DIMENSI LAIN

0
537

Manusia dengan segala
dialektikanya sangat menarik untuk ditelaah melalui kacamata-kacamata
kebijaksanaan. Mengapa penting memahami manusia dari kacamata kebijaksanaan?.
Kacamata kebijaksanaan adalah satu-satunya sudut pandang yang penuh cinta.
Menempatkan manusia dalam posisinya yang utuh. Melihat sebuah kesalahan dan
kebenaran, kebaikan dan keburukan, serta sifat oposisi lainnya dalam satu
putaran dengan banyak kemungkinan-kemungkinan yang menerobos tabir-tabir sirri.

Secara tidak sadar, kita
dibentuk oleh sistem lingkungan yang melihat sesuatu secara terkotak. Tidak
komprehensif, tidak menyeluruh. Kalau lihat cantik ya hanya kriteria
fisiologis. Bibir yang merah merekah, dagu yang seperti lebah menggantung, kaki
yang jenjang. Pintar ya hanya dari prestasi akademiknya. Padahal jauh beratus
tahun lalu ilmuwan psikologi telah menemukan konsep kecerdasan lain selain
intelektual yaitu emosi dan spiritual. Tetapi sayangnya orang tua menganggap
anak yang pintar adalah yang mendapat nilai 10 sedangkan yang sabar, mau
berbagi, hanya dianggap biasa saja. Jangankan orang tua, kita saja masih
memiliki pemahaman semacam itu.

Akibat melihat segala
sesuatu hanya dari satu sudut pandang, terkotak, tersekat, kita sering mudah
heran kepada apapun. Contohnya heran kepada orang yang terlihat oleh mata
sholeh. Lantaran dia bersorban, dari mulutnya selalu tertutur ayat-ayat Tuhan,
kakinya dilangkahkan ke tempat ibadah, khimarnya menjuntai hingga ke tanah dan
atribut mata lainnya. Begitupun dengan orang yang dalam kacamata kita ko
nakaaal sekali. Gumun, heran, ko bisa ya si A sholeeeh sekali? Ko bisa ya si B
nakal sekali? Kalimat-kalimat semacam itu sering muncul di pikiran kita.

Padahal pada realitanya ada
orang-orang dengan tingkat kedewasaan berpikir dan tirakat yang luar biasa
hebat memilih jalan lain. Ia rela untuk dinilai buruk, dinilai nakal untuk
menghidupkan kesan baik, kesan shaleh bagi saudaranya. Ada orang-orang yang
bertindak jahat, nakal menurut kacamata awam untuk menghidupkan kebahagiaan
bagi yang lain. Seperti halnya matahari yang harus berganti peran dengan
rembulan dan mungkin dicaci oleh penghuni bumi karena perginya membawa gelap.
Tetapi matahari menyadari bahwa perginya membuka keindahan berupa senja dan
memberi peran kepada bulan untuk juga dicintai cahayanya oleh alam. Sehingga
meski dicaci oleh penduduk bumi, ia tetap pergi. Agar bulan dapat berperan dan
mendapat posisi sama di mata bumi.

Dan itu yang tidak bisa
dilihat oleh mereka yang kerdil jiwanya. Yang memandang segala sesuatu dari
satu sudut pandang tanpa melihat banyak kemungkinan lainnya. Maka adakah
kebaikan yang lebih jujur selain menyamarkan diri dari kebaikan dirinya
sendiri? Dan adakah kejahatan yang lebih jahat selain meminjam kebaikan orang
lain untuk menjahatinya?.

Jika meminjam kata-kata
Emha, dengan mata telanjang sebenarnya kita ini belum tahu apa-apa. Terhadap
materi saja, tingkat ketelitian kita masih rendah. Apalagi terhadap non materi,
ruhiyah, yang sifatnya kualitatif, spiritual. Kalau manusia bisa mencapai ilmu
dengan tingkat ketelitian sepersepuluh ribu milimeter, maka berapa pula tingkat
ketelitian Allah. Karena itu kamu, saya,
dan kita semua tidak boleh dumeh kepada orang lain. Tidak boleh gampang curiga,
menajiskan, mengkafirkan, atau mengutuk perilaku orang lain. Sebab, tingkat
ketelitian kita rendah
. Kita sebenarnya tahu amat sedikit. Kamu, saya,
mereka, tidak boleh mengisap orang lain dalam bentuk yang sesamar apapun dan
dalam takaran sekecil apapun. Sebab Allah menghitung perbuatan kita. Allah
menghisap setiap butir udara napas kita dengan ketelitian yang Maha.

Jadi, masih berhakkah kita merasa paling benar? masih berhakkah kita merasa paling suci? masih berhakkah kita menilai buruk orang lain? masih berhakkah kita menghakimi orang lain? padahal tingkat “tahu” kita sangat kecil. Kita makluk kecil yang tinggal di planet sebesar biji kedelai. Aih bahkan lebih kecil lagi, dibandingkan Akbarnya Allah.

Tinggalkan Komentar