TELAAH PSIKOLOGI KAUM FUNDAMENTALIS

0
516

Kekerasan
struktural atas nama agama yang dilakukan oleh kelompok-kelompok di Indonesia sudah lama ada dan semakin marak baru-baru ini. Semuanya dilakukan dengan dalih amar makruf dan
nahi munkar. Gerakan
fundamentalis atau radikal seperti gejala kambuhan, tidak terduga kapan aksi
akan dilakukan. Sedikit bernostalgia, ada sederet kasus terkait gerakan
fundamentalis. Sebut saja kegiatan militer dengan mengirim pasukan berseragam ke wilayah-wilayah
konflik SARA, seperti Maluku dan Poso dengan dalih berjihad.

Bom-bom yang
diledakkan pada tempat-tempat yang tidak terduga. Seperti Pada
17 Juli 2009 di Hotel JW Marriot dan Ritz Carlton yang terletak di kawasan
elite Mega Kuningan, Jakarta, terjadi ledakan
serangkaian bom bunuh diri secara simultan.
Bom Kedubes Australia 2004, Bom Bali 2005, Bom Cirebon 2011, Bom Sarinah 2016, Bom
Panci Bandung dan serangkaian teror lainnya. Kasus NII dengan cuci otaknya
serta sekelompok yang gemar mengkafirkan dan menjatuhkan ‘fatwa
mati’ atas setiap orang yang mengeluarkan pendapat berbeda dengan pandangan
keagamaannya.

Lahirnya
kelompok-kelompok fundamentalis yang cenderung menggunakan ‘kaca mata kuda’
dalam memahami teks agama semestinya harus disikapi secara tegas. Baik oleh negara, para pemuka agama, para intelektual, dan seluruh elemen masyarakat. Demi mengantisipasi terjadinya anarkisme yang akan membuat bangsa ini kian
terpuruk. Pemikiran radikal, tidak adanya
toleransi terhadap perbedaan agama merupakan tendensi paling dasar yang
melandasi serangkaian teror.
Para pemeluk aliran fundamentalis ini
menganggap orang kafir [1]
adalah musuh yang harus diperangi sampai titik darah penghabisan (jihad). Kafir
bagi mereka bukan saja orang-orang selain islam namun semua muslim yang memiliki pandangan berbeda dengan kelompoknya.

Jika dicermati,
para kaum fundamentalis berusaha menggaet banyak masa dengan melakukan
perekrutan-perekrutan. Menurut teori Le Bon, hal tersebut dikarenakan aksi
teror akan lebih berani dilakukan jika berkelompok dalam jumlah banyak (terstruktur). Karena dengan
seseorang bergabung atau membentuk suatu kelompok,
akan mengurangi rasa tidak aman (insecure). Selain itu, dengan bergabung kedalam kelompok, dapat menaikkan
status dan harga diri seorang individu. Naiknya
harga diri (self esteem) akan
menumbuhkan kekuatan (power) sehingga
dapat mewujudkan tujuan yang telah dirumuskan oleh kelompoknya (goal
achievement).

Manusia
dan Kebutuhan

Manusia pada dasarnya merupakan
makhluk yang bergerak maju yang kecenderungan dasarnya adalah untuk mencapai
aktualisasi diri. Kecenderungan
dasar manusia untuk mencapai aktualisasi yakni: kebutuhan pemeliharaan (maintenance)
–>
memuaskan kebutuhan dasar peningkatan diri (enhancement) –>
menjadi lebih baik, berkembang, mencapai tujuan.

Dalam kaitannya
dengan gerakan fundamentalis, untuk mencapai tujuan
tersebut kaum fundamentalis
memiliki paham-paham sendiri tentang kelompoknya.
Ia menempatkan
kelompoknya sendiri sebagai pusat segala-galanya (etnosentrisme). Dengan adanya
etnosentrisme seorang fundamentalis
akan memiliki persepsi yang positif
terhadap kelompoknya sehingga ia akan berperilaku sesuai dengan anggota
kelompok tersebut dan menginternalisasi nilai-nilai dalam kelompoknya (social identity teori). Adanya persepsi
positif terhadap kelompoknya
menimbulkan favoritisme. Yaitu
pandangan yang menempatkan kelompok sendiri sebagai yang terbaik, paling benar, dan paling bermoral.

Kemudian pandangan favoritisme
tersebut melahirkan social categotization
yaitu membuat batas-batas tegas bahwa mereka (orang-orang yang bergabung dalam gerakan fundamentalis)
adalah ingroup
dan orang-orang di luar
gerakan mereka adalah outgroup.
Selain itu,  favoritisme juga membuat adanya derogation outgroup,
yaitu merendahkan secara afektif dan
sosial orang lain di luar kelompoknya. Adanya hal tersebut membuat
kaum fundamentalis lebih
banyak berkomunikasi dengan anggota kelompoknya
sendiri. Serta kurang sekali
berkomunikasi dengan orang lain di luar
kelompoknya. Kurangnya
komunikasi dengan kelompok luar akan menimbulkan prasangka (prejudice) dan misperception.

Kesalahpahaman dan adanya
prasangkan terhadap kelompok luar inilah yang menimbulkan kaum fundamentalis
gemar melakukan ‘fatwa kafir’ terhadap orang lain dan aksi anarkis kepada orang
yang berbeda pandangan dengan kelompoknya.

Glosarium:

[1] Kafir dari kata kafara artinya menutupi

Secara
terminogi hukum, para ulama tidak sepakat dalam menetapkan batasan kufr. Hal
ini disebabkan adanya perbedaan batasan iman. Salah satu batasan yang paling
umum khususnya di kalangan asy’ariyah, iman diartikan sebagai pembenaran
terhadap rasul beserta ajaran-ajaran yang dibawanya. Sedangkan kufr adalah sebaliknya.
Dari pengertian tersebut dapat dinyatakan bahwa seseorang diberi predikat kafir
apabila mendustakan kerasulan dan ajaran yang dibawanya, dengan perkataan lain,
predikat tersebut diberikan kepada mereka yang tidak menerima islam yang dibawa
nabi sebagai pedoman hidup. (Muhammad Ghalib M. 1998.Ahl Al-kitab makna dan
cakupannya. Jakarta: Penerbit Paramadina) hlm 64.

Referensi :

Ghalib, M.M. (1998). Ahl Al-kitab makna dan cakupannya. Jakarta: Penerbit Paramadina

Ilusi Negara Islam : Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia, editor KH. Abdurrahman Wahid, presiden RI Ke-4, terbit April 2009

Mulkhan, A.M., & Singh, B. (2011). Demokrasi di bawah bayangan N-11. Jakarta:
PT Kompas Media Nusantara

Pratama, G. (2011). Cuci otak NII. Jakarta:Tinta Publisher

Rakhmat, J. (1991). Islam aktual. Bandunng: Mizan

The Jakarta post,
26 November 2008

 

Tinggalkan Komentar