Buat Apa Menulis

0
299

Menulis adalah kegiatan yang sudah kita lakukan sejak dini. Mamasuki usia 5 tahun, kita sudah diajarkan cara memegang pensil. Meski masih harus dipegang oleh orang tua, proses belajar menulis terus berlangsung. Memulai dengan mewarnai, menarik garis kemudian mencontoh gambar yang sudah ada. Semua proses tersebut kita lakukan dengan penuh keingintahuan.

Setelah masuk sekolah dasar, program latihan menulis ditingkatkan. Tidak lagi menarik garis. Kita belajar menulis hurup. Puluhan A besar juga a kecil berderet acak-acakan di buku latihan. Kadang kita menulis B dengan perut yang buncit, menulis S seperti cacing kepanasan, menulis i seperti pagar mau roboh. Tapi kita senang. Pelajaran menulis tidak pernah menjadi beban.

Sekolah Dasar menjadi era baru bagi anak manusia dalam pase menulis. Setelah hurup berhasil ditulis, kata mulai dirangkai. Dari rangakaian kata Ini ditambah Ibu diakhiri dengan Budi, menjadi satu kalimat Ini ibu Budi. Alangkah gembiranya kita ketika hasil tulisan tersebut mendapat angka sembilan. Kita pun tambah semangat menggoreskan pensil.

Naik ke kelas dua, pensil mulai ditinggalkan. Pulpen dengan tinta menjadi teman sehari-hari. Kalimat demi kalimat tersusun rapi di kertas putih. Kelas tiga kita mulai dipercaya. Guru mendiktekan kalimat panjang. Kelas empat kepercayaan itu bertambah. Guru sudah mulai menulis rangkuman yang berderet-deret di papan tulis.

Kita mulai bosan menulis. Buku catatan meninggalkan ompong. Kelas 5 dan 6 sekalah dasar kita mulai merasa bisa. Menulis sudah tidak menjadi hal yang menggembirakan. Bahkan menulis berubah menjadi beban. Ketika pak guru berkata, “buka bukunya, buat rangkuman dari hal 5-10. Kita manut sambil manyun.

Mengapa menulis yang tadinya menggembirakan menjadi membosankan?