Sumber Ilmu Laduni

0
67

Prof. M. Quraish Shihab menyebutkan berdasarkan wahyu pertama yang diterima Rasulullah Saw bahwa manusia memiliki potensi untuk meraih ilmu serta mengembangkannya dengan izin Allah SWT. Ilmu yang bisa diperoleh manusia terdiri dari dua macam. Pertama, ilmu yang diperoleh tanpa upaya manusia dan kedua ilmu yang diperoleh karena usaha manusia. Ilmu yang pertama disebut sebagai ilm ladunni dan yang kedua disebut ilm kasbi.[1]

Dalam buku Ensiklopedi Islam, ilmu laduni diartikan sebagai pengetahuan yang diperoleh seseorang yang saleh dari Allah SWT melalui ilham dan tanpa dipelajari lebih dahulu melalui suatu jenjang pendidikan tertentu. Oleh sebab itu, ilmu tersebut bukan hasil dari proses pemikiran, malainkan sepenuhnya tergantung atas kehendak dan karunia Allah SWT.[2]

Ilmu laduni dikenal oleh kalangan ulama sebagai ilmu ilham, oleh karena itu tidak ada metode khusus untuk mendapatkannya. Tidak seperti ilmu kasbi yang bisa diperoleh siapa saja dengan jalan belajar, ilmu laduni tidak bisa dipelajari. Hanya manusia tertentu saja yang dikaruniai ilmu laduni.

Dalam Al-Qur’an diceritakan sebuah kisah antara nabi Musa dan nabi Khidir.

فَوَجَدَا عَبْدًا مِنْ عِبَادِنَا آتَيْنَاهُ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَعَلَّمْنَاهُ مِنْ لَدُنَّا عِلْمًا§

“Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” (QS Al-Kahfi : 65)

Kalimat min ladunna ilma menunjukkan bahwa Nabi Khidir AS dikarunia ilmu dari sisi Allah, yang mana ilmu tersebut tidak atau belum diberikan kepada Nabi Musa AS. Ilmu laduni yang dimiliki Nabi Khidir merupakan pemberian Allah tanpa proses belajar. Nabi Musa berharap mendapat ilmu tersebut dengan cara mengikuti perjalanan Nabi Khidir.

قَالَ لَهُ مُوسَىٰ هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰ أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا§

“Musa berkata kepada Khidhr: “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” (QS Al-Kahfi : 66)

Meskipun Nabi Khidir telah menjelaskan bahwa sangat sulit memahami ilmu laduni yang dia miliki, Nabi Musa tetap diperkenankan mempelajarinya dengan catatan bahwa tidak boleh bertanya sesuatu sebelum diberikan penjelasan.

Dalam perjalanan Nabi Musa senantiasa menanyakan perbuatan Nabi Khidir yang diluar nalar manusia. Ketika Nabi Khidir melubangi perahu, Nabi Musa bertanya, “mengapa engkau lubangi perahu yang akibatnya akan menenggelamkan penumpanmgnya?” Kemudian Khidir Membunuh seorang anak tanpa dosa, maka Musa pun kembali bertanya, “Mengapa engkau membunuh jiwa yang bersih?” Akhir dari cerita Khidir membangun sebuah dinding yang hampir roboh, dan hal ini tidak luput dari pertanyaan Musa, “Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu”.

Segala pertanyaan Nabi Musa dijawab oleh Nabi Khidir AS,

قَالَ هَٰذَا فِرَاقُ بَيْنِي وَبَيْنِكَ ۚ سَأُنَبِّئُكَ بِتَأْوِيلِ مَا لَمْ تَسْتَطِعْ عَلَيْهِ صَبْرًا§

”Khidir berkata: “Inilah perbedaan antara aku dengan kamu; Aku akan memberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.” (QS Al-Kahfi : 78)

Dari peristiwa antara Nabi Musa dan Khidir AS, kita bisa menarik kesimpulan bahwa ilmu laduni tidak bisa dipelajari secara langsung dan orang yang dikaruniai ilmu laduni tidak bisa mengajarkan ilmu tersebut kepada orang lain. Ilmu laduni adalah rahasia Allah SWT, oleh karena itu hanya Allah yang bisa memberikan ilmu laduni kepada hamba yang dikehendakinya.

 


[1] Lihat M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an, hal. 572-573.

[2] Ensiklopedi Islam, hal.89.