu melahirkan para ulama yang mempunyai wawasan keislaman luas.

Huda termotivasi untuk belajar sungguh-sungguh, sehingga suatu saat nanti memdapatkan kesempatan belajar di Universitas tertua nan ternama. Satu-satunya jalan yang akan melapangkan studinya ke al-Azhar adalah prestasi akademik. Baginya yang lahir dan tumbuh dalam keluarga yang serba pas-pasan, tidak ada jalan lain kecuali kerja keras untuk mendapatkan solusi yang terbaik.

Sebenarnya, selain al-Azhar ada dua lembaga terkenal di dalam dan luar negeri yang juga menyediakan beasiswa untuk Huda. Yaitu Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Fakultas Dirasat Islamiyah, Jakarta dan Lembaga Pasiad di Istanbul, Turki. Entah, Huda kurang tertarik untuk melanjutkan studi ke dua lembaga tersebut. padahal peluangnya sama-sama besar, terutama bagi santri yang memiliki prestasi akademik di atas rata-rata. Tetapi, niat Huda untuk melanjutkan studi di al-Azhar sangat kokoh, tak mungkin di terpa badai sekalipun. Jika harus memilih antara Universitas al-Azhardengan kedua lembaga di Jakarta, Indonesia dan Istanbul, Turki tersebut, pilihannya pasti ke al-Azhar, Mesir.
Padahal beasiswa yang dipromosikan di Istanbul, jauh lebih besar dengan fasilitas yang relatif menggiurkan. Tetapi, iming-iming seperti itu sama sekali tidak menggoyahkan keinginannya untuk melanjutkan studi ke Uivesitas al-Azhar, Mesir. Di pesantren, Huda sudah terbiasa membaca buku-buku dan artikel opini yang ditulis oleh Emha Ainun Nadjib, Nurcholish Madjid, M. Musthafa Ya’kub, Quraish Shihab dan lain-lain. Mereka adalah sungai pemikiran dan keilmuan yang tidak pernah kering dan menggugah kesadaran Huda untuk mencapai cita-citanya lebih tinggi.

Latar intelektual tersebut telah membuatnya lebih tertarik untuk menempuh pendidikan tinggi di Universitas al-Azhar dari pada universitas-universitas lainnya. Dia ingin menjadi seorang pemikir muslim yang dapat menjelaskan keilmuan islam secara luas dan tidak memperlakukan pihak lain secara otoriter. Dia tidak ingin cepat-cepat menyesatkan pihak lain yang berbeda pandangan dan pendapat. Sebab kata “sesat” adalah otoritas tuhan, bukan otoritas hamba-Nya. Di dalam Al-Qur’an disebutkan, Sungguh, Tuhanmu, Dialah yang pa-ling mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya; dan Dialah yang paling me-ngetahui siapa orang yang mendapat petunjuk (QS. al-Qalam [68]:7).

Seperti biasa, setiap santri yang akan lulus dari Pesentren Modern Ummul Quro Al-Islami, Bogor, Jawa Barat, dianjurkan memiliki catatan progres dan target yang akan yang diambil untuk tahun selanjutnya. Seperti para santri lainnya, Huda dengan lancar memutuskan dan menulis di catatan pribadinya, bahwa Univesitas al-Azhar akan menjadi pelabuhan intelektualnya salam fase itu. Dia inginmengikuti jejak Quraish Shihab, sebagai ahli tafsir Al-Qur’an yang mempunyai pandangan inklusif, modern dan memperkokoh ikatan keindonesiaan. Salah satu rujukan utama adalah buku Membumikan Al-Qur’an yang dibeli dari toko buku Gramedia di Bogor. Huda pun bermimpi, suatu saat nanti bisa menulis buku tentang Al-Qur’an dan lautan makna yang tersimpan di dalamnya. Tentu, setelah lulus dari Universitas al-Azhar nanti.

Bagi seorang santri yang masih sangat muda pada masa itu, pilihan untuk kuliah di Universitas al-Azhar merupakan sebuah keberanian dan nekad. Bagaimana mungkin, seorang yang datang jauh dari pulau Kalimantan Barat, tepatnya di pontianak, hanya ingin belajar di pesantren yang berlokasi di tengah kampung kecamatan Leuwiliang, Bogor, mampu menembus langit keilmuan hingga ke Mesir. Salah seorang temannya hanya berkomentar sinis, “Apakah kamu sudah mempertimbangkan matang-matang tentang biaya yang dibutuhkan dan resiko yang harus dihadapi untuk kuliah di sana?”
Huda hanya tersenyum mendengarkan komentarnya. “Allah SWT tidak akan tinggal diam atas keinginan dan permohonan hamba-Nya. Bukankah kita telah diajarkan oleh Asatidz di pesantren, sebagaimana tertera dalam Al-Qur’an, memintalah kepada-Ku niscaya aku akan penuhi permintaanmu.

Bagi seorang santri yang di tempa dalam pendidikan keagamaan, tidak ada pilihan lain kecuali mempunyai optimisme yang tinggi sembari meminta kepada Pencipta langi dan bumi agar mimpi dan cita-cita menjadi sebuah kenyataan. Apalagi disebutkan dalam sebuah Hadist Nabi, bahwa do’a dalah senjata yang paling ampuh bagi seorang mikmin.
Akhirnya, Huda lulus di pesantren sesuai dengan harapan. Nilainya, alhamdulillah, sangat bagus. Tidak seperti santri yang lainnya, orang tuanya pada saat itu tidak pernah tahu tentang prestasiku di pesantren. Sebagai anak yang lahir dari keluarga yang kurang berpendidikan, ia tidak pernah berharap bahwa orang tuanya tahu bahwasanya selama di pessantren selalu menjadi santri berprestasi. Bagi orang tuanya, cukup baginya menjadi orang baik yang berguna bagi bangsa dan masyarakat. Soal prestasi, hal itu tidak menjadi perhitungannya.

Di malam muhasabah, malam terakhir kebersamaanya dengan teman-teman seperjuangan, merupakan hal yang sangat penting sebelum acara wisuda. Karena pada saat itulah Huda dan teman-temannya saling meminta maaf dan keikhlasan apabila ada salah selama di pesantren. Bahagia bernuansa duka, bahagia karena telah lulus di pesantren dan duka karena akan berpisah. Sahabat-sahabt karib membisiki telinga Huda saat berpelukan, mereka berharap agar Huda dapat menggapai cita-citanya untuk melanjutkan stidi ke Universitas al-Azhar di Mesir. “Ana yakin antum pasti bisa Huda, kamu mempunyai bakat dan kemampuan yang luar biasa, mudah-mudahan kita selalu ingat pesan kiyai, tanamkan sejarah yang baik, dimanapun kaki berpijak, semangat terus” ujar Dony Kukuh, teman Huda dari Manokwari, Papua.

Dukungan Dony dan sahabat-sahabat membuat Huda terpacu untuk mencicipi lezatnya ilmu di al-Azhar. Jika semula, sahabatsahabatnya meragukan kemampuannya bahkan mengejeknya untuk bisa belajar ke al-Azhar, terutama karena alasan finansial, tetapi setelah malam muhasabah mereka memompa semangat agar Huda tetap pada pendirian semula untuk menjadikan al-Azhar sebagai pelabuhan intelektualku.
Naamun, untuk mewujudkan mimpi itu tidak semudah membalikkan kedua belah tangan. Huda harus memikirkan bagaimana caranya agar bisa lulus dan berangkat. Agar bisa menginjakkan kaki di bumi al-Azhar. Orang tuanya pasti tidak akan mampu mengeluarkan uang puluhan juta untuk membiayai segala kebutuhan belajar di al-Azhar. Jamgankan ke al-Azhar, untuk biaya sekolahnya di pesantren saja, orang tuanya hrus banting tulang, sang-malam, mengarungi kebun. Sebagai seorang guru honorer dan petani, ayahnya setiap pagi dan sore harus berbantal keringat dan berselimut panas.
Untung saja, selama di pesantren Huda mendapatkan keringanan biaya SPP, karena kebaikan Pimpinan Pesantren. Orang tuanya selalu mengirim uang melalui rekening Bank Ust. Miiftah (Alm) dan disisakan uang seratus ribu rupiah untuk uang jajan selama sebulan. Huda pun jarang sekali minta izin ke Wali Kelas untuk pergi ke pasar saat hari libur KBM, karena takut tidak bisa menjaga hawa nafsu. Ia lebih senang jajan di dalam pesantren saja, karena lebih terasa kebersamaannya.

Pesantren Modern Ummul Quro Al-Islami, baginya mempunyai pengaruh yang sangat kuat dalam pertumbuhan diriku. Di pesantren ini, Huda diajarkan pentingnya “kebebasan berpikir”, berdisiplin menghargai waktu, organisasi. Ia tidak hanya belajar aqidah sebagai landasan pegangan dan prisip dalam hidup, tetapi juga belajar logika dan ilmu jiwa yang merupakan salah satu yang terpenting untuk memahami akidah tersebut. Intinya, di pesantren ini Huda diajarkan tentang pentingnya keseimbangan dan moderasi. Salah satu pesan Drs. Hidayat, salah satu guru inspirator, yang melekat dalam pikiranku hingga sekarang ini, Tidak ada agama bagi seseorang yang tidak menggunakan akalnya.
Setelah lulus dari pesantren, Huda memilih untuk mengadi di dalam pesantren sebagai pembantu asatidz. Para santri memanggilnya ustadz. Istilah ustadz di pesantrennya mempunyai tugas yang sangat mulia, yaitu mengajar dan mendidik. Kiyai di pesantren selalu mengatakan, bahwa mengajar adalah transformasi ilmu, sedang mendidik adalah transformasi nilai dan moral. Nah, menjadi seorang ustadz di Pesantren Modern Ummul Quro Al-Islami adalah melaksanakan kedua tugas mulia tersebut. seorang ustadz harus menjadi suri teladan yang baik tidak hanya di dalam kelas saja, tetapi juga di luar kelas, khususnya di lingkungan pesantren.

Setelah kurang lebih 6 bulan pengabdian. Tiba-tiba ada pengumuman di pesan WhatApp handphone Huda dari Usth. Siti Rahmah Fitria Sholihah, Lc. Salah satu alumni Universitas al-Azhar, Kiaro, Mesir yang sedang mengabdikan ilmunya di pesantren , yaitu tes seleksi beasiswa dan non beasiswa S1 di timur tengah, ada tiga negara yaitu Mesir, Sudan dan Maroko. Huda memilih Universitas al-Azhar, Mesir, karena niatnya sudah bulat ingin belajar ke pusat keilmuan keislaman di dunia. Mimpi dan cita-citanya untuk belajar di kampus yang mempunyai reputasi internasional itu semakin dekat. Huda akan menjadi salah satu pelamar kandidat calon mahasiswa al-Azhar, ia akan berusaha sekuat tenaga dan segala pikiran untuk lulus dan bisa berangkat. Di dalam pengumuman tersebut disampaikan, bahwa Kementerian Agama Republik Indonesia bekerja sama dengan Ikatan Alumni Al-Azhar Indonesa (IAAI) akan melakukan seleksi, yaitu semacam fit and proper test bagi mereka yang dianggap layak untuk mendapatkan kesempatan belajar ke Mesir.

Huda mengikuti proses tersebut dengan seksama, soal rencana belajar ke Universitas al-Azhar, ia sengaja tidak mengabarkan kedua orang tua. Rencananya, ia ingin mengabarkan mereka setelah dinyatakan lulus seleksi. Huda tidak ingin banyak orang mengetahui, sehingga semua proses seleksi dilalui dan ada kepastian soal rencana petualangannya ke al-Azhar kelak. Prinsip yang selalu ia pedomani, lebih baik menyimpan baik-baik sesuatu yang masih belum pasti dari pada mengumbarkannya kepada orang lain. Huda pasti mengabarkan kepada kedua orang tuanya nanti.

Dua minggu kemudian, seperti biasa Huda menelpon orang tuanya, ia tidak mempunyai biaya untuk pulang menemui mereka. Huda masih menyimpan informasi keikutsertaannya dalam seleksi belajar di al-Azhar. Tidak seperti biasanya, orang tua pada hari itu sangat terasa kehangatan suaranya dan bahagia. “Nak, tadi Usth. Lutfiah, guru di madarasah mampir ke rumah, membawa kabar baik dari pesantren, bahwa kamu terpilih belajar di al-Azhar,” ujar ibunya dengan suara yang sangat khas. Ya, memang Huda pernah mengepost ulang di Facebook terkait pengumuman kelulusan yang diupdate di website resmi Kementerian Agama Republik Indonesia, karena perasaannya yang sangat senang. Sehingga usth. Lutfiah mengetahui keadaannya.

Sebagimana dijelaskan tadi, bahwa orang tuanya tidak pernah peduli dengan prestasinya di pesantren. Yang ia perhatikan adalah bagaiamana seluruh kebutuhannya di pessantren dapat dipenuhi, mengingat karena biaya yang dibutuhkan amat berat bagi mereka. Sebab itu, setiap hari mereka harus memutar otak untuk menyiapkan uang saku dan biaya sekolah anak-anaknya. Jadwal pengiriman uang setiap tanggal 3 atau paling tidak di awal bulan. Betapa mulianya orang tuanya, yang kurang berpendidikan itu!
Setelah Huda dinyatakan lulus seleksi dari kemenag, ia harus berusaha keras bagaiamana caranya agar dapat memenuhi persyaratan selanjutnya, yaitu terkait administrasi, berawal dari pembuatan paspor dan visa, tiket pesawat dan biaya yang lainnya. Ia menyadari jelas keadaan ekonmi orang tuanya. Sebab, bagi keluarganya yang pas-pasan tidak mungkin memenuhi kebutuhan finansial yang sangat besar pada saat itu. Akhirnya, ia punya keinginan membuat prosal bantuan pendidikan yang akan diajukan ke pemerintah daerah. Dengan tekad yang kuat, semangat yang disertai optimis dan kemauan yang besar.
Bayangkan, anak seumur jagung datang ke kantor bupati membawa proposal, ingin melaporkan keadaan dirinya yang sedang membutuhkan. Memang perjalan seorang pemimpi tidak semulus aspal di jalan raya, ada rintangan besar yang harus dilalui. Pertama kali datang ke kantor bupati lansung ditolak mentah-mentah oleh satpam di pintu gerbang. Huda yakin di setiap ada kesulitan pasti ada kemudahan. Otaknya ditantang berpikir cerdas bagaimana caranya agar bisa menemu bapaki bupati. Singkat cerita Huda menemui gurunya waktu di SMP Islamiyah, ia bercerita dan mengutarakan keadaan yang sedang dialami. Akhirnya Huda diantarkan oleh Kepala Sekolah SMP Islamiyah Meranti ke kantor bupati, kebetulan keduanya saling kenal. Alhamdulillah Huda pun mendapatkan bantuan meskipun tidak sepenuhnya.

“Nak, bapak sudah memutuskan untuk meminjam uang ke mbahmu dan pamanmu untuk segala kebutuhanmu di kairo. Berangkatlah ke al-Azhar, karena kamu telah ditakdirkan belajar di negeri para nabi itu. Jika bapak hanya sekolah di tengah-tengah kebun bersama teriknya panas matahari, pohon dan tanaman, maka saatnyalah kamu menuntut ilmu ke samudera ilmu yang sesungguhnya,” ujar bapaknya dengan sangat meyakinkan.
Huda terharu bercampur sedih. Terharu karena orang tuanya sangat gigih menyekolahkannya ke al-Azhar. Kedua orang tuanya tidak mempunyai warisan apapun kepada anak cucunya. Satu-satunya warisan yang ingin ia berikan kepadanya adalah warisan ilmu dan pengetahuan.

Meskipun demikian, Huda tidak bisa menutupi perasaan sedih, karena sebenarnya secara finansial keluarganya tidak mempunyai kemampuan, bahkan cenderung dipaksakan. Rencana meminjam uang kepada embahnya juga sebuah pertaruhan, karena uang yang dipinjam bukanlah uang yang sedikit. Oleh sebab itu, Huda masih sangat muda pada saat itu berada di persimpangan, apakah ia mampu mengadu nasib di negeri orang? Bagaiman cara orang tuanya mengembalikan uang pinjaman nanti?
Di sinilah, keyakinan dan spirit darah orang madura tumbuh. Memang, Huda dilahirkan di Pontianak, Kalimantan Barat, tetapi dia memeiliki darah asli madura dari kakek dan nenek. Hidup adalah perjuangan, kerja keras, dan pengorbanan. Hidup dimana saja dalah sama. Asalkan mempunyai daya juang, kerja keras,dan perjuangan yang tinggi, maka hidup akan dijalani dengan keberhasilan dan kesuksesan. Hidup di Madura, Pontianak, Bogor dan Mesir adalah sama, yang penting kualitas hidup itu sendiri.

Untuk membangkitkan semangat belajar di al-Azhar, Huda tiba-tiba teringat ungkapan temannya Ghoniatul Imaniyah tentang al-Azhar, kebetulan ia lebih dahuluberangkat ke Mesir dari pada Huda. “Al-Azhar mempunyai peran penting di dunia islam sebagai pusat keilmuan. Sebab itu, siapa pun yang ingin menimba ilmudi samuderanya untuk memenuhi dahaga ilmu. Al-Azhar merupakan tujuan setiap orang orang untuk merasakan nikmatnya ilmu.”. Huda pun tidak sabar untuk segera berangkat ke al-Azhar ingin merasakan sebagimana di ungkapan Ghoniyatul Imaniyah, Mahasiswi Kuliyatul Banat Universitas al-Azhar.

Tinggalkan Komentar