Ada Cahaya Surga di Tenda Soto

0
46

Pemberitaan di media akhir-akhir ini menimbulkan banyak nyinyir dari masyarakat. Bagaimana tidak, di tengah sulitnya kehidupan, harga cabai yang kian melambung, pembangunan industri yang tidak memperhatikan Amdal dan masalah kemanusiaan lainnya. Televisi, koran, dan sosial media, justru tak henti-hentinya melempar isu kekerasan, ketidakadilan, rasis, sara dan lainnya yang memperberat otak. Panas, pusing, lemas, kehilangan gairah hidup, tentu bukan suatu gejala dari cacingan, melainkan efek dari bombardir berita yang tidak sejuk.

Muak melihat dan mendengar pemberitaan yang saling memojokkan antar tokoh. Ironisnya yang dipojokkan adalah tokoh-tokoh agama. Agama oh Agama semua memperebutkanmu di berbagai kancah. Makanan yang lezat dan memikat bagi setiap orang yang licik untuk membodohi mereka yang tidak mau tahu lebih banyak. Tidak mau tahu? bukankah mereka justru tahu lebih banyak sehingga dapat mengklaim orang lain? Oh tentu tidak, mereka lebih mendekati pada tidak mau tahu, karena orang yang tahu lebih banyak akan lebih bersikap bijak dan dewasa. Seperti peribahasa “Makin berisi makin merunduk”.

Herannya lagi, agama hanya dimaknai sebagai ritual peribadatan sehingga mereka yang terlihat sering ke masjid, shalat, dan atribut artifisial lainnya dianggap ahli agama dan berhak atas surga. Sedangkan yang tidak diliput media sebagai ahli ibadah dianggap tidak berhak atas surga. Surga dikavling milik diri dan kelompoknya sendiri. Seperti mereka sudah menyewa kepada Tuhan dengan harga yang mahal saja. Entahlah. Ironis, Miris, geleng-geleng kepala!

Halo, kebaikan di dunia ini sangat luas. keshalehan tidak diukur dari perkara yang kau tahu soal kulit. Shaleh adalah “bejik atine”, hati yang baik, hati yang tulus dan lembut. Seperti seorang wanita muda yang kutemui di warung soto pinggir jalan Kota Yogyakarta. sebut saja Ia Embak. Dia tidak berhijab, pakaiannya biasa saja, tidak masuk kategori seksi atau syari’. Tapi tingkahnya luar biasa hebat, seperti yang kau kaji di kitab-kitab akhlak yang kau klaim kau sudah menjalankannya.

Pagi itu, aku menyempatkan sarapan di depan rumah sakit kristen di Kota Yogyakarta. Sotonya enak, penjualnya sudah sangat tua, sekitar 70 tahunan namun tetap lincah dan ramah. Satu porsi soto dengan kuah kaldu dan daging sapi yang lembut, lengkap dengan irisan tempe bacem dan bergedel dibandrol harga sepuluh ribu rupiah. Jika kau menambahkan 2 tusuk sate usus dan es teh. Kau hanya diminta membayar 15 ribu rupiah. Harga yang cukup murah untuk kantong anak kos.

Aku memesan satu porsi soto dengan es teh manis andalan. Aku duduk di belakang perempuan muda sekitar 28 tahun yang juga sedang menikmati semangkuk soto. Embak, sebut begitu!. Seperti biasa, pemilik warung selalu mengajak pelanggannya bercakap. Menanyakan apapun yang dapat menambah kedekatan emosi. Simbah, itu panggilanku pada wanita tua pemilik tenda soto. Simbah bertanya seputar rumah tangga kepada Embak di depan bangkuku. Tanpa risih, Embak menceritakan kondisi rumah tangganya dengan gaya guyonan (bercanda). Kemudian direspon oleh tukang becak yang parkir dekat dengan tenda soto milik Si Simbah.

Gelak tawapun menggelagar di tenda soto karena lelucon tukang becak. Aku pun turut mengekehkan tawa. Beberapa menit kemudian percakapan lucu itu dihentikan karena Embak telah selesai menghabiskan sotonya. Ia pun memberikan lembaran uang kepada Simbah sebagai bayaran atas lezatnya soto buatannya, dan mungkin juga atas kegembiraan yang dihadirkan di tendanya. Seusai membayar, perempuan muda itu tak lantas pergi. Aku terperanjat, saat dengan rendah diri ia memaksa Simbah untuk memperbolehkan dirinya mencuci piringnya sendiri.

Pembeli macam apa ini? Bukankah pembeli adalah raja? itu slogan kebanyakan toko dan diamini oleh para pembeli modern. Lah ini pembeli dengan tingkat takdim kelas apa jika mau mencuci piringnya sendiri? Kelas Jurumiyah, Imrithi, atau Alfiyah? Jika dikelaskan dalam tingkatan ilmu nahwu sharaf. Kelas Ta’lim al-Mutaallim, Bidayatul Hidayah, Minhajul Abidin, Riyadus Shalihin, ihya’ Ulum ad-Dien, atau Bidayatul Mujtahid jika dalam kelas kitab akhlak?. Atau kelas teri, tongkol, kakap? jika dalam kelas ikan?. Entah kelas apa, tapi aku meyakini, ia memiliki tingkatan sopan santun tingkat atas. Bagaimana tidak, Si Embak ini adalah pembeli tetapi karena ia melihat sang penjual sudah sepuh (tua) dan tentunya lebih berumur dari pada  Embak, dia memilih mencuci piringnya sendiri padahal ia telah membayar loh.   

Hati dan pikiranku seketika menjadi ceria, otak yang tadinya panas karena ulah media elektronik dan cetak sekejap menjadi bergairah. Tak pikir panjang, kucontoh pula sopan santun si Embak, kucuci sendiri piring bekas makanku. Di luar dugaan, pembeli lainnya pun mengikuti tingkah takdim Embak yang disambut senyum dan sorot mata haru dari Simbah. Ah, Indahnya Yogyakarta!. Kau tahu, kesehatan mentalku yang tadinya mengkhawatirkan karena dijejali isu-isu tak bermutu itu, seketika menjadi naik pesat. Aku bahagia, “Matur suwun nggeh Mbah, Kulo pamit (terima kasih yang mbah saya pamit)”, ucapku. “Nggeh mbak, matur suwun sanget, ngatos-ngatos (iya mbak, terima kasih banyak, hati-hati)”. Ditambah senyuman dan anggukan ritmis semua pembeli di tenda soto itu. “Monggo” Ucap mereka kompak. Pagi yang luar biasa!.  

Embak tidaklah berhijab tapi akhlaknya sangat luar biasa baik. Jangan diambil kesimpulan bahwa berhijab tidak penting. Atau menjalankan syariat agama tidak penting. Jilbab, Hijab adalah kewajiban dan perintah agama. Tapi disini saya ingin memberikan pandangan bahwa kebaikan itu sangat luas. keshalehan itu sangat luas cakupannya. Jadi mohon jangan dipersempit hingga kau hakimi mereka yang belum menampilkan tampilan agamis kau anggap tidak beragama. Lantas serta merta kau kucilkan dan kau klaim mereka penghuni neraka.