RUMAHNYA JIWA-JIWA YANG HILANG

0
674

Setengah
tahun yang lalu, aku mendapat kesempatan melakukan kerja praktik di salah satu
rumah sakit jiwa terbesar di Jawa Timur. Rumah sakit peninggalan kolonial
belanda, terlihat dari arsitekturnya yang megah dan antik. Rumah sakit jiwa
adalah tempatnya orang-orang yang mengalami gangguan kejiwaan. Ada ratusan
bangsal pasien dengan berbagai klasifikasi sesuai dengan diagnosa gangguan
kejiwaannya. Mulai dari kelas mawar yang dihuni oleh penderita gangguan
kejiwaan dengan tingkat gaduh gelisah yang sangat tinggi, hingga kelas VIP
yaitu kelasnya para konglomerat yang tergoncang jiwanya.

Seperti
halnya rumah sakit pada umumnya, rumah sakit jiwa juga memiliki tenaga
kesehatan seperti Perawat, Dokter Spesialis Jiwa, Psikolog, Ahli Gizi, dan
banyak sekali mahasiswa program profesi yang melakukan wiata bakti. Selain
tenaga kesehatan, ada juga ruang-ruang khusus bagi pasien seperti ruang rehab
yang berisi alat-alat kerajinan tangan, bangsal dengan puluhan ranjang pasien,
ruang kejut listrik untuk terapi listrik, ruang olahraga, kantin, dan ruang
terapi lainnya.

Menginjakkan
kaki di rumah sakit jiwa seperti berada di bumi Tuhan yang lain. Ada aura yang
berbeda, membuat kita menangis syukur atas kondisi hidup kita saat ini.
Bagaimana tidak, selama berbulan-bulan akan disuguhi oleh pemandangan
orang-orang yang jiwanya entah kemana. Berbagai ekspresi mereka pertontonkan, ada
yang diam mematung berhari-hari dengan posisi tubuh tertentu, ada yang
berteriak tanpa henti mengeluarkan semua yang selama ini terpendam. Bahasa
paling jujur, paling terbuka, tanpa sekat mereka utarakan di depan ratusan
dokter, perawat, psikolog, dan orang-orang awam yang berkunjung. Tak hanya itu,
ada yang tertawa-tertawa sendiri, menari dengan imajinasinya sendiri. Menangis
sembari mengutuk-ngutuk nama tertentu, bahkan ada juga yang mempertontonkan
alat vitalnya kepada kami.

Setiap
hari, aku berkeliling bangsal untuk melakukan wawancara, observasi, dan terapi
psikologis. Berbincang dengan mereka dan melakukan aktivitas bersamanya sangat
cukup untuk membuatku menangis. Mereka tinggal di rumah sakit jiwa karena
berbagai alasan mulai dari permasalahan cinta hingga keluarga. Mulai karena diselingkuhi
oleh pasangannya hingga korban perkosaan yang tidak kuat menahan trauma. Mereka
berkumpul menjadi satu, mulai dari mantan tenaga kerja indonesia (TKI) sampai
mantan tentara perang yang dituntut membunuh puluhan tawanan dan dihantui rasa
bersalah. Semuanya hidup berdampingan dalam imajinasinya masing-masing, dalam
satu diagnosa sama yaitu Skizofrenia (Gangguan Jiwa Berat atau orang awam biasa
menyebut gila).

Selama
masa rehabilitasi, kegiatan sehari-hari yang dilakukan mereka sama. Mereka akan
bangun tidur pukul 05.00 WIB dan akan dimandikan oleh perawat. Setelah itu
mereka akan diajak untuk melakukan kerja bakti, entah mencabut rumput, menyapu,
atau mengepel. Kegiatan sederhana yang tujuannya agar pikiran para pasien tidak
terus menerus kosong yang dinamakan dengan terapi kerja. Selanjutnya mereka
akan diajak berolahraga seperti senam bersama dan permainan kecil yang
membahagiakan. Seusai berolahraga, mereka akan diminta sarapan dan meminum
obat. Dilanjutkan aktivitas katarsis seperti melukis, menenun, berdandan,
menyanyi, menari dan lainnya.

Mereka
adalah orang-orang istimewa yang Tuhan muliakan. Mulia karena tidak ada
kebohongan yang mereka lontarkan. Bagaimana hendak berbohong, mengungkapkan apa
yang dirasakan saja sulit. Berbincang dengan mereka serperti bermain puzzle, hanya sepotong kalimat tetapi
memiliki maksud yang dalam jika kita bisa menungkapnya. Potongan-potongan kisah
yang pecah dan harus disatukan menjadi gambaran utuh. Terkadang mereka
berbicara hanya dengan clue.

“Iwan….Iwan….dipekso
(dipaksa)….”
Itu kata-kata yang diucapkan Susi setiap hari, seorang pasien
dengan diagnosa Skizofrenia Hebefrenik. Tidak mudah mencari tahu maksud dari
perkataannya. Sesulit menjalin hubungan saling percaya dengan penderita
gangguan jiwa. Hidup mereka sudah penuh dengan kekecewaan dan ketidakpercayaan
sehingga membentengi diri dari dunia nyata dan memilih hidup dalam imajinasi. “Kamar….Iwan,
masturbasi, pekso (paksa), ora (tidak), ojo (jangan), aaaakkkk (pasien
berteriak), oraaaa”
. Kalimat lain yang terucap dari mulut Susi di hari yang
lain.

Setiap
kalimat yang terucap dari pasien sulit diprediksi kemunculannya. Ada yang
diminta bercerita justru hanya mematung diam sepanjang hari atau sebaliknya. Seperti
halnya Susi, setiap pasien memiliki waham dan halusinasinya sendiri. Ada yang
merasa dirinya adalah anak raja mataram, yang bersekolah di galaxi sehingga
kata-kata yang dikeluarkan adalah seputar kerajaan dan planet-planet. Ada yang
menyakini bahwa dirinya berteman dengan malaikat. Ia akan tiba-tiba berlari ke
halaman bangsal, memanjat pohon, lalu berbicara sendiri dan menari-nari. Saat di
tanya oleh perawat ia berkata bahwa malaikat temannya itu baru saja menjenguk
dan memberitahu sesuatu. Ya, banyak tingkah-tingkah unik, perkataan-perkataan
sulit dimengerti yang sebenarnya adalah potongan kisah hidup yang hilang karena
trauma berat.

“Masturbasi,
Iwan, klambiku (bajuku), kamar”,
kata-kata random
yang diucapkan Susi di hari yang lain. Saat diminta melukis Susi melukis
seorang perempuan telanjang yang berwajah sedih dan di sampingnya ada tali
serta dua binatang seperti seekor serigala. Lukisannya penuh dengan tinta merah
dan hitam. Melalui clue-clue yang
diberikan, ia sebenarnya sedang memberitahukan bahwa dirinya adalah seorang
korban perkosaan suami dan teman suaminya. Susi sering dipaksa berhubungan
badan dengan suaminya bahkan saat dirinya sedang menstruasi. Jika tidak
melakukannya, Susi akan diikat dan dipukul dengan tali. Ia juga diperbolehkan
suaminya untuk dinikmati oleh teman suaminya. Bagi suaminya yang terpenting
temannya membayar dan ia dapat uang.

Susi
dipaksa melepaskan bajunya di dalam kamar pribadi dirinya dan suaminya.
pelakunya adalah teman suaminya sendiri yang membayar mahal atas tubuh Susi
kepada suaminya. Susi diminta melakukan masturbasi dan dilihat oleh teman
suaminya. Jika susi menolak ia akan dipukul dengan tali oleh suaminya. Bertahun-tahun
Susi mengalami kejadian tersebut hingga jiwanya hilang. Tuhan mengambil jiwanya
agar ia lupa, agar ia tidak merasakan goncangan yang berat lagi dalam hidupnya.
Sekarang ia bahagia, tertawa, menari dengan dunia imajinasinya. Selamat datang
di rumahnya jiwa-jiwa yang entah kemana.

 

Glossarium

Gaduh
Gelisah
                     :
Mengamuk

Skizofrenia
                            : Gangguan mental
yang ditandai dengan gangguan proses pikir dan tanggapan emosi yang lemah. Gangguan
ini biasanya dimanifestasikan dalam bentuk keyakinan atau pikiran yang tidak
sesuai dengan dunia nyata serta dan logika disertai disfungsi sosial yang
signifikan.

Skizofrenia
Hebefrenik
        : Salah
satu tipe gangguan skizofrenia yang ditandai dengan adanya perubahan perilaku
yang tidak bertanggung jawab dan tidak dapat diramalkan, ada kecenderungan
untuk selalu menyendiri, perilaku menunjukkan hampa perasaan, adanya ungkapan
kata yang diulang-ulang.

Waham                                   : Suatu
keyakinan atau pikiran-pikiran yang salah karena bertentangan dengan kenyataan
(dunia realitas). Contohnya meyakini bersekolah di galaxi.

Halusinasi                               : Terjadinya
persepsi dalam kondisi sadar tanpa adanya rangsang nyata terhadap indera. Contohnya
pasien merasa dirinya mendengar bisikan malaikat.

Wiata
bakti
                            :
Magang

 

Tinggalkan Komentar