Kecil-Kecil Jadi Manten

0
110

Kebudayaan
Islam beberapa dekade ini memang semakin menggembirakan. Budaya hijab, khimar,
dan atribut keislaman lainnya laris manis di pasaran. Seakan memberi tanda
bangkitnya kebesaran Islam. Mulai dari gaya modern hingga yang digadang-gadang
sebagai gaya syar’i. Mulai dari kelas pasar pinggiran hingga butik-butik mahal,
nangkring segala model hijab dan
khimar. Hal tersebut menjadi angin segar yang tidak boleh dilewatkan. Tidak
hanya bagi desainer tetapi juga bagi para pedakwah. Seolah berebut lahan, semua
berlomba mengeluarkan model hijab dan khimar khasnya sendiri, serta tidak lupa
buku-buku islami pendongkrak popularitas.

Ya,
buku-buku keislaman terkait pernikahan dan kajian-kajian pernikahan menjamur di
berbagai majlis ta’lim. Jika dicermati saat ini banyak sekali buku-buku
beredar, tausiyah-tausiyah, baik secara langsung maupun tidak yang mengajak
generasi muda untuk menikah muda daripada melakukan zina. Menikah muda dianggap
menjadi solusi atas perzinaan yang sering terjadi (pacaran-red). Bahkan secara
nyata dipertontonkan oleh putra ustadz kondang negeri ini. Yang kemudian
dijadikan madzab baru para remaja yang sedang dimabuk cinta. Selain itu, di
beberapa kota di Indonesia juga telah menerapkan aturan bahwa barang siapa yang
tertangkap sedang berpacaran di ruang publik maka akan langsung dinikahkan.

Sah-sah
saja menikah muda karena batasan umur untuk menikah dalam Islam adalah sudah baligh. Kebalighan ditandai dengan ihtilam bagi laki-laki dan menstruasi
bagi perempuan. Namun dalam UU No.1 tahun 1974 yang mengatur mengenai
perkawinan Bab 2 pasal 7 ayat 1 menjelaskan
bahwa “Perkawinan hanya
diijinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 tahun dan pihak wanita sudah
mencapai umur  16 tahun
. Pasal tersebut di atas sangat jelas sekali hampir tak ada alternatif
penafsiran, bahwa usia yang diperbolehkan menikah di Indonesia untuk laki-laki
19 (sembilan belas)  tahun dan untuk wanita 16 (enambelas) tahun.

Namun itu saja belum cukup, dalam tataran
implementasinya  masih ada syarat yang harus ditempuh oleh calon pengantin
(catin), yakni jika calon suami dan calon isteri belum genap berusia 21
(duapuluh satu) tahun maka harus ada ijin dari orang tua atau wali nikah, hal
itu sesuai dengan Peraturan Menteri Agama No.11 tahun 2007 tentang
Pencatatan nikah Bab IV pasal 7 “Apabila seorang calon mempelai belum
mencapai umur 21 (duapuluh satu) tahun, harus mendapat ijin tertulis kedua
orang tua”
. Ijin ini sifatnya wajib, karena usia itu dipandang masih
memerlukan bimbingan dan pengawasan

Nikah
muda atau dini memang memiliki implikasi positif untuk meminimalisir perzinahan
di kalangan masyarakat. Namun sebagai manusia yang sudah dewasa sebaiknya kita
tidak menelan mentah-mentah suatu solusi. Menikah muda atau dini juga memiliki
berbagai implikasi negatif seperti perceraian, kekerasan dalam rumah tangga,
penelantaran anak, perselingkuhan, serta masalah perkawinan lainnya. Menurut
Direktorat Badan Pengadilan Agama (Badilag) bahwa angka perceraian dari tahun
ke tahun di Indonesia terus mengalami peningkatan dan tidak sedikit pasangan
muda yang menyumbang persentase kasus cerai.

Dampak
negatif lainnya dari pernikahan dini atau muda dikemukakan oleh Pelaksana
Harian Kepala BKKBN Kalimantan Timur. Menurutnya menikah dalam usia muda atau
dini  rentan terhadap perceraian, karena
kurangnya tanggung jawab dan bagi perempuan beresiko terhadap kematian saat
melahirkan. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa perempuan usia 15-19 tahun
memiliki kemungkinan dua kali lebih besar meninggal saat melahirkan ketimbang
yang berusia 20-25 tahun, sedangkan usia di bawah 15 tahun kemungkinan
meninggal bisa lima kali.

Penelitian
ilmiah terkait dengan pernikahan dini atau muda juga sudah banyak dilakukan.
Beberapa penelitian menemukan bahwa pernikahan dini mengakibatkan psychological disadvantage atau
ketidakpuasan psikologi yang dirasakan istri maupun suami terhadap peran
barunya. Ketidakpuasan tersebut yang menjadi pemicu bagi kekerasan dalam rumah
tangga serta perselingkuhan. Melihat beberapa implikasi di atas dapat
disimpulkan bahwa pernikahan bukanlah sesuatu yang sederhana. Mengucapkan ijab
kabul lantas halal dan menyelesaikan masalah perzinahan.

Pernikahan
adalah suatu sub sekolah dari kehidupan. Sekolah untuk menjalani peran barunya
dengan penuh tanggung jawab. Sekolah untuk menjadi sepasang orang tua yang
mampu melahirkan dan mendidik generasi penerus bangsa. Sehingga ilmu berumah
tangga sangat dibutuhkan. Ilmu emosi, ilmu mental, ilmu arif dalam bersikap,
yang dirangkum dalam kedewasaan. Maka nikah dini atau muda bukanlah suatu
solusi instan untuk meminimalisir perzinahan namun harus dikaji lebih jauh. Pernikahan
dini yang seperti apa, jangan sampai para ustadz, penceramah, pedakwah yang “baru
mentas” mencekoki anak muda dengan menikah dini tanpa mempertimbangkan
perkembangan mentalnya. Jangan sampai solusi terhadap permasalahan justru
memunculkan permasalahan baru yang jauh lebih kompleks.

Sumber:

http://www.beritasatu.com/gaya-hidup/177423-beragam-efek-buruk-pernikahan-dini.html

http://badilag.mahkamahagung.go.id/putusan/uncategorised/publikasi-putusan

http://www.republika.co.id/indeks/hot_topic/angka_perceraian

http://www.studymode.com/essays/The-Effects-Of-Early-Marriage-Among-655237.html