Sangkar Burung (Sarung)

0
58

Gerimis cantik turun rintik-rintik
membasahi jendela lokomotif sore itu. Satu persatu penumpang turun di stasiun
tujuannya, begitupun aku. Selama perjalanan dari Stasiun Bogor hingga
Manggarai, tidak ada hal istimewa yang terjadi di rangkaian lokomotif yang
kutumpangi. Semuanya berjalan sebagaimana mestinya, ada yang naik dan ada yang
turun, begitu seterusnya.

Tepat
pukul 17.00 WIB, aku sampai di stasiun tujuan dan bergegas mencari mushola.
Sudah ketar-ketir selama perjalanan kalau-kalau waktu ashar habis. Tanpa
membuang waktu, kuambil wudhu dan menunaikan kewajiban. Assalamualaikum warrahmatullah, kalimat terakhir pertanda selesai
sudah shalatku. Mukena kulipat dan hijab terpakai rapih kembali. Seperti biasa,
aku selalu mengambil waktu untuk duduk sejenak mereviu apa yang sudah terjadi
dan kulakukan hari itu. Terbayang bagaimana payahnya untuk dapat pergi ke
Bogor. Hujan yang sangat deras, kaki yang lecet lantaran sepatu yang kurang
nyaman, taksi yang naudzubillah bisa
sangat sulit didapat, hingga berlari-lari mengejar angkot di bawah guyuran
hujan. Duh mas, kebayang kan gimana kuatnya aku memperjuangkan sesuatu, apalagi
memperjuangkanmu, eh.

Di
tengah khusyu’nya perenunganku, Tuhan
sepertinya menginginkan untuk tidak terlalu serius dalam mereviu kejadian di
hari itu. Seorang pria mengenakan kaos dan celana pendek selutut tiba-tiba mendekatiku.
Sebut saja Bang Jo!. Ia mendekatiku dan menitipkan tasnya untuk mengambil wudhu
dengan tergesa. Maklum, waktu shalat ashar akan segera habis. Seusai berwudhu
ia membuka lemari kecil tempat alat shalat disimpan. Namun sayang, Bang Jo
tidak menemukan sarung. Ia terlihat sangat bingung sembari menengok kekanan dan
kiri berharap ada lelaki yang membawa sarung dan mau meminjamkannya. Tetapi
sial, semua pria di mushola itu bercelana panjang.

Sembari
berkali-kali melihat jam tangan, ia mengerutkan dahinya seolah sedang berpikir
bagaimana caranya agar tetap dapat shalat. Ia pun tak kehabisan akal,
dipakainya bawahan mukena dan shalatlah ia dengan kepercayaan diri yang penuh. Allahu Akbar, ia pun bertakbir dan larut
dalam bait-bait ayat cinta. Sontak, seluruh mata yang ada di mushola melihat ke
arahnya, berbisik, dan terkekeh
kecil. Aku pun tidak melewatkan momen tersebut untuk memotretnya dan menjadi
bahan kekehanku. Bang Jo sepertinya
tidak keberatan menjadi bahan gunjingan belasan pasang mata. Ia bukannya cepat
melepaskan mukena tetapi justru enjoy saja menyilangkan kaki dan menengadahkan
tangan tanda memohon hajatnya dikabulkan.

Gusti
paringi sabar lan kuat, sakjane kulo isin ngagem mukena ngeten niki”
(Tuhan
berikan kesabaran dan kekuatan, sebenarnya saya malu mengenakan mukena
begitu-red). Mungkin begitu isi doa Bang Jo kepada Tuhan. “Loh Aku nggak prentah awakmu ngaggo mukena loh, dawuhku tutupen
auratmu pas shalat, kowe kan iso nyilih celono wong liyo”
(Loh aku tidak
menyuruhmu mengenakan mukena loh, aku menyuruh kamu menutup aurat saat shalat,
kamu kan bisa pinjam celana orang),
mungkin begitu bahasa Tuhan menjawab doa Bang Jo.

Kemudian
Bang Jo mendekatiku untuk mengambil tasnya dan berterima kasih. Aku yang memang
sedang memotret dan memperhatikannya langsung salah tingkah saat aksiku
sepertinya diketahuinya. “Makasih ya
mbak”
ujarnya, “Eh hehe Iya mas
sama-sama”
jawabku sembari cengar-cengir salah tingkah. Bang Jo pun berlalu
keluar dari mushola dan entah kemana. Temanku yang baru selesai shalat
menghampiri dan pergunjingan mengenai Bang Jo pun dimulai.

Sarung
itu penting disediakan di mushola, kenapa bagian akomodasi stasiun tidak sempat
terpikir menyediakan sarung ya”
, ucapku. “Mungkin petugas beranggapan
burung-burung pria jaman sekarang walau udah dikasi sangkar masih aja suka
kabur sembarang tempat, makanya sekalian aja sangkarnya nggak disediain”
, jawab
temanku. Aku kaget mendengar jawaban tersebut, hanya mengerutkan dahi dan
melirik ke arahnya. Ia tidak lantas memperjelas maksud pernyataannya dan justru
membiarkanku larut dalam tafsirku sendiri. Di atas kendaraan, aku masih
terbengong mencoba menafsirkan maskud pernyataan sangkar burung itu.