Terlalu Edan

0
76

Kami berlindung kepada Tuhan dari soal-soal ujian yang akan datang dua hari kedepan.

Dengan menyebut nama dosen, “pak”. Kukorbankan senyum yang semestitanya haram dan tidak diperbolehkan.

Semuanya mungkin hanya karena ingin, berharap karena ingin, berusaha karena ingin, dan berdoa karena ingin dan menginginkan keinginan yang harus diingin.

Maka dari itu ujar kami dengan rajutan kata, dengan semoga digantikan dengan nilai keramat katanya. “Pak, bapak sangat baik, meski memiliki wewenang tapi tak pernah sewenang-wenang”. “Pak, kami lo mahasiswa teladan (sebut saja terlalu edan), rajin, dan selalu takdim”. Semestinya bapak itu paham, tapi sok gak paham.
Ketika mereka ditanya soal kesiapan .”sejauh mana tabungan kalian untuk sepersen keinginan ?”. Kami kembali merayu, namun sudah dengan wajah lesu. “Ya sudah pak, tunjukkan saja kami jalan pintas untuk mendapat nilai yang tepat, yaaa nilai yang kita harap dan nilai yang dipandang dahsyat.

Bapak menjawab dengan sabar “ya sudah, kalian turun kebawah !!! Selesai itu ngesot ditanah ya dengan tujuan perpustakaan kampus sebelah”. “Yesss”…tangis kami.