MENGAPA HARUS MENULIS DAN MENJADI PENULIS?

0
78

Terkadang banyak stigma buruk mengenai seorang penulis. Bukan masalah profesinya tetapi dampak finansialnya. Jangan jadi penulis, penulis itu kere, penulis itu kerjaan orang yang memiliki waktu luang alias pengangguran. Dan banyak stigma buruk lainnya. Walau tidak semua penulis mengalami hal yang sama namun pada kenyataannya di tengah masyarakat, profesi penulis di pandang sebelah mata. Bagi saya menulis dan profesi penulis bukanlah mengenai finansial belaka. Bukan soal diterima tidaknya tulisan kita oleh penerbit atau kekhawatiran lainnya. Ada banyak sekali hal yang bisa didapatkan. Apa saja yang menjadi motivasi saya dalam menulis dan ingin menjadi penulis?

  1. Setiap orang tua atau calon orang tua pasti ingin meninggalkan warisan untuk anak-anak dan cucunya. Warisan itu kebanyakan dipersempit dalam bentuk harta. Tetapi saya memiliki pandangan lain. Warisan tidak harus berbentuk harta benda yang mungkin justru warisan harta benda akan memecah belah keharmonisan antar anak cucu. Banyak sekali fenomena antar anak berebut warisan harta benda sepeninggalan orang tuanya. Maka itu semua, warisan yang ingin saya tinggalkan kepada anak cucu saya adalah berupa tulisan. Tulisan yang menjadi pemikiran, harapan, dan cita-cita saya. Agar anak cucu saya tetap mengenal bundanya, uminya, ammatinya, omanya, simbahnya sebagai bunda yang mau berbagi ilmu.
  2. Selain itu, rasanya ilmu yang saya miliki di bangku perkuliahan maupun dalam melihat gejala sosial, gejala masyarakat, tidaklah arif jika hanya saya yang memilikinya. Tidak dibagikan kepada khayalak sebagai pesan untuk pembangunan generasi ke depan.
  3. Bagi saya, menulis adalah media katarsis. Katarsis dalam ilmu psikologi adalah memproyeksikan emosi agar emosi yang terpendam dalam diri dapat tersalurkan sehingga menyehatkan mental. Berkali-kali sebagai seorang mahasiswa magister profesi psikologi bidang klinis di UGM, Saya berhadapan dengan klien-klien dengan kondisi mental yang memprihatinkan. Orang dengan gangguan seksual, depresi, skizofrenia (gangguan jiwa berat), kekerasan dalam rumah tangga, anak korban pelecehan seksual dan berbagai macam kasus lain yang sangat mempengaruhi emosi saya. Berat, sedih, ikut larut dalam masalah-masalah klien. Ketika emosi saya sendiri kurang baik bagaimana saya bisa dengan baik membantu klien saya. Sehingga saya membutuhkan media katarsis untuk membagikan kisah-kisah yang luar biasa dari para klien yang saya temui. Tentunya dengan kode etik yang dipegang teguh.
  4. Motivasi lain, tentunya sebagai seorang muslimah, kita diajarkan untuk membagi ilmu walau hanya satu ayat, satu kalimah. Karena ilmu yang dimiliki nantinya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan. Ya semoga apa yang akan saya tuliskan dapat menjadi pembelajaran bagi masyarakat ke depannya.

Pada akhirnya semua kembali lagi pada niatnya. Sebaik apapun hasilnya, semulia apapun di mata masyarat, jika niatnya tidak tulus karena ibadah kepada Allah, tetap tidak memiliki nilai plus, tidak ada harganya. Seperti kutipan hadist yang artinya:

Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” (HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadits).

Poin pentingnya adalah sebaik-baik dan seutama-utama niat dalam melakukan sesuatu maka niatkanlah karena Allah dan Rasulnya. Semoga kita semua menjadi penulis-penulis yang selalu menyadari bahwa ilmu yang kita miliki adalah milikNya sehingga ketika apa yang kita tuliskan dapat menginspirasi orang lain, tidak lantas membuat takabur, tinggi hati, lalu melupakan hakikat kemanusiaan kita.